Minggu, 31 Oktober 2021

Pemanfaatan Google Drive Bersama dalam kegiatan Supervisi Masa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Atjih Koerniasih, S.Pd 

Guru SMP Negeri 1 Cipanas-Cianjur


Salah satu agenda sekolah yang harus dijalankan adalah Supervisi. Sebuah kegiatan yang merupakan tugas pokok manegerial kepala sekolah. Dengan tujuan tentunya untuk merefleksi kembali proses pembelajaran yang berlangsung. 


Proses ini biasanya dilaksanakan pada semester ganjil  tepatnya mulai bukan September s.d bulan Oktober.  Karena  guru yang akan disupervisi  itu tidak sedikit,  maka kepala sekolah dimungkinkan untuk menugaskan beberapa guru "senior"  untuk membantu dalam  menjalankan tugasnya. 


Sebelum proses supervisi  banyak hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya kelengkapan administrasi. Seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, bahan ajar, media dan lainnya. Kemudian persiapan itu didiskusikan antara guru dengan kepala sekolah. Antara guru dengan guru yang ditunjuk sebagai supervisor. 


SMP Negeri 1 Cipanas dalam tahun  ajaran 2021/2022 kegiatan sedikit berbeda. Yaitu sekolah mencoba  melaksanakan supervisi berbasis digital. Terutama dalam persiapan administrasi, pengumpulan administrasi, penilaian. Dan berdiskusi perencanaan juga mencoba berbasis digital. 


Alasan melakukan supervisi berbasis digital, karena mau tidak mau, siap atau tidak siap kondisi saat ini mengharuskan segala sesuatu berbasis digital. Sekolah dan guru harus siap dengan kondisi ini. Harus siap menghadapi perubahan jaman yang menuntut beragam kompetensi salah satunya kompetensi digital.


Selain alasan adanya era digitalisasi juga karena untuk mempermudah penyimpanan dan menemukan file sipervisi dan file PKG saat akan dicetak dan diperlukan maka sekolah memutuskan untuk membuat Drive bersama dengan menggunakan akun belajar.id.  Drive Bersama ini berisi sejumlah folder sesuai jumlah guru dengan nama foldernya dari  nama-nama  guru. 


Penggunaan Google Drive Bersama ini dimaksudkan agar segala hal yang berkaitan dengan dokumen supervisi agar mudah disimpan dan juga mudah dicari. Selain juga membentuk kolaborasi secara digital karena di dalam file penyimpanan tersebut seorang dapat mengomentari dan saling berkomunikasi. Khusus untuk kegiatan supervisi komentar yang terjadi adalah komentar dari guru yang diamanahkan untuk melaksanakan supervisi kepada guru yang akan disupervisi..


Apa saja. Yang diupload oleh guru dalam Drive bersama supervisi dan PKG tersebut?. Diantaranya adalah RPP sebelum dan sesudah supervisi, Lembar Kerja Peserta didik, bahan ajar berupa Ppt,  Instrumen Supervisi,  dokumentasi  sebelum dan sesudah supervisi, dan dokumentasi baik dalam bentuk foto maupun Video  selama proses supervisi. Kesemuanya tersimpan dalam Drive bersama pada folder masing -masing guru. 


Langkah awal standar pengelolaan  menampung semua akun belajar setiap guru. Akun belajar di sini maksudnya email yang menggunakan akun belajar.id. setelah itu standar pengelolaan membuat jadwal supervisi dan juga sekaligus membuat Drive bersama dalam pelaksanaan supervisi dan PKG. 


Khusus folder supervisor oleh standar pengelolaan juga disi instrumen kosong supervisi dan templat kosong PKG. Nantinya untuk diisi langsung di sana saat pelaksanaan supervisi dan PKG. 


Tujuan adanya pemamfaatan Drive bersama ini adalah agar mudah mencari berkas sat dibutuhkan. Juga untuk mempermudah komunikasi antara guru dengsn supervisor karena Drive bersama semua file memungkinkan dapat  dikomentari.  Seperti contoh RPP. Sebelum pelaksanaan guru meng-upload RPP. Kemudian kepala sekolsh ataupun supervisor mengomrntari mana-mana yang mungkin harus diperbaiki. 


Pamamfaatan Drive bersama untuk lebih efektif dan keseragaman informasi maka sekolah melalui standar tendik mengadakan sebuah workshop dalam pemamfaatan Drive bersama ini. Kebetulan sekolah memiliki trainer level 3 dalam Google Workspace Education yaitu Ai Hikmawati, M.Pd. Sehingga untuk Nara sumbernya  sekolah tidak mendatangkan dari luar.


Pemanfaatan Drive bersama ini dalam penerapannya banyak hal positif yang dapat terjadi. Dalam arti banyak manfaat yang dapat dipetik. Salah satu diantaranya guru dapat melihat video pelaksanaan kegiatan pembelajaran dari rekannya yang sedang disupervisi. Seperti lesson study.  Bedanya tanpa harus masuk kelas dan meninggalkan pelajaran. Tetapi hanya melihat video hasil supervisi yang diupload ke Drive bersama. 


Lainnnya, ? Tentu saja seperti yang saya utarakan di atas. Penggunaan Drive bersama untuk merapikan  penyimpanan file dan memudahkan pencaharian saat dibutuhkan.  Satu lagi karena akunnnya menggunakan belajar.id jadi kita tidak takut Drive kita akan penuh karena unlimite. Begaimana tertarik ? Atau memang sudah melaksanakan ?


Kamis, 28 Oktober 2021

PJJ MEMAKSA KITA MENJADI PINTAR DAN TERAMPIL


SUTARNI 
SMPN 9 Tambun Selatan

Pada masa pandemic covid-19 ini terjadi  memaksa kita semua  untuk berdiam diri dirumah, belajar dirumah dan bekerja di rumah jika tidak ada keperluan yang sangat penting .Pada bulan Maret 2020 terjadi peristiwa  penyebaran  virus covid 2019. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menutup semua akses wilayah masing- masing untuk mencegah atau mengurangi adanya penyebaran virus covid 19 ke wilayah Indonesia. Semua di perintahkan untuk work from home atau bekerja dari rumah , Termasuk sekolahpun di rumah atau dengan model pembelajaran jarak jauh ( PJJ). Sekolah menerapkan pembelajar jarak jauh , artinya bahwa pendididkan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan system telekomunikasi interakstif untuk menghubungkan keduanya dari berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya( menurut Wikimedia). 

 Semua guru dan peserta didik tentu saja mengalami kebingungan saat menjalani model pembelajaran jarak jauh (PJJ). Guru harus belajar teknologi,  aplikasi yang sebelumnya belum pernah menggunakannya. Guru adalah pembelajaran sejati sehingga guru terus berusaha untuk bisa menggunakan yang namanya Google classroom, google form, Zoom, dan lain-lain. seperti yang saya alami , saya berusaha menggunakan dengan bermodal HP dan Notebook yang saya miliki. Saya buat pertama kali adalah google form dan google clasroom. Saya belajar  membuat soal di google form tanpa saya ketik terlebih dahulu di World karena saya belum mengerti. Saya sambil belajar menulis dan bertanya lewat WA jika ada yang saya tidak mengerti kepada teman-teman MGMP IPS Kabupaten Bekasi dan juga kepada teman-teman rekan kerja satu kantor SMP Negeri 9 Tambun Selatan dan juga dengan bimbingan kepala sekolah bapak Supringadi,S.Pd dan Ibu Hj Annisa , S.Pd,M.Pd sebagai Plt SMP Negeri 9 Tambun Selatan. Ketika saya ketik soal di google form tanpa di ketik di world dulu ternyata ada kekurangannya yaitu saya tidak memiliki dokumen soal untuk di print atau Luring dan butuh waktu yang lama untuk online di google Form butuh konsentrasi untuk membuat soal sehingga akan lebih boros quota pulsa internet  dari hp saya. Ketika saya tidak mengerti saya kadang bertanya dengan pak Nurohman,S.E, kadang ke pak uko , pak Novi NIK ,S.Pd dan Bu Vicha Verdiantie,S.S. Begitu banyak sekali cerita sebagai guru yang mendadak di paksa untuk Pintar dan terampil harus menguasai teknologi dan informasi. Dimasa pandemik Covid-19 ini guru dipaksa semua harus tinggal di rumah dan harus melakukan kegiatan rutinnya seperti biasa dengan bantuan teknologi dan informasi. Pertama adalah guru  di tuntut harus bisa menguasai teknologi komputer . kedua guru harus mencari informasi baik dari buku , dari internet serta dari sumber-sumber lain untuk menggali informasi tentang aplikasi aplikasi dan materi-materi  yang berhubungan dengan PJJ. Harus mencari informasi untuk membuat Google classroom, harus mencari informasi untuk membuat Google form , harus mencari informasi untuk membuat video, harus mencari informasi untuk membuat Zoom dan lain-lain. Setelah guru memahami informasi ,  guru juga harus belajar membuat  Soal , latihan, Lembar kerja dan lain-lain untuk di sajikan kepada peserta didiknya dengan baik. Dengan sekuat tenaga pikiran guru mulai mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk merancang pembelajaran jarak jauh . mengkuti Bimtek dan pelatihan tentang PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh ) . pada saat itu yang saya lakukan sebagai guru yang hanya sedikit berbekal kemampuan teknologi komputer saya berusaha dalam beberapa hari  menyajikan soal dalam bentuk Google form untuk menampilkan tugas- tugas IPS dari saya. Dengan berbekal group WA saya share link Google form yang saya buat walau masih banyak kekurangan. Kemudian setelah berjalan nya waktu saya mulai melihat anak kandung  saya yang gurunya menggunakan google classroom, saya juga mulai belajar bagaimana membuat Google classroom dengan bertanya dan menggali informasi sendiri dari internet. Kadang- kadang saya juga sharing dengan anak saya Madina Fisabilillah. Alhamdulillah anak saya juga ikut membantu. Anak saya juga mendadak harus belajar bagaimana cara menggunakan google classroom dan aplikasi-aplikasi lain untuk mengerjakan tugas-tugas dari gurunya. kami saling berbagi ilmu , berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk saling mendukung kegiatan di masa pandemik Covid-19 ini. Peserta didik SMP Negeri 9 tambun Selatan ada banyak  yang tidak memiliki fasilitas atau sarana untuk menjalankan pembelajaran jarak jauh. Tapi setelah beberapa bulan akhirnya sebagian besar peserta didik SMP Negeri 9 tambun Selatan memiliki dan prasarana cukup untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Ada sebagian kecil peserta didik SMP Negeri 9 tambun Selatan yang tidak memiliki Sarana dan Prasarana pembelajaran jarak jauh secara daring. Sebut saja peserta didik Agus . Agus anak yang baik tinggal satu rumah dengan ibunya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga , sedang ayahnya hanya bekerja serabutan. Agus banyak nilai yang kosong dan bahkan hanya pernah daring satu kali saja pada pelajaran IPS. Ada juga peserta didik ku yang lain, sebut saja namanya Evi . Evi anak yang baik , cantik dan penurut. Evi juga tidak bisa mengikuti Pembelajaran jarak jauh secara Daring karena HP yang tidak mendukung. Ada lagi peserta didik ku yang tidak bisa ikut Daring yaitu sebut Jaka dan Ade .  Mereka memiliki problem yang sama yaitu adanya sarana dan prasarana yang kurang mendukung pembelajaran daring. 

Kemudian berawal dari daftar nilai yang banyak kosong maka saya mulai mengumpulkan data peserta - peserta didik tersebut dari satu merekap nilai mereka , dua mencari nomor telpon dan alamat mereka , tiga bertanya kepada wali kelas yang lama menyangkut mereka , empat mencari informasi dari guru- guru mata pelajaran yang lain. Kemudian saya himpun menjadi satu dan saya jadikan bekal untuk menghubungi mereka baik dengan telepon ataupun dengan home visit. Ada beberapa siswa yang tidak bisa di hubungi dan ada juga yang bisa di hubungi. setelah melalui telpon tidak berhasil kemudian saya mulai menggunakan data alamat rumah dan informasi dari wali kelas sebelumnya dan saya melakukan home visit.Sehari sebelum home visit saya juga membuat janji dengan Guru Bimbingan Konseling ibu Dra. Ratna Nuswantari dan bapak Esron  untuk melakukan home visit. Ketika saya home visit banyak sekali saya menemukan masalah- masalah yang terjadi di masyarakat, khususnya peserta-peserta didik saya. Permasalahan mereka juga ada yang berasal dari keluarga atau permasalahan perceraian orang tua yang berdampak kepada anak-anaknya baik tempat tinggal, ekonomi dan lain-lain. 

Saya juga ingin sedikit cerita tentang peserta didik yang terjadi dulu pada saat belum terjadi pandemic covid-19 .

Sebagai seorang wali kelas tentu sering melakukan home visit kepada beberapa peserta didik setiap tahun , sedikit cerita satu kasus siswa yang sudah tidak mau sekolah atau malas dan akhirnya peserta didik tersebut dan ortunya mengundurkan diri  Karena masalah-masalah keluarga mereka yang berdampak pada  peserta didik atau anak tersebut. Cerita yang sangat menyedihkan hati , peserta didik  tinggalnyapun harus berpindah-pindah dengan banyak masalah keluarga . Dia harus tinggal dengan neneknya dan harus mengikuti perintah nenek termasuk yang bertentangan dengan prinsip hidupnya , maka peserta didik tersebut  harus menjalankan agar bisa di berikan uang jajan dan lain-lain, dan saya juga dengar sampai berbuat kriminal. Ketika dia lelah kadang dia kembali lagi ke ibunya yang sudah sendiri karena di tinggal atau cerai dengan suaminya yang tinggal di kontrakan kecil yang serba kurang dan kadang kembali lagi ke neneknya dan kadang juga pernah di bapaknya yang sudah menikah lagi. Baju seragam tidak punya, salah pergaulan dan tidak ada uang untuk sehari-hari. saya terus berusaha membuat dia masuk sekolah dan mengerjakan tugas-tugas agar bisa naik kelas. Pada suatu hari dia ku temukan sedang memarkir di jalanan, dan akhirnya saya berhenti dan memaksa dia untuk saya bonceng kesekolah. Setelah sampai sekolah saya bertanya Lagi  apakah masih mau sekolah , dan dia menjawab iya mau sekolah. Tetapi tidak datang lagi . Setelah beberapa kali saya melakukan home visit dan akhirnya dia tetap malas berangkat sekolah dengan bermacam-macam alasan akhirnya saya harus bisa meluluskan permintaan keluarganya yaitu mengundurkan diri dari sekolah . Perasaanku sampai saat ini ketika mengingat peserta- peserta didik yang tidak mau menyelesaikan belajar nya sungguh sedih dan merasa gagal membatu mereka. Hingga akhirnya saya harus menyerah dan mengiklaskan untuk memenuhi permintaannya mengundurkan diri tidak sekolah. sungguh berat sekali keputusan itu dan rasanya saat inipun cerita ingin meneteskan air mata.  Sungguh  sakit rasanya tidak berhasil mengajaknya untuk sekolah.

Tetapi saya tetap berdoa semoga mereka menjadi anak Sholeh shalihah dan dapat hidup sukses di dunia dan akhiratnya. Keberhasilan peserta didik ku adalah merupakan sebagian kebahagiaan ku sebagai gurunya. saya merasakan mereka seperti anak- anak ku sendiri. ketika melihat mereka sulit akupun akan bersedih dan menangis, tetapi ketika melihat mereka sukses atau bahagia ibu guru pun akan tersenyum dan ikut bahagia. yah itulah cerita sebagian peserta didikku sebelum masa pandemik Covid-19 tiba. 

Kita kembali lagi Saat masa pandemik Covid-19 ini banyak juga cerita tentang peserta didik ku yaitu si Agus,Jaka dan Ade serta Hedi( nama di samarkan ) . Mereka mungkin mengalami kebingungan saat tidak memiliki sarana yang lengkap seperti teman-teman nya yg lain dan akhirnya putus asa dan berpasrah dengan keadaan dan tidak berusaha. kemudian setelah saya jelaskan bahwa Pembelajaran jarak jauh tidak harus Daring (Dalam jaringan) yaitu bisa dengan Luring ( Luar jaringan) orangtua dan neneknya menjadi paham. kemudian mereka menyetujui untuk mengumpulkan tugas-tugasnya agar bisa memenuhi persyaratan untuk naik kelas. Pada saat itu juga saya jelaskan berusaha terus tidak harus nilai 100, tetapi yang terpenting adalah sudah berusaha memenuhi kewajibannya sebagai peserta didik. kulihat wajah mereka mulai berseri seri dan semangat. Yang awalnya mereka ketakutan karena ibu guru datang, dan bahkan sampai meneteskan air mata karena sedih tidak ada sarana dan prasarana, kemudian berubah senyum dan semangat setelah kami jelaskan. Dengan berjalannya waktu mereka ternyata memenuhi kewajibannya untuk mengerjakan tugas-tugasnya baik secara daring ataupun luring. dan akhirnya mereka semua dapat menuntaskan tugasnya dan dapat naik kelas atau lulus dari SMPN  di masa pandemik Covid-19 dengan baik.

semoga mereka terus bersemangat dalam belajar dan menjadi manusia yang berguna bagi Nusa dan bangsa serta Agama. Aamiin

Tugas dan pembelajaran menggunakan google Form dan Google Classroom

Saya memberikan tugas dan model pembelajaran  yaitu menggunakan google classroom dan google form  . Ketika diawal pembelajaran peserta didik cukup banyak yang mengerjakan soal di google classroom . kemudian setelah berlangsung selama beberapa bulan ternyata berkurang jumlah peserta didik yang mengerjakan tugas di google classroom entah karena kendala kuota atau jenuh saya belum tahu persis. Saya juga  mulai mengevaluasi pembelajaran yang saya sajikan hawatir terlalu monoton yang membuat bosan maka  Saya ingin membuat zoom , video dan you tube . Sebagai guru memang banyak sekali pekerjaan administrasi yang harus di kerjakan dan harus kreatif serta peka terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya terutama terhadap peserta didik teman dan pimpinan serta masyarakat dan lingkungan sekitarnya. 

Kegiatan guru yang harus dilakukan setiap hari sangat banyak sekali ,belajar materi dari berbagai sumber, membuat soal , merencanakan metode pembelajaran, mengoreksi hasil , mengumpulkan data dan menganalisi data , membuat kesimpulan dari data dan membuat tindak lanjut seperti merencanakan pembelajaran yang lebih baik.membimbing siswa melalui WA baik yang japri dan juga di group , pertanyaan orang tua baik japri ataupun di group , telpon dan home visit kepada siswa ,mengabsen kehadiran siswa , merekap kehadiran,mengedit nilai agar rapih,memberikan susulan, memberikan luring , mengolah nilai , merekap nilai dan membuat nilai akhir semester , ditambah lagi guru juga harus membuat karya ilmiah untuk memenuhi angka kredit sebagai kenaikan pangkat guru . membuat laporan administrasi guru dan administrasi wali kelas. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa di sebutkan satu-persatu. 

Pembelajaran yang bervariasi 

Berdasarkan pengalaman  , saya ingin membuat pembelajaran yang bervariasi  yaitu pembelajaran yang menyajikan pelajaran  dengan metode ceramah, metode demontrasi , metode Tanya jawab dan metode kerja kelompok.  Metode ceramah , mungkin pada saat PJJ ini saya bisa membuat video pembelajaran, zoom atau dengan yang lain. Metode demontrasi saya bisa menyajikan video –video misal jual beli di pasar, interaksi dan lain-lain. Metode Tanya jawab saya akan membuat google form , zoom atau video call dan yang lainnya. Sedangkan untuk kerja kelompok saya akan mempraktekkan melalui zoom atau video call. kita berdiskusi tentang materi dan uniknya lagi di tengah-tengah kita tetap bisa melakukan tracking dengan cara melakukan diskusi kelompok dalam kelompok-kelompok kecil . Saya membagi mereka ke dalam kelompok kecil mereka dan saya masuk di dalamnya untuk memantau  hasilnya . Saya juga ingin tetap melakukan asesmen baik kognetif dan non kognetif serta refleksi baik peserta didik ataupun guru. 

Kerinduan belajar di sekolah dan bertemu

Setelah berbulan-bulan berlalu bahkan sudah hampir satu tahun , kami semua mulai merasakan rindu. Peserta didik mulai kangen dengan teman – temannya, sekolahnya dan juga kepada gurunya. Begitu juga guru juga rindu dengan  peserta didik .  Dalam hal perasaan tentu semua sama yaitu ingi seperti biasa lagi, dapat berinteraksi dengan baik dan bebas . Tetapi  semua ini harus kita hadapi bersama, kita selesaikan bersama. Seperti  ulat yang  masuk dalam Kepompong di dalam bentuk ulat ini akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada didalamnya tidak bisa bergerak tidak bisa melakukan apapun tapi dia akan fokus bekerja melakukan sesuatu ,Mereka mengumpul dan  pada akhirnya ketika keluar dari kepompong menjadi kupu-kupu yang cantik. Seperti halnya kita ,di masa pandemic ini kita tetap harus belajar, bahkan banyak waktu untuk belajar dan ketika nanti sudah normal kita sudah terbiasa belajar dan banyak pengetahuan sehingga pintar dan cerdas. Peristiwa ini mengajarkan kita memahami orang lain, mengajarkan bahwa pendidikan itu adalah tanggung jawab kita bersama kita menjadi penerang  bagi pendidikan di negeri ini mari kita bergandeng tangan bersama belajar demi kemajuan pendidikan di Negara kita tercinta Indonesia. 

Pada bulan Januari 2021 tahun pelajaran 2020-2021 saya ingin membuat rancangan pembelajaran yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Baik dalam keadaan pendemik covid-19 atau sudah normal. saya ingin tetap ada pembelajaran jarak jauh untuk menunjang keberhasilan memenuhi target kurikulum dan membiasakan yang baik. 






Rabu, 27 Oktober 2021

Memaknai Sumpah Pemuda Di Era Milenial

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


“Youth Is The Next Generation Of the Nation’s Heirs .”

Sesuai sebutannya sumpah pemuda dirumuskan oleh para pemuda, dimana mereka menjadikan sebagai sumber dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para pemuda tidak lagi berjuang sendiri melainkan bersama – sama. Serta perlu diketahui jika sumpah pemuda tidak lahir begitu saja, banyak hal yang melandasi agar para pemuda bertekat untuk bersatu. Keegoisan mereka berfikir tidak akan dapat membuat Indonesia merdeka jika berjuang sendiri – sendiri.

Sembilan puluh tiga tahun Sumpah pemuda dirumuskan oleh pemuda dan pemudi bangsa Indonesia pada tanggal 27-28 Oktober 1928 saat berlangsungnya Kongres Pemuda Indonesia II yang berlangsung di Batavia (saat itu Jakarta masih bernama Batavia). Konggres Pemuda II merupakan lanjutan dari Kongres Pemuda I yang telah dilaksanakan sebelumnya yaitu pada tanggal 30 April-2 Mei 1926. Kongres Pemuda Indonesia II ini melahirkan sebuah sumpah yang menunjukkan tentang eksistensi negara Indonesia pada saat itu. Bunyi yang terkandung pada Sumpah Pemuda mempunyai makna yang mendalam bagi pemuda dan pemudi dalam mencintai dan mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. Sebetulnya, sebutan Sumpah Pemuda tidak dibahas dalam jalannya Kongres Pemuda II itu sendiri, tetapi diberikan setelah kongres tersebut selesai.

Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan titik awal dimulainya perjuangan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dari penjajahan dan merupakan langkah yang tidak main-main. Pemuda dan pemudi pada saat itu rela berkorban waktu, tenaga, pemikiran, bahkan berkorban secara materiil dan moral untuk membuat Indonesia bersatu. Kemerdekaan Indonesia diperoleh bukan dari belas kasihan dari negara lain, melainkan dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, termasuk pemuda dan pemudi Indonesia. Perjuangan para pemuda saat itu merupakan bentuk cerminan rasa cintanya terhadap Indonesia. Sebetulnya, latar belakang dari cinta Indonesia adalah Sumpah Pemuda itu sendiri.

 

Teks Isi Sumpah Pemuda

Istilah dari Sumpah Pemuda ini tidak muncul pada saat pelaksanaan putusan Kongres tersebut, melainkan istilah ini diberikan setelahnya karena ikrar ini dilakukan dan dirumuskan oleh para pemuda dan pemudi Bangsa Indonesia. Berikut ini isi dari Teks Sumpah Pemuda yang harus kita ketahui, yaitu sebagai berikut: 

  1. Pertama, kami poetra dan poetri Indenesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air Indonesia.

  2. Kedua, kami poetra dan poetri Indenesia mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia.

  3. Ketiga, kami poetra dan poetri Indenesia menjoenjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.

Memaknai Sumpah Pemuda Di Era milenial 

Generasi Milenial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, apa dan siapa gerangan generasi milenial itu? Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Milenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980 an sampai 2000 an sebagai generasi milenial. Jadi bisa dikatakan generasi milenial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun. Generasi Milenial memiliki karakteristik yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna dan memakai remote, sejak masa sekolah sudah menggunakan handphone, sekarang tiap tahun ganti smartphone dan internet menjadi kebutuhan pokok, berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun, eksistensi sosial ditentukan dari jumlah follower dan like, punya tokoh idola, afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang hype, ikut latah #hashstag ini #hashtag anu, pray for ini dan anu, serta semua gejala-gejala kekinian yang tak habis-habisnya membuat generasi orangtua kita kebingungan mengikutinya.

Mendekati hampir  1 abad lahirnya sumpah pemuda, sudah seharusnya bagi generasi milenial meraih masa keemasannya. Tentu saja peran pemuda dalam embrio cikal bakal hadirnya negara Indonesia memberikan kekuatan penting sebagai tonggak perjuangan bangsa dan keberlangsungan NKRI. 

Hingga hari ini, makna sumpah pemuda secara kesejarahan tidak akan dilupakan. Namun waktu demi waktu, budaya dan keadaan yang begitu cepat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Kebiasaan-kebiasaan baru pun muncul di era milenial. Tentu saja dalam memperingati hari-hari besar juga mengikuti zaman dan waktu yg tepat dengan metode yang tepat pula jika ingin selalu eksis. Lalu, muncul pertanyaan, bagaimanakah kita memaknai sumpah pemuda di era milenial ini?

Kita ingin dari generasi ke generasi mampu memaknai dengan baik cita-cita luhur dari penggagas lahirnya semangat pemuda dalam persatuan dan kesatuan. Saat ini, makna hari sumpah pemuda di kalangan milenial diartikan tidak hanya sekedar kebiasaan dan perayaan tahunan saja, namun seharusnya bisa merefleksikan semangat perjuangan pemuda saat itu ketika memegang tombak untuk meraih kemerdekaan. Salah satu perjuangan pemuda saat ini yaitu dengan menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan, karena di era globalisasi seperti sekarang, rasa persatuan tersebut bisa saja mengikis nilai persaudaraan jika kita tidak mampu memanfaatkan teknologi dengan benar, dan kurangnya rasa toleransi untuk menerima perbedaan. Padahal perbedaan adalah bagian dari kemajemukan bangsa Indonesia, dan menjadi alasan bersatunya Indonesia dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Untuk menghargai perjuangan pemuda zaman lampau, maka milenial hari ini harus melahirkan ide, kreativitas, dan inovasi agar mempertahankan eksistensi dari kemerdekaan itu sendiri. Ide-ide milenial itu tidak perlu dibatasi, jika ide tersebut memberikan kekuatan untuk membangun negeri. Semua pemuda wajib terlibat. Dimulai dari aksi yang secara langsung turun ke lapangan untuk beraspirasi, maupun dari mimpi-mimpi baik sebelum tidur maupun setelah tidur. Terkait kreativitas, hasil karya-karya terdahulu dapat kita lakukan observasi untuk menghasilkan karya-karya baru sehingga mengasah keterampilan milenial. Sementara terkait dengan inovasi, pemuda milenial harus selalu melakukan research atau penemuan-penemuan yang bersifat kekinian, tidak mudah puas atas prestasi yang telah didapat, dan selalu berupaya melakukan aktivitas baik yang menjadi kebiasaan, maupun keluar dari zona nyaman.

    Tujuh tahun lagi menjelang 100 tahun perayaan sumpah pemuda. Beralihnya tahun mestinya melahirkan kepemimpinan yang menampilkan pemuda sebagai ikonnya, memamerkan kesuksesan pemuda di berbagai sektor dalam sendi kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya yang memiliki nilai-nilai baru secara global agar diterima dan menjadi eksis dalam menghadapi dunia yang terus menerus berubah. Contoh aksi nyata dibidang politik, generasi milenial harus ikut andil dalam menyuarakan suara rakyat. Sementara di bidang ekonomi, sebisa mungkin generasi milenial mampu memunculkan usaha-usaha baru dan menebarkan jiwa jiwa enterpreneurship kepada pemuda lain. Selain itu, di bidang sosial dan budaya, pemuda harus bisa berperan dalam melakukan perubahan di kehidupan sosial dan mampu merevitalisasi budaya yang perlahan memudar di era globalisasi. Dengan demikian, pemuda mampu menunjukkan perannya sebagai agent of change bagi negaranya.

Selanjutnya dapat juga upaya memaknai hari sumpah pemuda sepatutnya dilakukan generasi milenial dengan mengimitasi hasrat kaum muda dalam menggerakkan sejarah. Mereka bisa menunjukkan dengan mendayagunakan perangkat virtual secara bertanggung jawab. Generasi muda masa kini seyogyanya memanfaatkan akun digital untuk menyatukan Bangsa, menautkan nasionalisme, mendewasakan psikologi masyarakat, serta meredam problematika sosial. Virtualisasi menjadi sarana membumikan pluralisme dan toleransi. Dengan demikian di samping sebagai ekspresi kebanggaan warga negara, media sosial juga diberdayakan sebagai instrumen pembangkit solidaritas nasional (national solidarity). Dalam konteks inilah, generasi muda masa kini bisa ambil bagian, terutama dalam menebalkan budaya Indonesia menghadapi kultur global. Pemuda Indonesia harus menjadi generasi yang mencintai negaranya dan tidak akan tunduk kepada Bangsa lain, generasi yang mampu menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan Bangsa Indonesia. Secara religius generasi milenial wajib terus menebalkan Iman dan Taqwa dan senantiasa memohon kepada Sang Pemilik Kehidupan, agar NKRI tetap Jaya, Berdaulat serta Bermartabat. Hanya dengan Ridho dan Pertolongan Alloh NKRI tetap Jaya dan Bersatu. Aamiin YRA. 

 

 



                                      DAFTAR PUSTAKA 


Ginanjar Kartasasmita dkk,1985. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: PT Gita Karya

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

https://www.kompasiana.com/tag

http://www.apa.org/topics/control.aspx

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati.2020.  Indahnya Berkarya Untuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara 

Minggu, 24 Oktober 2021

TRAGEDI OPERASI SEROJA PARA PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

Oleh : Yanuar Iwan

SMP Negeri 1 Cipanas


Right or wrong my country ( Lord Palmerston )


Pada 2001 Arsip Nasional Amerika Serikat merilis dokumen keterlibatan Pemerintah Amerika  Serikat dibawah Gerald Ford dalam masalah Timor Lorosae tahun 1975. Dokumen tersebut mengungkap tahap demi tahap pembicaraan segitiga antara Presiden Ford, Presiden Soeharto, dan Menteri Luarnegeri Henry Kissingger mulai dari Camp David Juli 1975 sampai puncak kesepakatan di Jakarta 6 Desember 1975, AS yang trauma akibat kekalahan di Vietnam memberikan dukungan politiknya  kepada Indonesia untuk masuk ke wilayah Timor Lorosae sekaligus memcegah Fretelin yang mengusung ideologi komunis berkuasa.


Pada 7 Desember 1975 pukul 05.45 barisan pesawat Hercules T 1308 dipimpin Letnan Kolonel Pnb Suakadirul dengan sandi operasi Rajawali Flight memulai operasi lintas udara ratusan prajurit Kopassandha dengan komandan Letnan Kolonel Sugito dan prajurit batalyon 502/Raiders Jawa Timur dengan komandan Letnan Kolonel Matrodji melakukan misi penerjunan dengan tujuan menguasai kota Dili, kantor gubernur dan lapangan udara, tembakan gencar dari darat dilancarkan fretilin dan para mantan Tropaz ( Prajurit yang dilatih kemiliteran oleh tentara Portugis ) dapat dibayangkan betapa sulitnya para  prajurit Kopassandha dan Batalyon 502 ketika mereka masih di udara membalas tembakan dari bawah sambil mengendalikan payung. Sesampainya di darat mereka langsung terlibat pertempuran dengan Fretelin dan para milisi pendukungnya, beberapa prajurit mendarat di laut dan hilang, beberapa lagi tersangkut di pohon dan pagar, mereka yang mendarat dilapangan terbuka sebagian menjadi sasaran sniper. Pertempuran jarak dekat tidak dapat dihindari, tidak jarang terjadi perkelahian satu lawan satu. Pukul 12.30 kota Dili dapat dikuasai, dalam buku Benny Moerdani "Prajurit Negarawan" 35 prajurit Batalyon 502/Raiders Kostrad gugur termasuk dua orang mayor dan dua orang kapten. Dari baret merah 16 prajurit gugur, dipihak Fretelin 122 tewas dan 365 orang ditawan.


Sempat terjadi kesalahpahaman dalam penerjunan tahap ke 2 pasukan baret hijau Kostrad menembaki marinir yang sudah berhasil mendesak milisi fretelin ke bagian selatan kota Dili beruntung tidak terjadi korban jiwa. Akibat peristiwa ini penerjunan tahap ke  3 ditunda.


Operasi gabungan tiga matra darat, laut, dan udara adalah operasi rumit dan menanggung resiko besar, terlebih pada saat itu tidak seluruh prajurit pernah mengikuti latihan militer gabungan, korban jiwa di hari pertama operasi lintas udara sebenarnya bisa dihindari apabila informasi-informasi intelejen secara akurat bisa menggambarkan seluruh potensi resiko dan reaksi Fretelin. Pemboman dari laut oleh kapal-kapal perang menjelang operasi amphibi  satuan-satuan Marinir, justru meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan Fretilin dan sayap militernya, itulah sebabnya pada penerjunan tahap 1 jatuh korban jiwa.


Dalam operasi militer seharusnya musuh jangan diberikan kesempatan untuk meloloskan diri, yang menjadi pertanyaan mengapa wilayah selatan kota Dili tidak segera ditutup ketika kota Dili berhasil dikuasai, jika hal ini dilakukan tentu manuver Fretilin untuk meloloskan diri dan membangun kekuatan bisa dicegah dan jatuhnya korban jiwa yang lebih besar tentunya bisa dihindari. Sebagai bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawannya sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh prajurit TNI yang gugur, cacat, atau hilang dalam tahapan Operasi Seroja, jangan ada lagi suara-suara sumbang  dari negeri sendiri mengenai proses integrasi Timor timur bahwa Indonesia melakukan invasi, Indonesia melakukan penjajahan, Indonesia mengeksploitasi Timor timur, Timor timur sudah menjadi negara tersendiri melalui referendum yang penuh dengan intrik dan kecurangan diindikasikan ada keterlibatan Australia dalam proses lepasnya Timor timur pada 1999. Sejarah Timor timur yang kini menjadi negara Timor Leste idealnya tetap diberikan di bangku SMP dan SMA sebagai bahan evaluasi bagaimana sebaiknya bangsa ini bersikap terhadap negara-negara "super power" karena sejarah ditulis bukan hanya untuk para pemenang, sejarah ditulis secara berimbang untuk menjamin manusia masih memiliki sifat  kemanusiaannya.


Daftar Pustaka :

Hendro Subroto; Saksi Mata Perjuangan Integrasi TimorTimur

Julius Pour ; Benny Moerdani Prajurit Negarawan.





Cisarua, Bogor 23 Oktober 2021

Selasa, 19 Oktober 2021

Numberred Heads Together (NHT) Sebuah Alternatif Model Pembelajaran di Masa PTM


Oleh : Atjih Koerniasih, S.Pd

Guru SMP Negeri 1 Cipanas-Cianjur 


Tulisan ini lahir dan terinspirasi saat penulis mengamati seorang rekan sesama guru  mata pelajaran mengajar. Ita Suwarmita. Model Numberred Heads Together (NHT) sebagai model pembelajaran pilihannya.

Apa yang menarik sehingga penulis  terinspirasi untuk menuangkannya dalam tulisan?. Padahal saya yakin sebahagian besar guru, termasuk penulis  sudah  mengenal model tersebut. Mungkin saja sudah sering atau minimal pernah menerapkannya.

Jawabannya adalah,  karena NHT yang digunakan pada saat dan waktu yang berbeda dengan biasanya. Maksudnya model ini digunakan saat pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM)  terbatas saat  Pandemi Covid -19 mulai melandai. Saat siswa kembali ke sekolah setelah kurang lebih satu setengah tahun belajar dari rumah. Baik dalam jaringan (Daring) maupun di luar jaringan (Luring)  Sebuah pembelajaran yang memiliki banyak keterbatasan. 

Kerbatasan disini dalam hal jumlah siswa, waktu, materi maupun dalam keterbatasan berinteraksi antar siswa di sekolah maupun di kelas. Kesemuanya diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam rangka protokol kesehatan untuk mencegah adanya penularan covid -19

Saat guru dan peserta didik harus melaksanakan protokol kesehatan,  salah satunya di antaranya  tidak boleh berkerumun,di sisi lain juga guru sebgai fasilitator harus mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan kecakapan abad 21. Berpikir tingkat tinggi, memiliki kreatifitas, berkomunikasi dan berkolaborasi dalam mencari, menemukan, dan mengolah sebuah informasi dalam rangka memecahkan masalah (Problem Solving)

Muncul permasalahan, model pembelajaran yang bagaimana yang dapat kita gunakan dalam upaya  meningkatkan kompetensi abad 21 tersebut  dan sekaligus menantang dan menyenangkan  sedangkan di saat   yang sama tetap dalam prosesnya tidalk melanggar protokol kesehatan ?. 

Mengapa pertanyaan ini muncul?. Karena  berdasarkan pengalaman proses pembelajaran yang memiliki karakteristik seperti di atas biasanya tidak lepas dari berkerumun, berdialog dan bekerja sama. Hal mana tentunya  bertentangan dengan aturan PTM itu sendiri. Akhirnya muncul sebuah keadaan kelas yang kaku. 

 Coba saja kita perhatikan saat PTM. Peserta didik duduk sendiri, agak jauh. Ini artinya sama saja peserta didik tidak boleh berdekatan. Berkerumun. Al hasil yang terjadi proses interaksi hanya dua arah. Guru dan siswa. Hal ini terlihat pada awal awal proses pembelajaran tatap muka terbatas. Fenome siswa banyak diam,  takut berbicara, ditanya diam hal yang sering terjadi. Akibatnya bisa kita bayangkan. Sebuah kelas yang sepi, kurang bergairah, dan kurang menantang. Mungkin saja dikarenakan siswa juga harus beradaptasi kembali dengan belajara secara tatap muka. Apalagi bagi kelas delapan dan kelas tujuh. Belajar di kelas sebuah pengalaman baru tentunya.  

Fenomena tersebut tentunya harus dicari solusinya. Guru sebisa mungkin harus merancang model apa yang bisa digunakan. Model yang mampu membuat kelas bergairah, menantang penuh kreatif, penuh komunikasi tetapi tetap patuh pada protokol kesehatan. 

Pertanyaan penulis  tersebut terjawab saat penulis mengamati  Bu Ita Suwarmita. Beliau menggunakan model NHT untuk membahas materi Benua/negara Australia yang oleh beliau dikatakan Game kepada peserta didik. Tentunya sebutan itu untuk menimbulkan motivasi, gairah, rasa ingin tahu mereka. Terbukti saat Bu Ita mengatakan game saja penulis melihat reaksi mereka penuh rasa ingin tahu serta terlihat gembira. Saya jadi teringat “kalimat sakti”  dari Booby de porter yang bunyinya “masuki dunia mereka, dan antarkan dunia kita kepada mereka” Ya Games bagi mereka adalah dunianya. Bu Ita telah memasuki dunia mereka untuk masuk dan mengantarkan pelajaran. 

Bu Ita dalam awal kegiatan inti mengawali nya dengan memaparkan secara garis besar materi. Untuk memunculkan rasa ingin tahu peserta didik. Kemudian anggota kelas di bagi kelompok. Karena membahas Benua Australia maka Bu Ita menamai kelompok sesuai nama nama kota di Australia. Tentunya menamai seperti itu dengan maksud agar peserta didik minimal hapal kota kota tersebut. Sebuah trik  hapalan yang menurut hemat penulis jitu efektif. 

Kemudian menentukan peserta didik masuk ke kelompok mana. Setiap peserta didik oleh beliau  diberi nomor kepala. (Nomor untuk panggilannya) seperti si A Brisbane 1 artinya masuk kelompok Brisbane anggota nomor 1  begitu seterusnya. 

Setelah menentukan nomor kepala beliau membagikan sobekan kertas soal yang olehnya  disebut "surat cinta". Sobekan kertas beirisi beberapa nomor soal yang harus dicari, ditemukan dan diolah jawabannya. Peserta didik dipersilahkan untuk mencari, menemuksnnya baik secara literasi baca maupun literasi secara digital. 

Setelah dianggap cukup proses mencari, menemukan dan mengolah maka langkah berikutnya mengkomunikasikan. Beliau setelah memaparkan aturan main gamenya,  memerintahkan peserta untuk.menutup buku paket maupun HP. Terlihat suasana kelas sedikit tegang. Hal tersebut wajar karena mereka menduga duga siapa yang akan dipanggil dan tidak dipanggil nama tetapi nomor kepala yang sudah ditentukan. Contoh Brisbane 2.1 artinya kelompok Brisbane nomor kepala 2 soal nomor 1 yang harus dijawab. 


Sesi Game NHT peserta didik betul betul harus fokus. Fokus akan nama kelompoknya, fokus nomor kepalanya dan fokus akan jawaban dari tiap tiap nomor soal. Ini lah yang menurut hemat penulis peserta didik sedikit agak tegang, sehingga saat ada seorang peserta yang dipanggil bukan untuk menjawab tetapi membantu beliau suasana riuh terjadi. "Yaaaa ibu ...mah

Tegang, menyenangkan, rame itulah yang penulis dengar saat mereka refleksi. Proses setelah kegiatan “merayakan dan mengapresiasi peserta didik”. Salah satu konsep TANDUR yang dikemukakan eh Bobby  the porter dalam bukunya Quantum Teaching. Yang kemudian ditutup oleh Bu Ita dengan penguatan agar tidak terjadi kesalahan konsep.

Setelah penulis amati dan menyaksikan rekan kerja menggunakan model NHT model ini rasanya  cocok dalam PTM karena tetap prokes tetapi kelas menjadi bergairah menyenangkan dan menantang. Walaupun kecakapan bekerjasama masih belum terlihat. Karena memang adanya aturan tidak boleh berkerumun. Namun setidaknya sebuah usaha untuk menjadikan kelas bergairah, menyenangkan telah terjadi. Sebuah kondisi kelas yang sangat, sangat dirindukan oleh peserta didik. Semoga saja pembelajaran tatap muka secara normal kembali terwujud. Bersamaan dengan meredanya pandemi covid -19. Insya Allah 

Senin, 18 Oktober 2021

Merancang Pola Pikir Melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional

Oleh : N.Evi Susantika

SMPN 1 Mangunreja – Kab. Tasikmalaya


“Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama”  (Nadiem Makarim)

Melalui pembelajaran Sosial dan Emosional ini dengan membayangkan segala aktivitas  kita diantaranya harus melakukan banyak sekali pekerjaan. Selain tugas mengajar di depan kelas, mengoreksi  pekerjaan murid dan memberikan umpan balik, menyusun administrasi pembelajaran, menghadiri rapat dengan orangtua murid untuk mendiskusikan masalah kedisiplinan dan disusul dengan menulis laporan kepada kepala sekolah, dan berbagai tugas sebagai wali kelas atau panitia kegiatan sekolah sudah mengantri untuk dikerjakan. Apa yang kita rasakan?  Pada saat  itu, mungkin  kita merasa sulit bekerja dengan optimal. Kita mungkin sulit berkonsentrasi saat bersama murid di kelas, merasa kurang sabar saat berkomunikasi dengan orangtua murid, atau akhirnya lupa mengecek hasil kerjaan murid hingga sudah larut malam. Belum lagi, dengan berbagai  tugas di atas, seorang guru juga dibutuhkan untuk mendampingi murid dengan berbagai masalahnya, mulai dari masalah datang terlambat, bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, melakukan tindakan kekerasan atau perundungan, hingga kasus murid  yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. (www.liputan6.com, diakses 5 Juni 2020). Untuk menghadapi berbagai situasi yang kompleks ini, seorang pendidik membutuhkan kemampuan dasar untuk merawat dirinya (self care) agar dapat mengelola kehidupan profesional maupun personalnya.

Pembelajaran Sosial Emosional Learning atau SEL adalah proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri dan kemampuan relasi. Kenapa SEL sangat penting? Karena proses ini akan membantu kehidupannya baik di sekolah, lingkungan kerja atau bermasyarakat. Perlu diketahui bahwa orang yang punya sosial emosional yang baik jauh lebih bisa:

  1. Menerima dan melakukan tantangan, misalnya dalam bekerja.
  2. Lebih mudah untuk belajar.
  3. Bersikap professional.
  4. Bersosialisasi

Jadi, pembelajaran SEL ini tidak hanya fokus pada kemampuan anak dalam jangka waktu dekat tetapi juga jangka panjang. Tidak mengherankan jika saat ini banyak pihak terutama sekolah yang kemudian menerapkan SELdalam pembelajarananak. Tapi, apakah SEL bisa diaplikasikan begitu saja? Tidak! Menurut Durlak et al., 2010, 2011 yang dikutip dalam Edutopia menjelaskan bahwa program SEL harus sesuai dengan SAFE, yaitu:

  1. Sequenced: saling berkaitan dan terkoordinasi untuk mendorong keterampilan anak.
  2. Active: bentuk pembejalaran aktif agar anak mampu menguasai keterampilan yang baru.
  3. Focused: menekankan pengembangan keterampilan baik secara individu maupun sosial.
  4. Explicit : menargetkan keterampilan sosial dan emosional yang lebih spesifik

A.    Manajemen Diri (Pengelolaan Diri)

Seperti kasus yang dialami oleh Ibu Adriana telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Ibu Adriana merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Ibu Adriana sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Ibu Adriana juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Atau kasus Ibu Adriana yang lainnya yang tentunya ada banyak kasus yang terjadi.

Selesai kegiatan belajar-mengajar berakhir, Ibu Adriana memimpin rapat panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Bu Adriana untuk mempelajari perubahan proposal acara.  Bu Adriana perlu memastikan semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat. Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal disetujui oleh kepala sekolah.  Oleh karena itu, Ibu Adriana diminta untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat-lambatnya lusa. Karena mendahulukan proposal ini, Ibu Adriana pun lupa menyiapkan rubrik untuk pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Ibu Adriana, masuk kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran sempat tersendat.

1. Masalah yang dihadapi Ibu Adriana adalah kondisi multi peran dimana dalam menjalankannya nampak tidak fokus terhadap tupoksi sebagai pendidik/ pengajar, meski sebagian waktunya dapat melaksanakan tugasnya menuntaskan kegiatan mengajarnya namun dengan hadirnya amanah dalam kegiatan diluar peran pendidik yaitu sebagai Ketua Panitia Agustusan yang perlu memaksimalkan diri dimulai dari perencanaan hingga pengaturan anggaran, akhirnya tugas mendidik hari berikutnya tidak fokus sehingga tidak sempat untuk mempersiapkan pembelajaran yang akhirnya kurang optimal.

2. Penerapan kompetensi pengelolaan diri pada masalah tersebut, yaitu :

a)      Perlu adanya Manajeman diri yang merupakan pengendalian diri yang dapat mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang  kita lakukan, sehingga  dapat terhindar  hal-hal yang tidak baik yang mana hal ini akan meningkatkan perbuatan baik dan benar.

b)      Mampu memanaj waktu, prioritaskan tugas utama sebagai pendidik, baru menuntaskan tugas tambahan kepanitiaan (yang mana jika uraian tugasnya tepat pasti dapat berbagi dengan rekan kepanitiaan tidak mesti dikerjakan sendiri, dengan kata lain mampu  memposisikan tim kerja yang tepat sehingga dapat efektif dan bertanggjawab akan semua tugasnya.

 

B.     Kesadaran Diri

Adapun Penerapan kompetensi kesadaran diri pada masalah Ibu Andriana adalah

1.      Mesti berlatih mindfulness (berkesadaran penuh) yang memiliki keterlibatan  dengan kesadaran diri, melalui cara memahami dan mengenali emosi yang tertanam  pada dirinya, sehingga beliau  dapat merespon kondisi  secara cepat, tepat dan optimal. 

2.       Ibu Adriana dapat mempraktikan teknik #STOP# :

·         Stop; Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan

·         Take a deep breath; Tarik nafas dalam​. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk- napas  keluar.

·          Observe;  Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati  perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat  Anda lakukan.  

·         Proceed/Lanjutkan​. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang  lebih positif.  

 Ketika menghadapai situasi yang membuat kita merasa repot tidak fokus,  oleh karena  kesadaran penuh dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing); latihan bergerak sadar (mindful movement), yaitu bergerak  yang disertai kesadaran  tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari  gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari  yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita.  Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari nafas. 

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness).

Ada beberapa kata kunci, yaitu: kesadaran (awareness), perhatian yang disengaja (on purpose), saat ini (present moment), rasa ingin tahu (curiosity), dan kebaikan (compassion). Artinya ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan rasa (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan. Jika dalam dua kompetensi sebelumnya, kita diminta untuk memiliki pemahaman dan kemampuan mengenal serta mengelola diri sendiri, maka dalam kesadaran sosial ini kita diharapkan membangun kemampuan untuk menempatkan diri dan melihat perspektif orang lain.

C.    Keterampilan Berempati 

Begitupun dalam pembelajaran langsung kita sebagai bekal mental dalam menghadapi kondisi, mesti mengetahui hal terkait dengan keterampilan berempati. Empati merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami serta ikut merasakan perasaan-emosi orang lain sehingga dapat melihat perspektif sudut pandang orang lain. Baru setelah kita mampu melihat dari kaca mata orang lain, kita dapat menghargai dan memahami konteksnya. Apa saja yang mendasari perilaku, sikap dan cara berpikir orang tersebut. Bob dan Megan Tschannen-Moran (2010) menggambarkan empati sebagai sikap menghormati, tidak salah memahami dan mengapresiasi pengalaman orang lain. 

Keterampilan berempati merupakan keterampilan yang membantu seseorang memiliki hubungan yang hangat dan lebih positif dengan orang lain. Mengapa? Karena empati mengarahkan kita untuk mengurangi fokus hanya ke diri sendiri, melainkan juga belajar merespon orang lain dengan cara yang lebih informatif dan penuh afeksi ke orang lain sehingga lingkungan yang inklusif akan terbentuk.   Menanamkan empati dapat dilakukan dengan langkah yang paling sederhana yaitu dengan menaruh perhatian pada perasaan orang lain dengan bertanya:

 1. Apa yang dirasakan orang tersebut?

 2. Apa yang mungkin akan dia lakukan?

 3. Apa yang saya rasakan jika mengalami kejadian yang sama? 

  Setelah menanyakan beberapa hal tersebut sebelum berbicara atau bertindak, meyakini bahwa setiap orang berbeda, dan memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan akan memungkinkan kita untuk bersikap lebih empati pada orang lain.  Empati merupakan keterampilan yang bisa dilatih untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melatih empati dalam diri kita: ·       

1)       Menaruh perhatian pada perasaan orang lain ·  

2)       Berpikir sebelum berbicara atau bertindak ·        

3)      Meyakini bahwa setiap orang berbeda

4)      Memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan.

Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat yang menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusannya sendiri. Selain itu kesadaran diri juga berarti menetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Suryanti dan Ika (2004) menyatakan bahwa saat kita semakin mengenal diri kita, kita memahami apa yang kita rasakan dan lakukan. Kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain".

·         Awali dengan bernapas secara teratur dan menyadari napas dalam teknik STOP teknik yang efektif,  yang dapat mengembalikan kesadaran penuh

·         Kesampingkan sejenak situasi kelas, atau masalah dalam kepanitiaan

·         fokus pada situasi murid atlet. Menaruh perhatian pada perasaan orang lain

·         Belajar untuk menerima dan memahami orang lain, sehinga dapat berpikir objektif

·         Memberi dukungan pada orang lain

 Contoh kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa empati dalam pembelajaran langsung yaitu Bermain Peran, karena pada permainan ini semua jenis karakter bisa mereka lakukan sesuai keinginan. Disitulah anak akan belajar untuk memahami bagiamana menjadi orang lain dan merasakan yg dirasakan orang lain, terutama teman-teman sebaya atau yang terlibat pada permainan tersebut.

D.    Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab 

Pernahkah Anda menyesali keputusan yang Anda buat? Pernahkah keputusan yang Anda buat, alih-alih memberikan solusi malah menimbulkan masalah baru, atau merugikan orang lain, lingkungan, dan bahkan diri Anda sendiri? Saat Anda mengalami hal tersebut, Apa yang Anda rasakan? Apa yang Anda lakukan? Menurut Anda, mengapa seseorang mengambil keputusan yang kemudian disesalinya?    Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial.

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sesungguhnya adalah kemampuan yang jika secara konsisten dan berkelanjutan ditumbuhkan dan dibiasakan sejak dini, akan memungkinkan seseorang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan lebih berdaya lenting (resilience) dalam menghadapi segala konsekuensi yang harus dihadapi akibat keputusan yang dibuat dalam hidupnya.   Kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab tidak datang secara alami. Kemampuan ini perlu dengan sengaja ditumbuhkan. Seorang pengambil keputusan yang bertanggung jawab akan mempertimbangkan semua aspek, alternatif pilihan, berikut konsekuensinya, sebelum kemudian mengambil keputusan. Untuk dapat melakukan hal tersebut seseorang perlu belajar bagaimana: 1. mengevaluasi situasi 2. menganalisis alternatif pilihan mereka, dan  3. mempertimbangkan konsekuensi dari masing-masing pilihan itu terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.  

Salah satu strategi sederhana yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah dengan menggunakan kerangka yang disebut POOCH - Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil), dan How (Bagaimana hasilnya). Kerangka sederhana ini akan membantu seseorang memikirkan dengan baik berbagai aspek sebelum memutuskan sesuatu.  

Kerangka kerja POOCH ini dapat efektif jika dikerjakan dengan tenang dan jujur melihat situasi riil. Teknik STOP yang selama ini telah saya praktikkan, dapat membantunya bersikap tenang dan rileks saat mengevaluasi situasi dan mengerjakan lembar kerja POOCH.  Selain mampu membuat pilihan keputusan, seseorang yang memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab akan dapat menyikapi konsekuensi atas keputusan tersebut dengan baik, termasuk jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Besar harapan dengan mengenali dan memahami pembelajaran Sosial dan Emosional dapat menjadi lebih kuat dan sungguh-sungguh seberat apapun masalah yang dihadapi insyaAlloh dapat teratasi dan terkendali, kita akan merasa nyaman karena sudah memiliki solusi terindah. Dimana pun berada ketika kita dapat lebih mengendalikan diri dengan kekuatan yang dimiliki, maka segala rintangan/permasalahan akan segera tercerahkan.

Peran kita sebagai pendidik adalah tugas mulia sekaligus tersulit yang harus terus fokus pada pembelajaran yang bermakna untuk anak didik kita. Mari terus belajar, berefleksi dan bertumbuh menjadi lebih baik bagi murid-murid kita. Terakhir, kami ingin mengutip kata-kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Makarim: “Besok, di manapun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru  melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.“