Selasa, 19 Oktober 2021

Numberred Heads Together (NHT) Sebuah Alternatif Model Pembelajaran di Masa PTM


Oleh : Atjih Koerniasih, S.Pd

Guru SMP Negeri 1 Cipanas-Cianjur 


Tulisan ini lahir dan terinspirasi saat penulis mengamati seorang rekan sesama guru  mata pelajaran mengajar. Ita Suwarmita. Model Numberred Heads Together (NHT) sebagai model pembelajaran pilihannya.

Apa yang menarik sehingga penulis  terinspirasi untuk menuangkannya dalam tulisan?. Padahal saya yakin sebahagian besar guru, termasuk penulis  sudah  mengenal model tersebut. Mungkin saja sudah sering atau minimal pernah menerapkannya.

Jawabannya adalah,  karena NHT yang digunakan pada saat dan waktu yang berbeda dengan biasanya. Maksudnya model ini digunakan saat pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM)  terbatas saat  Pandemi Covid -19 mulai melandai. Saat siswa kembali ke sekolah setelah kurang lebih satu setengah tahun belajar dari rumah. Baik dalam jaringan (Daring) maupun di luar jaringan (Luring)  Sebuah pembelajaran yang memiliki banyak keterbatasan. 

Kerbatasan disini dalam hal jumlah siswa, waktu, materi maupun dalam keterbatasan berinteraksi antar siswa di sekolah maupun di kelas. Kesemuanya diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam rangka protokol kesehatan untuk mencegah adanya penularan covid -19

Saat guru dan peserta didik harus melaksanakan protokol kesehatan,  salah satunya di antaranya  tidak boleh berkerumun,di sisi lain juga guru sebgai fasilitator harus mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan kecakapan abad 21. Berpikir tingkat tinggi, memiliki kreatifitas, berkomunikasi dan berkolaborasi dalam mencari, menemukan, dan mengolah sebuah informasi dalam rangka memecahkan masalah (Problem Solving)

Muncul permasalahan, model pembelajaran yang bagaimana yang dapat kita gunakan dalam upaya  meningkatkan kompetensi abad 21 tersebut  dan sekaligus menantang dan menyenangkan  sedangkan di saat   yang sama tetap dalam prosesnya tidalk melanggar protokol kesehatan ?. 

Mengapa pertanyaan ini muncul?. Karena  berdasarkan pengalaman proses pembelajaran yang memiliki karakteristik seperti di atas biasanya tidak lepas dari berkerumun, berdialog dan bekerja sama. Hal mana tentunya  bertentangan dengan aturan PTM itu sendiri. Akhirnya muncul sebuah keadaan kelas yang kaku. 

 Coba saja kita perhatikan saat PTM. Peserta didik duduk sendiri, agak jauh. Ini artinya sama saja peserta didik tidak boleh berdekatan. Berkerumun. Al hasil yang terjadi proses interaksi hanya dua arah. Guru dan siswa. Hal ini terlihat pada awal awal proses pembelajaran tatap muka terbatas. Fenome siswa banyak diam,  takut berbicara, ditanya diam hal yang sering terjadi. Akibatnya bisa kita bayangkan. Sebuah kelas yang sepi, kurang bergairah, dan kurang menantang. Mungkin saja dikarenakan siswa juga harus beradaptasi kembali dengan belajara secara tatap muka. Apalagi bagi kelas delapan dan kelas tujuh. Belajar di kelas sebuah pengalaman baru tentunya.  

Fenomena tersebut tentunya harus dicari solusinya. Guru sebisa mungkin harus merancang model apa yang bisa digunakan. Model yang mampu membuat kelas bergairah, menantang penuh kreatif, penuh komunikasi tetapi tetap patuh pada protokol kesehatan. 

Pertanyaan penulis  tersebut terjawab saat penulis mengamati  Bu Ita Suwarmita. Beliau menggunakan model NHT untuk membahas materi Benua/negara Australia yang oleh beliau dikatakan Game kepada peserta didik. Tentunya sebutan itu untuk menimbulkan motivasi, gairah, rasa ingin tahu mereka. Terbukti saat Bu Ita mengatakan game saja penulis melihat reaksi mereka penuh rasa ingin tahu serta terlihat gembira. Saya jadi teringat “kalimat sakti”  dari Booby de porter yang bunyinya “masuki dunia mereka, dan antarkan dunia kita kepada mereka” Ya Games bagi mereka adalah dunianya. Bu Ita telah memasuki dunia mereka untuk masuk dan mengantarkan pelajaran. 

Bu Ita dalam awal kegiatan inti mengawali nya dengan memaparkan secara garis besar materi. Untuk memunculkan rasa ingin tahu peserta didik. Kemudian anggota kelas di bagi kelompok. Karena membahas Benua Australia maka Bu Ita menamai kelompok sesuai nama nama kota di Australia. Tentunya menamai seperti itu dengan maksud agar peserta didik minimal hapal kota kota tersebut. Sebuah trik  hapalan yang menurut hemat penulis jitu efektif. 

Kemudian menentukan peserta didik masuk ke kelompok mana. Setiap peserta didik oleh beliau  diberi nomor kepala. (Nomor untuk panggilannya) seperti si A Brisbane 1 artinya masuk kelompok Brisbane anggota nomor 1  begitu seterusnya. 

Setelah menentukan nomor kepala beliau membagikan sobekan kertas soal yang olehnya  disebut "surat cinta". Sobekan kertas beirisi beberapa nomor soal yang harus dicari, ditemukan dan diolah jawabannya. Peserta didik dipersilahkan untuk mencari, menemuksnnya baik secara literasi baca maupun literasi secara digital. 

Setelah dianggap cukup proses mencari, menemukan dan mengolah maka langkah berikutnya mengkomunikasikan. Beliau setelah memaparkan aturan main gamenya,  memerintahkan peserta untuk.menutup buku paket maupun HP. Terlihat suasana kelas sedikit tegang. Hal tersebut wajar karena mereka menduga duga siapa yang akan dipanggil dan tidak dipanggil nama tetapi nomor kepala yang sudah ditentukan. Contoh Brisbane 2.1 artinya kelompok Brisbane nomor kepala 2 soal nomor 1 yang harus dijawab. 


Sesi Game NHT peserta didik betul betul harus fokus. Fokus akan nama kelompoknya, fokus nomor kepalanya dan fokus akan jawaban dari tiap tiap nomor soal. Ini lah yang menurut hemat penulis peserta didik sedikit agak tegang, sehingga saat ada seorang peserta yang dipanggil bukan untuk menjawab tetapi membantu beliau suasana riuh terjadi. "Yaaaa ibu ...mah

Tegang, menyenangkan, rame itulah yang penulis dengar saat mereka refleksi. Proses setelah kegiatan “merayakan dan mengapresiasi peserta didik”. Salah satu konsep TANDUR yang dikemukakan eh Bobby  the porter dalam bukunya Quantum Teaching. Yang kemudian ditutup oleh Bu Ita dengan penguatan agar tidak terjadi kesalahan konsep.

Setelah penulis amati dan menyaksikan rekan kerja menggunakan model NHT model ini rasanya  cocok dalam PTM karena tetap prokes tetapi kelas menjadi bergairah menyenangkan dan menantang. Walaupun kecakapan bekerjasama masih belum terlihat. Karena memang adanya aturan tidak boleh berkerumun. Namun setidaknya sebuah usaha untuk menjadikan kelas bergairah, menyenangkan telah terjadi. Sebuah kondisi kelas yang sangat, sangat dirindukan oleh peserta didik. Semoga saja pembelajaran tatap muka secara normal kembali terwujud. Bersamaan dengan meredanya pandemi covid -19. Insya Allah 

Senin, 18 Oktober 2021

Merancang Pola Pikir Melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional

Oleh : N.Evi Susantika

SMPN 1 Mangunreja – Kab. Tasikmalaya


“Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama”  (Nadiem Makarim)

Melalui pembelajaran Sosial dan Emosional ini dengan membayangkan segala aktivitas  kita diantaranya harus melakukan banyak sekali pekerjaan. Selain tugas mengajar di depan kelas, mengoreksi  pekerjaan murid dan memberikan umpan balik, menyusun administrasi pembelajaran, menghadiri rapat dengan orangtua murid untuk mendiskusikan masalah kedisiplinan dan disusul dengan menulis laporan kepada kepala sekolah, dan berbagai tugas sebagai wali kelas atau panitia kegiatan sekolah sudah mengantri untuk dikerjakan. Apa yang kita rasakan?  Pada saat  itu, mungkin  kita merasa sulit bekerja dengan optimal. Kita mungkin sulit berkonsentrasi saat bersama murid di kelas, merasa kurang sabar saat berkomunikasi dengan orangtua murid, atau akhirnya lupa mengecek hasil kerjaan murid hingga sudah larut malam. Belum lagi, dengan berbagai  tugas di atas, seorang guru juga dibutuhkan untuk mendampingi murid dengan berbagai masalahnya, mulai dari masalah datang terlambat, bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, melakukan tindakan kekerasan atau perundungan, hingga kasus murid  yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. (www.liputan6.com, diakses 5 Juni 2020). Untuk menghadapi berbagai situasi yang kompleks ini, seorang pendidik membutuhkan kemampuan dasar untuk merawat dirinya (self care) agar dapat mengelola kehidupan profesional maupun personalnya.

Pembelajaran Sosial Emosional Learning atau SEL adalah proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri dan kemampuan relasi. Kenapa SEL sangat penting? Karena proses ini akan membantu kehidupannya baik di sekolah, lingkungan kerja atau bermasyarakat. Perlu diketahui bahwa orang yang punya sosial emosional yang baik jauh lebih bisa:

  1. Menerima dan melakukan tantangan, misalnya dalam bekerja.
  2. Lebih mudah untuk belajar.
  3. Bersikap professional.
  4. Bersosialisasi

Jadi, pembelajaran SEL ini tidak hanya fokus pada kemampuan anak dalam jangka waktu dekat tetapi juga jangka panjang. Tidak mengherankan jika saat ini banyak pihak terutama sekolah yang kemudian menerapkan SELdalam pembelajarananak. Tapi, apakah SEL bisa diaplikasikan begitu saja? Tidak! Menurut Durlak et al., 2010, 2011 yang dikutip dalam Edutopia menjelaskan bahwa program SEL harus sesuai dengan SAFE, yaitu:

  1. Sequenced: saling berkaitan dan terkoordinasi untuk mendorong keterampilan anak.
  2. Active: bentuk pembejalaran aktif agar anak mampu menguasai keterampilan yang baru.
  3. Focused: menekankan pengembangan keterampilan baik secara individu maupun sosial.
  4. Explicit : menargetkan keterampilan sosial dan emosional yang lebih spesifik

A.    Manajemen Diri (Pengelolaan Diri)

Seperti kasus yang dialami oleh Ibu Adriana telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Ibu Adriana merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Ibu Adriana sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Ibu Adriana juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Atau kasus Ibu Adriana yang lainnya yang tentunya ada banyak kasus yang terjadi.

Selesai kegiatan belajar-mengajar berakhir, Ibu Adriana memimpin rapat panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Bu Adriana untuk mempelajari perubahan proposal acara.  Bu Adriana perlu memastikan semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat. Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal disetujui oleh kepala sekolah.  Oleh karena itu, Ibu Adriana diminta untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat-lambatnya lusa. Karena mendahulukan proposal ini, Ibu Adriana pun lupa menyiapkan rubrik untuk pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Ibu Adriana, masuk kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran sempat tersendat.

1. Masalah yang dihadapi Ibu Adriana adalah kondisi multi peran dimana dalam menjalankannya nampak tidak fokus terhadap tupoksi sebagai pendidik/ pengajar, meski sebagian waktunya dapat melaksanakan tugasnya menuntaskan kegiatan mengajarnya namun dengan hadirnya amanah dalam kegiatan diluar peran pendidik yaitu sebagai Ketua Panitia Agustusan yang perlu memaksimalkan diri dimulai dari perencanaan hingga pengaturan anggaran, akhirnya tugas mendidik hari berikutnya tidak fokus sehingga tidak sempat untuk mempersiapkan pembelajaran yang akhirnya kurang optimal.

2. Penerapan kompetensi pengelolaan diri pada masalah tersebut, yaitu :

a)      Perlu adanya Manajeman diri yang merupakan pengendalian diri yang dapat mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang  kita lakukan, sehingga  dapat terhindar  hal-hal yang tidak baik yang mana hal ini akan meningkatkan perbuatan baik dan benar.

b)      Mampu memanaj waktu, prioritaskan tugas utama sebagai pendidik, baru menuntaskan tugas tambahan kepanitiaan (yang mana jika uraian tugasnya tepat pasti dapat berbagi dengan rekan kepanitiaan tidak mesti dikerjakan sendiri, dengan kata lain mampu  memposisikan tim kerja yang tepat sehingga dapat efektif dan bertanggjawab akan semua tugasnya.

 

B.     Kesadaran Diri

Adapun Penerapan kompetensi kesadaran diri pada masalah Ibu Andriana adalah

1.      Mesti berlatih mindfulness (berkesadaran penuh) yang memiliki keterlibatan  dengan kesadaran diri, melalui cara memahami dan mengenali emosi yang tertanam  pada dirinya, sehingga beliau  dapat merespon kondisi  secara cepat, tepat dan optimal. 

2.       Ibu Adriana dapat mempraktikan teknik #STOP# :

·         Stop; Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan

·         Take a deep breath; Tarik nafas dalam​. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk- napas  keluar.

·          Observe;  Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati  perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat  Anda lakukan.  

·         Proceed/Lanjutkan​. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang  lebih positif.  

 Ketika menghadapai situasi yang membuat kita merasa repot tidak fokus,  oleh karena  kesadaran penuh dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing); latihan bergerak sadar (mindful movement), yaitu bergerak  yang disertai kesadaran  tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari  gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari  yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita.  Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari nafas. 

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness).

Ada beberapa kata kunci, yaitu: kesadaran (awareness), perhatian yang disengaja (on purpose), saat ini (present moment), rasa ingin tahu (curiosity), dan kebaikan (compassion). Artinya ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan rasa (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan. Jika dalam dua kompetensi sebelumnya, kita diminta untuk memiliki pemahaman dan kemampuan mengenal serta mengelola diri sendiri, maka dalam kesadaran sosial ini kita diharapkan membangun kemampuan untuk menempatkan diri dan melihat perspektif orang lain.

C.    Keterampilan Berempati 

Begitupun dalam pembelajaran langsung kita sebagai bekal mental dalam menghadapi kondisi, mesti mengetahui hal terkait dengan keterampilan berempati. Empati merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami serta ikut merasakan perasaan-emosi orang lain sehingga dapat melihat perspektif sudut pandang orang lain. Baru setelah kita mampu melihat dari kaca mata orang lain, kita dapat menghargai dan memahami konteksnya. Apa saja yang mendasari perilaku, sikap dan cara berpikir orang tersebut. Bob dan Megan Tschannen-Moran (2010) menggambarkan empati sebagai sikap menghormati, tidak salah memahami dan mengapresiasi pengalaman orang lain. 

Keterampilan berempati merupakan keterampilan yang membantu seseorang memiliki hubungan yang hangat dan lebih positif dengan orang lain. Mengapa? Karena empati mengarahkan kita untuk mengurangi fokus hanya ke diri sendiri, melainkan juga belajar merespon orang lain dengan cara yang lebih informatif dan penuh afeksi ke orang lain sehingga lingkungan yang inklusif akan terbentuk.   Menanamkan empati dapat dilakukan dengan langkah yang paling sederhana yaitu dengan menaruh perhatian pada perasaan orang lain dengan bertanya:

 1. Apa yang dirasakan orang tersebut?

 2. Apa yang mungkin akan dia lakukan?

 3. Apa yang saya rasakan jika mengalami kejadian yang sama? 

  Setelah menanyakan beberapa hal tersebut sebelum berbicara atau bertindak, meyakini bahwa setiap orang berbeda, dan memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan akan memungkinkan kita untuk bersikap lebih empati pada orang lain.  Empati merupakan keterampilan yang bisa dilatih untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melatih empati dalam diri kita: ·       

1)       Menaruh perhatian pada perasaan orang lain ·  

2)       Berpikir sebelum berbicara atau bertindak ·        

3)      Meyakini bahwa setiap orang berbeda

4)      Memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan.

Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat yang menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusannya sendiri. Selain itu kesadaran diri juga berarti menetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Suryanti dan Ika (2004) menyatakan bahwa saat kita semakin mengenal diri kita, kita memahami apa yang kita rasakan dan lakukan. Kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain".

·         Awali dengan bernapas secara teratur dan menyadari napas dalam teknik STOP teknik yang efektif,  yang dapat mengembalikan kesadaran penuh

·         Kesampingkan sejenak situasi kelas, atau masalah dalam kepanitiaan

·         fokus pada situasi murid atlet. Menaruh perhatian pada perasaan orang lain

·         Belajar untuk menerima dan memahami orang lain, sehinga dapat berpikir objektif

·         Memberi dukungan pada orang lain

 Contoh kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa empati dalam pembelajaran langsung yaitu Bermain Peran, karena pada permainan ini semua jenis karakter bisa mereka lakukan sesuai keinginan. Disitulah anak akan belajar untuk memahami bagiamana menjadi orang lain dan merasakan yg dirasakan orang lain, terutama teman-teman sebaya atau yang terlibat pada permainan tersebut.

D.    Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab 

Pernahkah Anda menyesali keputusan yang Anda buat? Pernahkah keputusan yang Anda buat, alih-alih memberikan solusi malah menimbulkan masalah baru, atau merugikan orang lain, lingkungan, dan bahkan diri Anda sendiri? Saat Anda mengalami hal tersebut, Apa yang Anda rasakan? Apa yang Anda lakukan? Menurut Anda, mengapa seseorang mengambil keputusan yang kemudian disesalinya?    Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial.

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sesungguhnya adalah kemampuan yang jika secara konsisten dan berkelanjutan ditumbuhkan dan dibiasakan sejak dini, akan memungkinkan seseorang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan lebih berdaya lenting (resilience) dalam menghadapi segala konsekuensi yang harus dihadapi akibat keputusan yang dibuat dalam hidupnya.   Kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab tidak datang secara alami. Kemampuan ini perlu dengan sengaja ditumbuhkan. Seorang pengambil keputusan yang bertanggung jawab akan mempertimbangkan semua aspek, alternatif pilihan, berikut konsekuensinya, sebelum kemudian mengambil keputusan. Untuk dapat melakukan hal tersebut seseorang perlu belajar bagaimana: 1. mengevaluasi situasi 2. menganalisis alternatif pilihan mereka, dan  3. mempertimbangkan konsekuensi dari masing-masing pilihan itu terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.  

Salah satu strategi sederhana yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah dengan menggunakan kerangka yang disebut POOCH - Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil), dan How (Bagaimana hasilnya). Kerangka sederhana ini akan membantu seseorang memikirkan dengan baik berbagai aspek sebelum memutuskan sesuatu.  

Kerangka kerja POOCH ini dapat efektif jika dikerjakan dengan tenang dan jujur melihat situasi riil. Teknik STOP yang selama ini telah saya praktikkan, dapat membantunya bersikap tenang dan rileks saat mengevaluasi situasi dan mengerjakan lembar kerja POOCH.  Selain mampu membuat pilihan keputusan, seseorang yang memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab akan dapat menyikapi konsekuensi atas keputusan tersebut dengan baik, termasuk jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Besar harapan dengan mengenali dan memahami pembelajaran Sosial dan Emosional dapat menjadi lebih kuat dan sungguh-sungguh seberat apapun masalah yang dihadapi insyaAlloh dapat teratasi dan terkendali, kita akan merasa nyaman karena sudah memiliki solusi terindah. Dimana pun berada ketika kita dapat lebih mengendalikan diri dengan kekuatan yang dimiliki, maka segala rintangan/permasalahan akan segera tercerahkan.

Peran kita sebagai pendidik adalah tugas mulia sekaligus tersulit yang harus terus fokus pada pembelajaran yang bermakna untuk anak didik kita. Mari terus belajar, berefleksi dan bertumbuh menjadi lebih baik bagi murid-murid kita. Terakhir, kami ingin mengutip kata-kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Makarim: “Besok, di manapun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru  melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.“

Minggu, 17 Oktober 2021

KEMATIAN TRAGIS ADOLF HITLER

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Apa yang terbayang jika seorang Adolf Hitler menghadapi maut, April 1945 keadaan perang sungguh tidak berpihak kepada Jerman, Soviet Rusia menyerbu dari  timur dengan membawa amarah dan dendam akibat invasi tentara Nazi ke Rusia. Dari barat Eiisenhower dan Montgomery terus merangsek menuju Berlin, hanya ditemani beberapa perwira tinggi, pasukan pengawal SS dan beberapa sekretaris dan asisten pribadi, Hitler sudah berhitung secara militer bahwa Jerman akan kalah, frustrasi dan kecewa karena dikhianati oleh Himmler dan Goering ( Komando tinggi SS dan Luftwaffe ) keduanya mendekat kepada sekutu entah untuk menyerahkan diri atau mencari selamat sendiri.


Hitler telah kehilangan rekan sekaligus sahabatnya Benitto Mussolini, Mussolini  ditembak mati oleh Partisan kiri Italia pada 28 April 1945 dan mayatnya digantung dialun-alun kota Roma, dilecehkan dan dihina, Hitlerpun tahu secara pasti perlakuan yang akan diterimanya apabila ia tertangkap oleh sekutu terlebih oleh Soviet Rusia, nasib seorang diktator fasis akan seperti domba ditengah gerombolan srigala.


Sejak pertengahan 1944 Hitler dan kekasihnya Eva Braun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tinggal dibunker dekat kota Berlin, hampir setiap hari Berlin menjadi sasaran pemboman udara oleh Soviet Rusia atau oleh Inggris dan Amerika Serikat. Sampai musim semi 1944 Angkatan Udara Inggris ( _Royal Air Force_) telah menjatuhkan 30.000 ton bom. Sementara tentara merah Soviet Rusia sudah menguasai Lapangan terbang Tempelhof, Divisi Senapan ke - 150 Soviet bergerak menuju Reichstag ( Simbol pusat pemerintahan Nazi )


Situasi perang makin memperburuk kondisi Hitler, sikap paranoidnya meningkat. Pada dini hari 29 April 1945 Hitler melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya Eva Braun, pernikahan sekaligus tanda perpisahan kepada orang-orang disekitarnya pernikahan diambang kejatuhan  Berlin. Dini hari 30 April 1945 Hitler mengumpulkan seluruh penghuni bunker menyalaminya satu-persatu dan memberikan ampul sianida kepada para sekretaris dan asisten pribadinya jika keadaan memaksa ampul tersebut bisa digunakan untuk melakukan "harakiri". Tanpa terucap satu katapun hanya tatapannya yang tajam menatap mereka satu persatu, tokoh Nazi yang pernah memerintahkan "bunuh tiap orang Yahudi di dunia" orang-orang yang mendapat stigma ras rendah, Gypsy, Rusia, keturunan Afrika dan timur asing. Selama Perang Dunia II Hitler bertanggungjawab atas terbunuhnya 6000.000 orang Yahudi mereka kebanyakan dihabisi di kamp-kamp konsentrasi dan berakhir di kamar gas.


Pertemuan di pagi hari itu ternyata adalah pertemuan terakhir antara Hitler dengan para asistennya. Pada sore hari 30 April 1945 terdengar satu kali tembakan, ajudan dan sekretaris Hitler berlarian menuju kamar pribadi Hitler dan mendapati sang  Fuhrer terduduk diatas dipan tempat tidur yang sudah dipenuhi darah, Hitler melakukan bunuh diri dengan menembakan pistol Walthernya kearah mulut, sedangkan  istrinya Eva Braun lebih memilih menelan kapsul sianida untuk menjemput maut. Atas perintah Hitler mayatnya dan mayat istrinya dibakar dikebun istana. Tentara merah berhasil menemukan dan mengidentifikasi mayat Hitler dan istrinya pada 2 Mei 1945 dengan menggunakan cetakan gigi palsu dari dokter gigi Hitler. Pada 1950 Soviet Rusia mengedarkan film _The Fall of Berlin_ film yang jelas bertujuan untuk mencegah pengkultusan Hitler dan ideologinya dalam narasi film itu  dituturkan bahwa Hitler mati bunuh diri dengan minum sianida bukan dengan tembakan, karena mati dengan minum racun lebih hina statusnya dibandingkan dengan tembakan. Orang yang mati dianggap lebih berbahaya daripada diwaktu hidupnya. Sampai kini sejarah belum mampu menjawab dimana sisa tubuh Hitler berada.


Daftar Pustaka ; Michael H. Hart (100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah.)

PK Ojong ( Perang Eropa jilid II )



Cisarua, Bogor 16 Oktober 2021.

Kamis, 14 Oktober 2021

Program Green School for Green Earth

Oleh : N. Evi Susantika,M.Pd.

Unit Kerja : SMPN 1 Mangunreja-Kab. Tasikmalaya


Latar Belakang

Selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membuat kondisi lingkungan sekolah terlihat kurang terawat. Hal ini berdampak pada kenyamanan ruang belajar dan keindahan area sekolah, juga  membuat lingkungan sekolah belum bisa bertumbuh dan berpusat pada murid. Oleh karena itu membutuhkan sentuhan dari warga sekola (terutama keterlibatan murid dan guru) selaku modal manusia untuk mengelola lingkungan lingkungan sekolah sebagai aset fisik dan lingkungan/alam.   Dengan demikian akan terwujudnya lingkungan sekolah hijau untuk lingkungan/bumi hijau yang nyaman dan menyenangkan. 


Kondisi lingkungan sekolah yang nyaman dan menyenangakan merupakan modal dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid. Melalui pembentukan tim pengelolaan lingkungan sekolah (Green School), murid bisa belajar dan mandiri mengorganisir kegiatan terkait penerapan karakter berbudaya  lingkungan sekolah. Program ini akan diawali dengan pengelompokan jenis area lingkungan sekitas sekolah. Selanjutnya, ke depannya berdasarkan evaluasi akan terus dikembangkan. Banyak hal bisa terus dikembangkan. Selanjutnya adalah peningkatan kompetensi kepemimpinan murid dalam pengelolaan lingkungan (taman/kebun) sekolah. Sehingga pada akhirnya ini akan menjadi program yang berkelanjutan dan bermakna bagi semua warga sekolah.

Tujuan Program

Program Green School (Sekolah Hijau dari murid-oleh murid dan untuk murid)  merupakan sebuah program  pembiasaan untuk menumbuhkan rasa kepedulian murid terhadap lingkungan sejak  dini. Program tersebut dilakukan dari murid oleh murid dan untuk murid, baik ketika murid berada di  rumah ataupun saat berada di lingkungan sekolah, agar selalu menumbuhkan rasa memiliki dan penuh tanggungjawab akan pentingnya karakter berbudaya lingkungan.

Adapun kegiatan yang bisa dilakukan murid mulai dari pemilahan  sampah, pembuatan kompos, membuat karya dari barang bekas,  membuat eco enzyme ataupun kegiatan peduli lingkungan lainnya.  Guru akan memantik ide-ide kepedulian lingkungan dari murid di  masing-masing kelas untuk membangun karakter jujur, disiplin dan  tanggung jawab. Melalui program ini kreativitas murid dalam  mewujudkan peduli lingkungan juga berkembang

Tolok Ukur

Terbentuknya tim Green School (Sekolah Hijau) lingkungan sekolah yang diwujudkan dalam bentuk Surat Keputusan Kepala Sekolah dengan murid selaku pelaksana, guru sebagai pengarah, dan kepala sekolah sebagai penanggung jawab;

Adanya kesediaan murid dan guru (SAGUSATAN = Satu Guru Satu Tanaman) untuk berpartisipasi dalam pengadaan tanaman di lingkungan sekolah;

Tersedianya kesepakatan murid terkait pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekolah di lingkungan sekolah;

Kegiatan pengelolaan lingkungan sekolah berjalan lancar dengan koordinator kegiatan sebagai pemimpin sesuai jadwal harian yang disepakati, baik durasi maupun waktu pelaksanaannya;

Adanya pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan oleh murid untuk murid dan dari murid kepada murid dengan melibatkan guru dan kepala sekolah;

Adanya pertemuan rutin mingguan tim sekolah hijau membahas kemajuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekolah;

Tersedianya lembar monitoring dan evaluasi terkait catatan kemajuan peningkatan kesadaran peduli lingkungan masing-masing murid;

Adanya dukungan dari orang tua dan komunitas dalam pelaksanaan kegiatan



Linimasa Tindakan:

Tahapan BAGJA


Tahapan BAGJA

Hasil Tahapan

B-uat Pertanyaan

Bagaimana cara meningkatkan kepedulian murid terhadap lingkungan sekolah dan alam sekitar?

Bagaimana  menumbuhkan  kesadaran  murid    dalam menggunakan

potensi/ sumber daya secara kreatif dan bertanggung jawab ?

A-mbil Pelajaran

Kegiatan Go Green for Green Earth yang dilakukan di sekolah sebelum  masa pandemi adalah kegiatan pemilahan sampah,  pembuatan kompos, piket kelas, piket halaman sekolah, piket  membersihkan toilet, dll. Namun semenjak BDR kegiatan peduli  lingkungan tidak bisa dilaksanakan bersama murid di sekolah.

Alhamdulillah Setelah Pembelajaran Tatap Muka Terbatas kembali diberlakukan kembali  kegiatan melatih kepedulian terhadap lingkungan sekolah  dengan dampingan para walikelas dan guru.

Murid lebih kreatif mencari sumber belajar untuk menemukan  ide-ide untuk mengolah sampah dan barang bekas melalui Buku, Koran, Majalah dan Internet.

Bekerjasama dengan masyarakat peduli lingkungan yang ada di sekitar sekolah dengan Gerakan Kasih (Kamis Beberesih) dan Bank Sampah  Sekolah

Program Adiwiyata Sekolah



G-ali Mimpi

Murid mulai melaksanakan program peduli lingkungan sejak dini yaitu ketika program mulai dicanangkan  ditahun awal Tahun pelajaran, tapi insyaAlloh dapat direalisasikan pada bulan Oktober Minggu ke 3

Kegiatan yang dilakukan diantaranya pemilahan  sampah, pembuatan kompos, pengolahan barang  bekas, pembuatan eco enzim, penanaman pohon, penanaman ladang/kebun, dll

Guru menjadi contoh dalam pembentukan kepedulian  terhadap lingkungan, misalnya Program SAGUSATAN (Satu Guru Satu Tanaman), mengurangi  penggunaan air minum dalam kemasan, penggunaan  tas ramah lingkungan, dll.

Orang tua melakukan hal serupa dengan program yang  dilakukan di sekolah misalnya menyediakan tempat  sampah terpisah sesuai jenisnya di rumah, sehingga baik  di sekolah ataupun di rumah murid terbiasa dengan  kegiatan memilah sampah.

Murid yang sudah melakukan kegiatan peduli  lingkungan dan sudah membudaya diberikan  penghargaan oleh guru dalam bentuk pujian ataupun  pemberian reward lainnya.





J-abarkan Rencana

(Oktober Minggu ke 3)

Menyampaikan ide untuk mengadakan program peduli  lingkungan sejak dini kepada Kepala Sekolah

Penyusunan Kepanitiaan Program dan Pembagian Tugas

Menyusun jadwal pelaksanaan dan rencana kegiatan

Sosialisasi program kepada murid dan orang tua

Mendokumentasikan kegiatan di masing-masing kelas.

Mengapresiasi murid peduli lingkungan di masing-masing  kelas, dan menyampaikan pengumuman tersebut di  peguyuban setiap bulannya.

Monitoring dan evaluasi kegiatan



A-tur Eksekusi

(Minggu III Oktober - Minggu II November)

Melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah; (Minggu III Oktober) 

Melakukan kolaborasi dengan rekan sejawat dalam komunitas praktisi sekolah terutama wali murid terkait rencana pelaksanaan program; (Minggu III Oktober)

Memberikan pembekalan awal kepada murid dalam satu lingkungan sekolah terkait arti penting sekolah hijau dan bentuk-bentuk kegiatan sekolah hijau yang bisa dilakukan; (Minggu III Oktober)

Menyampaikan gambaran keberhasilan kegiatan yang telah dilakukan komunitas lain; (Minggu III Oktober) 

Menggali minat dan potensi murid untuk memimpin gerakan pengelolaan lingkungan sekolah (Minggu IV Oktober) 

Melibatkan murid sebagai tim pelaksana program kegiatan pengelolaan lingkungan sekolah dan dewan guru sebagai pengarah dalam bentuk Surat Keputusan Tim Pelaksana. Struktur tim meliputi penanggung jawab, pengarah, koordinator utama, koordinator harian, dan koordinator penyiapan buku; (Minggu IV Oktober)

Melakukan pengambilan kesepakatan lingkungan sekolah terkait pelaksanaan pembiasaan membaca dalam pengelolaan lingkungan sekolah dalam bentuk pembagian jadwal piket tim pelaksana harian; (Minggu IV Oktober)

Melakukan kolaborasi dengan orang tua untuk memberikan dukungan kepada anaknya dalam menerapkan kesadaran kepedulian lingkungan; (Minggu I November)

Menyiapkan beberapa lahan kosong/kebun untuk ditanami aneka tanaman  dengan masing-masing guru dan murid membawa jenis tanaman; (Minggu I November) 

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekolah di lingkungan sekolah dipimpin ketua lingkungan sekolah selaku koordinator utama dan petugas jadwal harian selaku koordinator harian; (Minggu II November) 

Monitoring oleh murid dilakukan selama proses pengelolaan lingkungan sekolah berlangsung (Minggu II November)

Evaluasi dilakukan murid setelah satu minggu pelaksanaan kegiatan; (Minggu III November) 

Rapat rutin tim pelaksana dilakukan seminggu sekali. (Oktober - November)



Dukungan yang Dibutuhkan

Dukungan kepala sekolah terkait izin pelaksanaan dan penyiapan Surat Keputusan bagi Tim Pelaksana Pengelolaan lingkungan sekolah;

Dukungan dari pihak sekolah terutama terkait pengadaan sarana dan prasarana berupa pengadaan perlengkapan kebersihan;

Dukungan dari sekolah terkait penyediaan buku bahan bacaan berbagai jenis;

Dukungan dari sejawat dalam komunitas praktisi di sekolah untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekolah di lingkungan sekolah;

Dukungan dari pihak murid untuk pengadaan kardus sebagai tempat menaruh buku sekaligus pengerjaan membentuk dan menghiasnya;

Dukungan orang tua dalam memberikan dorongan kepada anaknya agar aktif mengikuti kegiatan pengelolaan lingkungan sekolah di lingkungan sekolah;

Dukungan dari komunitas sekolah hijau sekitar untuk memberikan penguatan arti penting membaca sekaligus berbagi pengalaman membaca

 A.  PROSES JALANNYA AKSI NYATA

Peristiwa (Fact)

Deskripsi Singkat Aksi Nyata yang sudah dilakukan 

Latar Belakang tentang situasi yang dihadapi

       Latar belakang dilakukannya aksi nyata pembuatan program kegiatan “Green School dari murid-oleh murid dan untuk murid” adalah merupakan pengembangan dari program Adhiwiyata melalui  pengembangan diri untuk pembiasaan dan peningkatan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Adanya ruang kelas yang kurang tersentuh dadri segi penataannya, lahan yang kosong yang belum maskimal dalam pemberdayaannyna. Oleh karena itu gerakan program ini diharapkan akan menjadi harapan serta motivasi murid  dan rekan guru lain dalam menciptakan sekolah hijau di lingkungan sekolah sebagai ekosistem warga sekolah dalam menempati ruang aktivitasnya.

 

Alur proses jalannya pelaksanaan program kegiatan “Green School dari murid-oleh murid dan untuk murid”antara lain sebagai berikut :

Penggalian harapan serta angan-angan murid mengenai lingkungan sekolah yang mereka impikan.

Mengajak diskusi terhadap murid terkait semakin menurunnya kesadaran peduli lingkungan (karena pandemi yang harus meninggalkan lingkungan sekolah)

Membuat perencanaan kegiatan aksi nyata.

Mengkomunikasikan dengan rekan guru dan kepala sekolah.

Membagi tugas pengadaan tanaman  (dari pihak guru maupun murid)

Merancang konsep penanaman lahan kebun  yang menarik dengan murid, rekan guru yang berkompeten dan kepala sekolah

Melaksanakan kerja bakti murid memperoleh ruang kelas dan area taman yang bersih

Membagi jadwal setiap kelompok untuk bergiliran 

Memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami  sebagai kebun sekolah.

 Kegiatan penanaman di sekitaran area taman dan kebun sekolah 

Penataan taman untuk masing-masing kelas.

Foto Pelengkap Dokumentasi  Kegiatan :



Foto : Kegiatan diskusi sosialisasi program Bersama wakil Tim OSIS, untuk mengggali potensi murid                                                                     

    




                       Foto : Bersama tim penghijau!




Foto : Penyerahan rancangan program kepada Kepala

Sekolah SMPN 1 Manungreja                Foto : Bersama wakil kepala sekolah memperlihatkan & diskusi  rancangan kegiatan program)


Foto : Tim koordinator taman masing-masing kelas

Foto : Kegiatan pemanfaatan lahan kosong untuk dijadikan Kebun Sekolah

  

       Video penanaman tanaman di kebun








Foto : Kegiatan gotongroyong penataan taman & lahan


                  







2.       Yang dilakukan pada Aksi Nyata, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut.

Hal-hal yang dilakukan dalam aksi nyata antara lain sebagai berikut:

Melakukan diskusi mengenai pengaktifan kembali budaya peduli lingkungan. Diskusi dengan murid untuk mengawali program ini bertujuan untuk melibatkan murid secara langsung dalam mengambil suatu keputusan serta membuat kespakatan bersama di awal pembuatan program. Hal ini dilakukan untuk memahami apa sebenarnya permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh guru serta menerapkan pembelajaran yang mempunysi tujun dan berdampak terhadap anak .

Meminta murid untuk mengisi harapan dan langkah yang akan diambil nantinya. Hak ini bertujuan agar murid merasa diajak berkomunikasi secara akrtif, bebas mengeluarkan pendapatnya. Membuat kesepakatan diawal program bersama murid.

Mengkonsultasikan hasil diskusi murid dengan rekan guru dan kepala sekolah. Hal ini bertujuan agar ide dan harapan murid dapat ditampung oleh rekan guru lain dan mencari solusi dari permaalahan yang dihadapi.

Membagi tugas kelompok untuk membantu mewujudkan aksi nyata. Hal ini bertujuan agar murid tidak datang secara bersama-sama serta mudah diatur.

Membagi tugas rekan guru yang membantu. Hak ini bertujuan agar pekerjaan cepat selesai.

 Foto : Sosialiasi Kepedulian berbudaya lingkungan kepada murid 

                       

Diskripsi Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Kegiatan aksi nyata ini merupakan kegiatan pengembangan dari aksi nyata modul 3.2 mengenai pemanfaatan aset  yaitu program lingkungan sekolah berbudaya lingkungan. Aksi nyata ini perupakan pemanfaatan area/taman sekolah  serta mempersiapkan lingkungan yang nyaman untuk menyambut pembelajaran tatap muka normal kembali. Setelah  daring lebih bersemangat karena lingkungan sekolahnya baru, lebih indah dan dilengkapi dengan fasilitas gedung sekolah yang nyaman dan menyenangkan untuk aktivitas murid sesuai  yang mereka harapkan dan cita-citakan. Program kegiatan aksi nyata ini dinamakan dengan program “Green School- dari murid-oleh murid dan untuk murid” Yaitu Lingkungan hijau yang dapat menciptakan  Lingkungan sekolah Tema Harapan, Tindakan dan Inspirasi. Diharapkan nanti tindakan aksi nyata ini dapat menginspirasi murid untuk tertanam jiwa kepedulian dan kesadaran akan lingkungan sekolah yang nyaman.

Kegiatan aksi nyata sebetulnya sudah dilaksanakan sebelum tahun pelajaran baru dilaksanakan yaitu pelaksanaan program Adhiwiyata, dengan harapan ingin adanya keberlangsungan kegiatan maka saya termotivasi untuk lebih melibatkan murid. Sehingga hal ini dilakukan untuk melibatkan wali murid serta komite dalam program kegiatan ini serta memanfaatkan sumber daya manusia dan potensi murid.

Hal yang paling berkesan serta menarik adalah adanya kerjasama dari rekan guru, murid, wali murid, serta dukungan ide dari kepala sekolah dan tim wakasek untuk menngelola serta mensukseskan program ini sangat luar biasa dan diluar perkiraan saya. Hal ini memberikan tantangan kepada saya untuk lebih bersemangat serta bersungguh -sungguh dalam menyusun konsepnya agar harapan serta angan-angan ini dapat saya wujudkan bersama dengan bantuan semua pihak. 

Tahapan proses pelaksanaan:

Tahap ke 1 (awal): bersama-sama murid dan guru memulai aksi nyata dengan gotong royong melakukan pengadaan jenis tanaman yang dapat dibawa dari rumah masing-masing.

Tahapan kedua adalah melibatkan semua warga sekolah untuk  bekerjasama dalam menata lingkungan. 

Tahap ke tiga  adalah melanjutkan aksi nyata sesuai dengan jadwal pembagian tugas yang telah disepakati dengan menyesuaikan jadwal WFH, karena masih PTMT dimana pembelajaran tatap muka dilakukan secara disesi untuk masing-masing tingkatnya

Harapan dari kegiatan aksi nyata ini mempunyai tujuan untuk mengembangkan sekolah hijau murid serta memberikan energi baru, motivasi instrinsik  kepada murid, wali murid, rekan guru, kepala sekolah untuk tetap optimis dalam mewujudkan visi-misi sekolah.

Foto : Kegiatan Penataan tanaman yang dibawa dari rumah

          

 

 

Foto : Masing-masing guru menata tanamannya

           

Foto : Keterlibatan semua warga dalam penataan lingkungan sekolah                       

        

 

 

Pengembangan Program Green School (Sekolah Hijau- dari murid-oleh murid dan untuk murid)


Perasaan (Fellings) ketika atau setelah menjalankan Aksi Nyata

Saya merasa sangat senang dengan adanya respon  yang sangat baik dari kepala sekolah beserta tim wakasek, rekan sejawat, yang baik dari rekan CGP lingkungan sekolah saya, pembimbing saya, kepala sekolah , rekan guru, murid serta wali murid terkait antusias serta harapan yang mereka berikan kepada saya untuk mensukseskan program ini. Kepercayaan yang mereka berikan kepada saya memberikan energi baru untuk mengembangkan potensi saya sendiri dalam berkreasi untuk mewujudkan program ini. Secara sadar saya menjadi bisa menggali potensi-potensi yang dimiliki murid, rekan guru dan saya sendiri untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan aksi nyata ini

Penerapan (Findings)

pembelajaran yang dapat didapat dari pelaksanaan keseluruhan aksi (baik dari kegagalan maupun keberhasilan)

Program ini sempat mengalami kendala dalam pembagian waktu karena disaat pembelajaran tatap muka telah dilaksanakan meski masih terbatas, karena semua guru memainkan peran menjadi pendamping murid.  Sementara guru harus mempersiapkan media dan alat pembelajaran, manajemen waktu mengalami.

Tingkat kesadaran murid belum dapat dimaksimalkan karena terkait kurang lebih 2 tahun berada di masa daring yang tidak melakukan aktivitas di lingkungan sekolah. Melalui program ini kami berharap semua akan menjadi semakin lebih baik dan termotivasi untuk menerapkan karakter berbudaya lingkungan yang berkelanjutan.

Berkenaan dengan hal tersebut CGP harus benar-benar bisa membagi waktunya serta berusaha dengan keras agar semua tugas dan kewajibannya terpenuhi baik menyelesaikan program yang berdampak pada murid ini, melakukan coaching, menyajikan media dan desain pembelajaran yang mengarah pembelajaran berdifirensiasi, sosialisasi video pembelajaran, merancang berbagi/sharing kepada rekan sejawat, pelatihan diklat pengembangan diri bersama komunitas MGMP kabupaten. Kegiatan tersebut harus benar-benar diatur waktunya dan harus mempunyai rencana 

 Penerapan ke depan (future)Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Mengambil temuan dan mempertimbangkan bagaimana menerapkannya di masa depan.

Program selanjutnya dimasa depan adalah melanjutkan program yang sama untuk lingkungan sekolah yang lebih unggul mengarah pada kegiatan Adhiwiyata tingakat Nasional. Untuk sementara program pengembangan sekolah hijau melalui penataan taman dan kebun/lahan kosong serta lingkungan sekolah bertema menjadi fokus utama program CGP. Pilihan kedua adalah dengan membuat Bank Sampah yang tepat, hal ini ada keterlibatan dengan lingkungan masyarakat sekitar/Dinas Lingkungan melalui petugas kebersihan lingkungan, memanfaatkan ruang lingkungan sekolah yang tidak dipakai untuk mewujudkan hal tersebut. Temuan ini telah dikonsultasikan dengan tim wakasek dan rekan guru yang lainnya.

 

 

B.   DAMPAK YANG DIDAPATKAN SETELAH PROGRAM DIJALANKAN

 Refleksi aksi nyata program Green School- dari Murid, oleh Murid dan untuk Murid, yaitu: 

Perasaan CGP pada saat merencanakan dan melaksanakan aksi. 

Merasa puas serta senang dengan hasil aksi nyata yang telah dilaksanakan karena dapat melibatkan seluruh pihak dalam kegiatan aksi nyata tersebut. Baik murid, rekan guru, wali murid, kepala sekolah semua bisa terlibat secara aktif dan mendukung kegiatan dengan memberikan bantuan tenaga, ide/fikiran, serta bantuan finansial.

Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi:

Pentingnya manajemen waktu, manajemen keuangan, penggalian potensi sekolah, adanya rencana kedua /plan B serta hubungan interaksi  sosial yang baik, dengan semua pihak terkait sangatlah membantu proses pelaksanaan aksi nyata.

Tumbuhnya kesadaran dan kepedulian semua murid terutama keterlibatan murid secara berkesinambungan.

Perencanaan untuk memperbaiki pembelajaran

Membuat program yang lebih matang lagi tentunya selalui menggunakan manajemen resko agar da[at meminimalisir segala kemungkinan yang tidak diinginkan, 

Selalu membuat rencana program kedua sebagai antisipasi kegagalan ide program pertama,

Fokus pada tujuan mensukseskan visi misi  sekolah dan program sekolah yang menerapkan karakter berbudaya lingkungan.


Rabu, 13 Oktober 2021

Anger Management Marah



Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang 

 

    “Manage Anger Wisely, To Make Life More Beautiful, Peaceful And Meaningful .”

Apakah anda termasuk orang yang gampang marah atau punya emosi yang meledak-ledak? Sebelum amarah tersebut mengendalikan diri anda, cobalah anger management untuk mengelola ledakan emosi yang kerap dirasakan, sebelum itu menimbulkan banyak masalah dalam hidup anda.

Siapapun di antara kita pernah marah. Bisa jadi ada seseorang yang bereaksi begitu berlebihan ketika emosinya tersinggung dan lalu marah besar. Yang lainnya mungkin mengekspresikan marahnya dengan mengumpat-umpat tak berhenti. Dalam prosesnya ada orang marah yang mudah segera mengendalikan dirinya. Namun ada juga yang sukar. Lalu apakah marah perlu dikelola? Seperti halnya pada stres? Bukankah perilaku marah itu buruk? Apa untungnya?

Adapun secara terminologi atau istilah, marah bermakna mendidihnya darah yang terdapat di dalam hati karena ingin mencegah hal-hal yang menyakiti ketika dikhawatirkan terjadi, atau ingin menghukum/membalas terhadap orang yang gangguan muncul darinya setelah terjadinya gangguan tersebut. (Lihat Kitab Jami’ Al-Ulum Wa Al-Hikam Karya Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah 1/396). 

Marah adalah salah satu emosi normal yang ada di dalam diri manusia. Sama seperti cemas, stres, marah juga sebenarnya bisa dikendalikan agar output-nya tidak menimbulkan dampak buruk. Emosi atau marah bisa juga diartikan sebagai ketegangan jiwa yang muncul akibat penolakan terhadap apa yang tidak diinginkan. Secara psikologis, marah bisa berdampak negatif pada jantung karena meningkatnya hormon adrenalin yang akan memengaruhi kecepatan detak jantung dan menambah penggunaan oksigen. 

Bahkan, menurut hasil penelitian modern, emosi atau marah yang berulang-ulang bisa memperpendek umur karena diserang berbagai penyakit kejiwaan dan penyakit jasmani. 

Walau bersifat alami dan normal namun marah tidak timbul dengan sendirinya. Ia merupakan respon dari seseorang ketika mendapat ancaman, hal yang membahayakan, kekerasan verbal, perlakukan tidak adil, kebohongan dan manipulasi oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul karena batas-batas emosi yang kita miliki telah terganggu atau terancam. Secara internal, marah bisa terjadi ketika menghadapi masalah-masalah pribadi, mengingat peristiwa yang sangat mengganggu pikiran, kekecewaan pada situasi lingkungan, kurang percaya diri, dsb. Sementara secara eksternal, marah bisa timbul karena menghadapi kepadatan lalulintas, mendapat ancaman, hak-hak pribadinya diperlakukan tidak adil dsb. Apakah dengan demikian amarah selalu dipandang sebagai emosi yang negatif?

Marah sebenarnya dapat berguna. Karena itu marah konon jangan dipendam sebab akan merusak emosi. Jadi lepas saja asalkan dilakukan dengan wajar dan segera bisa dikendalikan. Di sisi lain marah bisa memotivasi seseorang untuk memecahkan masalah tertentu yang sebelumnya tersembunyi. 

Mengapa???

Karena setelah itu yang bersangkutan segera melakukan evaluasi diri. Marah disini memberi sinyal mana yang dirasakan sebagai sesuatu yang benar dan mana yang salah. Konflik-konflik secara bertahap bisa diatasi dengan emosi yang tenang.

Berbicara marah dalam Islam, seorang muslim pasti akan mencari contoh terbaik dalam melakukannya. Siapa lagi yang patut menjadi tauladan umat Islam kalau bukan Rasulullah. Bagaimana cara beliau mengatur emosi, disebutkan  dalam sebuah kisah. Saat itu Rasulullah sedang berjalan bersama Anas ra, tiba-tiba ada seorang Badui mengejar dan serta merta menarik serbannya dengan keras. Anas berkata, “Aku melihat bekas tarikan serban kasar itu pada leher Rasul.” Lalu Badui berkata, “Wahai Muhammad, berilah aku dari harta Allah yang ada padamu.”  Bukannya marah, Rasulullah hanya menoleh sambil tersenyum lalu memerintahkan sahabat agar memberikan harta cukup banyak kepada orang badui tersebut. Sikap Rasulullah ini menggambarkan betapa hebatnya kemampuan beliau dalam mengendalikan emosi. Beliau disakiti, dihinakan di depan orang, dan dimintai sedekah secara paksa, tetapi beliau tidak marah. Inilah seharusnya bagaimana cara mengatasi marah dalam Islam.

Secara medis, kebiasaan menanggapi sesuatu dengan marah adalah bisa dampak negatif untuk kesehatan. Ada beberapa penyakit yang bisa menjangkit orang yang gemar marah.

 

Tiga Macam Kemarahan

Pertama: Kemarahan yang Terpuji

Marah yang terpuji adalah marah karena Allah, yaitu marah ketika terjadi pelanggaran terhadap syari’at Allah ta’ala, karena Allah ta’ala marah karena hal tersebut, sebagaimana firman-Nya,

 “Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah marah kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejelek-jeleknya tempat kembali.” [Al-Fath: 6]

Namun kemarahan karena Allah tidak boleh dilampiaskan dengan cara yang tidak sesuai syari’at Allah ‘azza wa jalla, seperti menzalimi orang-orang kafir maka tidak dibolehkan.

Kedua: Kemarahan yang Tercela

Marah yang tercela adalah marah yang bukan karena Allah, yang berdasarkan pada sesuatu yang tercela, seperti marah karena kesombongan, hizbiyyah (fanatisme golongan, kebangsaan, kedaerahan) dan berbagai sebab yang tercela lainnya.

Ketiga: Kemarahan yang Mubah

Marah yang mubah adalah marah karena tabiat (sifat dasar manusia), seperti marah karena disakiti atau dihina, hukum asalnya mubah, namun dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, seperti berbuat zalim, mencaci, mengghibah, bahkan memukul dan membunuh.

Dan sebaliknya, marah karena tabiat ini dapat menjadi kebaikan yang besar apabila dikelola secara benar, yaitu sesuai tuntunan agama yang mulia ini.

Pentingnya Mengendalikan Rasa Marah

Rasa marah merupakan bara api yang dikobarkan setan dalam jiwa manusia. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan marahnya, akan mengakibatkan sesuatu yang jelek.

Oleh karena itu, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid (Hal.201) menyebutkan bahwa pokok-pokok kemaksiatan ada tiga, di mana beliau menyebutkan di antaranya adalah mentaati kekuatan rasa marah. Adapun puncak dari menuruti kekuatan rasa marah adalah pembunuhan. Fakta yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan dengan jelas bagaimana bahayanya saat seseorang tidak mampu mengendalikan rasa marah yang menimpanya. Tidaklah terjadi kesalahpahaman yang berakhir kepada perkelahian bahkan pembunuhan, tidak lain disebabkan karena ketidakmampuan dalam mengendalikan rasa marah.

Oleh karena itu, salah satu nasehat Islam tentang marah perlu senantiasa kita ingat bahwa orang kuat sejati bukanlah orang yang hebat dalam bertarung dan berkelahi, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits:

“Bukanlah orang kuat itu adalah orang yang (selalu mengalahkan lawannya) dalam bergulat, akan tetapi orang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Salah satu sifat penghuni surga yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah orang-orang yang mampu menahan rasa marahnya dan memaafkan orang yang melakukan kesalahan terhadapnya. 

Hal ini ditegaskan oleh Allah Azza Wajalla dalam firman-Nya:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surah Ali-Imran : 133-134).


Wasiat Nabi Untuk Tidak Marah

Untuk menyempurnakan kutipan islam tentang marah pada artikel kali ini, simaklah wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seseorang yang meminta wasiat kepada beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, di mana beliau berkata:

“Seorang lelaki datang dan berkata ‘Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku!’ Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata ‘Jangan marah’. Kemudian lelaki itu kembali mengulangi pertanyaannya, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kembali berkata ‘Jangan marah.’” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Anger Management Marah Menurut  Agama

Islam merupakan agama yang sempurna. Karena itulah, Islam mengajarkan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat kebaikan dan manfaat bagi manusia dan melarang dari segala sesuatu yang bisa memberikan bahaya dan kejelekan bagi mereka.

Terkait dengan rasa marah yang menimpa seseorang, Islam telah memberikan tuntunan bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh seseorang saat ditimpa rasa marah:

1. Meminta Perlindungan kepada Allah ta’ala dari Setan 

     Disebutkan dalam sebagian hadits tentang dua orang yang saling mencela, di mana salah satu dari keduanya sudah memerah wajahnya dan urat-urat lehernya menonjol karena marah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang seandainya dia ucapkan, niscaya hilang rasa marahnya. Seandainya dia mengucapkan ‘A’uudzu billaahi minasysyaithoonir rajiim’ niscaya hilang rasa marahnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas memberikan bimbingan saat seseorang ditimpa rasa marah, hendaknya dia segera banyak berlindung kepada Allah Azza Wajalla. Sebab, rasa marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam jiwa seorang hamba. Jika hamba tersebut berlindung kepada Rabb-nya, niscaya bara api tersebut akan padam.

2. Diam, Tidak Berbicara, Apalagi Berdebat, Adu Mulut dan Saling Mencaci

Saat seseorang dikendalikan rasa marahnya, dia cenderung mudah mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidaklah menambah kecuali kejelekan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 

“Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaknya dia diam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Di Shahihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami’ [693]).

3. Merubah Posisi, Apabila Sedang Berdiri Hendaklah Duduk, Apabila Kemarahan Belum Hilang Hendaklah Berbaring

Saat seseorang mulai merasakan amarah yang berkobar pada dirinya, jika dia berdiri maka hendaknya dia segera duduk atau berbaring.  Hal ini telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam: 

“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaknya dia segera duduk, niscaya rasa marah akan hilang darinya. Jika tidak, maka hendaknya dia berbaring.” (Diriwayatkan Oleh Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud [4782]).

4. Berwudhu

Dalam sebuah hadits yang didha’ifkan oleh sejumlah ulama, “Sesungguhnya kemarahan itu dari setan, dan sesungguhnya setan tercipta dari api, dan hanyalah api itu dapat dimatikan dengan air, maka jika seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari ‘Athiyah radhiyallahu’anhu, didha’ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah: 582]

5. Mengedepankan Prasangka Baik Kepada Orang yang Membuat Marah

Sesungguhnya prasangka baik dapat melapangkan hati dan menghilangkan kemarahan terhadap orang yang menyakiti kita. Dalam hal ini generasi Salaf adalah sebaik-baiknya teladan.

6. Senantiasa Mengingat Keutamaan Menahan Marah

Allah ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa menahan marah dan memaafkan adalah akhlak yang utama. 

7. Mengambil Teladan dari Para Nabi dan Rasul, dan Orang-orang Shalih dalam Menahan Marah

Dan inilah teladan dari Nabi kita yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam.

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’ahu berkata,

 “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau mengenakan kain Najran yang tebal ujungnya, lalu ada seorang Arab Badui yang menemui beliau, langsung ditariknya beliau pada kain yang beliau kenakan dengan tarikan yang kuat hingga aku melihat permukaan bahu beliau membekas lantaran ujung selimut akibat tarikan Arab badui yang kasar tersebut. Kemudian ia berkata; “Wahai Muhammad berikan kepadaku dari harta yang diberikan Allah padamu”, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

8. Mengingat Akibat Jelek Kemarahan

Orang yang marah terkadang hilang akal sehatnya, sehingga ia mengatakan atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang kelak ia sesali. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam pernah berdoa, 

“Dan aku memohon kepadaMu ya Allah untuk dapat mengucapkan kalimat yang benar ketika ridho maupun marah.” [HR. An-Nasai dari Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma, Shahih Al-Kalim Ath-Thayib: 105]

Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib berkata, 

“Awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan, dan bisa jadi kehancuran itu karena kemarahan.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah, 1/205]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

 “Manusia masuk neraka dari tiga pintu: Pintu syubhat yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah, pintu syahwat yang menyebabkan ia mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]

9. Mengingat Murka Allah dan Azab-Nya yang Pedih

Sahabat yang mulia Abud Darda radhiyallahu’anhu berkata,

“Saat yang paling dekat antara seseorang dengan kemurkaan Allah adalah apabila hamba tersebut sedang marah.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

Al-Imam Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata,

“Padamkanlah api kemarahan dengan mengingat api neraka jahannam.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

Tidak bisa dipungkiri, kemarahan adalah salah satu bentuk emosi yang sangat alamiah dan sering kali mampu digunakan untuk mengidentifikasi stresor. Dalam beberapa kasus, kemarahan dapat memberikan dampak yang positif seperti membantu kita membela diri saat diperlukan, mengurangi berbagai bentuk emosi dan kondisi psikologis yang negatif, serta melindungi diri dari rasa tersakiti. Sayangnya, ketidakmampuan mengelola kemarahan justru berpotensi merusak hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita dan berdampak negatif. Oleh karena itu, cobalah untuk tetap tenang dan terkontrol, sesulit apapun situasinya. Lakukan ini untuk menjaga kelanggengan hubungan dengan orang-orang sekitar kita, meski adakalanya kemarahan kita sejatinya beralasan.

Terpenting tiada henti memohon kepada Sang Pemilik Jiwa kita Alloh Azza Wajalla, agar senantiasa dijauhkan dari sifat amarah negatif. Selamat berjuang para sahabat terkasih untuk terus menguatkan serta mengendalikan diri agar jalinan komunikasi tetap indah, agar orang-orang di sekitar kita aman, nyaman dengan kehadiran kita. Rahimakumullah. 

 

 

 

 

 

 



                                      DAFTAR PUSTAKA 


M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

https://sofyanruray.info/15-cara-mengelola-kemarahan/

https://muslimah.or.id/11993-ibnul-qayyim-al-jauziyyah

https://www.kompasiana.com/tag

http://www.apa.org/topics/anger/control.aspx

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati.2020.  Indahnya Berkarya Untuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara