Rabu, 13 Oktober 2021

Anger Management Marah



Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang 

 

    “Manage Anger Wisely, To Make Life More Beautiful, Peaceful And Meaningful .”

Apakah anda termasuk orang yang gampang marah atau punya emosi yang meledak-ledak? Sebelum amarah tersebut mengendalikan diri anda, cobalah anger management untuk mengelola ledakan emosi yang kerap dirasakan, sebelum itu menimbulkan banyak masalah dalam hidup anda.

Siapapun di antara kita pernah marah. Bisa jadi ada seseorang yang bereaksi begitu berlebihan ketika emosinya tersinggung dan lalu marah besar. Yang lainnya mungkin mengekspresikan marahnya dengan mengumpat-umpat tak berhenti. Dalam prosesnya ada orang marah yang mudah segera mengendalikan dirinya. Namun ada juga yang sukar. Lalu apakah marah perlu dikelola? Seperti halnya pada stres? Bukankah perilaku marah itu buruk? Apa untungnya?

Adapun secara terminologi atau istilah, marah bermakna mendidihnya darah yang terdapat di dalam hati karena ingin mencegah hal-hal yang menyakiti ketika dikhawatirkan terjadi, atau ingin menghukum/membalas terhadap orang yang gangguan muncul darinya setelah terjadinya gangguan tersebut. (Lihat Kitab Jami’ Al-Ulum Wa Al-Hikam Karya Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah 1/396). 

Marah adalah salah satu emosi normal yang ada di dalam diri manusia. Sama seperti cemas, stres, marah juga sebenarnya bisa dikendalikan agar output-nya tidak menimbulkan dampak buruk. Emosi atau marah bisa juga diartikan sebagai ketegangan jiwa yang muncul akibat penolakan terhadap apa yang tidak diinginkan. Secara psikologis, marah bisa berdampak negatif pada jantung karena meningkatnya hormon adrenalin yang akan memengaruhi kecepatan detak jantung dan menambah penggunaan oksigen. 

Bahkan, menurut hasil penelitian modern, emosi atau marah yang berulang-ulang bisa memperpendek umur karena diserang berbagai penyakit kejiwaan dan penyakit jasmani. 

Walau bersifat alami dan normal namun marah tidak timbul dengan sendirinya. Ia merupakan respon dari seseorang ketika mendapat ancaman, hal yang membahayakan, kekerasan verbal, perlakukan tidak adil, kebohongan dan manipulasi oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul karena batas-batas emosi yang kita miliki telah terganggu atau terancam. Secara internal, marah bisa terjadi ketika menghadapi masalah-masalah pribadi, mengingat peristiwa yang sangat mengganggu pikiran, kekecewaan pada situasi lingkungan, kurang percaya diri, dsb. Sementara secara eksternal, marah bisa timbul karena menghadapi kepadatan lalulintas, mendapat ancaman, hak-hak pribadinya diperlakukan tidak adil dsb. Apakah dengan demikian amarah selalu dipandang sebagai emosi yang negatif?

Marah sebenarnya dapat berguna. Karena itu marah konon jangan dipendam sebab akan merusak emosi. Jadi lepas saja asalkan dilakukan dengan wajar dan segera bisa dikendalikan. Di sisi lain marah bisa memotivasi seseorang untuk memecahkan masalah tertentu yang sebelumnya tersembunyi. 

Mengapa???

Karena setelah itu yang bersangkutan segera melakukan evaluasi diri. Marah disini memberi sinyal mana yang dirasakan sebagai sesuatu yang benar dan mana yang salah. Konflik-konflik secara bertahap bisa diatasi dengan emosi yang tenang.

Berbicara marah dalam Islam, seorang muslim pasti akan mencari contoh terbaik dalam melakukannya. Siapa lagi yang patut menjadi tauladan umat Islam kalau bukan Rasulullah. Bagaimana cara beliau mengatur emosi, disebutkan  dalam sebuah kisah. Saat itu Rasulullah sedang berjalan bersama Anas ra, tiba-tiba ada seorang Badui mengejar dan serta merta menarik serbannya dengan keras. Anas berkata, “Aku melihat bekas tarikan serban kasar itu pada leher Rasul.” Lalu Badui berkata, “Wahai Muhammad, berilah aku dari harta Allah yang ada padamu.”  Bukannya marah, Rasulullah hanya menoleh sambil tersenyum lalu memerintahkan sahabat agar memberikan harta cukup banyak kepada orang badui tersebut. Sikap Rasulullah ini menggambarkan betapa hebatnya kemampuan beliau dalam mengendalikan emosi. Beliau disakiti, dihinakan di depan orang, dan dimintai sedekah secara paksa, tetapi beliau tidak marah. Inilah seharusnya bagaimana cara mengatasi marah dalam Islam.

Secara medis, kebiasaan menanggapi sesuatu dengan marah adalah bisa dampak negatif untuk kesehatan. Ada beberapa penyakit yang bisa menjangkit orang yang gemar marah.

 

Tiga Macam Kemarahan

Pertama: Kemarahan yang Terpuji

Marah yang terpuji adalah marah karena Allah, yaitu marah ketika terjadi pelanggaran terhadap syari’at Allah ta’ala, karena Allah ta’ala marah karena hal tersebut, sebagaimana firman-Nya,

 “Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah marah kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejelek-jeleknya tempat kembali.” [Al-Fath: 6]

Namun kemarahan karena Allah tidak boleh dilampiaskan dengan cara yang tidak sesuai syari’at Allah ‘azza wa jalla, seperti menzalimi orang-orang kafir maka tidak dibolehkan.

Kedua: Kemarahan yang Tercela

Marah yang tercela adalah marah yang bukan karena Allah, yang berdasarkan pada sesuatu yang tercela, seperti marah karena kesombongan, hizbiyyah (fanatisme golongan, kebangsaan, kedaerahan) dan berbagai sebab yang tercela lainnya.

Ketiga: Kemarahan yang Mubah

Marah yang mubah adalah marah karena tabiat (sifat dasar manusia), seperti marah karena disakiti atau dihina, hukum asalnya mubah, namun dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, seperti berbuat zalim, mencaci, mengghibah, bahkan memukul dan membunuh.

Dan sebaliknya, marah karena tabiat ini dapat menjadi kebaikan yang besar apabila dikelola secara benar, yaitu sesuai tuntunan agama yang mulia ini.

Pentingnya Mengendalikan Rasa Marah

Rasa marah merupakan bara api yang dikobarkan setan dalam jiwa manusia. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan marahnya, akan mengakibatkan sesuatu yang jelek.

Oleh karena itu, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid (Hal.201) menyebutkan bahwa pokok-pokok kemaksiatan ada tiga, di mana beliau menyebutkan di antaranya adalah mentaati kekuatan rasa marah. Adapun puncak dari menuruti kekuatan rasa marah adalah pembunuhan. Fakta yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan dengan jelas bagaimana bahayanya saat seseorang tidak mampu mengendalikan rasa marah yang menimpanya. Tidaklah terjadi kesalahpahaman yang berakhir kepada perkelahian bahkan pembunuhan, tidak lain disebabkan karena ketidakmampuan dalam mengendalikan rasa marah.

Oleh karena itu, salah satu nasehat Islam tentang marah perlu senantiasa kita ingat bahwa orang kuat sejati bukanlah orang yang hebat dalam bertarung dan berkelahi, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits:

“Bukanlah orang kuat itu adalah orang yang (selalu mengalahkan lawannya) dalam bergulat, akan tetapi orang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Salah satu sifat penghuni surga yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah orang-orang yang mampu menahan rasa marahnya dan memaafkan orang yang melakukan kesalahan terhadapnya. 

Hal ini ditegaskan oleh Allah Azza Wajalla dalam firman-Nya:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surah Ali-Imran : 133-134).


Wasiat Nabi Untuk Tidak Marah

Untuk menyempurnakan kutipan islam tentang marah pada artikel kali ini, simaklah wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seseorang yang meminta wasiat kepada beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, di mana beliau berkata:

“Seorang lelaki datang dan berkata ‘Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku!’ Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata ‘Jangan marah’. Kemudian lelaki itu kembali mengulangi pertanyaannya, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kembali berkata ‘Jangan marah.’” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Anger Management Marah Menurut  Agama

Islam merupakan agama yang sempurna. Karena itulah, Islam mengajarkan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat kebaikan dan manfaat bagi manusia dan melarang dari segala sesuatu yang bisa memberikan bahaya dan kejelekan bagi mereka.

Terkait dengan rasa marah yang menimpa seseorang, Islam telah memberikan tuntunan bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh seseorang saat ditimpa rasa marah:

1. Meminta Perlindungan kepada Allah ta’ala dari Setan 

     Disebutkan dalam sebagian hadits tentang dua orang yang saling mencela, di mana salah satu dari keduanya sudah memerah wajahnya dan urat-urat lehernya menonjol karena marah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang seandainya dia ucapkan, niscaya hilang rasa marahnya. Seandainya dia mengucapkan ‘A’uudzu billaahi minasysyaithoonir rajiim’ niscaya hilang rasa marahnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas memberikan bimbingan saat seseorang ditimpa rasa marah, hendaknya dia segera banyak berlindung kepada Allah Azza Wajalla. Sebab, rasa marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam jiwa seorang hamba. Jika hamba tersebut berlindung kepada Rabb-nya, niscaya bara api tersebut akan padam.

2. Diam, Tidak Berbicara, Apalagi Berdebat, Adu Mulut dan Saling Mencaci

Saat seseorang dikendalikan rasa marahnya, dia cenderung mudah mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidaklah menambah kecuali kejelekan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 

“Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaknya dia diam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Di Shahihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami’ [693]).

3. Merubah Posisi, Apabila Sedang Berdiri Hendaklah Duduk, Apabila Kemarahan Belum Hilang Hendaklah Berbaring

Saat seseorang mulai merasakan amarah yang berkobar pada dirinya, jika dia berdiri maka hendaknya dia segera duduk atau berbaring.  Hal ini telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam: 

“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaknya dia segera duduk, niscaya rasa marah akan hilang darinya. Jika tidak, maka hendaknya dia berbaring.” (Diriwayatkan Oleh Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud [4782]).

4. Berwudhu

Dalam sebuah hadits yang didha’ifkan oleh sejumlah ulama, “Sesungguhnya kemarahan itu dari setan, dan sesungguhnya setan tercipta dari api, dan hanyalah api itu dapat dimatikan dengan air, maka jika seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari ‘Athiyah radhiyallahu’anhu, didha’ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah: 582]

5. Mengedepankan Prasangka Baik Kepada Orang yang Membuat Marah

Sesungguhnya prasangka baik dapat melapangkan hati dan menghilangkan kemarahan terhadap orang yang menyakiti kita. Dalam hal ini generasi Salaf adalah sebaik-baiknya teladan.

6. Senantiasa Mengingat Keutamaan Menahan Marah

Allah ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa menahan marah dan memaafkan adalah akhlak yang utama. 

7. Mengambil Teladan dari Para Nabi dan Rasul, dan Orang-orang Shalih dalam Menahan Marah

Dan inilah teladan dari Nabi kita yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam.

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’ahu berkata,

 “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau mengenakan kain Najran yang tebal ujungnya, lalu ada seorang Arab Badui yang menemui beliau, langsung ditariknya beliau pada kain yang beliau kenakan dengan tarikan yang kuat hingga aku melihat permukaan bahu beliau membekas lantaran ujung selimut akibat tarikan Arab badui yang kasar tersebut. Kemudian ia berkata; “Wahai Muhammad berikan kepadaku dari harta yang diberikan Allah padamu”, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

8. Mengingat Akibat Jelek Kemarahan

Orang yang marah terkadang hilang akal sehatnya, sehingga ia mengatakan atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang kelak ia sesali. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam pernah berdoa, 

“Dan aku memohon kepadaMu ya Allah untuk dapat mengucapkan kalimat yang benar ketika ridho maupun marah.” [HR. An-Nasai dari Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma, Shahih Al-Kalim Ath-Thayib: 105]

Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib berkata, 

“Awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan, dan bisa jadi kehancuran itu karena kemarahan.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah, 1/205]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

 “Manusia masuk neraka dari tiga pintu: Pintu syubhat yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah, pintu syahwat yang menyebabkan ia mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]

9. Mengingat Murka Allah dan Azab-Nya yang Pedih

Sahabat yang mulia Abud Darda radhiyallahu’anhu berkata,

“Saat yang paling dekat antara seseorang dengan kemurkaan Allah adalah apabila hamba tersebut sedang marah.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

Al-Imam Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata,

“Padamkanlah api kemarahan dengan mengingat api neraka jahannam.” [Syarhul Bukhari libni Baththol, 9/297]

Tidak bisa dipungkiri, kemarahan adalah salah satu bentuk emosi yang sangat alamiah dan sering kali mampu digunakan untuk mengidentifikasi stresor. Dalam beberapa kasus, kemarahan dapat memberikan dampak yang positif seperti membantu kita membela diri saat diperlukan, mengurangi berbagai bentuk emosi dan kondisi psikologis yang negatif, serta melindungi diri dari rasa tersakiti. Sayangnya, ketidakmampuan mengelola kemarahan justru berpotensi merusak hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita dan berdampak negatif. Oleh karena itu, cobalah untuk tetap tenang dan terkontrol, sesulit apapun situasinya. Lakukan ini untuk menjaga kelanggengan hubungan dengan orang-orang sekitar kita, meski adakalanya kemarahan kita sejatinya beralasan.

Terpenting tiada henti memohon kepada Sang Pemilik Jiwa kita Alloh Azza Wajalla, agar senantiasa dijauhkan dari sifat amarah negatif. Selamat berjuang para sahabat terkasih untuk terus menguatkan serta mengendalikan diri agar jalinan komunikasi tetap indah, agar orang-orang di sekitar kita aman, nyaman dengan kehadiran kita. Rahimakumullah. 

 

 

 

 

 

 



                                      DAFTAR PUSTAKA 


M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

https://sofyanruray.info/15-cara-mengelola-kemarahan/

https://muslimah.or.id/11993-ibnul-qayyim-al-jauziyyah

https://www.kompasiana.com/tag

http://www.apa.org/topics/anger/control.aspx

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati.2020.  Indahnya Berkarya Untuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara