Jumat, 01 Oktober 2021

CORNELL PAPER DAN CENDEKIAWAN KIRI

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


Cornell Paper mulai meramaikan khasanah penelitian mengenai peristiwa G.30.S/PKI beberapa tahun setelah peristiwa berdarah itu terjadi.

Cornell Paper adalah analisis dari Indonesianis asal Universitas Cornell ( Ben Andersons dan Ruth Mc Vey ) analisis yang berisi bahwa peristiwa G.30.S/PKI adalah akibat konflik internal AD, terutama para perwira dari Kodam Diponegoro.


Para perwira yang promosi ke Jakarta seperti Letnan Jenderal Ahmad Yani dan stafnya dianggap sudah melupakan jati dirinya sebagai perwira yang bersahaja dan sederhana mereka berubah menjadi perwira borjuasi kapitalis yang bergelimang kemewahan, sementara junior-juniornya seperti Letkol Untung Sutopo dan Kolonel Latief terpanggil untuk "meluruskan" yang menjadi pertanyaan upaya "meluruskan" dari para perwira progresif revolusioner berasal dari para perwira binaan Biro Khusus PKI dibawah kendali  Sjam Kamaruzaman.


Salim Said dalam bukunya Gestapu 65 PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto menyatakan bahwa Andersons dan Mc Vey adalah dua Indonesianis yang berkecenderungan kiri. Ketika Ruth McVey berada di Jakarta, PKI mengundangnya memberi ceramah pada Akademi Politik Ali Archam yang berfungsi mendidik kader-kader PKI. Konon McVey bangga sekali dengan undangan itu. McVey adalah seorang Indonesianis yang khusus mempelajari bangkit dan berkembangnya PKI.


Ben Andersons berada di Indonesia -melakukan penelitian- beberapa  saat sebelum gestapu, pada masa tersebut ia kerap berhubungan dengan pemuda-pemuda komunis. Dia mengembangkan jaringannya dengan golongan komunis. Melalui penelitiannya mengenai Gerakan Pemuda Komunis Di Indonesia Ben Andersons kemudian bersimpati dan memberikan dukungan kepada para pemuda komunis sebelum dan pasca peristiwa G.30.S/PKI.


Dibutuhkan sikap hati-hati dalam membaca dan mempelajari analisis dari para Indonesianis khususnya latar belakang dan jejak mereka di masa lalu, Andersons, McVey dan Wertheim ( pencetus analisis missing link yang menuduh Mayjend Soeharto sebagai dalang peristiwa G.30.S/PKI ) yang menghasilkan analisis yang berbeda dengan sebagian sejarawan Indonesia ternyata adalah para pendukung dan simpatisan golongan kiri. Versi-versi sejarah dari dalam dan luarnegeri mengenai peristiwa berdarah G.30.S/PKI banyak beredar dan itu sah-sah saja tetapi untuk guru dan para pendidik jangan sembarang menggunakan versi, analisis, dan teori mengenai G.30.S/PKI sebelum berselancar dengan layar literasi sejarah.


Cisarua, 1 Oktober 2021 Memperingati hari Kesaktian Pancasila.🇮🇩🇮🇩🇮🇩