Senin, 18 Oktober 2021

Merancang Pola Pikir Melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional

Oleh : N.Evi Susantika

SMPN 1 Mangunreja – Kab. Tasikmalaya


“Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama”  (Nadiem Makarim)

Melalui pembelajaran Sosial dan Emosional ini dengan membayangkan segala aktivitas  kita diantaranya harus melakukan banyak sekali pekerjaan. Selain tugas mengajar di depan kelas, mengoreksi  pekerjaan murid dan memberikan umpan balik, menyusun administrasi pembelajaran, menghadiri rapat dengan orangtua murid untuk mendiskusikan masalah kedisiplinan dan disusul dengan menulis laporan kepada kepala sekolah, dan berbagai tugas sebagai wali kelas atau panitia kegiatan sekolah sudah mengantri untuk dikerjakan. Apa yang kita rasakan?  Pada saat  itu, mungkin  kita merasa sulit bekerja dengan optimal. Kita mungkin sulit berkonsentrasi saat bersama murid di kelas, merasa kurang sabar saat berkomunikasi dengan orangtua murid, atau akhirnya lupa mengecek hasil kerjaan murid hingga sudah larut malam. Belum lagi, dengan berbagai  tugas di atas, seorang guru juga dibutuhkan untuk mendampingi murid dengan berbagai masalahnya, mulai dari masalah datang terlambat, bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, melakukan tindakan kekerasan atau perundungan, hingga kasus murid  yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. (www.liputan6.com, diakses 5 Juni 2020). Untuk menghadapi berbagai situasi yang kompleks ini, seorang pendidik membutuhkan kemampuan dasar untuk merawat dirinya (self care) agar dapat mengelola kehidupan profesional maupun personalnya.

Pembelajaran Sosial Emosional Learning atau SEL adalah proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri dan kemampuan relasi. Kenapa SEL sangat penting? Karena proses ini akan membantu kehidupannya baik di sekolah, lingkungan kerja atau bermasyarakat. Perlu diketahui bahwa orang yang punya sosial emosional yang baik jauh lebih bisa:

  1. Menerima dan melakukan tantangan, misalnya dalam bekerja.
  2. Lebih mudah untuk belajar.
  3. Bersikap professional.
  4. Bersosialisasi

Jadi, pembelajaran SEL ini tidak hanya fokus pada kemampuan anak dalam jangka waktu dekat tetapi juga jangka panjang. Tidak mengherankan jika saat ini banyak pihak terutama sekolah yang kemudian menerapkan SELdalam pembelajarananak. Tapi, apakah SEL bisa diaplikasikan begitu saja? Tidak! Menurut Durlak et al., 2010, 2011 yang dikutip dalam Edutopia menjelaskan bahwa program SEL harus sesuai dengan SAFE, yaitu:

  1. Sequenced: saling berkaitan dan terkoordinasi untuk mendorong keterampilan anak.
  2. Active: bentuk pembejalaran aktif agar anak mampu menguasai keterampilan yang baru.
  3. Focused: menekankan pengembangan keterampilan baik secara individu maupun sosial.
  4. Explicit : menargetkan keterampilan sosial dan emosional yang lebih spesifik

A.    Manajemen Diri (Pengelolaan Diri)

Seperti kasus yang dialami oleh Ibu Adriana telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Ibu Adriana merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Ibu Adriana sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Ibu Adriana juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Atau kasus Ibu Adriana yang lainnya yang tentunya ada banyak kasus yang terjadi.

Selesai kegiatan belajar-mengajar berakhir, Ibu Adriana memimpin rapat panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Bu Adriana untuk mempelajari perubahan proposal acara.  Bu Adriana perlu memastikan semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat. Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal disetujui oleh kepala sekolah.  Oleh karena itu, Ibu Adriana diminta untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat-lambatnya lusa. Karena mendahulukan proposal ini, Ibu Adriana pun lupa menyiapkan rubrik untuk pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Ibu Adriana, masuk kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran sempat tersendat.

1. Masalah yang dihadapi Ibu Adriana adalah kondisi multi peran dimana dalam menjalankannya nampak tidak fokus terhadap tupoksi sebagai pendidik/ pengajar, meski sebagian waktunya dapat melaksanakan tugasnya menuntaskan kegiatan mengajarnya namun dengan hadirnya amanah dalam kegiatan diluar peran pendidik yaitu sebagai Ketua Panitia Agustusan yang perlu memaksimalkan diri dimulai dari perencanaan hingga pengaturan anggaran, akhirnya tugas mendidik hari berikutnya tidak fokus sehingga tidak sempat untuk mempersiapkan pembelajaran yang akhirnya kurang optimal.

2. Penerapan kompetensi pengelolaan diri pada masalah tersebut, yaitu :

a)      Perlu adanya Manajeman diri yang merupakan pengendalian diri yang dapat mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang  kita lakukan, sehingga  dapat terhindar  hal-hal yang tidak baik yang mana hal ini akan meningkatkan perbuatan baik dan benar.

b)      Mampu memanaj waktu, prioritaskan tugas utama sebagai pendidik, baru menuntaskan tugas tambahan kepanitiaan (yang mana jika uraian tugasnya tepat pasti dapat berbagi dengan rekan kepanitiaan tidak mesti dikerjakan sendiri, dengan kata lain mampu  memposisikan tim kerja yang tepat sehingga dapat efektif dan bertanggjawab akan semua tugasnya.

 

B.     Kesadaran Diri

Adapun Penerapan kompetensi kesadaran diri pada masalah Ibu Andriana adalah

1.      Mesti berlatih mindfulness (berkesadaran penuh) yang memiliki keterlibatan  dengan kesadaran diri, melalui cara memahami dan mengenali emosi yang tertanam  pada dirinya, sehingga beliau  dapat merespon kondisi  secara cepat, tepat dan optimal. 

2.       Ibu Adriana dapat mempraktikan teknik #STOP# :

·         Stop; Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan

·         Take a deep breath; Tarik nafas dalam​. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk- napas  keluar.

·          Observe;  Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati  perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat  Anda lakukan.  

·         Proceed/Lanjutkan​. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang  lebih positif.  

 Ketika menghadapai situasi yang membuat kita merasa repot tidak fokus,  oleh karena  kesadaran penuh dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing); latihan bergerak sadar (mindful movement), yaitu bergerak  yang disertai kesadaran  tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari  gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari  yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita.  Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari nafas. 

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness).

Ada beberapa kata kunci, yaitu: kesadaran (awareness), perhatian yang disengaja (on purpose), saat ini (present moment), rasa ingin tahu (curiosity), dan kebaikan (compassion). Artinya ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan rasa (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan. Jika dalam dua kompetensi sebelumnya, kita diminta untuk memiliki pemahaman dan kemampuan mengenal serta mengelola diri sendiri, maka dalam kesadaran sosial ini kita diharapkan membangun kemampuan untuk menempatkan diri dan melihat perspektif orang lain.

C.    Keterampilan Berempati 

Begitupun dalam pembelajaran langsung kita sebagai bekal mental dalam menghadapi kondisi, mesti mengetahui hal terkait dengan keterampilan berempati. Empati merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami serta ikut merasakan perasaan-emosi orang lain sehingga dapat melihat perspektif sudut pandang orang lain. Baru setelah kita mampu melihat dari kaca mata orang lain, kita dapat menghargai dan memahami konteksnya. Apa saja yang mendasari perilaku, sikap dan cara berpikir orang tersebut. Bob dan Megan Tschannen-Moran (2010) menggambarkan empati sebagai sikap menghormati, tidak salah memahami dan mengapresiasi pengalaman orang lain. 

Keterampilan berempati merupakan keterampilan yang membantu seseorang memiliki hubungan yang hangat dan lebih positif dengan orang lain. Mengapa? Karena empati mengarahkan kita untuk mengurangi fokus hanya ke diri sendiri, melainkan juga belajar merespon orang lain dengan cara yang lebih informatif dan penuh afeksi ke orang lain sehingga lingkungan yang inklusif akan terbentuk.   Menanamkan empati dapat dilakukan dengan langkah yang paling sederhana yaitu dengan menaruh perhatian pada perasaan orang lain dengan bertanya:

 1. Apa yang dirasakan orang tersebut?

 2. Apa yang mungkin akan dia lakukan?

 3. Apa yang saya rasakan jika mengalami kejadian yang sama? 

  Setelah menanyakan beberapa hal tersebut sebelum berbicara atau bertindak, meyakini bahwa setiap orang berbeda, dan memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan akan memungkinkan kita untuk bersikap lebih empati pada orang lain.  Empati merupakan keterampilan yang bisa dilatih untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melatih empati dalam diri kita: ·       

1)       Menaruh perhatian pada perasaan orang lain ·  

2)       Berpikir sebelum berbicara atau bertindak ·        

3)      Meyakini bahwa setiap orang berbeda

4)      Memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan.

Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat yang menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusannya sendiri. Selain itu kesadaran diri juga berarti menetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Suryanti dan Ika (2004) menyatakan bahwa saat kita semakin mengenal diri kita, kita memahami apa yang kita rasakan dan lakukan. Kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain".

·         Awali dengan bernapas secara teratur dan menyadari napas dalam teknik STOP teknik yang efektif,  yang dapat mengembalikan kesadaran penuh

·         Kesampingkan sejenak situasi kelas, atau masalah dalam kepanitiaan

·         fokus pada situasi murid atlet. Menaruh perhatian pada perasaan orang lain

·         Belajar untuk menerima dan memahami orang lain, sehinga dapat berpikir objektif

·         Memberi dukungan pada orang lain

 Contoh kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa empati dalam pembelajaran langsung yaitu Bermain Peran, karena pada permainan ini semua jenis karakter bisa mereka lakukan sesuai keinginan. Disitulah anak akan belajar untuk memahami bagiamana menjadi orang lain dan merasakan yg dirasakan orang lain, terutama teman-teman sebaya atau yang terlibat pada permainan tersebut.

D.    Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab 

Pernahkah Anda menyesali keputusan yang Anda buat? Pernahkah keputusan yang Anda buat, alih-alih memberikan solusi malah menimbulkan masalah baru, atau merugikan orang lain, lingkungan, dan bahkan diri Anda sendiri? Saat Anda mengalami hal tersebut, Apa yang Anda rasakan? Apa yang Anda lakukan? Menurut Anda, mengapa seseorang mengambil keputusan yang kemudian disesalinya?    Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial.

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sesungguhnya adalah kemampuan yang jika secara konsisten dan berkelanjutan ditumbuhkan dan dibiasakan sejak dini, akan memungkinkan seseorang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan lebih berdaya lenting (resilience) dalam menghadapi segala konsekuensi yang harus dihadapi akibat keputusan yang dibuat dalam hidupnya.   Kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab tidak datang secara alami. Kemampuan ini perlu dengan sengaja ditumbuhkan. Seorang pengambil keputusan yang bertanggung jawab akan mempertimbangkan semua aspek, alternatif pilihan, berikut konsekuensinya, sebelum kemudian mengambil keputusan. Untuk dapat melakukan hal tersebut seseorang perlu belajar bagaimana: 1. mengevaluasi situasi 2. menganalisis alternatif pilihan mereka, dan  3. mempertimbangkan konsekuensi dari masing-masing pilihan itu terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.  

Salah satu strategi sederhana yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah dengan menggunakan kerangka yang disebut POOCH - Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil), dan How (Bagaimana hasilnya). Kerangka sederhana ini akan membantu seseorang memikirkan dengan baik berbagai aspek sebelum memutuskan sesuatu.  

Kerangka kerja POOCH ini dapat efektif jika dikerjakan dengan tenang dan jujur melihat situasi riil. Teknik STOP yang selama ini telah saya praktikkan, dapat membantunya bersikap tenang dan rileks saat mengevaluasi situasi dan mengerjakan lembar kerja POOCH.  Selain mampu membuat pilihan keputusan, seseorang yang memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab akan dapat menyikapi konsekuensi atas keputusan tersebut dengan baik, termasuk jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Besar harapan dengan mengenali dan memahami pembelajaran Sosial dan Emosional dapat menjadi lebih kuat dan sungguh-sungguh seberat apapun masalah yang dihadapi insyaAlloh dapat teratasi dan terkendali, kita akan merasa nyaman karena sudah memiliki solusi terindah. Dimana pun berada ketika kita dapat lebih mengendalikan diri dengan kekuatan yang dimiliki, maka segala rintangan/permasalahan akan segera tercerahkan.

Peran kita sebagai pendidik adalah tugas mulia sekaligus tersulit yang harus terus fokus pada pembelajaran yang bermakna untuk anak didik kita. Mari terus belajar, berefleksi dan bertumbuh menjadi lebih baik bagi murid-murid kita. Terakhir, kami ingin mengutip kata-kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Makarim: “Besok, di manapun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru  melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.“