Selasa, 05 Oktober 2021

TNI DAN NATUNA

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Dinamika percaturan politik di Asia Pasifik semakin mengarah kepada persaingan hegemoni di Laut Cina Selatan, klaim sepihak RRC dengan Nine Dash Line termasuk di Kepulauan Spratly membuka konfrontasi dengan 4 negara ASEAN Vietnam, Malaysia, Brunei dan Filipina. Manuver kapal-kapal perang Cina di dua wilayah tersebut bisa mengarah kepada peperangan terbuka dan tidak tertutup kemungkinan akan memicu konflik mematikan dimasa depan.


Amerika Serikat yang terus membangun aliansi militer dikawasan Asia Pasifik tidak terbantahkan ditujukan untuk membendung dominasi militer Cina khususnya dikawasan Laut Cina Selatan, pembentukkan fakta pertahanan AUKUS Australia, AS, dan Inggris bukan saja ditujukan untuk pengadaan kapal selam nukir Australia tetapi memiliki tujuan luas yakni mempertahankan dominasi politik dan militer AS dikawasan Asia Pasifik dan Laut Cina Selatan.


Indonesia dengan garda terdepan TNI harus ekstra hati-hati mensikapi keadaan di kawasan Laut Cina Selatan, khususnya wilayah kedaulatan RI di Laut Natuna, Laut Natuna kaya dengan sumber daya perikanan dan energi  minyak bumi.  Cadangan minyak bumi dikawasan Laut Natuna diperkirakan mencapai 36 juta barel. Filosofi pertahanan"Visi Pacem Para Bellum" ( "Bila Ingin Perdamaian Maka Bersiaplah Untuk Berperang ) yang digaungkan Kementerian Pertahanan RI kiranya sesuai dengan perkembangan di Laut Natuna. TNI harus segera fokus ke alutsista dengan mengganti alutsista yang sudah usang, deretan pembelian alutsista berupa kapal perang Italia 6 freegat kelas FREMM, modernisasi 2 Frigat kelas Maestraele berikut dengan logistik terkait. Pengadaan 36 jet tempur multi peran jenis Rafaele, Kemenhan telah menandatangani kontrak awal dengan Dassault Aviation pabrik pembuat jet tempur Rafaele di Perancis. F 15 pabrikan AS masih dalam proses  dan tahapan negosiasi. Pembelian 3 kapal selam asal Korea dengan prinsip alih teknologi kapal selam senilai US$ 1,1 miliar bakal memperkuat armada kapal selam  TNI/AL yang kini hanya memiliki 2 kapal selam, idealnya sebagai negara maritim Indonesia memilik minimal 12 kapal selam.


Cetak biru Kemenhan yang dijelaskan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dengan anggaran mencapai Rp 1700 trilyun tentunya merupakan anggaran tertinggi dalam sejarah pengadaan alutsista. Semuanya tergantung kepada mentalitas, karakter, dan profesionalitas prajurit TNI istilah "The Man Behind The Gun" harus selalu menjadi tinjauan dan evaluasi pertahanan bagi Kemenhan dan TNI.


Indonesia harus "cerdas" memainkan peran di Natuna dan dikawasan Laut Cina Selatan. Latihan gabungan antara TNI/AD dan US ARMY dengan sandi Garuda Shield 1-14 Agustus 2021 dengan melibatkan 2.161 prajurit TNI/AD dan 1.547 prajurit US ARMY harus diorientasikan kepada peningkatan  profesionalitas dan keterampilan prajurit TNI, walaupun jelas terlihat latihan ini adalah bagian dari strategi AS didalam membendung agresifitas Cina di Laut Cina Selatan. Indonesia harus tetap netral dan memainkan peran sebagai negara besar di ASEAN  diplomasi dengan sistem "keseimbangan" kawasan menjadi pilihan terbaik bagi Indonesia dengan tetap berusaha memelihara stabilitas perdamaian dikawasan Asia Pasifik.



Cipanas, 5 Oktober 2021 di perpustakaan DIRGAHAYU TNI 🇮🇩🇮🇩🇮🇩⭐⭐⭐⭐