Minggu, 24 Oktober 2021

TRAGEDI OPERASI SEROJA PARA PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

Oleh : Yanuar Iwan

SMP Negeri 1 Cipanas


Right or wrong my country ( Lord Palmerston )


Pada 2001 Arsip Nasional Amerika Serikat merilis dokumen keterlibatan Pemerintah Amerika  Serikat dibawah Gerald Ford dalam masalah Timor Lorosae tahun 1975. Dokumen tersebut mengungkap tahap demi tahap pembicaraan segitiga antara Presiden Ford, Presiden Soeharto, dan Menteri Luarnegeri Henry Kissingger mulai dari Camp David Juli 1975 sampai puncak kesepakatan di Jakarta 6 Desember 1975, AS yang trauma akibat kekalahan di Vietnam memberikan dukungan politiknya  kepada Indonesia untuk masuk ke wilayah Timor Lorosae sekaligus memcegah Fretelin yang mengusung ideologi komunis berkuasa.


Pada 7 Desember 1975 pukul 05.45 barisan pesawat Hercules T 1308 dipimpin Letnan Kolonel Pnb Suakadirul dengan sandi operasi Rajawali Flight memulai operasi lintas udara ratusan prajurit Kopassandha dengan komandan Letnan Kolonel Sugito dan prajurit batalyon 502/Raiders Jawa Timur dengan komandan Letnan Kolonel Matrodji melakukan misi penerjunan dengan tujuan menguasai kota Dili, kantor gubernur dan lapangan udara, tembakan gencar dari darat dilancarkan fretilin dan para mantan Tropaz ( Prajurit yang dilatih kemiliteran oleh tentara Portugis ) dapat dibayangkan betapa sulitnya para  prajurit Kopassandha dan Batalyon 502 ketika mereka masih di udara membalas tembakan dari bawah sambil mengendalikan payung. Sesampainya di darat mereka langsung terlibat pertempuran dengan Fretelin dan para milisi pendukungnya, beberapa prajurit mendarat di laut dan hilang, beberapa lagi tersangkut di pohon dan pagar, mereka yang mendarat dilapangan terbuka sebagian menjadi sasaran sniper. Pertempuran jarak dekat tidak dapat dihindari, tidak jarang terjadi perkelahian satu lawan satu. Pukul 12.30 kota Dili dapat dikuasai, dalam buku Benny Moerdani "Prajurit Negarawan" 35 prajurit Batalyon 502/Raiders Kostrad gugur termasuk dua orang mayor dan dua orang kapten. Dari baret merah 16 prajurit gugur, dipihak Fretelin 122 tewas dan 365 orang ditawan.


Sempat terjadi kesalahpahaman dalam penerjunan tahap ke 2 pasukan baret hijau Kostrad menembaki marinir yang sudah berhasil mendesak milisi fretelin ke bagian selatan kota Dili beruntung tidak terjadi korban jiwa. Akibat peristiwa ini penerjunan tahap ke  3 ditunda.


Operasi gabungan tiga matra darat, laut, dan udara adalah operasi rumit dan menanggung resiko besar, terlebih pada saat itu tidak seluruh prajurit pernah mengikuti latihan militer gabungan, korban jiwa di hari pertama operasi lintas udara sebenarnya bisa dihindari apabila informasi-informasi intelejen secara akurat bisa menggambarkan seluruh potensi resiko dan reaksi Fretelin. Pemboman dari laut oleh kapal-kapal perang menjelang operasi amphibi  satuan-satuan Marinir, justru meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan Fretilin dan sayap militernya, itulah sebabnya pada penerjunan tahap 1 jatuh korban jiwa.


Dalam operasi militer seharusnya musuh jangan diberikan kesempatan untuk meloloskan diri, yang menjadi pertanyaan mengapa wilayah selatan kota Dili tidak segera ditutup ketika kota Dili berhasil dikuasai, jika hal ini dilakukan tentu manuver Fretilin untuk meloloskan diri dan membangun kekuatan bisa dicegah dan jatuhnya korban jiwa yang lebih besar tentunya bisa dihindari. Sebagai bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawannya sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh prajurit TNI yang gugur, cacat, atau hilang dalam tahapan Operasi Seroja, jangan ada lagi suara-suara sumbang  dari negeri sendiri mengenai proses integrasi Timor timur bahwa Indonesia melakukan invasi, Indonesia melakukan penjajahan, Indonesia mengeksploitasi Timor timur, Timor timur sudah menjadi negara tersendiri melalui referendum yang penuh dengan intrik dan kecurangan diindikasikan ada keterlibatan Australia dalam proses lepasnya Timor timur pada 1999. Sejarah Timor timur yang kini menjadi negara Timor Leste idealnya tetap diberikan di bangku SMP dan SMA sebagai bahan evaluasi bagaimana sebaiknya bangsa ini bersikap terhadap negara-negara "super power" karena sejarah ditulis bukan hanya untuk para pemenang, sejarah ditulis secara berimbang untuk menjamin manusia masih memiliki sifat  kemanusiaannya.


Daftar Pustaka :

Hendro Subroto; Saksi Mata Perjuangan Integrasi TimorTimur

Julius Pour ; Benny Moerdani Prajurit Negarawan.





Cisarua, Bogor 23 Oktober 2021