Minggu, 28 November 2021

REVOLUSI DAN GERAKAN KEBANGKITAN

Oleh: Yanuar Iwan. 

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Kontak awal bangsa-bangsa Eropa dengan penduduk pribumi diakhiri dengan tindak kekerasan, pemaksaan kehendak, kerusakan kehidupan tradisional, ketidak serasian sosial yang  seluruhnya mengarah kepada "kerusakan kebudayaan" ( Cultural Crash ) terjadinya perubahan-perubahan paksa dan biasanya terjadi dengan kekuatan militer membatasi bahkan menindas kebebasan. Contoh nyata dalam hal ini bisa kita lihat dalam penerapan Tanam Paksa di Hindia Belanda pada 1830 dan perbudakan di wilayah selatan Amerika Serikat 1800. Kolonialisme tidak saja mengakibatkan akulturasi ( Perubahan-perubahan besar dalam kebudayaan yang terjadi sebagai akibat dari kontak antar kebudayaan yang berlangsung lama ). Pemberontakan dan revolusi akan terjadi apabila akulturasi yang dipaksakan mencapai puncaknya, seperti yang terjadi dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia dan Revolusi Cina. Sikap tidak peka kaum kolonial Eropa menimbulkan kebencian yang mendalam terhadap penguasa-penguasa asing, pemberontakan dan revolusi menjadi pilihan terbaik bagi bangsa yang tertindas.


Kondisi berikut bisa menjadi syarat dan pencetus revolusi :

1. Hilangnya kewibawaan pemerintahan karena korupsi yang terjadi secara masif, penyalahgunaan kekuasaan, pembunuhan terhadap seorang tokoh politik populer

2. Hancurnya ekonomi golongan menengah karena krisis ekonomi, dan meningkatnya angka pengangguran

3. Ketidak tegasan pemerintah, seperti kebijakan yang tidak konsisten, pemerintah yang demikian itu kelihatannya seperti dikendalikan dan tidak mengendalikan peristiwa

4. Hilangnya dukungan dari kelas  cendekiawan seperti terjadi pada pemerintah pra revolusi di Perancis dan Rusia.

5. Pemimpin atau kelompok pemimpin, yang memiliki kharisma yang cukup besar untuk menggerakan sebagian besar rakyat, melawan pemerintah.


Tidak hanya bentuk revolusi dari dalam masyarakat seperti Revolusi Perancis dan Revolusi Merah di Rusia. Revolusi yang terjadi karena pengaruh dan bantuan kekuatan dari luar masyarakat seperti Revolusi "Arab Spring" yang terjadi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada abad 21.


Gerakan kebangkitan menjadi pencetus revolusi, karena adanya harapan-harapan baru dari unsur-unsur budaya lokal dan kepercayaan masyarakat setempat seperti kepercayaan terhadap datangnya Ratu Adil atau Imam Mahdi. Kebangkitan dapat didefinisikan sebagai usaha yang disengaja oleh beberapa anggota masyarakat untuk membentuk kebudayaan yang lebih memuaskan dengan secara cepat menerima suatu pola susunan dari banyak inovasi. Gerakan kebangkitan dan revolusi menemui bentuknya dalam pemberontakan petani di Banten pada 1888 dan Revolusi Iran dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini pada akhir dekade 70an.


Apabila sistem nilai tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya akan terjadi suatu kondisi krisis kebudayaan yang dapat membentuk gerakan reaksi. Masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat melakukan gerakan emansipasi dibawah pimpinan Martin Luther King dan gerakan Muslim  kulit hitam dibawah Malcolm X pada dekade 60an gerakan ini bisa dikategorikan sebagai Milenarisme ( Gerakan kebangkitan yang berusaha mengangkat golongan paria yang tertindas, yang telah lama menderita dalam kedudukan sosial yang rendah, dan yang memiliki ideologi sub kultural sendiri.


Daftar bacaan ;

William A. Haviland; Antropologi jilid I dan II, Erlangga 1988.


Cisarua, Bogor, 28 November 2021.

Sabtu, 27 November 2021

Selamat Jalan, Pak Ben, Sahabat Penggerak Sejati!


Oleh Enang Cuhendi

Jelang maghrib hari ini hujan turun deras sekali. Belum satu jam saya sampai di rumah setelah perjalanan dari Jatinangor, Sumedang untuk menjilid laporan OJT diklat calon pengawas sekolah. Sambil menunggu Maghrib mencoba berbaring sekedar melepas lelah sambil menghangatkan badan yang tadi basah kuyup. 

Tiba-tiba HP menyala. Sahabat saya, Asep Taufik yang ketua Pengda FKGIPS Garut memberi kabar duka. Sahabat, kakak dan sekaligus teman seperjuangan di Garut dan Jabar telah meninggalkan kami. Hampir saja tetes bening keluar di pelupuk mata. "Ini mungkin jawaban atas ingatan saya yang dalam dua hari terakhir selalu ingat dia." pikirku.

Drs. Beni Kustiana, atau kami biasa menyapanya Pak Ben, telah meninggal dunia sore ini. Setelah sempat dua hari dirawat di RS Guntur Garut akhirnya Allah berkehendak lain. Almarhum memang punya riwayat jantung, tapi menurut Bu Erin, adik almarhum, bukan jantung pemnyebabnya, Ketika dibawa ke RS almarhum diduga terserang stroke. Ah, apapun jenis penyebabnya, tapi itulah keputusan terbaik Allah SWT untuk sahabatku ini.

Untuk guru-guru IPS, khususnya di Kabupaten Garut, Pak Ben sangat dikenal. Ia aktif untuk menggerakan guru-guru IPS dalam pengembangan diri dan peningkatan kompetensi.. Kepada yang lebih muda ia selalu memberi ruang untuk bergerak. Tak ada dalam dirinya perasaan merasa terlangkah apalagi tersaingi. Setiap yang punya potensi selalu didorongnya untuk maju. Penulis sangat meraskan ini. Salah satunya berkat andil beliaulah penulis bisa berkiprah sampai sejauh ini.

Guru IPS SMPN 1 Garut ini terkenal sebagai sosok yang jarang bicara. Walau begitu, ia seorang aktivis yang tangguh dan penggerak sejati. Hampir sepuluh tahun saya mendampingi beliau di kepengurusan MGMP IPS Kab. Garut. Berbagai tantangan dan rintangan pernah kami rasakan, pun begitu rasa suka dan duka.

Saat penulis sebagai IP mendampingi Pak Beni dkk dari Garut di Cirebon

Almarhum tercatat juga pernah menjadi anggota Tim Pengembang Kurikulum provinsi Jawa Barat. Saat ramai-ramai kurikulum 2013 bergulir beliau pun pernah menjadi Instruktur Nasional dan Instruktur Kabupaten. 

Kiprah Pak Ben sebagai guru, khususnya di dunia IPS memang tidak diragukan lagi. Selain dicintai para muridnya, ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan  pengembangan diri, Begitu juga pulang dari kegiatan ketika ada sesuatu yang baru selalu rela untuk berbagi. 

Kenangan yang tak terlupakan ketika ketika kami ke Surabaya pada 2019 lalu, sebelum merebak Covid-19. Saat itu kami menghadiri pertemuan FKGIPS Nasional. Beliau terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi yang disiapkan panitia, termasuk jalan-jalan ke Bangkalan, Madura. Kami (Penulis, Asep Taufik, Karnata dan Hilman) baru tahu beliau sedang merasakan sakit jantung saat jalan dari Jembatan Merah ke Makam Sunan Ampel.  

Taman Monumen Kapal selam Pasoepati, Surabaya


Di Jembatan Merah, Surabaya


Di Gerbang Tugu Pahlawan Surabaya

Tepat pukul 22.00 penulis baru pulang takziah ke rumah duka di sekitaran Leuwidaun Garut Kota. Alhamdulillah masih sempat menyolatkan jenazah dan sekedar mengangkat keranda hingga ke jalan raya. Karena sudah larut malam dan harus pulang ke Nagreg dan Cicalengka, kami memutuskan tidak ikut ke pemakaman yang dilaksanakan malam ini juga di bawah rintik hujan.

Saat tulisan ini diketik, Pak Ben mungkin sedang merasakan kesendirian dalam gelap dan sempitnya alam kubur. Namun, penulis percaya, kondisi itu tidak akan lama. segala kebaikan yang pernah ditebar dan amaliah Pak Ben sebagai umat yang shaleh  akan langsung menerangi dan memperluas alam kubur. Bahkan segala petanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir pun akan bisa dijawab dengan lancar. Insyaa Allah.

Selamat jalan Pak Beni sang penggerak sejati. Setelah beberapa hari yang lalu kami ditinggal Bu Evi Julaeha yang juga guru IPS hebat, kini engkau yang pergi meninggalkan kami. Kemarin Bu Evi, kini Pak Beni. Esok atau lusa mungkin giliran kami yang masih ada sekarang. Inginnya kita selalu bersama, tapi Allah SWT  sudah punya ketentuan hidup kita masing-masing, Kapan pun kita harus ikhlas, yang penting kita wafat ada dalam rida Illahi, Aamiin

Mulianya Peran dan Kedudukan Guru

   

OLEH

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


“Teacher laying The Foundation Of Science And Education” 


Selamat Hari Guru Semoga makin hebat & menghebatkan anak-anak bangsa. Pastinya setiap tanggal 25 November menjadi hari peringatan bagi Guru se Nusantara. Guru merupakan tonggak peradaban. Guru adalah seorang pendidik, lisannya adalah mutiara dan tingkah lakunya adalah panutan serta tuntunan. Darinyalah dilahirkan generasi harapan bangsa. GURU identik dengan ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa, namun kenyataannya gurulah yang paling banyak memberi jasa dalam kehidupan manusia. Karena jasa guru, banyak manusia menjadi orang mulia dan terhormat. Itulah kenapa Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia. Guru memiliki makna universal, tidak sebatas yang ada di sekolah formal tetapi guru bermakna seseorang yang mengajarkan ilmu dan menuntun kepada kebaikan seperti guru ngaji, guru les, guru silat, ustadz, dosen, kiai/ulama dan sebagainya.

Setiap manusia memiliki cita-cita dan pilihan  untuk masa depannya agar lebih baik dan sukses, sesuai kodrat manusia di muka bumi segala yang dilakukan untuk kenyamanan,  kemapanan dan kebahagiaan. Sedangkan untuk menjadi guru bukan suatu cita-cita atau pilihan tetapi merupakan panggilan, karena tidak sembarang orang, artinya menjadi guru tidak mudah karena membimbing manusia untuk berubah kearah yang lebih baik dalam menggapai cita-cita. Seorang guru punya tugas mulia dan peran penting mempersiapkan generasi bangsa yang diawali dengan pembelajaran di dalam kelas. Dengan kata lain guru memiliki kekuatan membuat anak bersemangat untuk selalu belajar dan berbuat apapun dan kapanpun. Guru memiliki posisi yang sangat kuat memberi  teladan, memiliki potensi menginspirasi murid melakukan sesuatu secara kreatif, inovatif dan santun.

Di dalam Islam, guru memiliki banyak keutamaan seperti menurut sebuah hadis yang menyebutkan, “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).
    Mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang begitu mulia? Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia ataupun di akhirat. Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik muridnya untuk menjadi manusia beradab. Sebagai orang yang mengemban tugas mulia tentunya guru harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, tidak serta merta mengajar seadanya, apalagi menjadi guru hanya untuk tujuan karier. Profesi guru bukanlah profesi main-main, artinya sekali seseorang memilih profesi guru maka ia harus bertanggung jawab untuk mendidik muridnya dengan baik. Karena itu guru harus profesional atau mengupayakan diri menjadi profesional.
    Profesionalisme guru telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasa pasal 1 ayat 1 dinyatakan, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Istilah profesional dalam definisi guru menunjuk pada pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan memenuhi standar mutu dan norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No. 14 Tahun 2005, dalam Kosim, 2008).
Dengan demikian, untuk menjadi seorang guru tidak mudah. Perlu keahlian, jiwa, keilmuan, ketelatenan dan yang pasti kualifikasi pendidikan profesi yang sesuai. Imam Ghazali menyebutkan beberapa syarat menjadi guru yaitu kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa, jujur dan terpercaya bagi murid-muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan kemarahan, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, memperhatikan perbedaan individu (Kosim, 2008).
    Syarat-syarat seperti disebut di atas memang tidak mudah dipenuhi oleh setiap orang karena “mendidik” tidak hanya butuh keluasan ilmu, tetapi juga memiliki titik tekan pada jiwa. Artinya, seseorang yang akan memilih profesi guru harus berangkat dari jiwanya, bukan karena keterpaksaan apalagi pelarian karier.
Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia karena pada sisi yang berbeda Islam juga menyuruh umatnya menuntut ilmu sejak dalam buaian sampai pada liang lahat, sehingga logikanya jika tidak ada peran guru harus ke mana umat Islam menuntut ilmu. Itulah sebabnya setiap guru harus amanah, apalagi saat ini pemerintah telah mengangkat kesejahteraan guru dengan adanya tunjangan profesi guru. Guru seharusnya mampu mencontoh metode Rasulullah Saw dalam memberikan pengajaran dan pendidikan, yaitu dengan keteladanan. Tentunya hal ini menunjukkan betapa besar dan mulianya.  Kedudukan Guru di Dalam Islam sebagaimana terangkum dalam 5 poin berikut ini.

1. Mendapat Derajat yang Tinggi

     Sebagaimana menuntut ilmu, seorang guru atau pengajar juga akan dinaikkan derajatnya. Sebab seorang guru yang baik dan berlandaskan pada nilai pengajaran islam akan selalu mengajarkan ilmu yang bernilai kebaikan dan bermanfaat sebagaimana cara berdakwah yang baik menurut Islam. Sehingga kemudian hasilnya tidak hanya bernilai kebaikan bagi yang menerima tapi juga berbuah kebaikan bagi yang mengajarkan. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT, “Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “ Luaskanlah tempat duduk “ di dalam Majlis-majlis maka luaskanlah untuk orang lain), Maka Allah SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11 berikut)

2. Memiliki Ilmu yang Bermanfaat

Seorang guru dalam islam tentunya memiliki kedudukan dimana ia mengerti dan memahami secara detail mengenai bidang pengajaran yang ia ajarkan. Oleh sebab itu, maka seorang guru akan senantiasa memiliki ilmu yang bermanfaat yang akan disebarluaskan kepada para umat. Sehingga bukan gelar ahli yang mereka utamakan namun, lebih kepada dampak sosial bagaimana ilmuyang diajarkan akan dapat merubah pola dan perilaku umat menuju jalan kebaikan.

3. Menjaga Diri

     Ilmu yang dimiliki oleh seorang guru merupakan benteng dalam menjaga diri. Dengan memiliki ilmu tentunya seorang guru akan mampu membedakan antara hal yang baik dan buruk. Sehingga hal ini dapat menjaga diri dan pribadi seseorang untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan. Islam memandang bahwa seorang guru memiliki nilai yang penting bahkan ketika dibandingkan dengan mereka yang harus pergi berjihad kemedan perang.

Sebagaimana dalam hadist riwayat berikut: 

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

4. Memperoleh Kebaikan yang Berlimpah

     Hadits dari Sahl bin Sa’id ra, “Demi Allah, jika Allah SWT memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaramu maka hal itu jauh lebih baik dari pada kekayaan yang sangat berharga.” (HR Bukhori dan Muslim)

Dalam Hadist tersebut dijelaskan bahwa seorang guru derajatnyanleni baik dari pada harta kekayaan yang malimpah. Tentunya hal ini semakin menegaskan bahwa kedudukan seorang guru memiliki posisi yang amat penting. Bukan hanya perkara mengenai ilmu yang diberikan. Namun, seorang guru juga memberi pesan pengajaran yang nilainya bahkan lebih baik dari harta kekayaan yang berlimpah. Sebab ilmu yang diberikan tersebut merupakan sebuah petunjuk yang akan digunakan sebagai pedoman dalam meraih dan menempuh kebaikan selama hidup di dunia.

5. Sama Dengan Pahala Amalan Sedekah

     Memlihara ilmu yang nilainya lebih mulia dan lebih baik dari harta kekayaan tentunya juga memberikan nilai pahala yang berlimpah. Bahkan ilmu yang terpelihara amalan atau nilainya sama dengan pahala atau amalan dari sedekah. Ketika tidak memilili harta untuk disedekahkan, maka menyedekahkan ilmu akan sama nilainya dan pahalanya dengan bersedekah harta. 

Pendidikan merupakan eskalator kemajuan sosial ekonomi sebuah bangsa, dan yang menjadi motor dari pendidikan adalah guru, maka kemudian ada tiga kunci yang menjadi penentu kesuksesan guru dalam mengimplementasikan setiap regulasi pendidikan, tiga kunci yang menjadikan anak-anak bangsa yang hari ini sedang berkembang, yang suatu saat nanti menggantikan generasi-generasi yang undur dimakan usia. Ketiga kunci itu tentunya dimiliki oleh guru, yaitu:

Ing ngarso Sung Tulodo, artinya bahwa pendidik hendaknya menjadi teladan bagi anak didiknya. Ini pun sejalan dengan peribahasa jawa, bahwa guru itu adalah singkatan dari orang yang Digugu dan Ditiru. Ing madyo Mangun Karsa, maksudnya pendidik hendaknya berperan untuk membangun kemauan belajar pada diri anak didik. Tut Wuri Handayani, maksdunya bahwa pendidik hendaknya berperan sebagai pembimbing anak dalam belajar, mengembangkan bakatnya serta membantu memandirikan peserta didik.

Dalam lingkup keilmuan, guru hendaknya juga selalu rajin menimba ilmu dari berbagai forum ilmiah dan berbagai media serta dibiasakan untuk mendengar dan membaca buku dan berbagai fenomena untuk menambah iman serta pengetahuan. Kemudian, menstranfer kebiasaan tersebut kepada muridnya, memotivasi murid untuk rajin membaca dan mendengar agar bertambah iman dan ilmunya, hingga murid memahami betul arti penting untuk belajar sepanjang hayat mereka.  Guru hendaknya mengajar dengan hati dan jiwa yang tulus, mengajak muridnya untuk selalu menerapkan serta menyebarkan ilmu atau menyampaikan kebaikan kepada orang lain, sehingga mereka memahami arti penting menegakkan kebenaran dan kebaikan pada saat dewasa nanti. 

    Memberi motivasi, keteladanan dan inspirasi sepatutnya dilakukan secara istiqamah, terus menerus, diulang-ulang tanpa mengenal bosan dan putus asa dengan tujuan mencari pahala bukan piala. Keistiqamahan itu In Syaa Allah akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala jika diiringi dengan upaya untuk selalu mempertautkan hati dan pikiran kepada Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pertautan itu hadir manakala kejernihan pikiran terbina dengan bingkai pikiran positip kerelaan atas ketetapan Allah Ta’ala, kesucian hati terawat dengan bacaan dzikir, dan lagi jika kesucian fisik juga terjaga dengan basuhan air wudhu. In Syaa Allah guru akan siap menjadi guru profesional berkarakter yang dimudahkan dan dilancarkan untuk menghasilkan generasi emas yang luar biasa. Wallahu A’lam Bish Shawab. 




                                           DAFTAR PUSTAKA 


Yulhasni. 2010. Refleksi 65 Tahun Hari Guru. [Online]. Tersedia di 

http://www.waspada.co.id. 27 Oktober 2011.

https://www.islampos.com

http://pena.belajar.kemendikbud.go.id

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 



                                                   







Selasa, 23 November 2021

Sebuah Refleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak: Mungkinkah Kita sebagai Guru Ikut Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas bagi Indonesia 2045”


Oleh: Sandi Aging Gustiana

(Guru IPS SMPN 2 Cikatomas – Kab. Tasikmalaya)


  1. PEMAHAMAN mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak

    Sebelum menulis mengenai pemahaman materi mengenai nilai dan peran guru penggerak, pikiran saya terbersit mengenai satu hal. Apa yang akan kita wariskan sebagai guru kelak kepada anak didik kita di masa depan? Apa warisan kita sesungguhnya? Menjadi guru penggerak tentunya membuat saya menjadi lebih sadar mengenai tugas mulia dan kewajiban sebagai guru. Pewaris peradaban. Melihat diagram trapesium usia manusia yang pendek tentunya jatah umur kita semakin berkurang setiap waktunya. Merenungi garis sejarah bangsa kita yang panjang dari zaman animisme dinamisme, kerajaan-kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, intrik politik, zaman sekarang, hingga entah berapa ratus tahun lagi lamanya. Menyambut usia emas 100 tahun negara Indonesia merdeka yang sekitar 24 tahun lagi. Namun apakah memang negara kita sudah “merdeka” secara substansi kemasyarakatan atau kemanusiaan? Banyak pertanyaan yang muncul bukan untuk dijawab, namun untuk saya refleksikan sendiri seperti patung “The Thinker” karya Auguste Rodin di Paris, Prancis. Apa makna kita hidup? Apa makna hidup kita sebagai seorang guru?

    Dari sinilah sangat vital bagi seorang guru untuk memiliki sebuah visi bagi hidupnya, bagi murid-muridnya, bagi bangsanya kelak di masa depan. Saat usia tak lagi muda, saat kita menutup mata, namun apakah yang masih tersisa dari kita, apakah kelak yang masih hidup dari bagian diri kita? Pemikiran. Visi. Impian. Kebaikan yang terwariskan, seperti benih padi yang melintasi masa ke masa dan menyebar berbagai tempat. Sudah saatnya kita mewujudkan visi kita sendiri, visi pada anak didik kita, dan pada bangsa kita. Sebuah visi perubahan progresif bagi kebaikan umat manusia dimulai dari anak didik kita terdekat di dalam kelas. Sebuah visi universal, membangun kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dari Tuhan.

    Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan perjuangan awal membangun mental dan karakter guru sebelum membangun anak didik. Terlebih dahulu kita meresapi lagi nilai-nilai filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara kemudian diadaptasi pada nilai dan peran guru penggerak. Sebuah nilai adalah keyakinan standar yang mengarahkan perbuatan dan pengambilan keputusan terhadap situasi. Nilai-nilai yang diyakini sebagai guru penggerak diantaranya adalah berpihak pada murid, mandiri, inovatif, kolaboratif, dan reflektif. 

    Berpihak pada murid artinya “berhamba pada murid”, mengutamakan kepentingan murid di atas diri dan keluarganya sendiri. Guru memperjuangkan hak-hak murid di sekolah untuk mendapatkan pelayanan terbaik dalam bidang pendidikan. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, namun tidak menggantungkan sesuatu pada orang lain. Kemandirian akan lebih bermakna saat kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Inovatif yaitu pembaharuan, pemanfaatan, kemudahan, dan penyelesaian masalah. Kolaboratif adalah kerjasama yang tulus antar pihak terkait untuk memudahkan dalam mencapai tujuan yang sama. Reflektif adalah memaknai apa yang telah dialami mengenai keberhasilan, kekurangan, dan rencana perbaikan.

    Selanjutnya guru penggerak memiliki beberapa peranan diantaranya: (1) menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid; (2) menggerakkan komunitas praktik guru di sekolah dan wilayah; (3) menjadi coach atau mentor bagi rekan guru lain; (4) mendorong kolaborasi antara guru dengan berbagai pemangku kepentingan; (5) mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Jika kelima peran ini bisa dilaksanakan dengan baik maka akan terjadi perubahan besar kemajuan di bidang pendidikan. Menurut saya peran guru yang paling penting adalah menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik. Guru yang menjadi kebanggaan muridnya. Guru yang selalu memberikan solusi kreatif atau inovatif terhadap setiap permasalahan pembelajaran. Guru yang senantiasa peka dan peduli terhadap peserta didik dan lingkungannya. Mendidik dengan penuh cinta dan kasih sayang, pada semua.


  1. KETERKAITAN Nilai dan Peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

    Hal yang paling mendasar mengenai nilai dan peran guru penggerak adalah filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar menjadi manusia dan anggota masyarakat sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Guru menjadi tukang kebun atau petani kehidupan, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri murid-muridnya. Guru tidak bisa memaksakan sesuatu yang bukan kehendak dan kodrat sang anak.  Guru hanya bisa memperbaiki laku sang anak. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut misal dengan melaksanakan konsep merdeka belajar pada peserta didik.

    Pada masa sekarang dibutuhkan kesabaran dan strategi jitu dalam mendidik anak. Maka dari itu guru perlu menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman sang anak. Kebijakan pendidikan sekarang berfokus pada mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah gambaran karakter ideal seorang pelajar yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Karakter tersebut diantaranya beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; mandiri; bernalar kritis; kreatif; gotong royong; dan berkebhinekaan global. Pada hakikatnya adalah intisari nilai-nilai Pancasila dari sila ke-1 sampai ke-5.  

    Kaitannya antara filosofis Ki Hajar Dewantara dan nilai dan peran Guru Penggerak adalah koheren karena filosofis mendasari nilai dan nilai menggerakkan peranan seorang guru. Nilai-nilai guru penggerak yang terkait langsung dengan filosofis Ki Hadjar Dewantara adalah berpihak pada murid, inovatif, dan kolaboratif. Berpihak pada murid sama dengan berhamba pada murid dimana murid menjadi pusat dari segala usaha pendidikan dan pembelajaran. Guru yang inovatif pun akan menghasilkan banyak keputusan dan program yang bermanfaat besar bagi murid dan guru lain. Selanjutnya upaya kolaboratif antara guru dan murid langsung dalam kegiatan pembelajaran dan program lain. 

    Filosofis Ki Hajar Dewantara juga mendasari peranan guru penggerak. Peran yang terkait langsung diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, mendorong kolaborasi antara guru dengan berbagai pemangku kepentingan, serta mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Pada intinya pembelajaran yang berpihak pada murid berasal dari filosofis Ki Hajar Dewantara. Kegiatan kolaborasi dengan semua pihak terkait termasuk orang tua dan masyarakat juga masih dalam filosofis pendidikan Tri Pusat Pendidikan. Lalu di akhir peran guru dalam mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan siswa sesuai cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara. Anak menjadi manusia paripurna sebagai anggota masyarakat mendapat keselamatan dalam hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.


  1. STRATEGI untuk Mencapai Nilai dan Peran Guru Penggerak

    Terdapat 6 (enam) strategi untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak yaitu motivasi, organisasi, komunikasi, partisipasi, kolaborasi, dan refleksi. Pertama, membangun motivasi intrinsik yang kuat agar dapat mengikuti PPGP dengan semangat. Kedua, organisasi kegiatan dan waktu dengan baik. Banyaknya kegiatan yang diikuti tidak menjadi alasan untuk mengeluh. Kuncinya adalah pengaturan waktu yang baik, penyesuaian ritme kerja tubuh, dan memperhatikan masukan gizi yang baik. Ketiga, membangun komunikasi efektif berlandaskan kekeluargaan antar sesama rekan kerja, kepala sekolah, orang tua, siswa, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Komunikasi akan menjadi jalan utama untuk memulai program pengembangan pembelajaran dan pengembangan sekolah. 

    Keempat, meningkatkan partisipasi semua rekan kerja guru. Partisipasi dapat dimulai dari rekan kerja terdekat. Jika sudah ada beberapa orang yang aktif ikut berpartisipasi, maka akan lebih mudah merangkul yang lainnya. Kelima, berkolaborasi untuk merumuskan dan melaksanakan visi, misi, dan program pendidikan dan pembelajaran yang berpihak pada murid. Ketika semua pihak terlibat di dalam program maka akan lebih mudah dan lancar dalam pelaksanaannya. Jika ada permasalahan, tantangan, atau hambatan maka akan dimusyawarahkan bersama jalan keluarnya. Keenam, refleksi dan evaluasi setiap progress kegiatan. Seperti yang telah diutarakan dengan adanya refleksi maka kekurangan setiap kegiatan akan diperbaiki sehingga kualitas setiap kegiatan ke depan akan meningkat. 


  1. PIHAK yang Terlibat dan Peranannya

    Hampir semua pihak terkait dengan perubahan dalam pendidikan. Pertama, kepala sekolah, wakasek, dan komite sekolah. Peranan pemangku jabatan adalah membuat program, peraturan, dan kesepakatan dengan guru, orang tua, murid, dan masyarakat. Guru penggerak wajib melakukan komunikasi efektif agar program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kedua, rekan kerja guru dan staf TU. Rekan guru dan TU adalah mitra untuk bekerjasama dan berkolaborasi melaksanakan program perubahan untuk peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Ketiga, peserta didik. Anak didik adalah sasaran program sehingga membangun kepercayaan dan hubungan yang baik sangat dibutuhkan. 

    Keempat, orang tua dan masyarakat. Warga masyarakat termasuk orang tua di dalamnya termasuk dalam tri pusat pendidikan. Kerjasama yang harmonis akan menguatkan nilai dan peran guru penggerak. Kelima, keluarga besar di PPGP mulai dari panitia pelaksana P4TK, dinas pendidikan dan kebudayaan, instruktur, fasilitator, pengajar praktik, dan calon guru penggerak. Semua pihak berjuang dan berpikir untuk melakukan perubahan pendidikan di Indonesia. Keenam, keluarga CGP sendiri mulai dari orang tua, saudara, istri, dan anak. Doa, dukungan, dan bantuan secara tulus dari keluarga menjadi bahan bakar motivasi tiada henti. Berkat orang tua kita bisa menjadi seperti sekarang dan untuk keluarga jugalah kita berpeluh keringat berdedikasi dalam profesi. 

    Akhir kata sebagai penutup biarlah judul pertanyaan “Mungkinkah Kita sebagai Guru Ikut Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas bagi Indonesia 2045” menjadi pertanyaan yang tak perlu dijawab secara lisan atau tulisan. Pertanyaan yang hanya akan menjadi sebuah renungan motivasi pembuktian. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan apa yang kelak akan kita wariskan pada anak didik dan bangsa kita di masa depan. Melewati batas usia kita sendiri, melintasi berbagai masa, menjamah berbagai tempat, dan menyentuh hati banyak orang. Hidupkan visi kita di hati anak didik kita. Nikmatilah setiap detik waktu kebersamaan kita dengan anak didik. Inilah momen kita untuk menyalakan inspirasi, mewujudkan setiap mimpi, mencapai kebahagiaan yang hakiki. Bagi anak didik kita tersayang, bagi bangsa kita yang besar, dan negara Indonesia kita tercinta. Selamat Hari Guru Nasional!

                           

-  Cikatomas, 23 November 2021 03.00 WIB -




Sabtu, 20 November 2021

JEJAK BERDARAH WESTERLING DI CIANJUR SELATAN

 Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat

Raymond Piere Paul Westerling bisa dikategorikan sebagai penjahat perang sama halnya  dengan tokoh Nazi Klaus Barbie dan Himmler, Westerling  menjadi mesin pembunuh mengerikan di indonesia pada 1946-1950. Westerling yang berpangkat kapten membawahi pasukan baret hijau _Depot Speciale Troepen_(DST) yang berganti nama menjadi _Korps Speciale Tropen_(KST) pada 1948 sebuah unit pasukan komando yang ditujukan untuk melakukan aksi teror, penculikan, dan pembunuhan terhadap pendukung, simpatisan, dan kelompok-kelompok  milisi pendukung republik. Wewenang untuk membunuh _License to kill_ yang diberikan Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Letnan Jenderal S.H. Spoor dimanfaatkan benar  oleh _de Turk_ Si Turki julukan Westerling untuk mempraktekan ucapannya dalam operasi-operasi pembersihan yang dilakukan KST "Dalam perang sikap sadis manusia   akan menemukan bentuknya" di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.


Westerling dan KSTnya adalah bagian strategi Pemerintah Belanda  untuk melemahkan dan menghancurkan perlawanan rakyat dan TNI melalui metode kekerasan, menurut Sejarawan Belanda J.A. de Moor dalam Westerling Oorlog, cara yang digunakan Westerling dalam melancarkan aksinya nyaris selalu sama : mengepung dan mengunci area operasi, menggiring penduduk ke satu titik pusat, menggeledah, mengeksekusi dan terakhir membumi hanguskan kampung-kampung yang dianggap ekstremis ( Fazil Pamungkas ; Historia ) 


Pasca peristiwa pembantaian di Sulawesi Selatan, Westerling di tugaskan di Jawa Barat. Daerah Bandung Barat, Sukabumi, dan Cianjur Selatan, di Cianjur Selatan pasukan baret hijau Westerling bermarkas di Nyalindung ( sekira 15 Km dari Takokak ) pada 1947. Di Bandung Barat Westerling menargetkan pembunuhan terhadap Kapten Soegih Arto Komandan Pasukan Djaja Pangrerot bagian dari Divisi Siliwangi yang tetap  berada di Jawa Barat tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Berdasarkan kesaksian dari Soegih Arto pasukan baret hijau Westerling banyak melakukan pembunuhan masal,  pelecehan dan perkosaan terhadap para perempuan desa di kawasan Gunung Halu Bandung Barat, "Rasanya masih terdengar jelas jeritan dari para perempuan yang diperkosa itu...." ungkap Soegih Arto ( Hendi Johari Historia ). Di daerah Cianjur Selatan Kecamatan Takokak terdapat Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri sebagai saksi bisu kebrutalan Westerling, 68 makam yang terdapat disana hanya merupakan puncak gunung es diduga masih banyak korban-korban Westerling yang belum ditemukan. Sejak 1947 Takokak dijadikan tempat eksekusi orang-orang sipil pro republik yang berasal dari Sukabumi dan Cianjur. Tindak pembantaian semakin meningkat seiring dengan proses hijrah Divisi Siliwangi, Takokak dijadikan lokasi akhir "pengadilan" Westerling untuk menimbulkan ketakutan dan trauma. Rata-rata korban pembantaian mengalami luka tembak di leher dan belakang kepala. Sampai Westerling dibebas tugaskan pada November 1948 dan kemudian terlibat pemberontakan APRA di Bandung pada 1950, Westerling tidak pernah tertangkap, diekstradisi, ataupun diadili karena kedekatan dan dukungan rahasia Pangeran Bernhard ( suami Ratu Juliana ), para pengusaha besar, kaum pemilik modal   dari perusahaan-perusahaan besar Belanda. Westerling tidak pernah menjadi pesakitan di kursi pengadilan karena kesaksiannya bisa membahayakan kedudukan orang-orang penting  di negeri Belanda.


Daftar Bacaan ;

Historia 

M.C. Riclefs; Sejarah Indonesia Modern 1200-2004


Cisarua, 19 November 2021.

Kamis, 18 November 2021

Saat Senentang Tergenang.


Oleh: Sanidah, S.Pd
MTsN 1 Sintang, Kab.Sintang, Kalimantan Barat


    Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di tiga pertemuan lempeng tektonik. Lempeng tektonik tersebut adalah Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Samudera Pasifik. Pertemuan tiga lempeng tektonik tersebut menyebabkan negara Indonesia rawan bencana alam. Bencana alam sering kali menerpa bangsa besar ini. Bencana alam merupakan masalah besar bagi setiap wilayah di berbagai sudut negeri ini.  Bencana akan menimbulkan berbagai kerugian. Kerugian material maupun kerugian immaterial

    Salah satu bencana yang kerap menimpa negeri potongan surga ini adalah banjir. Negeri potongan surga ini sering kali digenangi ribuan, jutaan, bahkan milyaran air yang tercurah dari langit, dan luapan dari perut bumi. Seringnya terjadi banjir, bagaikan acara tahunan, yang rutinitas dialami oleh sebagian sudut pertiwi. Banjir yang terjadi tidak hanya menimpa salah satu wilayah saja, namun terjadi di berbagai belahan negeri ini.

    Banjir yang melanda sintang kali ini, disebabkan oleh dua faktor. Faktor alam dan faktor manusia.  Ketika hujan terjadi dengan terus menerus, menyebabkan debit air di permukaan bumi semakin bertambah. Debit air di perairan yang semikin tinggi, mengakibatkan jumlah air tidak mampu ditampung seluruhnya.  Lautan tidak mampu lagi memeluk jumlah debit air yang terus menerus bertambah. Air mulai mengalir, mengisi ruang kosong di sungai-sungai terdekat. Salah satu faktor alam yang menyebabkannya adalah badai La Nina.

    Badai La Nina, merupakan fase dingin atau kondisi meningkatnya curah hujan akibat perubahan suhu yang terjadi di Samudra Pasifik. Fenomena alam ini mengakibatkan hujan lebat turun dengan intensitas yang lebih tinggi. Curah hujan yang meningkat ini mengakibatkan debit air semakin tinggi. Sehingga menggenangi runag kosong di permukaan bumi. Perairan, baik laut maupun daerah aliran sungai, danau, dataran rendah, sebagai tempat penampungan air yang melimpah ruah.

    Bagaimana dengan sungai? Apakah mampu menampung seluruh debit air yang berkeliaran? Jawabannya tentu saja tergantung kondisi alam. Mengapa pertanyaan ini dilontarkan? Bukankah alam penyedia berbagai kebutuhan? Bukankah alam adalah pelindung bagi setiap makhluk hidup, termasuk yang disebut manusia? Terus mengapa banjir terjadi jika alam merupakan tempat menampung air? Curah hujan yang tinggi sebagai pengaruh dari badai La Nina adalah penyebab banjir. Namun campur tangan manusia merupakan penyebab berikutnya.

    Manusia adalah penyebab kedua, terjadinya bencana. Mengapa manusia?. Lihatlah hutan kita! Tidak selebat dulu lagi. Pepohonan tak lagi megah seperti dulu. Tatapannya mulai redup. Akarnya sudah tidak kuat menahan air yang menggenangi permukaan bumi. Pepohonan dirundung duka dan lara. Tidak memiliki sanak family. Tidak pula memiliki tetangga. Ia hanya berdiri sendiri dengan memendam rasa kesepian yang menguasai. Tidak ada lagi semak belukar yang menghangatkan tubuhnya. Tidak ada lagi nyanyian merdu sang burung di pagi hari. Hutan rusak karena penebang liar. Hutan tak mampu lagi menyimpan air di dalam tanah yang mulai tandus.

    Itu saja? Tentu saja tidak. Lihatlah di tepian hutan lainnya. Para  penambang legal dan ilegal mulai menentukan wilayah kekuasaannya.  Penambang  di daratan mulai menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.  Hutan dibabat tanpa syarat. Tanpa pertanyaan apakah bersedia atau tidak. Tanpa pertimbangan tentang memutuskan keputusan. Tanpa menyiapkan penggantinya.



Renungkanlah!

    Deru dozer menggelegar memecah kedamaian penghuni belantara. Teriakkan exavator mendebarkan jantung. Gerigi dump truck, menggilas keong yang berlalu lalang. Whel loader mengancam keselamatan rerumputan yang menjalar. Motor grader melindas tunas-tunas yang baru saja mengecambah. Compactor dengan kaki sheep foot-nya memadatkan jalanan yang sesuai tingkat yang diinginkan. Memudahkan penebang hilir mudik menguasai rimba. Crane konsisten mengangkat benda secara horizontal. Mesin yang dilengkapi dengan banyak katrol yang menguntungkan mekanis melebihi tenaga manusia. Semua beroperasional menaklukkan gundahnya hati yang lapar. Entahlah lapar, atau keserakahan yang menjadi alasan?

    Bukan hanya daratan, namun penambang mulai merambah sungai-sungai. Deru mesin genset adalah bukti nyata yang memekakan telinga, hingga menghilangkan kepekaan terhadap semesta.  Pepohonan ditebang, menyisakan jeritan pilu yang tidak  terhentikan, namun tetap tidak terdengar. Suaranya kalah oleh suara senso yang menderu.  Batang-batang bergelimpangan. Darah  membanjiri tubuhnya, dan akhirnya hembusan nafas terakhirnya melangit. Meninggalkan duka alam yang mendalam, namu tidak terdengarkan. Sekali lagi TIDAK terdengarkan, atau bahkan ENGGAN MENDENGARKAN.

    Permukaan sungai menopang beban. Tubuhnya menahan berat  mesin pengumpul butiran-butiran pasir berkilau. Nafas sungai terengah. Desahannya menandakan beban yang terlalu berat. setiap detik dilalui dengan giat memisahkan antara butiran logam mulia, dengan logam biasa. Mesin memilah dan memilih mana batuan berharga yang layak diadopsi. Sungai tak lagi berdaya menahan pilu yang berkuasa. Permukaan air semakin keruh. Berbagai ikan mulai rusuh dan  meratap keluh. Untuk kesekian kali lagi tetap tak terdengar. 

    Bagai simalakama,  situasi di antara bertarung mencari sesuap nasi, atau seonggok berlian. Di antara memenuhi kebutuhan atau melampiaskan keinginan. Di antara memanfaatkan potensi alam, atau mengeksploitasi berlebihan. Di antara kesederhanaan untuk sekedar mencari makan, atau keserakahan demi kemewahan. Sejatinya tidak ada yang mengetahui kedalaman setiap niat. Hanya diri sendiri yang mengetahui dengan pasti.

    Di sudut bumi Senentang, sudut lain bumi ini. Persimpangan  antara dua sungai Melawi dan Kapuas. Pertemuan dua sungai yang memisahkan antara tiga wilayah. Sungai membentang, bak hamparan keindahan di tengah kota. Kini  luapan air mewabah bertubi-tubi, dan tidak pernah terhenti, mengakibatkan daya tampung sungai semakin sedikit. Sehingga tidak semua air yang singgah dapat diterima dengan baik pada ruang kosong sungai.  Sunggai mulai dangkal. Himpunan pasir sisa penambangan tenggelam berjamaah memendam ribuan duka. Berdampak pada ribuan rumah tergenang. Puluhan ribu masyarakat mengungsi. Tempat-tempat ibadah, masjid, gereja, tergenang. Pasar sebagai pusat penyedia kebutuhan, dan berbagai fasilitas lainnya.

    Sungai yang sudah tidak mampu lagi menampung seluruh genangan air, menyebabkan air lain pergi. Air yang tidak tertampung perlahan mencari tempat dan ruang kosong untuk sekedar singgah. Air pun mengalir manuju daratan. Air mulai memadati daratan yang berada di dataran rendah. Mengisi kolam-kolam milik seseorang. Mengisi sawah-sawah milik petani padi. Mengisi kebun-kebun. Mengisi desa-desa, bahkan mengaliri seluruh kota. Jalanan setapak milik tikus pun pupus.  Jalan  raya pun tak lagi digdaya, karena tak lagi mampu berkuasa.

    Langit yang terus menerus menurunkan rintiknya, menyebabkan dataran rendah pun tak lagi mampu menampung. Air semakin menguasai dataran rendah. Dataran rendah habis tergenang. Air mengalir dan terus mengalir. Menggenangi celah-celah kosong. Menerobos dinding gedung-gedung tinggi menjulang. Merasuki dinding-dinding tebuk gubuk di tepian sungai.  Menggenangi rumah-rumah mewah, dan besar milik sebagian kecil penduduk yang berdomisili di negeri ini. Menenggelamkan rumah sederhana milik sebagian besar penduduk pertiwi.

    Ribuan, bahkan milyaran debit air bermigrasi mencari celah tanpa lelah. Sekolah-sekolah, mulai basah.  Bukan hanya basah, namun tenggelam dalam linangan air mata semesta. Madrasah-madrasah terrendam, dalam genggaman tangisan alam. Airnya menjamah kelas. Berlarian dengan sorakan, menuju ruang kosong. Perpustakaan dengan segudang sumber literasi merasakan betapa air menguasai senentang. Ruang kelas dipenuhi ikan, udang kecil, siput darat, kelabang, kalajengking yang mencari perlindungan.

Di ruang seni...

    Dendang gendang menabuh dirinya sendiri. Entahlah, apakah menyuarakan isi hati untuk mengatakan apa yang terjadi pada negeri ini?, atau menikmati setiap sesi yang sedang terjadi. Dendang gendang berkolaborasi dengan riak ombak artifisial buatan tronton di sebelah jalan yang terlewati.  Alunannya  melenakan seluruh isi lemari. Topi berjingkrak menikmati kehangatan dingannya sapuan udara yang bertiup melalui tebuk-tebuk ventiasi.

Di simpang jalanan....

    Ribuan sampah bergelimpangan. Sampah sisa kepuasan manusia yang terbuang tak tepat tempat. Di tepian jalanan raya, berkarung sampah dibiarkan berkelana. Mencemari dan menodai udara yang dihirup semua makhluk semesta. Paru-paru terkadang sesak menyeruput udara yang terkontaminasi dengan aroma daging basi, bercampur benda-benda yang diminati lalat. Hingga lalat saja sekarat kemudian mati.

    Sampah semakin menggunung, mendekorasi bahu jalanan, mencemari tepian sungai, menghiasi pemukiman. Menyisakan keresahan yang mendalam bagi manusia dan semesta.  Salah siapa? Apakah alam yang bersalah, karena tidak menelan sampah begitu saja? Ataukah manusia? Atau alam hanya dipersalahkan? Manusia dengan berbagai argumen dalam debat mencari kesalahan pihak lain, dengan menyembunyikan misteri kesalahan diri sendiri. Manusia  mencari kebenaran, atau mencari pembenaran. Apakah harus fokus pada kebijaksanaan orang-orang gila? Ataukah harus tertuju pada kegilaan orang-orang bijaksana? Ataukah harus mengenali kewarasan orang-orang gila, atau kegilaan orang-orang waras?

    Sejauh mana pribadi memaknai bencana banjir yang melanda pertiwi. Jawabannya ada pada diri sendiri. Intropeksi diri disertai dengan niat untuk memperbaiki adalah pilihan terpuji. Mencermati setiap ulah dan polah. Memaknai setiap laku yang menaklukkan diri. Memaknai bencana dari berbagai sudut pandang membutuhkan kacamata putih dan bersih. Bagaimana memaknai bencana yang mengharu biru bumi senentang. 

Sudut pandang memaknai bencana sebagai musibah. 

    Bencana adalah salah satu musibah. Setiap musibah yang terjadi hadirnya tidaklah tiba-tiba. Tidak terjadi dengan serta merta. Musibah yang datang berdampingan dengan hikmah sempurna yang dirancang Yang Maha Kuasa. Musibah bukan sekedar penderitaan dalam kehidupan, namun kandungan hikmah yang jauh lebih berkesan. Setiap manusia memberikan tanggapan yang beranekaragam, dan beraneka rupa cara. Memaknai bencana tergantung kacamatanya masing-masing. tanggapan manusia sesuai dengan levelnya dalam memaknai apa yang terjadi.

Level pertama (Insan yang Meratapi)

    Sebagian manusia terkadang menyimpan seonggok kesal di dalam hatinya. Pada level ini, manusia mengungkapkan kesal, jengkel terhadap takdir buruk yang menimpanya. Pertanyaan-pertanyaan yang logis namun terkadang menjerumuskan pada kekufuran. Selain kesal di dalam hatinya, manusia terkadang melisankan keluh kesahnya. Misalnya mengeluhkan  air yang menggenangi permukaan bumi. Jengkel pada air yang mengoroti kemewahan rumahnya. Kesal karena tidak bisa berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesal karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Terkadang ada manusia yang mencaci peristiwa.

    Beberapa manusia terkadang ada yang memukuli dirinya sendiri. Menangis, meraung, menjerit, meratapi kekayaan yang teronggok di sudut rumah. Menyalahkan keadaan.  Hal ini  jika terakumulasi dalam waktu yang lama, akan berdampak pada lemahnya psikis, yang berpotensi pada depresi. Sungguh keadaan ini tidak menunjukkan kekuatan dan kelembutan bagaimana mengemas sabar. Keadaan ini sangat bertentangan dengan konsep sabar. 


Level kedua (Insan yang Sabar)

    Di level berikutnya ada sebagian manusia memaknai musibah dengan sabar. Sabar adalah obat dari setiap penyakit. Sabar adalah cara bijak yang mampu mengalahkan keegosian dalam diri. Kesabaran tingkat tinggi akan mampu melumpuhkan keegosian diri dalam menerima dan melalui musibah yang melanda. Kekuatan tanpa kesabaran akan percuma. Sabar adalah cara terbaik untuk memenangkan dan menenangkan diri sendiri. Tidak perlu mendebati alam yang mengajari untuk bijak. Tidak perlu beradu argumentasi dengan lautan riak gelombang. 

    Sejatinya sabar adalah tanpa batas. Andai berbatas tentu bukan sabar. Bagi orang yang beriman, yang mengakui di dalam hatinya tentang keberadaan sang Maha, tidak akan berputus asa. Musibah apapun ditimpakan akan dijalani dengan kesabaran. Memaknai  sabar, bukan berarti pasrah. Diam tanpa arah. Manusia wajib berikhitar dengan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Sebagai  orang yang mengimani keberadaan Dzat yang Maha Bijaksana, dianjurkan untuk bertawakal dan bersabar menghadapi ketetapan Allah.

    Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan pada diri sendiri di level ini adalah :

  1. Apa yang sudah dilakukan selama ini?

  2. Sudahkan merawat lingkungan dengan baik?

  3. Apakah sudah membuang sampah pada tempatnya?

  4. Apakah ketika menggambil sumber daya alam, sudah menerapkan konsep tebang, pilih, tanam?

  5. Sudahkan menerapkan Analisis Dampak Lingkungan, ketika mendirikan perusahaan?


Pertanyaan lainnya :

  1. Apakah kita pemilik harta yang melimpah sudah ikhlas berbagi?

  2. Sudahkah menyisihkan sebagian hak yatim piatu?

  3. Sudahkan para pemilik kendaraan, menawarkan pejalan kaki, untuk bersamanya?

        Banyak pertanyaan lain yang masih berkeliaran di alam bawah sadar. Saat ini bagaimana kita menanyakan dan menjawab semua pertanyaan tersebut pada diri sendiri.

Level ke tiga. (Insan yang Ridha)

    Manusia yang ridha terhadap musibah yang melanda. Manusia yang berada di level ridha, akan memaknai ada dan tidak adanya musibah sama saja baginya. Musibah tidak dimaknai sebagai hal yang memberatkannya, sehingga manusia ini tetap merasa ringan. Bukan menyepelekan, namun karena memiliki konsep yang luar biasa dalam memaknai setiap bencana. 

    Manusia yang berada di level ini, terpancar cahaya yang tulus dari wajahnya. Manusia yang ridha dengan seridha-ridhanya terhadap ketentuan Allah. Ketiadaan musibah tidak akan membebani hidupnya. Kehadiran musibah tidak memberatkan pikir dan perilakunya. Meski musibah menimpanya, senyum akan terpancar dari parasnya. Sebagai wujud takwanya pada Sang Pencipta.

    Seseorang yang ridha ketika ditimpa musibah, akan girang dengan menjalaninya. Seolah mendapatkan apa yang selama ini diharapkan. Jika diibaratkan “Saat lapar menguasainya ia mendapatkan makanan yang lezat.” Tentu tidak mudah untuk berada di level ini. namun bukan berarti tidak bisa.

Level ke empat. (Insya yang Penuh Syukur)

    Manusia yang bersyukur dengan adanya musibah. Level di mana manusia selalu memaknai musibah dari sudut pandang positif. Apapun bentuk musibah yang melanda, syukur baginya adalah yang palig bijaksana. Bagi sebagian manusia yang berada di level ini akan memaknai bahwa musibah sebagai cara membersihkan diri, intropeksi diri.  Cara untuk berbenah diri. Cara untuk bisa memberi dan saling berbagi.

    Manusia tanpa hujatan. Manusia yang tidak mencari siapa yang salah, namun menjadi manusia yang berbenah. Manusia yang tidak mencari pembenaran atas dirinya, namun manusia yang selalu berjalan menuju kebenaran.  Manusia yang tidak memojokkan, namun manusia yang mendamaikan. Manusia yang mampu memberi setiap arti dari semua peristiwa. Manusia yang tidak hanya mendoakan dirinya dan keluarganya saja, namun sesama manusia, bahkan alam semesta. Syukurnya tiada henti. Baik syukur dalam pikir, syukur dalam tutur, maupun syukur dalam perbuatan. Manusia yang tidak hanya memberi dengan belas kasih, namun mampu memberi dengan cinta kasih. Manusia yang memberi bukan karena tuntutan, namun karena tuntunan. Manusia yang  memberi bukan hanya meringankan beban orang lain, namun yang memberi karena “memberi adalah kebutuhan”

    Apapun cara dan sudut pandang kita saat ini. Mari kita berdamai pada diri sendiri, sehingga mampu mendamaikan orang lain, dan mampu memberikan kedamaian pada lingkungan. Bukan sosok bijak jika hanya berdebat di saat musibah melanda hebat. Mari mencermati dengan kebijaksanaan yang kita miliki. Renungkanlah ketika dua musibah yang terjadi di negeri ini, namun berbeda perlakuan. Mari kita saling asah, saling asuh, dan saling asih. Mari bersama kita deklarasikan bahwa kita mencintai negeri ini.  Mari kita jaga pertiwi ini, agar tetap menjadi sebutan “Potongan Surga

    Negeri ini membutuhkan ribuan bakti, agar alam lestari. Negeri ini sudah sering menderita dengan segala polah kita. Mari saling menggenggam, saling mendoakan, saling berbagi, dan tentu saja intropeksi diri. Perbaiki diri dengan memperbaiki pola pikir. Perbaiki cara pandang.  Perbaiki  perilaku agar alam ini bestari dari waktu ke waktu.