Sabtu, 20 November 2021

JEJAK BERDARAH WESTERLING DI CIANJUR SELATAN

 Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat

Raymond Piere Paul Westerling bisa dikategorikan sebagai penjahat perang sama halnya  dengan tokoh Nazi Klaus Barbie dan Himmler, Westerling  menjadi mesin pembunuh mengerikan di indonesia pada 1946-1950. Westerling yang berpangkat kapten membawahi pasukan baret hijau _Depot Speciale Troepen_(DST) yang berganti nama menjadi _Korps Speciale Tropen_(KST) pada 1948 sebuah unit pasukan komando yang ditujukan untuk melakukan aksi teror, penculikan, dan pembunuhan terhadap pendukung, simpatisan, dan kelompok-kelompok  milisi pendukung republik. Wewenang untuk membunuh _License to kill_ yang diberikan Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Letnan Jenderal S.H. Spoor dimanfaatkan benar  oleh _de Turk_ Si Turki julukan Westerling untuk mempraktekan ucapannya dalam operasi-operasi pembersihan yang dilakukan KST "Dalam perang sikap sadis manusia   akan menemukan bentuknya" di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.


Westerling dan KSTnya adalah bagian strategi Pemerintah Belanda  untuk melemahkan dan menghancurkan perlawanan rakyat dan TNI melalui metode kekerasan, menurut Sejarawan Belanda J.A. de Moor dalam Westerling Oorlog, cara yang digunakan Westerling dalam melancarkan aksinya nyaris selalu sama : mengepung dan mengunci area operasi, menggiring penduduk ke satu titik pusat, menggeledah, mengeksekusi dan terakhir membumi hanguskan kampung-kampung yang dianggap ekstremis ( Fazil Pamungkas ; Historia ) 


Pasca peristiwa pembantaian di Sulawesi Selatan, Westerling di tugaskan di Jawa Barat. Daerah Bandung Barat, Sukabumi, dan Cianjur Selatan, di Cianjur Selatan pasukan baret hijau Westerling bermarkas di Nyalindung ( sekira 15 Km dari Takokak ) pada 1947. Di Bandung Barat Westerling menargetkan pembunuhan terhadap Kapten Soegih Arto Komandan Pasukan Djaja Pangrerot bagian dari Divisi Siliwangi yang tetap  berada di Jawa Barat tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Berdasarkan kesaksian dari Soegih Arto pasukan baret hijau Westerling banyak melakukan pembunuhan masal,  pelecehan dan perkosaan terhadap para perempuan desa di kawasan Gunung Halu Bandung Barat, "Rasanya masih terdengar jelas jeritan dari para perempuan yang diperkosa itu...." ungkap Soegih Arto ( Hendi Johari Historia ). Di daerah Cianjur Selatan Kecamatan Takokak terdapat Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri sebagai saksi bisu kebrutalan Westerling, 68 makam yang terdapat disana hanya merupakan puncak gunung es diduga masih banyak korban-korban Westerling yang belum ditemukan. Sejak 1947 Takokak dijadikan tempat eksekusi orang-orang sipil pro republik yang berasal dari Sukabumi dan Cianjur. Tindak pembantaian semakin meningkat seiring dengan proses hijrah Divisi Siliwangi, Takokak dijadikan lokasi akhir "pengadilan" Westerling untuk menimbulkan ketakutan dan trauma. Rata-rata korban pembantaian mengalami luka tembak di leher dan belakang kepala. Sampai Westerling dibebas tugaskan pada November 1948 dan kemudian terlibat pemberontakan APRA di Bandung pada 1950, Westerling tidak pernah tertangkap, diekstradisi, ataupun diadili karena kedekatan dan dukungan rahasia Pangeran Bernhard ( suami Ratu Juliana ), para pengusaha besar, kaum pemilik modal   dari perusahaan-perusahaan besar Belanda. Westerling tidak pernah menjadi pesakitan di kursi pengadilan karena kesaksiannya bisa membahayakan kedudukan orang-orang penting  di negeri Belanda.


Daftar Bacaan ;

Historia 

M.C. Riclefs; Sejarah Indonesia Modern 1200-2004


Cisarua, 19 November 2021.