Rabu, 10 November 2021

KETIKA SURABAYA MENJADI PERTARUHAN SEJARAH

 

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur Jawa Barat


Revolusi akan memakan anak-anaknya sendiri, demikian Bung Karno pernah berkata, revolusi menuntut pengorbanan dari seluruh anak bangsa pengorbanan mulai dari materi sampai dengan nyawa, dan Surabaya November  1945 menjadi ajang pertaruhan revolusi dan sejarah. Semuanya diserahkan kepada pemimpin dan rakyat Surabaya, menjadi sebuah bangsa yang besar dan berdaulat atau menjadi bangsa kerdil dengan menggadaikan harga diri kepada bangsa arogan pemenang Perang Dunia II bernama Inggris, memilih meneken surat pernyataan menyerah dengan simbol bendera putih, plus tangan diatas dengan senjata dilucuti atau  berdiri tegak mempertahankan harga diri seperti adipati Karna ketika akan berduel dengan Arjuna di medan kurusetra dalam perang saudara bertajuk Bharata Yudha.


Jakarta menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan dan rakyat  Surabaya atas jawaban ultimatum Inggris sebagai reaksi  terbunuhnya Mallaby seorang perwira tinggi administrasi yang tidak memiliki pengalaman tempur di medan neraka bernama Surabaya, dari awal pendaratan Inggris mereka tidak tertarik untuk menghargai keberadaan Pemerintah Kota Surabaya, agenda terselubung mereka adalah membantu secara maksimal agar Belanda dengan NICA memiliki pijakan kuat di Surabaya dan berakhir dengan pemulihan kekuasaan Belanda, terbunuh atau tidaknya Brigjend Mallaby, Pertempuran Surabaya akan tetap  terjadi, dan arek-arek Suroboyo sudah menentukan pilihan, mereka memilih untuk bertempur sampai titik darah penghabisan, Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan menegaskan "Selama banteng-banteng Indonesia masih berdarah merah, yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga !"


Inggris mengerahkan puluhan tank ringan Stuart, tank berat Sherman yang merajai Perang Dunia II. Puluhan pesawat tempur _Mosquito_ pesawat pemburu P4 _Thunderbolt_didukung meriam Cannon  artileri laut dan darat, pertempuran yang tidak seimbang, ketidak seimbangan kekuatan memicu kamikaze massal. Des Alwi pelaku pertempuran Surabaya dalam bukunya Pertempuran Surabaya November  1945 menyatakan anak-anak muda dengan bersenjatakan granat melakukan penyergapan terhadap tank-tank Inggris. "Mereka ramai-ramai menaiki tank-tank tersebut, membuka kanopinya dan langsung menerjunkan diri masuk kedalam tank : meledakan seluruh isinya, termasuk diri mereka." Perkelahian satu lawan satu menjadi pilihan ketika amunisi tiada, dengan senyum kebanggaan para pemuda di Surabaya  menjemput maut dengan kekuatan prinsip merdeka atau mati, bagi mereka tidak ada kebanggaan tertinggi selain mempertaruhkan nyawa demi harga diri, demi masa depan yang lebih baik dan demi kemerdekaan dan perdamaian. Setiap bangsa membutuhkan lambang-lambang kebesaran sejarah. Rusia memperingati  pertempuran Stalingrad dengan parade militer, Amerika Serikat memiliki pertempuran heroic bernama Midway yang menjadi titik balik Perang Pasifik,  Tiongkok punya Long March Tentara Pembebasan Rakyat dan petani yang menjadi icon sejarah negeri tirai bambu. Indonesia memiliki "Battle of Surabaya" yang menjadi locomotif revolusi kebangsaan di seluruh pelosok tanah air, mereka telah memilih dan pilihan tersebut telah menjadi "taqdir" sejarah, bertempur sampai titik darah penghabisan demi kehormatan, harga diri, dan kesetiaan kepada cita-cita proklamasi kemerdekaan. Tinggal bagaimana kita menghargai pilihan mereka pada  masa kekinian yang penuh gejolak pragmatisme dan kemunafikan akut.


Cisarua, Bogor, malam 10 November 2021 memperingati hari pahlawan.