Sabtu, 06 November 2021

KONFLIK MYANMAR DAN ANCAMAN STABILITAS ASEAN

Oleh: Yanuar Iwan


SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Serangan udara dan artileri berat Junta militer Myanmar terhadap posisi-posisi pertahanan milisi sipil anti kudeta di negara bagian Chin Barat (kota Thantlang) Jumat pekan lalu, seakan memberikan peringatan serius bagi ASEAN yang tengah berusaha menyelesaikan konflik Myanmar melalui dialog dan peta jalan damai antara pihak-pihak yang berkonflik, Myanmar berada dalam cengkeraman  perang saudara terlebih progres utusan khusus ASEAN dibawah Erywan Yusof tidak menunjukkan perkembangan yang  signifikan.


Terbatasnya akses Erywan Yusof untuk bertemu dan menjalin komunikasi kepada semua pihak termasuk pemimpin Liga Nasional Untuk Demokrasi Aung San Suu Kyi merupakan bentuk pelanggaran konsensus KTT ASEAN di Jakarta. Point konsensus Jakarta adalah :

1. Kekerasan di Myanmar harus dihentikan

2. Dialog konstruktif  untuk solusi damai

3. ASEAN memfasilitasi mediasi

4. Pembukaan akses untuk dialog yang konstruktif dan  penyaluran bantuan kemanusiaan

5. Pembentukkan utusan khusus ASEAN di Myanmar


Tindakan Junta militer Myanmar membatasi akses utusan khusus ASEAN membawa implikasi tidak diundangnya pemimpin junta militer Jenderal Min Aung Hlaing dan pejabat negara setingkat menteri, ASEAN hanya mengundang utusan non politik Myanmar, sikap ASEAN ini segera dibalas Myanmar dengan memboikot KTT ASEAN di Bandar Seri Begawan, Junta Militer Myanmar berdalih tidak diundangnya pemimpin Myanmar dan pejabat setingkat menteri adalah bentuk pelanggaran terhadap piagam ASEAN 1967 dan semangat non intervensi dan akan mengajukan proses hukum dibawah piagam ASEAN untuk menyelesaikan perbedaan.


Laporan PBB menyebut lebih dari 1000 warga sipil telah dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar, ribuan orang telah ditangkap. Perdana Menteri Thailand Prajuth Chan O-Cha menegaskan "Peran Konstruktif ASEAN dalam mengatasi situasi ini sangat penting, dan tindakan kita terhadap persoalan ini akan berdampak pada kredibilitas ASEAN dimata komunitas internasional". Di era globalisasi politik, ASEAN menghadapi  tantangan baru makin tinggi tingkat intensitas hubungan antar negara makin tinggi pula tingkat intensitas terhadap kepentingan politik dan ekonomi, ASEAN harus merevitalisasi piagam ASEAN 1967 karena perkembangan situasi politik internasional kekinian sudah sangat berbeda dengan kondisi pada 1967, pihak-pihak yang bersengketa akan selalu mempertahankan "status quo" demi tetap terjaminnya kekuasaan dan kepentingan dengan  berlindung dibalik piagam ASEAN, kini Myanmar diambang perang saudara dan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi "Suriah" berikutnya atau "Yaman" selanjutnya meningkatnya kekerasan dan konflik bersenjata tentunya akan menjadi daya tarik negara-negara besar seperti RRC, AS, dan Rusia untuk saling berebut pengaruh terlebih letak strategis Myanmar antara Asia Tenggara dan Asia Selatan berdekatan dengan Laut Cina Selatan menjadi sangat strategis jika Myanmar dijadikan pangkalan militer.


Konflik Myanmar akan terus menjadi duri dalam daging bagi ASEAN jika utusan khusus ASEAN untuk Myanmar gagal dalam mengemban tugasnya dan ancaman terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara menjadi semakin nyata.


Cipanas, awal Nopember 2021, di Perpustakaan.