Senin, 08 November 2021

MAAFKAN MAMA, ANAKKU!

 Oleh: Supriyanto, M.Pd


Pagi ini cuaca di Surabaya tampak cerah sekali. Matahari bersinar terang. Udara segar masuk ke kamar kosku melalui jendela yang kubuka sejak subuh tadi. Burung-burung berkicau riang diatas dahan pohon mangga di rumah tetangga sebelah. Seakan tidak terganggu sama sekali dengan suara gaduh anak tetangga yang sedang bersiap berangkat ke sekolah.

Aku pun harus segera merapikan diri setelah mandi dan sarapan nasi goreng. Aku harus berangkat pagi-pagi karena majikanku paling tidak suka kalau aku datang terlambat seperti 3 hari kemarin. Iya, kemarin aku datang agak siang ke rumah majikanku karena aku bingung mencari anakku yang tiba-tiba menghilang dari rumah.

Ketika aku bersiap berangkat kerja saat itu, tiba-tiba Sari, anakku, menelepon dan memberi kabar kalau adiknya pergi dari rumah.

“Ma, Vira kabur lagi!”

“Kabur lagi bagaimana maksudmu, Sari?”

“Iya, Ma! Vira sejak kemarin sore kabur dari rumah”

“Lho kok bisa?” aku benar-benar kebingungan pagi itu.

“Kemarin sore itu dia bilang mau main ke rumah Nina temannya yang di Gang Mangga itu, Ma.” Sari mulai bercerita tentang kepergian adiknya. “Tapi ternyata sampai larut malam dia tidak pulang-pulang juga.”

“Apa kamu dan bapakmu tidak berusaha mencarinya?”, tanyaku tidak sabar. “Sudah, Ma!”, Jawab Sari segera. “Aku sudah telpon dan kirim WA ke Nina dan juga Vira, tapi tidak ada jawaban. HP keduanya non aktif, Ma.” 

Aku semakin panik mendengar cerita Sari. Karena ini kejadian yang kesekian kalinya sejak masa pandemi Covid-19 dan sekolah mulai memberlakukan SFH atau BDR, Belajar Dari Rumah. Anak-anak jadi lebih sering bermain daripada belajar.

“ Terus kamu pergi mencari ke rumah Nina di Gang Mangga?”, Tanyaku tidak sabar. “Penginnya sih begitu, Ma. Tapi kan mama tahu sendiri kakiku masih sakit, Ma. Ini saja perbannya masih belum dilepas sama dokter.” Aku baru sadar jika Sari habis jatuh dari motor saat mencari pekerjaan seminggu kemarin. Kakinya terkilir sehingga tidak bisa berjalan. 

“Bapakmu gimana? Apa tidak berusaha mencari adikmu?” Tanyaku pada Sari yang semakin kebingungan. “Sudah juga, Ma. Bapak berusaha menelepon ibunya Nina”, Jawab Sari sambil terdengar nafas beratnya. “Terus hasilnya gimana, Nak?” tanyaku lagi. “Ibunya Nina juga kebingungan mencari Nina, Ma”. “Lho gimana sih? Kok Ibunya Nina juga kebingungan mencari Nina?” tanyaku semakin bingung.

Setelah Sari telfon kemarin itu, aku langsung menuju rumah ibunya Nina di Gang mangga. Aku ingin tahu sendiri bagaimana ceritanya Nina kok bisa-bisanya menghilang juga. Memang Nina itu sahabatnya Vira sejak SD. Waktu memilih SMP pun mereka kompak masuk ke SMP Negeri 40 Surabaya. Waktu kelas 7 mereka bahkan masuk di kelas yang sama. Hanya di kelas 8 ini saja mereka terpisah kelasnya. 

“Maaf Bu Lina, kami sekeluarga juga sedang kebingungan mencari Nina”, Kata Bu Rini, ibunya Nina, saat aku tanyakan kabar terakhir Nina dan Vira anakku. 

“Semalam Joko, kakaknya Nina sudah berkeliling ke rumah teman-teman Nina dan Vira tapi mereka semua tidak ada yang tahu keberadaan Nina dan Vira, Bu.” Bu Rini terlihat sedih dan bingung seperti aku juga. “Lalu bagaimana ini enaknya, Bu Rini? Saya benar-benar kebingungan. Biasanya kalau Vira tidak pulang, Sari, kakaknya segera pergi mencarinya sampai ketemu. Tapi kali ini Sari sedang sakit kakinya tidak bisa berjalan setelah kecelakan motor. Sementara bapaknya kan ibu tahu sendiri”. Curhatku ke Bu Rini sekedar meluapkan rasa kebingunganku. Bu Rini juga tahu kalau Bapaknya Vira sakit stroke sehingga tidak bisa kemana-mana.

“Kita cari bersama-sama saja, Bu Lina. Ibu dan keluarga terus saja mencari informasi keberadaan Vira dan Nina. Sementara saya dan Joko, kakaknya Nina juga akan terus mencari mereka.” Bu Rini mencoba memberikan solusi. “Biar hari ini Joko dan teman-temannya mencari Nina dan Vira ke tempat-tempat biasanya mereka berdua main”,  Kata Bu Rini. “Tapi maaf banget ya, Bu Lina. Saya harus segera berangkat ke pasar sekarang! Kios saya harus segera buka pagi ini.” 

Bu Rini segera berkemas merapikan dagangannya untuk dijual ke pasar. Aku b jadi tidak enak pagi-pagi buta sudang mengganggu kesibukan beliau. Karena itu aku pun segera pamit setelah berkali-kali memohon maaf.

Pagi itu aku berupaya mencari Vira kemana-mana sampai aku terlambat ke tempat kerjaku di kawasan elit Citra Land. Sebenarnya majikanku orangnya sangat baik. Meski pun dia dan keluarganya Chinese non muslim, tapi sangat toleran dan baik hati kepadaku. Bahkan aku diperbolehkan makan dan tidur di rumah mereka. Ya,  aku disuruhnya tinggal di rumah mereka.

Sejak aku bercerai dengan Bapaknya Vira, aku memang sudah tidak tinggal lagi di rumah. Apalagi rumah itu hanya tempat menumpang saja. Rumah itu milik keluarga Mas Amin, Kakak iparku. Rumah kami yang dulu sudah lama kami jual untuk biaya berobat bapaknya Vira. Aku lebih memilih tinggal di kos-kosan. Sari dan Vira sempat tinggal bersamaku. Tapi mereka akhirnya kembali ke rumah pakdenya setelah aku menikah lagi. Meski pernikahanku yang kedua ini pun hanya seumur jagung. Kini aku kembali hidup sendiri di kamar kos yang sempit ini.

Aku bergegas memacu motor bututku ke kawasan Citra Land, ke rumah majikanku. Tempat sehari-hari aku bekerja merawat Kakek Chen, ayah majikanku yang sakit komplikasi. Tugasku setiap hari menyiapkan mandi dan keperluan makan beliau termasuk memastikan semua obat diminum sesuai dosis dan waktunya. Sejenak aku menyibukkan diri merawat Kakek Chen hingga makan siang selesai.

Waktu istirahat kusembatkan membuka HP. Kulihat banyak pesan WA yang masuk. Kubalas satu persatu WA yang masuk ke nomorku. Hingga aku terkejut saat membaca WA dari Bu Yanti, wali kelas anakku, Vira.

“Assalamu’alaikum Wr Wb. Selamat Pagi, Ibu Lina. Saya Bu Yanti wali kelas Vira di SMP Negeri 40 Surabaya. Ibu menurut catatan kami, Vira sudah tidak ikut pembelajaran daring 3 hari sejak Senin kemarin. Tugas-tugasnya di semua mata pelajaran masih kosong, belum dikerjakan sama seklai. Kok tidak ada pemberitahuan ke sekolah ya, Bu? Mohon informasinya. Terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”

Pesan itu ternyata sudah masuk sejak pukul 08.15 tadi pagi. Ini sudah pukul 12.45 WIB. Wah aku terlambat memberikan balasan kepada Bu Yanti. Aku tahu betul Bu Yanti orangnya sangat perhatian kepada semua siswa di kelasnya. Beliau selalu mengecek kehadiran siswa dan menanyakan kondisi siswanya yang tidak hadir. Aku dengar itu dari Vira dulu saat dia masih kelas 7.

Belum sempat aku membalas pesan WA dari Bu Yanti, tiba-tiba ada telepon masuk dari Sari. Segera kuangkat telpon itu.

“Ma, mama dimana? Ini ada Bu Yanti, Wali kelas Vira dan Bu Asri guru BK SMPN 40 mencari Vira ke rumah.”

“Waduh…. Mama masih di tempat kerja, Nak.”

“Gimana ini, Ma? Ini Bu Yanti juga ditelpon Kepala Sekolah SMPN 29, katanya ditunggu Asisten Walikota di Balai Kota Surabaya”, Terdengar suara Sari kebingungan.

“Kamu suruh bapakmu saja yang menemui Bu Yanti dan Bu Asri ya!”. Jawabku sedikit gugup. “Atau kalau bapakmu tidak bisa menemui kamu minta tolong  Budhe Rita atau Pakdhe Amin.”

“Iya, Ma. Ini Budhe sudah menemui Bu Yanti dan Bu Asri”, Kata Sari. “Bapak biar saya panggil dulu di rumah sebelah”.

Aku memang sudah pernah mendengar tentang Bu Yanti dari Vira saat masih kelas 7 dulu. Tapi aku benar-benar ga nyangka kalau bu Yanti sampai datang ke rumah untuk mencari Vira seperti ini. Aku benar-benar khawatir. Apalagi ini kejadian yang kesekian kali Vira kabur dari rumah. 

Dulu saat kelas 7 pun, Vira juga pernah membuat masalah di Kelas. Ada temannya yang membawa minuman ke kelas untuk diminum besama dan Vira mengoplosnya dengan minyak kayu putih yang dia bawa dari rumah. Teman-temannya jadi pada keracunan dan vira menjadi sasaran kemarahan para wali murid dari teman-temannya yang keracunan tersebut.

Kali ini apa Vira juga akan mendapat hukuman lagi gara-gara kabur dari rumah? Aku benar-benar khawatir. Jangan-jangan Vira akan dikeluarkan dari sekolah seperti yang pernah dikatakan Nina padaku dulu ya? Aku jadi takut dengan nasib anak bungsuku itu.

Sore hari, sepulang dari kerja, aku bergegas ke rumah menemui Sari. Sari bercerita kalau Bu Yanti dan Bu Asri sudah menghubungi teman-teman Vira dan Nina. Tapi sama seperti kami, tidak ada yang tahu keberadaan mereka berdua. Bu Yanti juga menganjurkan agar kami segera melapor kepada polisi terkait anak hilang. Bapaknya Sari langsung menjawab bahwa sudah pernah lapor ke Polisi saat Vira kabur sepekan dari rumah untuk yang ketiga kalinya sebulan yang lalu. Polisi memastikan bahwa Vira bukan anak hilang karena ternyata setiap akhir pekan tetap pulang ke rumah walau hanya mengambil baju dan meminta uang saku.

Kata Sari, Bu Yanti sempat menelepon Joko, kakaknya Nina setelah mendapat nomornya dari Sari. Joko bilang sudah bertemu dengan teman-teman nongkrong Vira dan Nina sampai di daerah warung remang-remang di kampung Nanas, Gresik. Katanya ditempat itu anak-anak muda seringa mabuk-mabukan dan menggunakan narkoba. Banyak juga yang berbuat mesum disitu. Tidak lama setelah itu Bu Yanti dan Bu Asri segera pamit untuk menuju rumah Nina dan bertemu dengan Joko di Gang Mangga.

Setelah mendengar semua cerita dari Sari aku langsung menuju Rumah Bu Rini untuk mencari Joko. Ternyata Joko belum pulang. Katanya masih mencari adiknya di Gresik bersama teman-temannya.

Aku pun pulang sambil terus memikirkan cara mencari dan menemukan anakku, Vira. Sesampainya dikamar kos, aku terus mencoba menghubungi Joko dan Bu Rini. Mencari kabar terbaru hasil pencarian anak kami. Hingga akhirnya di tengah malam Joko member kabar jika Nina sudah pulang dan member kabar bahwa Vira menginap di rumah temannya di Perumnas Driyorejo.

Kabar keberadan Vira beserta alamat rumah tempat Vira menginap langsung kukirim ke WA bu Yanti. Terus terang aku sangat membutuhkan bantuan pihak sekolah untuk menyelesaikan masalah anakku ini. Syukurlah, Bu Yanti segera menghubungi Pak Imam, wakil kepala sekolah yang kebetulan tinggal di perumnas tersebut untuk menemaniku menjemput Vira pulang. 

Besoknya, seperti yang diminta Bu Yanti, aku mengajak Vira bertemu dengan Bu Yanti dan Bu Asri di Ruang BK SMPN 40 Surabaya. Setelah bertanya kabar dan membujuk Vira untuk bercerita, Bu Yanti mengajakku pindah ke ruang sebelah. Sementara Vira diajak ngobrol dengan santai oleh Bu Asri.

Kepada Bu Yanti aku ceritakan semua masalahku dan keluargaku. Kuceritakan semua tentang Bapaknya Vira yang sakit-sakitan dan menghabiskan semua yang kami punya untuk biaya pengobatannya hingga aku tidak tahan lagi dan memilih bercerai. Saat itu aku benar-benar egois. Kukira dengan bercerai dan menikah lagi dengan orang lain hidupku dan anak-anakku akan lebih baik. Tapi ternyata tidak. Suami baruku yang sudah berumur itu ternyata sudah memiliki 3 istri yang lain. Aku pun memutuskan bercerai dan menikah lagi dengan orang lain untuk kemudian bercerai lagi juga. 

Aku baru menyadari saat semua sudah terjadi. Anak-anakku lah yang menjadi korban perpisahanku dengan bapaknya. Terutama anak bungsuku, Vira. Dia sangat tertekan dan depresi. Dia berkali-kali bilang ingin melihat aku dan bapaknya bersatu lagui seperti dulu. Dia tidak suka melihat aku dan bapaknya yang terus bertengkar saling menyalahkan. Vira mellampiaskan semua kegundahannya itu dengan melakukan banyak masalah di luar rumah. Baik di sekolah maupun ditempat mainnya. Dia mencari pergaulan yang bisa menerimanya dengan penuh perhatian. Sayangnya dia salah memilih teman bergaul.

Aku pun menyadari sekarang, semua ini terjadi karena aku yang terlalu egois. Aku yang tidak sabar menghadapi ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepada keluarga kami dengan sakitnya Bapaknya Vira itu. Bu Yanti yang ternyata sangat mendalami agama itu memberiku banyak nasihat tentang sabar dan syukur. Beliau banyak bercerita tentang kisah Nabi Ayub yang diuji dengan berbagai penyakit hingga menghabiskan semua harta bendanya. Nabi Ayub tyang kaya Raya, Bahkan paling kaya di kaumnya itu jatuh miskin karena sakitnya itu, Tapi sang istri tetap sabar dan tabah merawatnya. Hingga Allah berkenan memberikan kesembuhan kepada Nabi Ayub dan mengembalikan semua harta dan memperbanyak keturunannya.

Aku sungguh menyesal. Mengapa aku tidak meneladani kesabaran dan ketabahan istri Nabi Ayub itu. Kalau aku tidak egois sperti ini, pasti semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku anakku. Mama akan berbenah diri, Belajar menjadi orang yang sabar dalam menjalani semua ujian dari Allah ini. Mama berjanji akan selalu menyeyangimu dan kakakmu seperti dulu. Mama akan belajar lagi menjadi muslimah yang baik, sabar dan sholiha. Sekali lagi, maafkan mama, anakku.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.” (Al Baqarah : 155-156).