Rabu, 10 November 2021

Makna Pahlawan Dalam Kontek Kekinian

                            

                     Oleh Sulistyowati 

         SMPN 1 PUJON – Kab. Malang 


           “Sincere To Fight Without Expecting Service, That’s A true Hero” 


Dari jajak pendapat yang dilakukan media Kompas yang dimuat pada Koran Kompas edisi Senin, 13 November 2017, sebagian besar responden (74 %) memaknai kepahlawanan sebagai sosok yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta rela berkorban bagi banyak orang. Ungkapan tersebut mengandung makna tindakan kepahlawanan yang anti arus utama namun bernilai positif dan hidup di tengah situasi dan kondisi masyarakat yang membutuhkan jalan keluar memaknai sikap dan perilaku kepahlawan. Kata pahlawan biasanya diartikan sebagai sosok pejuang yang mampu keluar dari gejala sosial dan memberikan jalan keluar atas masalah bangsa dan atau negara. Pahlawan dalam konteks ini adalah sosok yang berjasa memperjuangkan cita-cita kemerdekaan bangsa. Makna pahlawan secara konservatif ini sesuai dengan rumusan pahlawan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 Tahun 1964, yaitu seseorang yang disebut Pahlawan adalah warga negara Republik Indonesia yang gugur akibat tindakan kepahlawanan dalam perjuangan membela bangsa dan negara, dan atau seseorang yang berjasa dan telah berkorban untuk bangsa dan negara serta tidak menodai nilai perjuangannya.   

Hal tersebut juga disebutkan pada Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan: Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan atau karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan Negara Republik Indonesia. 


Sejarah Hari Pahlawan

Hari Pahlawan memperingati peperangan besar yang terjadi pada tanggal yang sama di tahun 1945 di Surabaya, Jawa Timur melawan penjajah Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) dan sekutu, yang diperkirakan telah menewaskan 160 ribu pejuang.  Pertempuran antara pejuang nasional dan NICA sebenarnya sudah dimulai pada tanggal 19 September 1945, tepatnya di hotel Oranye, yang saat ini menjadi hotel Majapahit. Perang ini dipicu ketika hotel Oranye saat itu masih memasang bendera Belanda yaitu bendera berwarna Merah-Putih-Biru. Ketika para pejuang nasional datang ke hotel Oranye dan menyuruh pihak Belanda untuk menurunkan bendera tersebut, pihak Belanda bereaksi dengan sikap kurang baik dan tidak menanggapi permintaan tersebut. Karena tidak ada sikap baik dari pihak Belanda, akhirnya Jenderal Sudirman datang ke hotel Oranye tapi pihak Belanda tetap tidak mau menurunkan bendera tersebut. Akhirnya massa berhasil memisahkan bagian yang berwarna biru dan menyisakan warna merah putih saja. Tetap saja Pihak Belanda tidak menerima sikap para pejuang dan tidak mengakui kemerdekaan rakyat Indonesia.

Selanjutnya, pihak Belanda atau NICA mengajak para sekutu untuk melancarkan agresi militer di Surabaya. Tanggal 30 Oktober 1945, perlawanan Belanda semakin besar hingga K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama atau NU mengeluarkan perintah jihad. Hasilnya, pimpinan tentara sekutu Inggris yang bernama Jenderal AWS Mallaby tewas di Jembatan Merah, Surabaya. Setelah perang tersebut, kota Surabaya dikepung dan diserang dari berbagai arah mulai dari laut, darat hingga udara.  Tentara Inggris yang memperkirakan hanya butuh waktu 3 hari untuk menaklukan kota Surabaya, ternyata membutuhkan 3 minggu. Hal ini membuktikan kuatnya perlawanan rakyat dan pejuang nasional Indonesia. Belasan ribu pejuang meninggal dan 200 ribuan warga mengungsi akibat perang ini. Peristiwa besar ini menjadikan  tanggal 10 November 1945 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. 


Siapa Sesungguhnya Pahlawan Itu? 

Kata pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya, mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran. Jika kita merujuk kata pahlawan dalam KBBI, maka menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi seseorang, bahkan siapa pun yang berjuang dalam membela kebenaran bisa menempati posisi sebagai seorang pahlawan. Pahlawan adalah gelar untuk orang yang dianggap berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan kebenaran. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, seseorang dijuluki pahlawan karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan negara dan bangsa ini untuk menmperoleh kemerdekaannya. Seorang pahlawan berjuang karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya (Hubb al-wathan min al-iman).

Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya adalah: limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah swt. Di sini maknanya, kebenaran adalah segala sesuatu (baik yang berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu). Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks ini (memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar). Dalam konteks makro, pahlawan Islam adalah orang Islam yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara dari penindasan dan penjajahan. Dalam perspektif Islam, yang disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi: Khair al-Nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah: Wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin. Mengenai berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam al-Quran, di antaranya adalah:

Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak. Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat. Meskipun secara lahiriyah sudah mati, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup. "Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan". QS al-Baqarah: 154. Pahlawan dalam Islam adalah orang yang berani memperjuangkan Islam sampai ia menang atau mati. Oang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah Swt.

Dalam Islam kategori berjuang (jihad) itu ada beberapa macam, di antaranya adalah jihad memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs), termasuk jihad memerangi syetan, jihad memerangi orang kafir (jihad al-kuffar), jihad memerangi orang munafik (jihad al-nifaq). Dan menurut Rasulullah, justru jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu. Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw saat usai perang Badar. Beliau berkata kepada para sahabatnya: “Kita masih akan menghadapi perang yang lebih dahsyat lagi.” Kata sebagian sahabat: “Perang apalagi ya Rasul? Bukankah ini perang yang dahsyat”? Jawab Nabi: “Perang melawan hawa nafsu”.

Pahlawan yang tanpa tanda jasa pun juga banyak, misalnya para guru dan para generasi tua yang berjasa kepada generasi penerusnya. Ada sebuah cerita menarik terkait dengan kisah kepahlawanan ini. Alkisah, seorang raja Persia yang bernama Kisrâ Anû Syirwân melakukan turba ke rumah-rumah para penduduk. Ketika ia tiba di satu rumah, di sana ia menemukan seorang kakek yang menanam pohon di halaman rumahnya. Sang raja tertawa dan bertanya, "Wahai kakek, kenapa engkau menanam sebuah pohon yang akan berbuah 10-20 tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan, sedangkan engkau mungkin tahun depan sudah mati dan tentu engkau tidak dapat menikmati buah-buahan yang telah engkau tanam itu". Dengan senyum dan penuh optimisme sang kakek menjawab, "Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba‘da-nâ, orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah dari pohon tersebut kita nikmati sekarang, maka kita menanam kembali pohon yang buah-buahnya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita" (Didaat: 2008).


Makna Pahlawan Di Era Millenial 

Di era digital sekarang ini lahirnya generasi milenial dimana generasi milenial adalah generasi yang unik dengan karkateristik tertentu, yang merupakan kelompok potensial dalam memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa. Seperti diisyaratkan oleh Howe dan Strauss (2000), generasi baby boomers yang memegang berbagai macam profesi dalam kehidupan di masyarakat secara gradual akan mundur. Masa depan kehidupan akan didominasi oleh suatu generasi berikutnya yaitu generasi Y atau yang sering disebut generasi milenial dan generasi-generasi yang mengikutinya. Namun secara proposional generasi milenial ini mungkin yang paling dominasi bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Posisi Indonesia sedang berada dalam era bonus demografi (demographic divident), jumlah milenial atau angkatan yang lahir tahun 1981-2000 menurut Susenas (Survey Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2017 adalah 88 juta jiwa atau 33, 75 persen dari jumalah penduduk Indonesia (BPS, 2018).  

Perubahan dan pengaruh globalisasi serta perkembangan teknologi yang sangat pesat telah mendorong para generasi milenial untuk menemtukan perubahan konstruksi sosial di masa yang akan datang. Generasi inilah yang pada masa sekarang dan yang akan datang akan menjadi dominan dalam memegang berbagai macam profesi seperti guru, akademisi, para industrialis, ahli ekonomi, pembuat kebijakan, pejabat publik, aktivis, jurnalis, bahkan mungkin presiden. Di tangan merekalah nasib dan masa depan bangsa kita.

Generasi milenial dengan karakteristik, sifat, kepercayaan, sistem nilai, tertentu melakukan aktivitas yang memberikan pengaruh dalam keberlangsungan kehidupan. Oleh karena itu makna di Hari Pahlawan ini para generasi milenial di harapkan mempunyai tiga kompetensi kewarganegaraan yaitu warga negara harus mempunyai pengetahuan yang cukup (civic knowledge), kemudian ketrampilan kewarganegaraan (civic skills), dan sikap kewarganegaraan (civic disposition) yang baik (Branson, 1999). Selain  tiga kompetensi kewarganegaraan perlu dilengkapi dengan berbagai pengetahuan, ketrampilan dengan penggunaan teknologi informasi serta sikap kesetiakawanan sosial dalam menghadapi pandemi covid-19 sehingga dapat memberikan manfaat terhadap kehidupan &  kesejahteraan bangsa. Sebagai generasi milenial makna sosok pahlawan akan semakin luas sebagai sosok panutan yang bisa membawa perubahan berarti untuk lingkungan dan menyumbang kontribusi positif dalam berbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial budaya, seni pariwisata dengan lingkup nasional sampai lingkup internasional dengan berbagai profesi mulai dari influencer, content creator, olahragawan, artis, animator dan sebagainya. Terus mengobarkan semangat kepahlawanan “Berjuang Pantang Menyerah”  mewujudkan  cita-cita serta bermanfaat bagi sesama untuk kejayaan Bangsa dan Negara. 

 




                                           DAFTAR PUSTAKA 


https://starsolution.co.id/makna-hari-pahlawan

http://pena.belajar.kemendikbud.go.id

https://uin-malang.ac.id/m

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media