Sabtu, 27 November 2021

Mulianya Peran dan Kedudukan Guru

   

OLEH

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


“Teacher laying The Foundation Of Science And Education” 


Selamat Hari Guru Semoga makin hebat & menghebatkan anak-anak bangsa. Pastinya setiap tanggal 25 November menjadi hari peringatan bagi Guru se Nusantara. Guru merupakan tonggak peradaban. Guru adalah seorang pendidik, lisannya adalah mutiara dan tingkah lakunya adalah panutan serta tuntunan. Darinyalah dilahirkan generasi harapan bangsa. GURU identik dengan ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa, namun kenyataannya gurulah yang paling banyak memberi jasa dalam kehidupan manusia. Karena jasa guru, banyak manusia menjadi orang mulia dan terhormat. Itulah kenapa Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia. Guru memiliki makna universal, tidak sebatas yang ada di sekolah formal tetapi guru bermakna seseorang yang mengajarkan ilmu dan menuntun kepada kebaikan seperti guru ngaji, guru les, guru silat, ustadz, dosen, kiai/ulama dan sebagainya.

Setiap manusia memiliki cita-cita dan pilihan  untuk masa depannya agar lebih baik dan sukses, sesuai kodrat manusia di muka bumi segala yang dilakukan untuk kenyamanan,  kemapanan dan kebahagiaan. Sedangkan untuk menjadi guru bukan suatu cita-cita atau pilihan tetapi merupakan panggilan, karena tidak sembarang orang, artinya menjadi guru tidak mudah karena membimbing manusia untuk berubah kearah yang lebih baik dalam menggapai cita-cita. Seorang guru punya tugas mulia dan peran penting mempersiapkan generasi bangsa yang diawali dengan pembelajaran di dalam kelas. Dengan kata lain guru memiliki kekuatan membuat anak bersemangat untuk selalu belajar dan berbuat apapun dan kapanpun. Guru memiliki posisi yang sangat kuat memberi  teladan, memiliki potensi menginspirasi murid melakukan sesuatu secara kreatif, inovatif dan santun.

Di dalam Islam, guru memiliki banyak keutamaan seperti menurut sebuah hadis yang menyebutkan, “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).
    Mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang begitu mulia? Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia ataupun di akhirat. Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik muridnya untuk menjadi manusia beradab. Sebagai orang yang mengemban tugas mulia tentunya guru harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, tidak serta merta mengajar seadanya, apalagi menjadi guru hanya untuk tujuan karier. Profesi guru bukanlah profesi main-main, artinya sekali seseorang memilih profesi guru maka ia harus bertanggung jawab untuk mendidik muridnya dengan baik. Karena itu guru harus profesional atau mengupayakan diri menjadi profesional.
    Profesionalisme guru telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasa pasal 1 ayat 1 dinyatakan, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Istilah profesional dalam definisi guru menunjuk pada pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan memenuhi standar mutu dan norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No. 14 Tahun 2005, dalam Kosim, 2008).
Dengan demikian, untuk menjadi seorang guru tidak mudah. Perlu keahlian, jiwa, keilmuan, ketelatenan dan yang pasti kualifikasi pendidikan profesi yang sesuai. Imam Ghazali menyebutkan beberapa syarat menjadi guru yaitu kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa, jujur dan terpercaya bagi murid-muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan kemarahan, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, memperhatikan perbedaan individu (Kosim, 2008).
    Syarat-syarat seperti disebut di atas memang tidak mudah dipenuhi oleh setiap orang karena “mendidik” tidak hanya butuh keluasan ilmu, tetapi juga memiliki titik tekan pada jiwa. Artinya, seseorang yang akan memilih profesi guru harus berangkat dari jiwanya, bukan karena keterpaksaan apalagi pelarian karier.
Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia karena pada sisi yang berbeda Islam juga menyuruh umatnya menuntut ilmu sejak dalam buaian sampai pada liang lahat, sehingga logikanya jika tidak ada peran guru harus ke mana umat Islam menuntut ilmu. Itulah sebabnya setiap guru harus amanah, apalagi saat ini pemerintah telah mengangkat kesejahteraan guru dengan adanya tunjangan profesi guru. Guru seharusnya mampu mencontoh metode Rasulullah Saw dalam memberikan pengajaran dan pendidikan, yaitu dengan keteladanan. Tentunya hal ini menunjukkan betapa besar dan mulianya.  Kedudukan Guru di Dalam Islam sebagaimana terangkum dalam 5 poin berikut ini.

1. Mendapat Derajat yang Tinggi

     Sebagaimana menuntut ilmu, seorang guru atau pengajar juga akan dinaikkan derajatnya. Sebab seorang guru yang baik dan berlandaskan pada nilai pengajaran islam akan selalu mengajarkan ilmu yang bernilai kebaikan dan bermanfaat sebagaimana cara berdakwah yang baik menurut Islam. Sehingga kemudian hasilnya tidak hanya bernilai kebaikan bagi yang menerima tapi juga berbuah kebaikan bagi yang mengajarkan. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT, “Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “ Luaskanlah tempat duduk “ di dalam Majlis-majlis maka luaskanlah untuk orang lain), Maka Allah SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11 berikut)

2. Memiliki Ilmu yang Bermanfaat

Seorang guru dalam islam tentunya memiliki kedudukan dimana ia mengerti dan memahami secara detail mengenai bidang pengajaran yang ia ajarkan. Oleh sebab itu, maka seorang guru akan senantiasa memiliki ilmu yang bermanfaat yang akan disebarluaskan kepada para umat. Sehingga bukan gelar ahli yang mereka utamakan namun, lebih kepada dampak sosial bagaimana ilmuyang diajarkan akan dapat merubah pola dan perilaku umat menuju jalan kebaikan.

3. Menjaga Diri

     Ilmu yang dimiliki oleh seorang guru merupakan benteng dalam menjaga diri. Dengan memiliki ilmu tentunya seorang guru akan mampu membedakan antara hal yang baik dan buruk. Sehingga hal ini dapat menjaga diri dan pribadi seseorang untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan. Islam memandang bahwa seorang guru memiliki nilai yang penting bahkan ketika dibandingkan dengan mereka yang harus pergi berjihad kemedan perang.

Sebagaimana dalam hadist riwayat berikut: 

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

4. Memperoleh Kebaikan yang Berlimpah

     Hadits dari Sahl bin Sa’id ra, “Demi Allah, jika Allah SWT memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaramu maka hal itu jauh lebih baik dari pada kekayaan yang sangat berharga.” (HR Bukhori dan Muslim)

Dalam Hadist tersebut dijelaskan bahwa seorang guru derajatnyanleni baik dari pada harta kekayaan yang malimpah. Tentunya hal ini semakin menegaskan bahwa kedudukan seorang guru memiliki posisi yang amat penting. Bukan hanya perkara mengenai ilmu yang diberikan. Namun, seorang guru juga memberi pesan pengajaran yang nilainya bahkan lebih baik dari harta kekayaan yang berlimpah. Sebab ilmu yang diberikan tersebut merupakan sebuah petunjuk yang akan digunakan sebagai pedoman dalam meraih dan menempuh kebaikan selama hidup di dunia.

5. Sama Dengan Pahala Amalan Sedekah

     Memlihara ilmu yang nilainya lebih mulia dan lebih baik dari harta kekayaan tentunya juga memberikan nilai pahala yang berlimpah. Bahkan ilmu yang terpelihara amalan atau nilainya sama dengan pahala atau amalan dari sedekah. Ketika tidak memilili harta untuk disedekahkan, maka menyedekahkan ilmu akan sama nilainya dan pahalanya dengan bersedekah harta. 

Pendidikan merupakan eskalator kemajuan sosial ekonomi sebuah bangsa, dan yang menjadi motor dari pendidikan adalah guru, maka kemudian ada tiga kunci yang menjadi penentu kesuksesan guru dalam mengimplementasikan setiap regulasi pendidikan, tiga kunci yang menjadikan anak-anak bangsa yang hari ini sedang berkembang, yang suatu saat nanti menggantikan generasi-generasi yang undur dimakan usia. Ketiga kunci itu tentunya dimiliki oleh guru, yaitu:

Ing ngarso Sung Tulodo, artinya bahwa pendidik hendaknya menjadi teladan bagi anak didiknya. Ini pun sejalan dengan peribahasa jawa, bahwa guru itu adalah singkatan dari orang yang Digugu dan Ditiru. Ing madyo Mangun Karsa, maksudnya pendidik hendaknya berperan untuk membangun kemauan belajar pada diri anak didik. Tut Wuri Handayani, maksdunya bahwa pendidik hendaknya berperan sebagai pembimbing anak dalam belajar, mengembangkan bakatnya serta membantu memandirikan peserta didik.

Dalam lingkup keilmuan, guru hendaknya juga selalu rajin menimba ilmu dari berbagai forum ilmiah dan berbagai media serta dibiasakan untuk mendengar dan membaca buku dan berbagai fenomena untuk menambah iman serta pengetahuan. Kemudian, menstranfer kebiasaan tersebut kepada muridnya, memotivasi murid untuk rajin membaca dan mendengar agar bertambah iman dan ilmunya, hingga murid memahami betul arti penting untuk belajar sepanjang hayat mereka.  Guru hendaknya mengajar dengan hati dan jiwa yang tulus, mengajak muridnya untuk selalu menerapkan serta menyebarkan ilmu atau menyampaikan kebaikan kepada orang lain, sehingga mereka memahami arti penting menegakkan kebenaran dan kebaikan pada saat dewasa nanti. 

    Memberi motivasi, keteladanan dan inspirasi sepatutnya dilakukan secara istiqamah, terus menerus, diulang-ulang tanpa mengenal bosan dan putus asa dengan tujuan mencari pahala bukan piala. Keistiqamahan itu In Syaa Allah akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala jika diiringi dengan upaya untuk selalu mempertautkan hati dan pikiran kepada Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pertautan itu hadir manakala kejernihan pikiran terbina dengan bingkai pikiran positip kerelaan atas ketetapan Allah Ta’ala, kesucian hati terawat dengan bacaan dzikir, dan lagi jika kesucian fisik juga terjaga dengan basuhan air wudhu. In Syaa Allah guru akan siap menjadi guru profesional berkarakter yang dimudahkan dan dilancarkan untuk menghasilkan generasi emas yang luar biasa. Wallahu A’lam Bish Shawab. 




                                           DAFTAR PUSTAKA 


Yulhasni. 2010. Refleksi 65 Tahun Hari Guru. [Online]. Tersedia di 

http://www.waspada.co.id. 27 Oktober 2011.

https://www.islampos.com

http://pena.belajar.kemendikbud.go.id

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media