Senin, 01 November 2021

PRAPANCA DAN NEGARAKERTAGAMA

Oleh : Yanuar Iwan


Kakawin Negarakertagama sudah menjadi sumber primer klasik kesejarahan Majapahit, penulisan tahun dalam kakawin Negarakertagama berbanding lurus dengan penulisan tahun diprasasti-prasasti yang berhubungan dengan kerajaan Singhasari dan Majapahit. Negarakertagama mengungkap proses  berdiri dan dinamika  kerajaan Singhasari dan Majapahit, wilayah kekuasaannya, pembangunan candi- candi, upacara Sradha ( untuk menghormati Gayatri) dan peristiwa-peristiwa penting dalam masa  pemerintahan Hayam Wuruk.


Prapanca menyebut hasil pujasastranya adalah _decawarnnana_( uraian desa-desa ) nama _Nagarakertagama_ yang berarti ( sejarah pembentukkan negara ) adalah tambahan penyalin kakawin tersebut.


Prapanca adalah nama samaran, Prof  Slamet Mulyana dalam "Menuju Puncak Kemegahan" menyatakan pupuh 17/8 dan 94/1 Negarakertagama; nama Prapanca didahului oleh kata _maparab_, mempunyai nama samaran atau olok-olok. Dalam bahasa Jawa, kata paraban berarti "nama olok". Prapanca memiliki arti kesedihan, rintangan. Menjadi pertanyaan mengapa seorang penulis pujasastra yang memiliki posisi  terhormat menggunakan nama samaran dalam karya besar seperti _Negarakertagama_. Nama samaran biasanya digunakan agar identitas asli sipenulis tidak dikenal orang. 


Pada masa pemerintahan Rajasa ( Hayam Wuruk ) agama resmi negara adalah  agama Siwa dengan dasar, Rajasa memeluk agama Siwa. Agama Budha walaupun diizinkan disiarkan tetapi hanya di wilayah timur kerajaan dan tidak diakui sebagai agama resmi kenegaraan, pada pupuh 16/2 Prapanca menyatakan gerak para pendeta Budha agak dikekang oleh UU yang dibuat sendiri oleh Rajasa, kebebasan menyiarkan agama Budha menjadi terbatas.


Pupuh 95/1 baris 1 Prapanca menyatakan "Nasib badan dihina oleh bangsawan, hidup canggung didusun". Pupuh 98/1 baris 4 memuat kata para _Winada Cinala ri dalem_orang-orang yang dicacat dan dicela di istana. Timbulnya celaan karena perselisihan. Kata ri dalam ( di istana ) membuktikan telah terjadi konflik antara  pemeluk Siwa dan pemeluk Budha.


Pada tahun saka 1283 atau tahun masehi 1365 Prapanca meninggalkan istana Majapahit, dua tahun setelah mengikuti perjalanan Rajasa ke Lumajang pada tahun saka 1281 atau tahun masehi 1359. _Negarakertagama_selesai ditulis Prapanca pada tahun saka 1287 atau tahun masehi 1365, ini berarti kakawin tersebut ditulis sesudah Prapanca meninggalkan istana berbaur dengan masyarakat kebanyakan diwilayah pedesaan. Beberapa bagian dari Negarakertagama memuat mengenai saran dan kritik halus yang ditujukan kepada Rajasa dalam pujasastra yang indah khususnya mengenai kesenjangan kondisi  tempat ibadah agama Siwa dan agama Budha, pada masa pemerintahan Rajasa, Prapanca dipercaya menjabat Dharmadhyaksa Ring kasogatan( pembesar urusan agama Budha) meneruskan  ayahnya Samenaka. Akibat keadaan dan situasi istana Majapahit yang tidak kondusif lagi bagi keberadaan agama Budha, Prapanca meninggalkan istana dan hidup sebagai rakyat biasa  didesa.


Pada piagam OJO LXXXV disebutkan pembesar urusan agama Siwa dan Budha pada zaman pemerintahan raja Hayam Wuruk sebelum patih Gajah Mada wafat ( tahun saka 1286 atau tahun masehi 1364) tidak terdapat nama Prapanca, Dharmadyaksa ring kasogatan adalah Kanakamuni dapat disimpulkan nama Kanakamuni adalah nama asli dari Prapanca.

Apresiasi yang luarbiasa kita berikan kepada pujangga Prapanca ( Kanakamuni ) dengan karya besarnya _Negarakertagama_ para sejarawan bisa merekonstruksi sejarah Majapahit hingga sampai ketangan kita untuk menatap masa depan dengan lebih baik.


Daftar Pustaka :

Menuju Puncak Kemegahan ( Slamet Mulyana LKIS 2005 )

Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia ( R. Soekmono Kanisius 1981)


Sukaresmi, 30 Oktober 2021