Kamis, 18 November 2021

Saat Senentang Tergenang.


Oleh: Sanidah, S.Pd
MTsN 1 Sintang, Kab.Sintang, Kalimantan Barat


    Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di tiga pertemuan lempeng tektonik. Lempeng tektonik tersebut adalah Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Samudera Pasifik. Pertemuan tiga lempeng tektonik tersebut menyebabkan negara Indonesia rawan bencana alam. Bencana alam sering kali menerpa bangsa besar ini. Bencana alam merupakan masalah besar bagi setiap wilayah di berbagai sudut negeri ini.  Bencana akan menimbulkan berbagai kerugian. Kerugian material maupun kerugian immaterial

    Salah satu bencana yang kerap menimpa negeri potongan surga ini adalah banjir. Negeri potongan surga ini sering kali digenangi ribuan, jutaan, bahkan milyaran air yang tercurah dari langit, dan luapan dari perut bumi. Seringnya terjadi banjir, bagaikan acara tahunan, yang rutinitas dialami oleh sebagian sudut pertiwi. Banjir yang terjadi tidak hanya menimpa salah satu wilayah saja, namun terjadi di berbagai belahan negeri ini.

    Banjir yang melanda sintang kali ini, disebabkan oleh dua faktor. Faktor alam dan faktor manusia.  Ketika hujan terjadi dengan terus menerus, menyebabkan debit air di permukaan bumi semakin bertambah. Debit air di perairan yang semikin tinggi, mengakibatkan jumlah air tidak mampu ditampung seluruhnya.  Lautan tidak mampu lagi memeluk jumlah debit air yang terus menerus bertambah. Air mulai mengalir, mengisi ruang kosong di sungai-sungai terdekat. Salah satu faktor alam yang menyebabkannya adalah badai La Nina.

    Badai La Nina, merupakan fase dingin atau kondisi meningkatnya curah hujan akibat perubahan suhu yang terjadi di Samudra Pasifik. Fenomena alam ini mengakibatkan hujan lebat turun dengan intensitas yang lebih tinggi. Curah hujan yang meningkat ini mengakibatkan debit air semakin tinggi. Sehingga menggenangi runag kosong di permukaan bumi. Perairan, baik laut maupun daerah aliran sungai, danau, dataran rendah, sebagai tempat penampungan air yang melimpah ruah.

    Bagaimana dengan sungai? Apakah mampu menampung seluruh debit air yang berkeliaran? Jawabannya tentu saja tergantung kondisi alam. Mengapa pertanyaan ini dilontarkan? Bukankah alam penyedia berbagai kebutuhan? Bukankah alam adalah pelindung bagi setiap makhluk hidup, termasuk yang disebut manusia? Terus mengapa banjir terjadi jika alam merupakan tempat menampung air? Curah hujan yang tinggi sebagai pengaruh dari badai La Nina adalah penyebab banjir. Namun campur tangan manusia merupakan penyebab berikutnya.

    Manusia adalah penyebab kedua, terjadinya bencana. Mengapa manusia?. Lihatlah hutan kita! Tidak selebat dulu lagi. Pepohonan tak lagi megah seperti dulu. Tatapannya mulai redup. Akarnya sudah tidak kuat menahan air yang menggenangi permukaan bumi. Pepohonan dirundung duka dan lara. Tidak memiliki sanak family. Tidak pula memiliki tetangga. Ia hanya berdiri sendiri dengan memendam rasa kesepian yang menguasai. Tidak ada lagi semak belukar yang menghangatkan tubuhnya. Tidak ada lagi nyanyian merdu sang burung di pagi hari. Hutan rusak karena penebang liar. Hutan tak mampu lagi menyimpan air di dalam tanah yang mulai tandus.

    Itu saja? Tentu saja tidak. Lihatlah di tepian hutan lainnya. Para  penambang legal dan ilegal mulai menentukan wilayah kekuasaannya.  Penambang  di daratan mulai menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.  Hutan dibabat tanpa syarat. Tanpa pertanyaan apakah bersedia atau tidak. Tanpa pertimbangan tentang memutuskan keputusan. Tanpa menyiapkan penggantinya.



Renungkanlah!

    Deru dozer menggelegar memecah kedamaian penghuni belantara. Teriakkan exavator mendebarkan jantung. Gerigi dump truck, menggilas keong yang berlalu lalang. Whel loader mengancam keselamatan rerumputan yang menjalar. Motor grader melindas tunas-tunas yang baru saja mengecambah. Compactor dengan kaki sheep foot-nya memadatkan jalanan yang sesuai tingkat yang diinginkan. Memudahkan penebang hilir mudik menguasai rimba. Crane konsisten mengangkat benda secara horizontal. Mesin yang dilengkapi dengan banyak katrol yang menguntungkan mekanis melebihi tenaga manusia. Semua beroperasional menaklukkan gundahnya hati yang lapar. Entahlah lapar, atau keserakahan yang menjadi alasan?

    Bukan hanya daratan, namun penambang mulai merambah sungai-sungai. Deru mesin genset adalah bukti nyata yang memekakan telinga, hingga menghilangkan kepekaan terhadap semesta.  Pepohonan ditebang, menyisakan jeritan pilu yang tidak  terhentikan, namun tetap tidak terdengar. Suaranya kalah oleh suara senso yang menderu.  Batang-batang bergelimpangan. Darah  membanjiri tubuhnya, dan akhirnya hembusan nafas terakhirnya melangit. Meninggalkan duka alam yang mendalam, namu tidak terdengarkan. Sekali lagi TIDAK terdengarkan, atau bahkan ENGGAN MENDENGARKAN.

    Permukaan sungai menopang beban. Tubuhnya menahan berat  mesin pengumpul butiran-butiran pasir berkilau. Nafas sungai terengah. Desahannya menandakan beban yang terlalu berat. setiap detik dilalui dengan giat memisahkan antara butiran logam mulia, dengan logam biasa. Mesin memilah dan memilih mana batuan berharga yang layak diadopsi. Sungai tak lagi berdaya menahan pilu yang berkuasa. Permukaan air semakin keruh. Berbagai ikan mulai rusuh dan  meratap keluh. Untuk kesekian kali lagi tetap tak terdengar. 

    Bagai simalakama,  situasi di antara bertarung mencari sesuap nasi, atau seonggok berlian. Di antara memenuhi kebutuhan atau melampiaskan keinginan. Di antara memanfaatkan potensi alam, atau mengeksploitasi berlebihan. Di antara kesederhanaan untuk sekedar mencari makan, atau keserakahan demi kemewahan. Sejatinya tidak ada yang mengetahui kedalaman setiap niat. Hanya diri sendiri yang mengetahui dengan pasti.

    Di sudut bumi Senentang, sudut lain bumi ini. Persimpangan  antara dua sungai Melawi dan Kapuas. Pertemuan dua sungai yang memisahkan antara tiga wilayah. Sungai membentang, bak hamparan keindahan di tengah kota. Kini  luapan air mewabah bertubi-tubi, dan tidak pernah terhenti, mengakibatkan daya tampung sungai semakin sedikit. Sehingga tidak semua air yang singgah dapat diterima dengan baik pada ruang kosong sungai.  Sunggai mulai dangkal. Himpunan pasir sisa penambangan tenggelam berjamaah memendam ribuan duka. Berdampak pada ribuan rumah tergenang. Puluhan ribu masyarakat mengungsi. Tempat-tempat ibadah, masjid, gereja, tergenang. Pasar sebagai pusat penyedia kebutuhan, dan berbagai fasilitas lainnya.

    Sungai yang sudah tidak mampu lagi menampung seluruh genangan air, menyebabkan air lain pergi. Air yang tidak tertampung perlahan mencari tempat dan ruang kosong untuk sekedar singgah. Air pun mengalir manuju daratan. Air mulai memadati daratan yang berada di dataran rendah. Mengisi kolam-kolam milik seseorang. Mengisi sawah-sawah milik petani padi. Mengisi kebun-kebun. Mengisi desa-desa, bahkan mengaliri seluruh kota. Jalanan setapak milik tikus pun pupus.  Jalan  raya pun tak lagi digdaya, karena tak lagi mampu berkuasa.

    Langit yang terus menerus menurunkan rintiknya, menyebabkan dataran rendah pun tak lagi mampu menampung. Air semakin menguasai dataran rendah. Dataran rendah habis tergenang. Air mengalir dan terus mengalir. Menggenangi celah-celah kosong. Menerobos dinding gedung-gedung tinggi menjulang. Merasuki dinding-dinding tebuk gubuk di tepian sungai.  Menggenangi rumah-rumah mewah, dan besar milik sebagian kecil penduduk yang berdomisili di negeri ini. Menenggelamkan rumah sederhana milik sebagian besar penduduk pertiwi.

    Ribuan, bahkan milyaran debit air bermigrasi mencari celah tanpa lelah. Sekolah-sekolah, mulai basah.  Bukan hanya basah, namun tenggelam dalam linangan air mata semesta. Madrasah-madrasah terrendam, dalam genggaman tangisan alam. Airnya menjamah kelas. Berlarian dengan sorakan, menuju ruang kosong. Perpustakaan dengan segudang sumber literasi merasakan betapa air menguasai senentang. Ruang kelas dipenuhi ikan, udang kecil, siput darat, kelabang, kalajengking yang mencari perlindungan.

Di ruang seni...

    Dendang gendang menabuh dirinya sendiri. Entahlah, apakah menyuarakan isi hati untuk mengatakan apa yang terjadi pada negeri ini?, atau menikmati setiap sesi yang sedang terjadi. Dendang gendang berkolaborasi dengan riak ombak artifisial buatan tronton di sebelah jalan yang terlewati.  Alunannya  melenakan seluruh isi lemari. Topi berjingkrak menikmati kehangatan dingannya sapuan udara yang bertiup melalui tebuk-tebuk ventiasi.

Di simpang jalanan....

    Ribuan sampah bergelimpangan. Sampah sisa kepuasan manusia yang terbuang tak tepat tempat. Di tepian jalanan raya, berkarung sampah dibiarkan berkelana. Mencemari dan menodai udara yang dihirup semua makhluk semesta. Paru-paru terkadang sesak menyeruput udara yang terkontaminasi dengan aroma daging basi, bercampur benda-benda yang diminati lalat. Hingga lalat saja sekarat kemudian mati.

    Sampah semakin menggunung, mendekorasi bahu jalanan, mencemari tepian sungai, menghiasi pemukiman. Menyisakan keresahan yang mendalam bagi manusia dan semesta.  Salah siapa? Apakah alam yang bersalah, karena tidak menelan sampah begitu saja? Ataukah manusia? Atau alam hanya dipersalahkan? Manusia dengan berbagai argumen dalam debat mencari kesalahan pihak lain, dengan menyembunyikan misteri kesalahan diri sendiri. Manusia  mencari kebenaran, atau mencari pembenaran. Apakah harus fokus pada kebijaksanaan orang-orang gila? Ataukah harus tertuju pada kegilaan orang-orang bijaksana? Ataukah harus mengenali kewarasan orang-orang gila, atau kegilaan orang-orang waras?

    Sejauh mana pribadi memaknai bencana banjir yang melanda pertiwi. Jawabannya ada pada diri sendiri. Intropeksi diri disertai dengan niat untuk memperbaiki adalah pilihan terpuji. Mencermati setiap ulah dan polah. Memaknai setiap laku yang menaklukkan diri. Memaknai bencana dari berbagai sudut pandang membutuhkan kacamata putih dan bersih. Bagaimana memaknai bencana yang mengharu biru bumi senentang. 

Sudut pandang memaknai bencana sebagai musibah. 

    Bencana adalah salah satu musibah. Setiap musibah yang terjadi hadirnya tidaklah tiba-tiba. Tidak terjadi dengan serta merta. Musibah yang datang berdampingan dengan hikmah sempurna yang dirancang Yang Maha Kuasa. Musibah bukan sekedar penderitaan dalam kehidupan, namun kandungan hikmah yang jauh lebih berkesan. Setiap manusia memberikan tanggapan yang beranekaragam, dan beraneka rupa cara. Memaknai bencana tergantung kacamatanya masing-masing. tanggapan manusia sesuai dengan levelnya dalam memaknai apa yang terjadi.

Level pertama (Insan yang Meratapi)

    Sebagian manusia terkadang menyimpan seonggok kesal di dalam hatinya. Pada level ini, manusia mengungkapkan kesal, jengkel terhadap takdir buruk yang menimpanya. Pertanyaan-pertanyaan yang logis namun terkadang menjerumuskan pada kekufuran. Selain kesal di dalam hatinya, manusia terkadang melisankan keluh kesahnya. Misalnya mengeluhkan  air yang menggenangi permukaan bumi. Jengkel pada air yang mengoroti kemewahan rumahnya. Kesal karena tidak bisa berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesal karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Terkadang ada manusia yang mencaci peristiwa.

    Beberapa manusia terkadang ada yang memukuli dirinya sendiri. Menangis, meraung, menjerit, meratapi kekayaan yang teronggok di sudut rumah. Menyalahkan keadaan.  Hal ini  jika terakumulasi dalam waktu yang lama, akan berdampak pada lemahnya psikis, yang berpotensi pada depresi. Sungguh keadaan ini tidak menunjukkan kekuatan dan kelembutan bagaimana mengemas sabar. Keadaan ini sangat bertentangan dengan konsep sabar. 


Level kedua (Insan yang Sabar)

    Di level berikutnya ada sebagian manusia memaknai musibah dengan sabar. Sabar adalah obat dari setiap penyakit. Sabar adalah cara bijak yang mampu mengalahkan keegosian dalam diri. Kesabaran tingkat tinggi akan mampu melumpuhkan keegosian diri dalam menerima dan melalui musibah yang melanda. Kekuatan tanpa kesabaran akan percuma. Sabar adalah cara terbaik untuk memenangkan dan menenangkan diri sendiri. Tidak perlu mendebati alam yang mengajari untuk bijak. Tidak perlu beradu argumentasi dengan lautan riak gelombang. 

    Sejatinya sabar adalah tanpa batas. Andai berbatas tentu bukan sabar. Bagi orang yang beriman, yang mengakui di dalam hatinya tentang keberadaan sang Maha, tidak akan berputus asa. Musibah apapun ditimpakan akan dijalani dengan kesabaran. Memaknai  sabar, bukan berarti pasrah. Diam tanpa arah. Manusia wajib berikhitar dengan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Sebagai  orang yang mengimani keberadaan Dzat yang Maha Bijaksana, dianjurkan untuk bertawakal dan bersabar menghadapi ketetapan Allah.

    Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan pada diri sendiri di level ini adalah :

  1. Apa yang sudah dilakukan selama ini?

  2. Sudahkan merawat lingkungan dengan baik?

  3. Apakah sudah membuang sampah pada tempatnya?

  4. Apakah ketika menggambil sumber daya alam, sudah menerapkan konsep tebang, pilih, tanam?

  5. Sudahkan menerapkan Analisis Dampak Lingkungan, ketika mendirikan perusahaan?


Pertanyaan lainnya :

  1. Apakah kita pemilik harta yang melimpah sudah ikhlas berbagi?

  2. Sudahkah menyisihkan sebagian hak yatim piatu?

  3. Sudahkan para pemilik kendaraan, menawarkan pejalan kaki, untuk bersamanya?

        Banyak pertanyaan lain yang masih berkeliaran di alam bawah sadar. Saat ini bagaimana kita menanyakan dan menjawab semua pertanyaan tersebut pada diri sendiri.

Level ke tiga. (Insan yang Ridha)

    Manusia yang ridha terhadap musibah yang melanda. Manusia yang berada di level ridha, akan memaknai ada dan tidak adanya musibah sama saja baginya. Musibah tidak dimaknai sebagai hal yang memberatkannya, sehingga manusia ini tetap merasa ringan. Bukan menyepelekan, namun karena memiliki konsep yang luar biasa dalam memaknai setiap bencana. 

    Manusia yang berada di level ini, terpancar cahaya yang tulus dari wajahnya. Manusia yang ridha dengan seridha-ridhanya terhadap ketentuan Allah. Ketiadaan musibah tidak akan membebani hidupnya. Kehadiran musibah tidak memberatkan pikir dan perilakunya. Meski musibah menimpanya, senyum akan terpancar dari parasnya. Sebagai wujud takwanya pada Sang Pencipta.

    Seseorang yang ridha ketika ditimpa musibah, akan girang dengan menjalaninya. Seolah mendapatkan apa yang selama ini diharapkan. Jika diibaratkan “Saat lapar menguasainya ia mendapatkan makanan yang lezat.” Tentu tidak mudah untuk berada di level ini. namun bukan berarti tidak bisa.

Level ke empat. (Insya yang Penuh Syukur)

    Manusia yang bersyukur dengan adanya musibah. Level di mana manusia selalu memaknai musibah dari sudut pandang positif. Apapun bentuk musibah yang melanda, syukur baginya adalah yang palig bijaksana. Bagi sebagian manusia yang berada di level ini akan memaknai bahwa musibah sebagai cara membersihkan diri, intropeksi diri.  Cara untuk berbenah diri. Cara untuk bisa memberi dan saling berbagi.

    Manusia tanpa hujatan. Manusia yang tidak mencari siapa yang salah, namun menjadi manusia yang berbenah. Manusia yang tidak mencari pembenaran atas dirinya, namun manusia yang selalu berjalan menuju kebenaran.  Manusia yang tidak memojokkan, namun manusia yang mendamaikan. Manusia yang mampu memberi setiap arti dari semua peristiwa. Manusia yang tidak hanya mendoakan dirinya dan keluarganya saja, namun sesama manusia, bahkan alam semesta. Syukurnya tiada henti. Baik syukur dalam pikir, syukur dalam tutur, maupun syukur dalam perbuatan. Manusia yang tidak hanya memberi dengan belas kasih, namun mampu memberi dengan cinta kasih. Manusia yang memberi bukan karena tuntutan, namun karena tuntunan. Manusia yang  memberi bukan hanya meringankan beban orang lain, namun yang memberi karena “memberi adalah kebutuhan”

    Apapun cara dan sudut pandang kita saat ini. Mari kita berdamai pada diri sendiri, sehingga mampu mendamaikan orang lain, dan mampu memberikan kedamaian pada lingkungan. Bukan sosok bijak jika hanya berdebat di saat musibah melanda hebat. Mari mencermati dengan kebijaksanaan yang kita miliki. Renungkanlah ketika dua musibah yang terjadi di negeri ini, namun berbeda perlakuan. Mari kita saling asah, saling asuh, dan saling asih. Mari bersama kita deklarasikan bahwa kita mencintai negeri ini.  Mari kita jaga pertiwi ini, agar tetap menjadi sebutan “Potongan Surga

    Negeri ini membutuhkan ribuan bakti, agar alam lestari. Negeri ini sudah sering menderita dengan segala polah kita. Mari saling menggenggam, saling mendoakan, saling berbagi, dan tentu saja intropeksi diri. Perbaiki diri dengan memperbaiki pola pikir. Perbaiki cara pandang.  Perbaiki  perilaku agar alam ini bestari dari waktu ke waktu.