Selasa, 23 November 2021

Sebuah Refleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak: Mungkinkah Kita sebagai Guru Ikut Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas bagi Indonesia 2045”


Oleh: Sandi Aging Gustiana

(Guru IPS SMPN 2 Cikatomas – Kab. Tasikmalaya)


  1. PEMAHAMAN mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak

    Sebelum menulis mengenai pemahaman materi mengenai nilai dan peran guru penggerak, pikiran saya terbersit mengenai satu hal. Apa yang akan kita wariskan sebagai guru kelak kepada anak didik kita di masa depan? Apa warisan kita sesungguhnya? Menjadi guru penggerak tentunya membuat saya menjadi lebih sadar mengenai tugas mulia dan kewajiban sebagai guru. Pewaris peradaban. Melihat diagram trapesium usia manusia yang pendek tentunya jatah umur kita semakin berkurang setiap waktunya. Merenungi garis sejarah bangsa kita yang panjang dari zaman animisme dinamisme, kerajaan-kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, intrik politik, zaman sekarang, hingga entah berapa ratus tahun lagi lamanya. Menyambut usia emas 100 tahun negara Indonesia merdeka yang sekitar 24 tahun lagi. Namun apakah memang negara kita sudah “merdeka” secara substansi kemasyarakatan atau kemanusiaan? Banyak pertanyaan yang muncul bukan untuk dijawab, namun untuk saya refleksikan sendiri seperti patung “The Thinker” karya Auguste Rodin di Paris, Prancis. Apa makna kita hidup? Apa makna hidup kita sebagai seorang guru?

    Dari sinilah sangat vital bagi seorang guru untuk memiliki sebuah visi bagi hidupnya, bagi murid-muridnya, bagi bangsanya kelak di masa depan. Saat usia tak lagi muda, saat kita menutup mata, namun apakah yang masih tersisa dari kita, apakah kelak yang masih hidup dari bagian diri kita? Pemikiran. Visi. Impian. Kebaikan yang terwariskan, seperti benih padi yang melintasi masa ke masa dan menyebar berbagai tempat. Sudah saatnya kita mewujudkan visi kita sendiri, visi pada anak didik kita, dan pada bangsa kita. Sebuah visi perubahan progresif bagi kebaikan umat manusia dimulai dari anak didik kita terdekat di dalam kelas. Sebuah visi universal, membangun kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dari Tuhan.

    Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan perjuangan awal membangun mental dan karakter guru sebelum membangun anak didik. Terlebih dahulu kita meresapi lagi nilai-nilai filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara kemudian diadaptasi pada nilai dan peran guru penggerak. Sebuah nilai adalah keyakinan standar yang mengarahkan perbuatan dan pengambilan keputusan terhadap situasi. Nilai-nilai yang diyakini sebagai guru penggerak diantaranya adalah berpihak pada murid, mandiri, inovatif, kolaboratif, dan reflektif. 

    Berpihak pada murid artinya “berhamba pada murid”, mengutamakan kepentingan murid di atas diri dan keluarganya sendiri. Guru memperjuangkan hak-hak murid di sekolah untuk mendapatkan pelayanan terbaik dalam bidang pendidikan. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, namun tidak menggantungkan sesuatu pada orang lain. Kemandirian akan lebih bermakna saat kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Inovatif yaitu pembaharuan, pemanfaatan, kemudahan, dan penyelesaian masalah. Kolaboratif adalah kerjasama yang tulus antar pihak terkait untuk memudahkan dalam mencapai tujuan yang sama. Reflektif adalah memaknai apa yang telah dialami mengenai keberhasilan, kekurangan, dan rencana perbaikan.

    Selanjutnya guru penggerak memiliki beberapa peranan diantaranya: (1) menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid; (2) menggerakkan komunitas praktik guru di sekolah dan wilayah; (3) menjadi coach atau mentor bagi rekan guru lain; (4) mendorong kolaborasi antara guru dengan berbagai pemangku kepentingan; (5) mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Jika kelima peran ini bisa dilaksanakan dengan baik maka akan terjadi perubahan besar kemajuan di bidang pendidikan. Menurut saya peran guru yang paling penting adalah menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik. Guru yang menjadi kebanggaan muridnya. Guru yang selalu memberikan solusi kreatif atau inovatif terhadap setiap permasalahan pembelajaran. Guru yang senantiasa peka dan peduli terhadap peserta didik dan lingkungannya. Mendidik dengan penuh cinta dan kasih sayang, pada semua.


  1. KETERKAITAN Nilai dan Peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

    Hal yang paling mendasar mengenai nilai dan peran guru penggerak adalah filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar menjadi manusia dan anggota masyarakat sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Guru menjadi tukang kebun atau petani kehidupan, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri murid-muridnya. Guru tidak bisa memaksakan sesuatu yang bukan kehendak dan kodrat sang anak.  Guru hanya bisa memperbaiki laku sang anak. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut misal dengan melaksanakan konsep merdeka belajar pada peserta didik.

    Pada masa sekarang dibutuhkan kesabaran dan strategi jitu dalam mendidik anak. Maka dari itu guru perlu menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman sang anak. Kebijakan pendidikan sekarang berfokus pada mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah gambaran karakter ideal seorang pelajar yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Karakter tersebut diantaranya beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; mandiri; bernalar kritis; kreatif; gotong royong; dan berkebhinekaan global. Pada hakikatnya adalah intisari nilai-nilai Pancasila dari sila ke-1 sampai ke-5.  

    Kaitannya antara filosofis Ki Hajar Dewantara dan nilai dan peran Guru Penggerak adalah koheren karena filosofis mendasari nilai dan nilai menggerakkan peranan seorang guru. Nilai-nilai guru penggerak yang terkait langsung dengan filosofis Ki Hadjar Dewantara adalah berpihak pada murid, inovatif, dan kolaboratif. Berpihak pada murid sama dengan berhamba pada murid dimana murid menjadi pusat dari segala usaha pendidikan dan pembelajaran. Guru yang inovatif pun akan menghasilkan banyak keputusan dan program yang bermanfaat besar bagi murid dan guru lain. Selanjutnya upaya kolaboratif antara guru dan murid langsung dalam kegiatan pembelajaran dan program lain. 

    Filosofis Ki Hajar Dewantara juga mendasari peranan guru penggerak. Peran yang terkait langsung diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, mendorong kolaborasi antara guru dengan berbagai pemangku kepentingan, serta mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Pada intinya pembelajaran yang berpihak pada murid berasal dari filosofis Ki Hajar Dewantara. Kegiatan kolaborasi dengan semua pihak terkait termasuk orang tua dan masyarakat juga masih dalam filosofis pendidikan Tri Pusat Pendidikan. Lalu di akhir peran guru dalam mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan siswa sesuai cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara. Anak menjadi manusia paripurna sebagai anggota masyarakat mendapat keselamatan dalam hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.


  1. STRATEGI untuk Mencapai Nilai dan Peran Guru Penggerak

    Terdapat 6 (enam) strategi untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak yaitu motivasi, organisasi, komunikasi, partisipasi, kolaborasi, dan refleksi. Pertama, membangun motivasi intrinsik yang kuat agar dapat mengikuti PPGP dengan semangat. Kedua, organisasi kegiatan dan waktu dengan baik. Banyaknya kegiatan yang diikuti tidak menjadi alasan untuk mengeluh. Kuncinya adalah pengaturan waktu yang baik, penyesuaian ritme kerja tubuh, dan memperhatikan masukan gizi yang baik. Ketiga, membangun komunikasi efektif berlandaskan kekeluargaan antar sesama rekan kerja, kepala sekolah, orang tua, siswa, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Komunikasi akan menjadi jalan utama untuk memulai program pengembangan pembelajaran dan pengembangan sekolah. 

    Keempat, meningkatkan partisipasi semua rekan kerja guru. Partisipasi dapat dimulai dari rekan kerja terdekat. Jika sudah ada beberapa orang yang aktif ikut berpartisipasi, maka akan lebih mudah merangkul yang lainnya. Kelima, berkolaborasi untuk merumuskan dan melaksanakan visi, misi, dan program pendidikan dan pembelajaran yang berpihak pada murid. Ketika semua pihak terlibat di dalam program maka akan lebih mudah dan lancar dalam pelaksanaannya. Jika ada permasalahan, tantangan, atau hambatan maka akan dimusyawarahkan bersama jalan keluarnya. Keenam, refleksi dan evaluasi setiap progress kegiatan. Seperti yang telah diutarakan dengan adanya refleksi maka kekurangan setiap kegiatan akan diperbaiki sehingga kualitas setiap kegiatan ke depan akan meningkat. 


  1. PIHAK yang Terlibat dan Peranannya

    Hampir semua pihak terkait dengan perubahan dalam pendidikan. Pertama, kepala sekolah, wakasek, dan komite sekolah. Peranan pemangku jabatan adalah membuat program, peraturan, dan kesepakatan dengan guru, orang tua, murid, dan masyarakat. Guru penggerak wajib melakukan komunikasi efektif agar program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kedua, rekan kerja guru dan staf TU. Rekan guru dan TU adalah mitra untuk bekerjasama dan berkolaborasi melaksanakan program perubahan untuk peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Ketiga, peserta didik. Anak didik adalah sasaran program sehingga membangun kepercayaan dan hubungan yang baik sangat dibutuhkan. 

    Keempat, orang tua dan masyarakat. Warga masyarakat termasuk orang tua di dalamnya termasuk dalam tri pusat pendidikan. Kerjasama yang harmonis akan menguatkan nilai dan peran guru penggerak. Kelima, keluarga besar di PPGP mulai dari panitia pelaksana P4TK, dinas pendidikan dan kebudayaan, instruktur, fasilitator, pengajar praktik, dan calon guru penggerak. Semua pihak berjuang dan berpikir untuk melakukan perubahan pendidikan di Indonesia. Keenam, keluarga CGP sendiri mulai dari orang tua, saudara, istri, dan anak. Doa, dukungan, dan bantuan secara tulus dari keluarga menjadi bahan bakar motivasi tiada henti. Berkat orang tua kita bisa menjadi seperti sekarang dan untuk keluarga jugalah kita berpeluh keringat berdedikasi dalam profesi. 

    Akhir kata sebagai penutup biarlah judul pertanyaan “Mungkinkah Kita sebagai Guru Ikut Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas bagi Indonesia 2045” menjadi pertanyaan yang tak perlu dijawab secara lisan atau tulisan. Pertanyaan yang hanya akan menjadi sebuah renungan motivasi pembuktian. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan apa yang kelak akan kita wariskan pada anak didik dan bangsa kita di masa depan. Melewati batas usia kita sendiri, melintasi berbagai masa, menjamah berbagai tempat, dan menyentuh hati banyak orang. Hidupkan visi kita di hati anak didik kita. Nikmatilah setiap detik waktu kebersamaan kita dengan anak didik. Inilah momen kita untuk menyalakan inspirasi, mewujudkan setiap mimpi, mencapai kebahagiaan yang hakiki. Bagi anak didik kita tersayang, bagi bangsa kita yang besar, dan negara Indonesia kita tercinta. Selamat Hari Guru Nasional!

                           

-  Cikatomas, 23 November 2021 03.00 WIB -