Sabtu, 27 November 2021

Selamat Jalan, Pak Ben, Sahabat Penggerak Sejati!


Oleh Enang Cuhendi

Jelang maghrib hari ini hujan turun deras sekali. Belum satu jam saya sampai di rumah setelah perjalanan dari Jatinangor, Sumedang untuk menjilid laporan OJT diklat calon pengawas sekolah. Sambil menunggu Maghrib mencoba berbaring sekedar melepas lelah sambil menghangatkan badan yang tadi basah kuyup. 

Tiba-tiba HP menyala. Sahabat saya, Asep Taufik yang ketua Pengda FKGIPS Garut memberi kabar duka. Sahabat, kakak dan sekaligus teman seperjuangan di Garut dan Jabar telah meninggalkan kami. Hampir saja tetes bening keluar di pelupuk mata. "Ini mungkin jawaban atas ingatan saya yang dalam dua hari terakhir selalu ingat dia." pikirku.

Drs. Beni Kustiana, atau kami biasa menyapanya Pak Ben, telah meninggal dunia sore ini. Setelah sempat dua hari dirawat di RS Guntur Garut akhirnya Allah berkehendak lain. Almarhum memang punya riwayat jantung, tapi menurut Bu Erin, adik almarhum, bukan jantung pemnyebabnya, Ketika dibawa ke RS almarhum diduga terserang stroke. Ah, apapun jenis penyebabnya, tapi itulah keputusan terbaik Allah SWT untuk sahabatku ini.

Untuk guru-guru IPS, khususnya di Kabupaten Garut, Pak Ben sangat dikenal. Ia aktif untuk menggerakan guru-guru IPS dalam pengembangan diri dan peningkatan kompetensi.. Kepada yang lebih muda ia selalu memberi ruang untuk bergerak. Tak ada dalam dirinya perasaan merasa terlangkah apalagi tersaingi. Setiap yang punya potensi selalu didorongnya untuk maju. Penulis sangat meraskan ini. Salah satunya berkat andil beliaulah penulis bisa berkiprah sampai sejauh ini.

Guru IPS SMPN 1 Garut ini terkenal sebagai sosok yang jarang bicara. Walau begitu, ia seorang aktivis yang tangguh dan penggerak sejati. Hampir sepuluh tahun saya mendampingi beliau di kepengurusan MGMP IPS Kab. Garut. Berbagai tantangan dan rintangan pernah kami rasakan, pun begitu rasa suka dan duka.

Saat penulis sebagai IP mendampingi Pak Beni dkk dari Garut di Cirebon

Almarhum tercatat juga pernah menjadi anggota Tim Pengembang Kurikulum provinsi Jawa Barat. Saat ramai-ramai kurikulum 2013 bergulir beliau pun pernah menjadi Instruktur Nasional dan Instruktur Kabupaten. 

Kiprah Pak Ben sebagai guru, khususnya di dunia IPS memang tidak diragukan lagi. Selain dicintai para muridnya, ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan  pengembangan diri, Begitu juga pulang dari kegiatan ketika ada sesuatu yang baru selalu rela untuk berbagi. 

Kenangan yang tak terlupakan ketika ketika kami ke Surabaya pada 2019 lalu, sebelum merebak Covid-19. Saat itu kami menghadiri pertemuan FKGIPS Nasional. Beliau terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi yang disiapkan panitia, termasuk jalan-jalan ke Bangkalan, Madura. Kami (Penulis, Asep Taufik, Karnata dan Hilman) baru tahu beliau sedang merasakan sakit jantung saat jalan dari Jembatan Merah ke Makam Sunan Ampel.  

Taman Monumen Kapal selam Pasoepati, Surabaya


Di Jembatan Merah, Surabaya


Di Gerbang Tugu Pahlawan Surabaya

Tepat pukul 22.00 penulis baru pulang takziah ke rumah duka di sekitaran Leuwidaun Garut Kota. Alhamdulillah masih sempat menyolatkan jenazah dan sekedar mengangkat keranda hingga ke jalan raya. Karena sudah larut malam dan harus pulang ke Nagreg dan Cicalengka, kami memutuskan tidak ikut ke pemakaman yang dilaksanakan malam ini juga di bawah rintik hujan.

Saat tulisan ini diketik, Pak Ben mungkin sedang merasakan kesendirian dalam gelap dan sempitnya alam kubur. Namun, penulis percaya, kondisi itu tidak akan lama. segala kebaikan yang pernah ditebar dan amaliah Pak Ben sebagai umat yang shaleh  akan langsung menerangi dan memperluas alam kubur. Bahkan segala petanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir pun akan bisa dijawab dengan lancar. Insyaa Allah.

Selamat jalan Pak Beni sang penggerak sejati. Setelah beberapa hari yang lalu kami ditinggal Bu Evi Julaeha yang juga guru IPS hebat, kini engkau yang pergi meninggalkan kami. Kemarin Bu Evi, kini Pak Beni. Esok atau lusa mungkin giliran kami yang masih ada sekarang. Inginnya kita selalu bersama, tapi Allah SWT  sudah punya ketentuan hidup kita masing-masing, Kapan pun kita harus ikhlas, yang penting kita wafat ada dalam rida Illahi, Aamiin