Sabtu, 06 November 2021

SOEKARNO DAN SARINAH

 Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas


Beberapa perempuan mempengaruhi karakter dan kepribadian Soekarno, selain ibunya Ida Ayu Nyoman Rai yang berhasil menanamkan sikap-sikap kebangsaan awal kepada Bung Karno kecil. Sarinah adalah perempuan kedua yang begitu melekat dalam pribadi Soekarno. Sarinah adalah _altar ego_ rakyat jelata yang dekat dengan keseharian Soekarno, si bung menulis dalam bukunya, Sarinah, "Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran untuk mencintai rakyat kecil. Dia sendiri memang "orang kecil" tapi memiliki jiwa yang besar,". "Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami, dia adalah seorang anggota keluarga kami, tinggal dengan kami dan memakan apa yang kami makan, akan tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Tulis Soekarno dalam buku autobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang disusun Cindy Adams. Hubungan emosional Soekarno kecil dengan Sarinah berlangsung hingga Soekarno beranjak remaja. Proses sosialisasi di sekolah rendah Belanda _Europeesche Lagere School_ yang sarat dengan diskriminasi dan gambaran kondisi rakyat kecil yang identik dengan penderitaan, kesengsaraan, dan eksploitasi melalui sosok dan karakter Sarinah, menjadi awal perkenalan si bung dengan sisi kelam masyarakat terjajah. Dialah ( Sarinah ) yang mengajarku mengenal kasih sayang, mengajarku untuk mencintai rakyat. Rakyat kecil. Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk disampingnya dan dia memberi nasihat. "Karno, diatas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia. "Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku." ( Cindy Adams; Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.


Kekaguman Soekarno terhadap Sarinah diabadikannya dalam pembangunan toko serba ada _Departemen Store_ yang diberi nama Sarinah, dengan maksud menjadi icon ekonomi sosialis kerakyatan dengan komoditas dan hasil produksi Indonesia asli dari mulai kuliner sampai dengan hasil bumi, ketika Bung Karno jatuh pada 1966 pusat pertokoan Sarinah berubah wajah menjadi salah satu sentra ekonomi kapitalis dengan harga yang tidak merakyat.


Cisarua, Bogor, awal November 2021.