Selasa, 28 Desember 2021

GUNUNG PADANG DAN PERADABAN

 

Sketsa imajiner Gunung Padang karya
Ir. Pon Purajatnika


Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur, Jawa Barat


Situs prasejarah Gunung Padang terletak di Dusun Gunung Padang RT 01/RW 08, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Tulisan ini mencoba memuat hasil penelitian Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang diinisiasi Andi Arief (Staf Khusus Presiden RI Bidang Bantuan Sosial dan Bencana) Tim Terpadu Riset Mandiri diketuai oleh Dr Ali Akbar (Arkeolog UI).


Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998 menetapkan Megalitik Gunung Padang sebagai situs dengan luas bangunan 3.094,59 m persegi dan luas tanah 17.196,52 m persegi. Berikut beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri yang melakukan penelitian pada 2011-2013 bersumber dari buku Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi hasil tulisan Dr Ali Akbar.


1. Gunung Padang merupakan bangunan punden berundak yang bentuknya memanjang ke belakang dan semakin kebelakang  makin tinggi letaknya. Punden berundak Gunung Padang terdiri dari 5 teras yakni Teras 1, Teras 2, Teras 3, Teras 4, dan Teras 5. Teras 5 merupakan teras tertinggi dan Teras 1 merupakan teras terendah.

2. Berdasarkan hasil pengeboran yang dipimpin Dr Andang Bachtiar dari dalam tanah Gunung Padang terdapat batu-batu dalam posisi horisontal, tetapi bukan merupakan batu alami, melainkan batu-batu yang telah  disusun manusia (_Man Made_) Andang Bachtiar menyatakan bahwa selain bangunan Gunung Padang yang terlihat di permukaan tanah, terdapat struktur lain di bawah tanah. Hal ini mengindikasikan masyarakat pembuat Gunung Padang telah mengenal teknologi pembuatan bangunan yang tergolong maju, padahal itu dibuat pada periode yang tergolong tua.

3.Tim Katastropik Purba melakukan uji pertanggalan absolut dengan metode carbon dating (C14) yang salah satu hasilnya adalah sekitar 10.000 SM. Usia situs prasejarah Gunung Padang tergolong sangat tua bila dibandingkan dengan situs-situs megalitik di Indonesia yang usianya diperkirakan sekitar 2000 SM.

4. Beberapa keramik  ditemukan oleh seorang petani di lereng barat Gunung  Padang terdiri dari kendi, tempayan, dan mangkuk, dua fragmen keramik berdasarkan motif dan warnanya merupakan keramik asing yaitu keramik dari Eropa dan China. Keramik dari Eropa berasal dari abad ke 19 M. Keramik China berasal dari akhir masa Dinasti Ming berasal dari abad 16 M.

5. Susunan batu columnar joint (Tiang batu besar) di Gunung Padang adalah hasil karya manusia.

6. Ditemukan semacam lapisan diantara batu-batu saat identifikasi dan ekskavasi pada bulan Januari sampai Maret 2013 di lereng timur mulai pada kedalaman 2 sampai 4,2 m. Lapisan tersebut diidentifikasi oleh Dr Andang Bachtiar dan disebut sebagai perekat atau semen purba.

7. Seluruh teknik menyusun batu yang terdapat di Gunung Padang menunjukkan bahwa diantara masyarakat pembuat Gunung Padang terdapat arsitek, ahli teknik sipil, ahli konstruksi bangunan, ahli manajemen pembangunan, ahli lingkungan, ahli metalurgi dsb.

8. Situs Gunung Padang bukan difungsikan untuk kegiatan sehari-hari atau dalam hal ini bukan merupakan aktivitas rumah tangga. Kegiatan ekskavasi di teras-teras sejauh ini tidak menemukan kerangka atau fosil manusia hal ini menunjukkan bahwa situs ini bukan merupakan situs pemakaman atau bukan lokasi penguburan.

9. Religi yang dianut masyarakat Gunung Padang sesuai dengan perkiraan tahun pembuatannya tergolong animisme. Animisme yang dianut adalah pemujaan terhadap roh yang bersemayam di kekuatan alam tertentu (_Natural Spirit Workship_), dalam hal ini di Gunung Gede dan Pangrango. Gunung Gede Pangrango merupakan ekofak yang menjadi sentral pemujaan bagi masyarakat Gunung Padang.

10. Jika mengacu pada hasil penelitian tahun 2012-2013 menunjukkan bahwa bangunan Gunung Padang melingkupi seluruh bukit Gunung Padang, maka Gunung Padang memiliki peluang untuk menjadi bangunan prasejarah terbesar di dunia. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikannya.


Penelitian arkeologi dengan bantuan berbagai ilmu, seperti geologi, hidrologi yang dilakukan oleh Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri membuktikan bahwa kebudayaan dan peradaban manusia tidak berjalan linear dari masyarakat sederhana kearah masyarakat yang lebih maju. Melainkan suatu masyarakat yang telah mencapai kebudayaan dan peradaban tinggi kemudian dihancurkan oleh bencana alam, sehingga kebudayaan dan peradaban masyarakat selanjutnya belum tentu bisa mencapai  kemajuan kebudayaan dan peradaban dari masyarakat terdahulu (Teori kehancuran umat).


Sumber bacaan;

Ali Akbar; Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi.Chance Publication 2013.

Foto sketsa imajiner Gunung Padang dibuat Ir Pon S. Purajatnika.


Cipanas, Akhir Desember 2021.

Sabtu, 18 Desember 2021

PROSES PENGANGKATAN PAK DIRMAN SEBAGAI PANGLIMA BESAR


Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas


Kolonel Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat beserta Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo pada 18 Desember 1945, sejak dari 5 Oktober 1945 TKR tidak memiliki sosok seorang panglima, karena Soeprijadi yang diangkat menjadi Panglima TKR berdasarkan Maklumat Presiden pada 5 Oktober 1945 tidak pernah menampakkan diri, tidak diketahui nasib dan kabar beritanya. Jajaran perwira TKR berinisiatif melakukan rapat koordinasi pembentukkan organisasi TKR yang lebih modern dan rasional. Rapat pada  tanggal 12 November 1945 itu dilaksanakan dalam suasana revolusioner hampir seluruh perwira yang hadir membawa senjata, Kolonel Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR  dengan suara penentu dari enam divisi di Sumatera. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo meraih suara terbanyak kedua dengan perolehan suara dari perwira eks Kooninklijke Nederlands Indische  Lager (KNIL) dan menjabat sebagai Kepala Staf Umum TKR. Mengapa Pak Dirman terpilih padahal saat itu usianya baru 29 tahun, penampilannya kurang meyakinkan sebagai perwira militer, melangkahi seorang senior seperti Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Pak Dirman terpilih karena pertama keberhasilan dalam melucuti bala tentara Jepang di Banyumas tanpa pertumpahan darah, kharisma dan kewibawaan Pak Dirman tidak hanya dihormati kawan seperjuangan tetapi juga bala tentara Jepang.

Kedua Pak Dirman adalah sosok perwira religius berlatar belakang guru sekolah menengah Muhammadiyah, kebijakan dan perhatiannya terhadap prajurit sudah tertanam sejak pendidikan PETA di Bogor. 

Ketiga Pak Dirman dengan sukses berhasil menjadikan Banyumas sebagai "Gudang Senjata" bagi TKR dan laskar di Jawa Tengah dan Jawa Barat, TB Simatupang menyatakan dalam Laporan Dari Banaran, Pak Dirman adalah tokoh yang berperan aktif dalam pasokan senjata untuk TKR dan laskar perjuangan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Keempat Pak Dirman dikenal dikalangan alumni Peta dan Heiho sebagai ahli strategi militer, dalam latihan perang Peta Pak Dirman kerap ditunjuk sebagai salah satu Komandan pertempuran oleh jajaran instruktur militer Jepang.


Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo jebolan Akademi Militer Breda, ahli dalam penataan organisasi militer modern dan mahir dalam strategi militer, Pak Oerip adalah arsitek pembentukkan organisasi militer yang solid dan profesional pada masa awal Revolusi Fisik, perkataan, saran, dan nasehatnya kerap menjadi rujukkan para perwira TKR khususnya eks KNIL seperti Alex Kawilarang, TB Simatupang, Nasution, dan Didi Kartasasmita.


Elit politik berpendidikan barat seperti Sahrir dan Amir Sjaripudin dengan terang-terangan menentang alumni Peta dan Heiho berperan di TKR dengan alasan TKR harus bersih dari pengaruh fasisme Jepang, inilah kiranya hubungan antara Jenderal Soedirman dengan Sahrir dan Amir selalu dilanda ketegangan. Para elit politik didikan barat juga memiliki sikap bahwa proses pengangkatan seorang panglima besar harus memenuhi kriteria konsep supremasi sipil, kenyataannya tentara membentuk dirinya sendiri, sebelum pemerintah membentuknya. Itulah mengapa proses pengangkatan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar memakan tenggat waktu sampai satu bulan dari 12 November sampai dengan 18 Desember 1945. Didalam gejolak revolusi, pertentangan antara  elit politik sipil dan militer selalu terjadi dan itu menjadi dinamika sejarah yang selalu menarik.


Daftar Pustaka;

Seri Buku Tempo; Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir

Sekretariat Negara RI; 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Foto; IPPHOS


Cisarua, Bogor, 18 Desember 21.

DUA WAJAH CHINA

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Peristiwa Tiananmen April 1989 menjadi titik balik kebijakan reformasi ekonomi China dibawah Deng Xiaoping, Reformasi yang bertujuan menciptakan sentra-sentra industri yang berorientasi kepada pasar internasional dan penanaman modal asing berdampak kepada keberanian mahasiswa untuk mendorong terjadinya proses perbaikan demokrasi dan kebebasan sipil, angin segar perubahan ekonomi komunis yang serba tertutup kepada ekonomi kapitalis yang berdasar kekuatan pasar dan modal ternyata tidak disertai perubahan politik, kuatnya pengaruh golongan konservatif didalam Partai Komunis China menghancurkan gerakan mahasiswa, politbiro dibawah Deng Xiaoping memutuskan penggunaan kekuatan militer untuk menghadapi gerakan demokrasi. Angin perubahan tidak terjadi, tetapi keyakinan untuk segera melaksanakan "sosialisme ala Tiongkok" semakin membesar, para pembesar Partai komunis China meyakini dogma ekonomi "menetes kebawah" ( trick down economics) dalam arti memberikan peluang kepada beberapa orang untuk menjadi kaya dan sangat kaya akan menguntungkan masyarakat. Dogma ekonomi menetes kebawah adalah ucapan selamat datang kepada kapitalisme, membiarkan orang menjadi sangat kaya mendorong dinamika pasar bebas dan menciptakan golongan pemilik modal yang makin lama makin kaya, Jack Ma pemilik Ali Baba dengan total kekayaan U$ 59 M, Pony Ma raja bisnis internet dengan aset U$ 57,4 M. Sejak 2015 jumlah taipan China adalah yang terbesar di dunia. Pragmatisme  ekonomi China menempatkannya sebagai negara dengan kekuatan ekonomi raksasa yang tangan-tangannya merambah kesegala penjuru dunia. Yang menjadi pertanyaan dalam sistem kapitalisme ekonomi dikendalikan oleh kaum pemilik modal, kaum pemilik modal di China mayoritas menjadi anggota partai komunis, siapakah yang berani menjamin para elit politik PKC tidak dikendalikan oleh para taipan, apakah para elit komunis tersebut masih memelihara idealisme partai sesuai dogma yang diberikan pemimpin Mao ( bersahaja, merakyat, dalam kerangka semangat proletar ) melihat gaya hidup para pemimpin PKC yang cenderung mewah, ada keraguan apakah mereka mengendalikan sepenuhnya wajah ekonomi kapitalis China. Salah satu kenyataan sosial yang terjadi sebagaimana yang terjadi di negara-negara kapitalis liberal adalah kesenjangan yang semakin melebar, walaupun kaum buruh mengalami kenaikan upah karena produktifitas yang meningkat, kekayaan kaum pemilik modal makin menjulang tinggi.


Penguasaan terhadap teknologi informasi, pembangunan infrastruktur dalam negeri, dan kemudahan penanaman modal asing meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tercatat pertumbuhan ekonomi China kuartal 1 2021sebesar 18,3 % salah satu pemikiran Deng Xiaoping agar China memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik dan ekonomi dunia dengan konsisten dijalankan Xi Jinping proyek politik ekonomi One belt one road dalam bentuk penawaran pinjaman jangka panjang kepada negara-negara di kawasan Asia dan Afrika dengan fokus pembangunan infrastruktur perhubungan yang bertujuan menguasai ekonomi  kawasan dan menanamkan pengaruh ekonomi dan politik, bagi China penyebaran ideologi komunis bukanlah prioritas mereka menyadari komunisme sudah kehilangan popularitas, yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana bisa meraih keuntungan sebesar mungkin, memanfaatkan peluang di era globalisasi dengan terus berusaha mencari ruang hidup yang lebih luas kepada warganegaranya. Dampak kesenjangan sosial ekonomi berusaha diatasi pemerintahan Xi Jinping dengan kebijakan "Kemakmuran Bersama" yang kini sedang gencar dipropagandakan salah satu programnya adalah peningkatan pembayaran pajak bagi para pemilik perusahaan, konglomerasi, dan perusahaan besar berskala internasional. Sejauh ini China berhasil memadukan dua wajah ideologi, pragmatisme komunisme dan ekonomi kapitalis dengan orientasi pasar bebas, tetapi tetap konsisten untuk "Katakan tidak bagi demokrasi" dan kebebasan beragama.


Cisarua, Bogor, 18 Desember 2021

Minggu, 12 Desember 2021

RAJA YANG SEDERHANA DAN MERAKYAT

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


Teringat Mbah Maridjan yang wafat  pada 2010, Mbah Maridjan wafat karena kukuh pendirian, sebagai juru kunci Gunung Merapi beliau tidak mau meninggalkan lokasi tempat tinggalnya Dusun Kinahrejo yang berjarak sekira 4 Km dari puncak Merapi. "Yang mengangkat saya sebagai juru kunci Merapi adalah   Ngarso dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX, jadi yang berhak memerintahkan saya untuk turun harus Ngarso dalem". "Ngarso dalem sudah wafat Mbah" balas wartawan. "Pokoknya saya tetap disini menunggu perintah Ngarso dalem". Yang menjadi pertanyaan mengapa seorang Mbah Maridjan bersikukuh bertahan  didaerah bahaya Gunung Merapi dan tetap setia kepada perintah rajanya, sekalipun rajanya telah wafat. Jawabannya sederhana masyarakat Jawa mencintai Sri Sultan HB IX. Seorang pemimpin dicintai, dihormati, sekaligus disegani bahkan disanjung bukan karena Keraton Yogyakarta menjadi pusat kekuasaan feodalis, bukan karena kekuasaan dan tahta, pangkat, jabatan, kedudukan. Tetapi karena sosok dan karakter pemimpin yang merakyat, mencintai rakyatnya, melindungi dan berusaha mensejahterakan rakyatnya dalam hal ini Ngarso dalem adalah seorang pemimpin yang "menghancurkan" batas-batas feodalisme antara seorang raja dan rakyatnya.


Kesaksian Dokter Abdul Halim di tahun 1946, ketika kereta dari Yogyakarta yang mengangkut sejumlah pejabat republik terhenti di Stasiun Klender Jakarta karena menunggu keluarnya surat izin masuk dari NICA, cuaca panas segera menyergap para penumpang kereta, Dokter Abdul Halim memutuskan keluar untuk mencari minuman, baru saja meloncat keluar, tiba-tiba terdengar suara Sri Sultan HB IX "Hei dok, mau kemana ?" "Saya mau mencari minuman". Jawab Halim. "Ik ga met u mee", jawab Sri Sultan sambil meloncat di ikuti adiknya Pangeran Bintoro. Halim terkejut pikirnya urusan akan runyam, harus mencari restoran atau rumah makan, karena tidak mungkin seorang raja bersedia nongkrong dengannya sambil minum di pinggir jalan, merasa kikuk Halim berjalan terus , langkahnya terhenti ketika Sri Sultan memanggilnya, "Hai dok kenapa berjalan terus ? Ini kan ada es puter, disini saja kita minum". Jadilah  mereka minum es puter, dengan santainya Ngarso dalem menikmati es puter sambil berdiri ditengah lalu lalang aktivitas manusia di Stasiun Klender. "Pandangan saya terhadap Sri Sultan berubah total, ini sosok raja yang bisa dijadikan sahabat, pikir Dokter Halim. Kesaksian Mayor Pranoto Reksosamudro pada 1950. Pulang dari pelosok pedesaan Yogya, mobil jip Sri Sultan dihentikan seorang perempuan penjual beras dan tanpa basa-basi langsung berujar "Niki karung-karung beras di ungghake". Rupanya perempuan tersebut tidak mengenal Sri Sultan, Sri Sultan langsung mengangkat karung-karung tersebut ke bagian belakang jip, sepanjang perjalanan perempuan pedagang beras duduk disamping Sri Sultan sambil mengobrol dengan akrab. Sampai di tempat tujuan dengan lincah Sri Sultan menurunkan karung-karung tersebut, setelah selesai, sang penjual beras merogoh koceknya dengan ramah dan senyuman Raja Jawa tersebut menolaknya "Pun boten sisah, Mbakyu". "E, eeee.......di wenehi duit kok nampik sumengkean temen ta sopir kuwi," sang penjual beras menggerutu, seiring dengan berlalunya mobil jip, ketika kemudian perempuan penjual beras tahu bahwa supir tersebut adalah Ngarso dalem, yang bersangkutan pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda, ketika mendapatkan laporan bahwa sang penjual beras masuk rumah sakit, Sri Sultan langsung menengoknya. 


Kesaksian Brigadir Polisi Royadin, yang pernah menilang Ngarso dalem. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah" kata Royadin kepada Sri Sultan. Jawaban Sri Sultan sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai Raja Yogyakarta dan orang yang berperan penting dalam sejarah republik. "Ya saya salah. Jadi bagaimana?" tanya Sultan, Sultan melihat wajah Royadin penuh keraguan. "Buatkan saya surat tilang" sambil meminta maaf Royadin berujar "Maaf Sinuwun terpaksa saya tilang,"  "Baik Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal," ujar Sultan. Sesaat setelah peristiwa itu Royadin merasa gelisah dan khawatir, esoknya di Markas Kepolisian Pekalongan ia di tegur komandannya. "Royadin ! Apa yang kamu perbuat ? Apa kamu tidak berpikir? Siapa yang kamu tangkap itu ? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa tidak kamu lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?". "Siap Pak. Beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah," jawab Royadin. Jawaban Royadin memicu lagi kemarahan komandannya, "kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara!" Komandan Kepolisian Pekalongan itu pun berusaha mengembalikan SIM Ngarso dalem. Royadin hanya bisa pasrah. Ia siap menerima hukuman atau dimutasi. Ia tetap merasa benar, sampai kemudian Brigadir Royadin diminta mutasi ke Yogyakarta atas permintaan Sri Sultan, bahkan Sri Sultan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat, Ngarso dalem terkesan dengan ketegasan dan sikap berkeadilan Royadin, Royadin memilih untuk tetap bertugas di Pekalongan. Sri Sultan menghormati  pilihan Royadin. Royadin tetap bertugas di Pekalongan sampai ia wafat pada Juli 2010. Meminjam perkataan dari Prof Yudi Latief, banyak suri tauladan dari para pendiri bangsa,    tetapi kita tidak mau  mempelajarinya, sekedar untuk berliterasi sejarah kita enggan, akibatnya pemimpin yang dihasilkan selalu tidak segan untuk mengkhianati rakyat.



Daftar Bacaan;

Yudi Latief; Mata Air Keteladanan

Historia.id Hendi Johari


Cisarua, 12 Desember 2021

Kamis, 09 Desember 2021

KORUPSI

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


Mulai sekarang jangan sebut lagi korupsi sudah menjadi kebudayaan atau bagian dari budaya, karena kebudayaan diciptakan masyarakat manusia dengan tujuan untuk menjamin keteraturan dalam kerangka kemanusiaan. Korupsi bukan bagian dari kebudayaan, korupsi adalah tingkah laku menyimpang dan bentuk kejahatan luar biasa. Tidak satupun  Kebudayaan lokal dan tradisional disegala bangsa mentoleransi korupsi, menyatakan korupsi  sudah menjadi budaya hanya merendahkan budaya yang bersangkutan padahal jelas kebudayaan sudah memproduksi nilai dan norma sekaligus hukuman bagi pelaku korupsi. Jepang dengan budaya Bushido menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan leluhur, keluarga, dan diri pribadi dengan berusaha sekeras mungkin menjauhi tindak korupsi, kebudayaan lokal, kearifan lokal Indonesia tidak kalah dengan Bushido Jepang. Kearifan lokal Indonesia banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur religi dan pengaruh keagamaan. Sistem birokrasi pemerintahan yang feodalistis paternalistis di abad  17 sd 19 telah membuka peluang sebesar-besarnya bagi perilaku korup. Korupsi struktural yang dilakukan birokrat kolonial Eropa menurun secara hierarkhis kepada pejabat pribumi, korupsi terjadi karena kebutuhan kaum bangsawan yang menjadi birokrat kolonial sangat beraneka ragam mulai dari gaji jongos dan babu, istri tua, istri muda, wanita simpanan, sampai dengan para  pengawal dan centeng, belum lagi yang menyangkut gaya hidup Eropa Sentris mulai dari tempat tinggal yang mewah sampai dengan pesta kebun. Gaya hidup hedonis para birokrat kolonial diperoleh dari hasil korupsi pembayaran  pajak rakyat, upeti mulai dari hasil komoditas perkebunan sampai dengan sarana transportasi, pajak tanah, dan proyek infrastruktur. Korupsi struktural yang masif terjadi di zaman kolonial mengakibatkan para  petani kelas bawah, pekerja perkebunan,  dan pekerja kasar harian kehilangan harapan hidup.

Korupsi zaman _Now_ dilatar belakangi oleh pemenuhan gaya hidup, tuntutan keluarga, dan maraknya perilaku serakah. Ketika masyarakat mengalami disorientasi budaya karena gencarnya pengaruh _westernisasi_ ( Materialisme dan individualisme) dimana stratifikasi sosial masyarakat ditentukan oleh status sosial berdasarkan kekayaan, pangkat, jabatan, dan kedudukan disitulah korupsi menemukan  bentuknya. Tuntutan  keluarga (anak dan istri) yang berlangsung secara masif mempengaruhi tindakan para pejabat untuk berperilaku korup dan mencuri uang negara, gaji besar dan berbagai bentuk  tunjangan tidak akan bisa mencegah tindak korupsi apabila dalam diri seorang pejabat bersemayam sifat dan sikap serakah (Mumpungisme) kalau tidak korupsi sekarang, kapan lagi. Korupsi zaman _Now_ adalah korupsi terencana, masif, dan terstruktur berlangsung secara sentralisasi dan desentralisasi (Birokrat pusat dan daerah) mulai kasus  korupsi APBD, DAK, proyek perbaikan jalan, pengadaan buku, sampai dengan dana desa, bahkan pengadaan kitab suci Al Qur'an tidak luput dari perilaku korupsi. Korupsi bukan bagian dari kebudayaan, korupsi adalah tindak kejahatan luarbiasa yang harus dihadapi dengan tindakan hukum luar biasa pula, salah satunya dengan hukuman mati.

Selamat Hari Anti Korupsi, Sedunia Semoga Indonesia segera bebas dari tindak kejahatan luar biasa  bernama Korupsi.


Cipanas, 9 Desember 2021.

Sabtu, 04 Desember 2021

MODERNISASI DAN KEBUDAYAAN KETIDAKPUASAN

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Modernisasi menjadi pola umum yang "mendunia" sesudah Perang Dunia II negara-negara berkembang berlomba-lomba melaksanakan modernisasi ( Proses perubahan kebudayaan dan sosial dimana masyarakat-masyarakat sedang berkembang bertujuan memperoleh sebagian karakteristik dari masyarakat industri barat ). Modernisasi menjadi kriteria kemajuan bersamaan dengan bergeraknya era globalisasi. "Menjadi modern" berarti menjadi seperti orang barat dengan resiko bahwa tidak seperti orang barat berarti ketinggalan jaman dan kuno, cara-cara pandang tersebut menjadi umum dan menguat ketika terjadi pergeseran bahwa masyarakat di luar barat harus diubah sehingga menjadi atau mendekati barat tanpa mempertimbangkan keadaan sosial dan budaya masyarakat setempat. Kita bisa saja terjebak kedalam sikap-sikap  etnosentrisme yang secara sadar atau tidak terjadi ketika fungsi-fungsi dan karakteristik kebudayaan tidak menjadi acuan.


Modernisasi secara umum terdiri dari empat sub proses :

1. Perkembangan teknologi berupa teknik-teknik dan pemahaman tradisional tergantikan oleh penerapan pengetahuan ilmiah dan teknik yang secara umum berasal dari barat

2. Perkembangan pertanian perubahan orientasi dari pertanian untuk keperluan sendiri menjadi pertanian untuk pemasaran ketergantungan terhadap ekonomi uang dan pasar.

3. Industrialisasi yang diiringi dengan eksploitasi besar-besaran bahan bakar fosil dan makin berkurangnya pemanfaatan tenaga manusia dan  hewan.

4. Urbanisasi yang ditandai terutama oleh perpindahan penduduk dari lingkungan pedesaan ke lingkungan perkotaan.

Terjadinya empat sub proses tersebut biasanya diikuti dengan perubahan politik, terbentuknya  partai-partai politik, meningkatnya partisipasi politik dan pelaksanaan demokrasi, meningkatnya partisipasi publik di bidang pendidikan yang bermuara kepada terbentuknya kelas menengah terpelajar, perubahan-perubahan fungsi keluarga, perubahan peranan seorang ayah sebagai kepala keluarga, perubahan  pola perilaku, menurunnya pengaruh kebudayaan tradisional, makin meningkatnya mobilitas sosial sebagai akibat dari perubahan pola stratifikasi sosial, achieved status ( status yang diperoleh dari hasil usaha dan kerja ) lebih dihargai dari ascribed status ( status yang diperoleh dari keturunan ).


Sosiolog Alex Inkeles membahas kepribadian baru dan sikap mental dalam proses modernisasi yang dikenal dengan kepribadian modern antara lain kesediaan menerima pengalaman-pengalaman baru, keterbukaan terhadap inovasi dan perubahan, memiliki keberanian  untuk menyatakan pendapat mengenai peristiwa-peristiwa di masyarakat atau diluar masyarakatnya, menghargai waktu dan berorientasi ke masa depan. Sikap mental dari Inkeles akan selalu berhadapan bahkan berbenturan dengan  "kebiasaan lokal" yang sudah terlanjur  menguat pada masyarakat negara berkembang seperti feodalisme dan sikap anti kritik. Dalam kenyataan sosial modernisasi membawa kepada goncangan budaya dan kesenjangan budaya, sebagian masyarakat menggunakan lambang-lambang modernisasi tetapi sikap mentalnya jauh dari kata modern. Proses modernisasi berdampak kepada kesenjangan sosial ekonomi yang semakin melebar diantara negara maju, negara berkembang, dan negara yang menuju  perkembangan. Negara maju di Eropa dan Amerika menghabiskan lebih dari 50% persediaan minyak dunia dengan segala akibat buruknya berupa kekerasan struktural, konflik, dan peperangan. Antropolog Paul Magnarella menyebutnya sebagai kebudayaan ketidakpuasan yang terjadi akibat kesenjangan dan ketidakadilan. Tingkat keinginan yang jauh melampaui batas-batas sumber-sumber daya lokal yang ada pada seseorang, karena tidak puas dengan nilai-nilai tradisional sebagian  masyarakat dunia berpindah ke kota-kota besar untuk mencari "kehidupan yang lebih baik" dengan terpaksa tinggal di pemukiman kumuh yang miskin, padat berjubel, akrab dengan ancaman penyakit dan mengakibatkan masalah-masalah sosial dan kriminalitas yang justru menjadi beban modernisasi. Persoalan mendasar adalah modernisasi yang makin menguat di era globalisasi terjadi begitu cepat, sehingga masyarakat tradisional sulit menyesuaikan diri, perubahan yang bertahap, lama, dan berkesinambungan di Eropa dan Amerika Utara, di terapkan secara masif dan cepat di negara-negara berkembang.


Daftar Bacaan;

William A. Havillland; Antropologi jilid I dan II

D. Paul Johnsons; Teori Sosiologi I


Cisarua, Bogor 4 Desember 2021