Sabtu, 18 Desember 2021

DUA WAJAH CHINA

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Peristiwa Tiananmen April 1989 menjadi titik balik kebijakan reformasi ekonomi China dibawah Deng Xiaoping, Reformasi yang bertujuan menciptakan sentra-sentra industri yang berorientasi kepada pasar internasional dan penanaman modal asing berdampak kepada keberanian mahasiswa untuk mendorong terjadinya proses perbaikan demokrasi dan kebebasan sipil, angin segar perubahan ekonomi komunis yang serba tertutup kepada ekonomi kapitalis yang berdasar kekuatan pasar dan modal ternyata tidak disertai perubahan politik, kuatnya pengaruh golongan konservatif didalam Partai Komunis China menghancurkan gerakan mahasiswa, politbiro dibawah Deng Xiaoping memutuskan penggunaan kekuatan militer untuk menghadapi gerakan demokrasi. Angin perubahan tidak terjadi, tetapi keyakinan untuk segera melaksanakan "sosialisme ala Tiongkok" semakin membesar, para pembesar Partai komunis China meyakini dogma ekonomi "menetes kebawah" ( trick down economics) dalam arti memberikan peluang kepada beberapa orang untuk menjadi kaya dan sangat kaya akan menguntungkan masyarakat. Dogma ekonomi menetes kebawah adalah ucapan selamat datang kepada kapitalisme, membiarkan orang menjadi sangat kaya mendorong dinamika pasar bebas dan menciptakan golongan pemilik modal yang makin lama makin kaya, Jack Ma pemilik Ali Baba dengan total kekayaan U$ 59 M, Pony Ma raja bisnis internet dengan aset U$ 57,4 M. Sejak 2015 jumlah taipan China adalah yang terbesar di dunia. Pragmatisme  ekonomi China menempatkannya sebagai negara dengan kekuatan ekonomi raksasa yang tangan-tangannya merambah kesegala penjuru dunia. Yang menjadi pertanyaan dalam sistem kapitalisme ekonomi dikendalikan oleh kaum pemilik modal, kaum pemilik modal di China mayoritas menjadi anggota partai komunis, siapakah yang berani menjamin para elit politik PKC tidak dikendalikan oleh para taipan, apakah para elit komunis tersebut masih memelihara idealisme partai sesuai dogma yang diberikan pemimpin Mao ( bersahaja, merakyat, dalam kerangka semangat proletar ) melihat gaya hidup para pemimpin PKC yang cenderung mewah, ada keraguan apakah mereka mengendalikan sepenuhnya wajah ekonomi kapitalis China. Salah satu kenyataan sosial yang terjadi sebagaimana yang terjadi di negara-negara kapitalis liberal adalah kesenjangan yang semakin melebar, walaupun kaum buruh mengalami kenaikan upah karena produktifitas yang meningkat, kekayaan kaum pemilik modal makin menjulang tinggi.


Penguasaan terhadap teknologi informasi, pembangunan infrastruktur dalam negeri, dan kemudahan penanaman modal asing meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tercatat pertumbuhan ekonomi China kuartal 1 2021sebesar 18,3 % salah satu pemikiran Deng Xiaoping agar China memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik dan ekonomi dunia dengan konsisten dijalankan Xi Jinping proyek politik ekonomi One belt one road dalam bentuk penawaran pinjaman jangka panjang kepada negara-negara di kawasan Asia dan Afrika dengan fokus pembangunan infrastruktur perhubungan yang bertujuan menguasai ekonomi  kawasan dan menanamkan pengaruh ekonomi dan politik, bagi China penyebaran ideologi komunis bukanlah prioritas mereka menyadari komunisme sudah kehilangan popularitas, yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana bisa meraih keuntungan sebesar mungkin, memanfaatkan peluang di era globalisasi dengan terus berusaha mencari ruang hidup yang lebih luas kepada warganegaranya. Dampak kesenjangan sosial ekonomi berusaha diatasi pemerintahan Xi Jinping dengan kebijakan "Kemakmuran Bersama" yang kini sedang gencar dipropagandakan salah satu programnya adalah peningkatan pembayaran pajak bagi para pemilik perusahaan, konglomerasi, dan perusahaan besar berskala internasional. Sejauh ini China berhasil memadukan dua wajah ideologi, pragmatisme komunisme dan ekonomi kapitalis dengan orientasi pasar bebas, tetapi tetap konsisten untuk "Katakan tidak bagi demokrasi" dan kebebasan beragama.


Cisarua, Bogor, 18 Desember 2021