Selasa, 28 Desember 2021

GUNUNG PADANG DAN PERADABAN

 

Sketsa imajiner Gunung Padang karya
Ir. Pon Purajatnika


Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur, Jawa Barat


Situs prasejarah Gunung Padang terletak di Dusun Gunung Padang RT 01/RW 08, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Tulisan ini mencoba memuat hasil penelitian Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang diinisiasi Andi Arief (Staf Khusus Presiden RI Bidang Bantuan Sosial dan Bencana) Tim Terpadu Riset Mandiri diketuai oleh Dr Ali Akbar (Arkeolog UI).


Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998 menetapkan Megalitik Gunung Padang sebagai situs dengan luas bangunan 3.094,59 m persegi dan luas tanah 17.196,52 m persegi. Berikut beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri yang melakukan penelitian pada 2011-2013 bersumber dari buku Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi hasil tulisan Dr Ali Akbar.


1. Gunung Padang merupakan bangunan punden berundak yang bentuknya memanjang ke belakang dan semakin kebelakang  makin tinggi letaknya. Punden berundak Gunung Padang terdiri dari 5 teras yakni Teras 1, Teras 2, Teras 3, Teras 4, dan Teras 5. Teras 5 merupakan teras tertinggi dan Teras 1 merupakan teras terendah.

2. Berdasarkan hasil pengeboran yang dipimpin Dr Andang Bachtiar dari dalam tanah Gunung Padang terdapat batu-batu dalam posisi horisontal, tetapi bukan merupakan batu alami, melainkan batu-batu yang telah  disusun manusia (_Man Made_) Andang Bachtiar menyatakan bahwa selain bangunan Gunung Padang yang terlihat di permukaan tanah, terdapat struktur lain di bawah tanah. Hal ini mengindikasikan masyarakat pembuat Gunung Padang telah mengenal teknologi pembuatan bangunan yang tergolong maju, padahal itu dibuat pada periode yang tergolong tua.

3.Tim Katastropik Purba melakukan uji pertanggalan absolut dengan metode carbon dating (C14) yang salah satu hasilnya adalah sekitar 10.000 SM. Usia situs prasejarah Gunung Padang tergolong sangat tua bila dibandingkan dengan situs-situs megalitik di Indonesia yang usianya diperkirakan sekitar 2000 SM.

4. Beberapa keramik  ditemukan oleh seorang petani di lereng barat Gunung  Padang terdiri dari kendi, tempayan, dan mangkuk, dua fragmen keramik berdasarkan motif dan warnanya merupakan keramik asing yaitu keramik dari Eropa dan China. Keramik dari Eropa berasal dari abad ke 19 M. Keramik China berasal dari akhir masa Dinasti Ming berasal dari abad 16 M.

5. Susunan batu columnar joint (Tiang batu besar) di Gunung Padang adalah hasil karya manusia.

6. Ditemukan semacam lapisan diantara batu-batu saat identifikasi dan ekskavasi pada bulan Januari sampai Maret 2013 di lereng timur mulai pada kedalaman 2 sampai 4,2 m. Lapisan tersebut diidentifikasi oleh Dr Andang Bachtiar dan disebut sebagai perekat atau semen purba.

7. Seluruh teknik menyusun batu yang terdapat di Gunung Padang menunjukkan bahwa diantara masyarakat pembuat Gunung Padang terdapat arsitek, ahli teknik sipil, ahli konstruksi bangunan, ahli manajemen pembangunan, ahli lingkungan, ahli metalurgi dsb.

8. Situs Gunung Padang bukan difungsikan untuk kegiatan sehari-hari atau dalam hal ini bukan merupakan aktivitas rumah tangga. Kegiatan ekskavasi di teras-teras sejauh ini tidak menemukan kerangka atau fosil manusia hal ini menunjukkan bahwa situs ini bukan merupakan situs pemakaman atau bukan lokasi penguburan.

9. Religi yang dianut masyarakat Gunung Padang sesuai dengan perkiraan tahun pembuatannya tergolong animisme. Animisme yang dianut adalah pemujaan terhadap roh yang bersemayam di kekuatan alam tertentu (_Natural Spirit Workship_), dalam hal ini di Gunung Gede dan Pangrango. Gunung Gede Pangrango merupakan ekofak yang menjadi sentral pemujaan bagi masyarakat Gunung Padang.

10. Jika mengacu pada hasil penelitian tahun 2012-2013 menunjukkan bahwa bangunan Gunung Padang melingkupi seluruh bukit Gunung Padang, maka Gunung Padang memiliki peluang untuk menjadi bangunan prasejarah terbesar di dunia. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikannya.


Penelitian arkeologi dengan bantuan berbagai ilmu, seperti geologi, hidrologi yang dilakukan oleh Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri membuktikan bahwa kebudayaan dan peradaban manusia tidak berjalan linear dari masyarakat sederhana kearah masyarakat yang lebih maju. Melainkan suatu masyarakat yang telah mencapai kebudayaan dan peradaban tinggi kemudian dihancurkan oleh bencana alam, sehingga kebudayaan dan peradaban masyarakat selanjutnya belum tentu bisa mencapai  kemajuan kebudayaan dan peradaban dari masyarakat terdahulu (Teori kehancuran umat).


Sumber bacaan;

Ali Akbar; Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi.Chance Publication 2013.

Foto sketsa imajiner Gunung Padang dibuat Ir Pon S. Purajatnika.


Cipanas, Akhir Desember 2021.