Sabtu, 18 Desember 2021

PROSES PENGANGKATAN PAK DIRMAN SEBAGAI PANGLIMA BESAR


Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas


Kolonel Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat beserta Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo pada 18 Desember 1945, sejak dari 5 Oktober 1945 TKR tidak memiliki sosok seorang panglima, karena Soeprijadi yang diangkat menjadi Panglima TKR berdasarkan Maklumat Presiden pada 5 Oktober 1945 tidak pernah menampakkan diri, tidak diketahui nasib dan kabar beritanya. Jajaran perwira TKR berinisiatif melakukan rapat koordinasi pembentukkan organisasi TKR yang lebih modern dan rasional. Rapat pada  tanggal 12 November 1945 itu dilaksanakan dalam suasana revolusioner hampir seluruh perwira yang hadir membawa senjata, Kolonel Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR  dengan suara penentu dari enam divisi di Sumatera. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo meraih suara terbanyak kedua dengan perolehan suara dari perwira eks Kooninklijke Nederlands Indische  Lager (KNIL) dan menjabat sebagai Kepala Staf Umum TKR. Mengapa Pak Dirman terpilih padahal saat itu usianya baru 29 tahun, penampilannya kurang meyakinkan sebagai perwira militer, melangkahi seorang senior seperti Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Pak Dirman terpilih karena pertama keberhasilan dalam melucuti bala tentara Jepang di Banyumas tanpa pertumpahan darah, kharisma dan kewibawaan Pak Dirman tidak hanya dihormati kawan seperjuangan tetapi juga bala tentara Jepang.

Kedua Pak Dirman adalah sosok perwira religius berlatar belakang guru sekolah menengah Muhammadiyah, kebijakan dan perhatiannya terhadap prajurit sudah tertanam sejak pendidikan PETA di Bogor. 

Ketiga Pak Dirman dengan sukses berhasil menjadikan Banyumas sebagai "Gudang Senjata" bagi TKR dan laskar di Jawa Tengah dan Jawa Barat, TB Simatupang menyatakan dalam Laporan Dari Banaran, Pak Dirman adalah tokoh yang berperan aktif dalam pasokan senjata untuk TKR dan laskar perjuangan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Keempat Pak Dirman dikenal dikalangan alumni Peta dan Heiho sebagai ahli strategi militer, dalam latihan perang Peta Pak Dirman kerap ditunjuk sebagai salah satu Komandan pertempuran oleh jajaran instruktur militer Jepang.


Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo jebolan Akademi Militer Breda, ahli dalam penataan organisasi militer modern dan mahir dalam strategi militer, Pak Oerip adalah arsitek pembentukkan organisasi militer yang solid dan profesional pada masa awal Revolusi Fisik, perkataan, saran, dan nasehatnya kerap menjadi rujukkan para perwira TKR khususnya eks KNIL seperti Alex Kawilarang, TB Simatupang, Nasution, dan Didi Kartasasmita.


Elit politik berpendidikan barat seperti Sahrir dan Amir Sjaripudin dengan terang-terangan menentang alumni Peta dan Heiho berperan di TKR dengan alasan TKR harus bersih dari pengaruh fasisme Jepang, inilah kiranya hubungan antara Jenderal Soedirman dengan Sahrir dan Amir selalu dilanda ketegangan. Para elit politik didikan barat juga memiliki sikap bahwa proses pengangkatan seorang panglima besar harus memenuhi kriteria konsep supremasi sipil, kenyataannya tentara membentuk dirinya sendiri, sebelum pemerintah membentuknya. Itulah mengapa proses pengangkatan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar memakan tenggat waktu sampai satu bulan dari 12 November sampai dengan 18 Desember 1945. Didalam gejolak revolusi, pertentangan antara  elit politik sipil dan militer selalu terjadi dan itu menjadi dinamika sejarah yang selalu menarik.


Daftar Pustaka;

Seri Buku Tempo; Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir

Sekretariat Negara RI; 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Foto; IPPHOS


Cisarua, Bogor, 18 Desember 21.