Minggu, 12 Desember 2021

RAJA YANG SEDERHANA DAN MERAKYAT

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


Teringat Mbah Maridjan yang wafat  pada 2010, Mbah Maridjan wafat karena kukuh pendirian, sebagai juru kunci Gunung Merapi beliau tidak mau meninggalkan lokasi tempat tinggalnya Dusun Kinahrejo yang berjarak sekira 4 Km dari puncak Merapi. "Yang mengangkat saya sebagai juru kunci Merapi adalah   Ngarso dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX, jadi yang berhak memerintahkan saya untuk turun harus Ngarso dalem". "Ngarso dalem sudah wafat Mbah" balas wartawan. "Pokoknya saya tetap disini menunggu perintah Ngarso dalem". Yang menjadi pertanyaan mengapa seorang Mbah Maridjan bersikukuh bertahan  didaerah bahaya Gunung Merapi dan tetap setia kepada perintah rajanya, sekalipun rajanya telah wafat. Jawabannya sederhana masyarakat Jawa mencintai Sri Sultan HB IX. Seorang pemimpin dicintai, dihormati, sekaligus disegani bahkan disanjung bukan karena Keraton Yogyakarta menjadi pusat kekuasaan feodalis, bukan karena kekuasaan dan tahta, pangkat, jabatan, kedudukan. Tetapi karena sosok dan karakter pemimpin yang merakyat, mencintai rakyatnya, melindungi dan berusaha mensejahterakan rakyatnya dalam hal ini Ngarso dalem adalah seorang pemimpin yang "menghancurkan" batas-batas feodalisme antara seorang raja dan rakyatnya.


Kesaksian Dokter Abdul Halim di tahun 1946, ketika kereta dari Yogyakarta yang mengangkut sejumlah pejabat republik terhenti di Stasiun Klender Jakarta karena menunggu keluarnya surat izin masuk dari NICA, cuaca panas segera menyergap para penumpang kereta, Dokter Abdul Halim memutuskan keluar untuk mencari minuman, baru saja meloncat keluar, tiba-tiba terdengar suara Sri Sultan HB IX "Hei dok, mau kemana ?" "Saya mau mencari minuman". Jawab Halim. "Ik ga met u mee", jawab Sri Sultan sambil meloncat di ikuti adiknya Pangeran Bintoro. Halim terkejut pikirnya urusan akan runyam, harus mencari restoran atau rumah makan, karena tidak mungkin seorang raja bersedia nongkrong dengannya sambil minum di pinggir jalan, merasa kikuk Halim berjalan terus , langkahnya terhenti ketika Sri Sultan memanggilnya, "Hai dok kenapa berjalan terus ? Ini kan ada es puter, disini saja kita minum". Jadilah  mereka minum es puter, dengan santainya Ngarso dalem menikmati es puter sambil berdiri ditengah lalu lalang aktivitas manusia di Stasiun Klender. "Pandangan saya terhadap Sri Sultan berubah total, ini sosok raja yang bisa dijadikan sahabat, pikir Dokter Halim. Kesaksian Mayor Pranoto Reksosamudro pada 1950. Pulang dari pelosok pedesaan Yogya, mobil jip Sri Sultan dihentikan seorang perempuan penjual beras dan tanpa basa-basi langsung berujar "Niki karung-karung beras di ungghake". Rupanya perempuan tersebut tidak mengenal Sri Sultan, Sri Sultan langsung mengangkat karung-karung tersebut ke bagian belakang jip, sepanjang perjalanan perempuan pedagang beras duduk disamping Sri Sultan sambil mengobrol dengan akrab. Sampai di tempat tujuan dengan lincah Sri Sultan menurunkan karung-karung tersebut, setelah selesai, sang penjual beras merogoh koceknya dengan ramah dan senyuman Raja Jawa tersebut menolaknya "Pun boten sisah, Mbakyu". "E, eeee.......di wenehi duit kok nampik sumengkean temen ta sopir kuwi," sang penjual beras menggerutu, seiring dengan berlalunya mobil jip, ketika kemudian perempuan penjual beras tahu bahwa supir tersebut adalah Ngarso dalem, yang bersangkutan pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda, ketika mendapatkan laporan bahwa sang penjual beras masuk rumah sakit, Sri Sultan langsung menengoknya. 


Kesaksian Brigadir Polisi Royadin, yang pernah menilang Ngarso dalem. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah" kata Royadin kepada Sri Sultan. Jawaban Sri Sultan sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai Raja Yogyakarta dan orang yang berperan penting dalam sejarah republik. "Ya saya salah. Jadi bagaimana?" tanya Sultan, Sultan melihat wajah Royadin penuh keraguan. "Buatkan saya surat tilang" sambil meminta maaf Royadin berujar "Maaf Sinuwun terpaksa saya tilang,"  "Baik Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal," ujar Sultan. Sesaat setelah peristiwa itu Royadin merasa gelisah dan khawatir, esoknya di Markas Kepolisian Pekalongan ia di tegur komandannya. "Royadin ! Apa yang kamu perbuat ? Apa kamu tidak berpikir? Siapa yang kamu tangkap itu ? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa tidak kamu lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?". "Siap Pak. Beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah," jawab Royadin. Jawaban Royadin memicu lagi kemarahan komandannya, "kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara!" Komandan Kepolisian Pekalongan itu pun berusaha mengembalikan SIM Ngarso dalem. Royadin hanya bisa pasrah. Ia siap menerima hukuman atau dimutasi. Ia tetap merasa benar, sampai kemudian Brigadir Royadin diminta mutasi ke Yogyakarta atas permintaan Sri Sultan, bahkan Sri Sultan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat, Ngarso dalem terkesan dengan ketegasan dan sikap berkeadilan Royadin, Royadin memilih untuk tetap bertugas di Pekalongan. Sri Sultan menghormati  pilihan Royadin. Royadin tetap bertugas di Pekalongan sampai ia wafat pada Juli 2010. Meminjam perkataan dari Prof Yudi Latief, banyak suri tauladan dari para pendiri bangsa,    tetapi kita tidak mau  mempelajarinya, sekedar untuk berliterasi sejarah kita enggan, akibatnya pemimpin yang dihasilkan selalu tidak segan untuk mengkhianati rakyat.



Daftar Bacaan;

Yudi Latief; Mata Air Keteladanan

Historia.id Hendi Johari


Cisarua, 12 Desember 2021