Jumat, 21 Januari 2022

Sunda Yang Universal

  

Oleh : Dewi Ratna KS, M.Pd

Kepala SMPN 10 Cimahi


    Ketika kita mendengar istilah Sunda imajinasi kita akan terarah pada sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Jawa bagian Barat, sehingga daerah ini lebih dikenal pula dengan tanah Pasundaan atau Pasundan. Sebagai Urang Sunda, masyarakat tersebut terikat oleh satu budaya yang berlaku secara turun temurun yang disebut juga dengan Budaya Sunda. Menurut Koentjaraningrat setiap budaya memiliki  tiga wujud yaitu  berupa ide atau gagasan, tata laku dan wujud yang berupa material seperti karya seni, dan bahasa. Begitu pula dengan budaya Sunda, memiliki tiga wujud ini dan ketiganya akan tertuang pada  nilai-nilai budaya itu sendiri

    Nilai – nilai budaya sunda dipelajari, dipahami, dan dipraktekan dalam kehidupan sehari hari oleh komunitas di tatar Pasundan dan menuntun pola serta tata cara hidup orang sunda itu sendiri. Implementasi dari nilai budaya sunda yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya akan membentuk karakter yang khas yaitu karakter yang Nyunda, artinya orang sunda yang berpegang teguh pada adat istiadat lehuhurnya. Hal ini menjadikan orang sunda dikenal dengan watak dan etos Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur singer. Etos dan watak tersebut memiliki arti sebagi berikut :

Cageur, artinya sehat yang dapat dijabarkan  sehat secara lahir batin, sehat dalam berfikir, sehat dalam bertintak dan betutur kata.

Bageur, artinya baik dan tidak memiliki pikiran jelek, baik terhadap sesama, penuh kasih sayang, memiliki etika dan moral, sehingga memiliki rasa tepa salira dan tidak merugikan orang di sekitarnya.

Bener, artinya jujur, taat pada aturan, amanah, memiliki sifat religius

Pinter, artinya cerdas, bertindak dilandasi oleh ilmu, bijaksana dan selalu berkhusnuzon.

Singer, artinya terampil, cekatan dalam bertindak, teliti, terbuka terhadap kritik, mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongan.

Dari etos dan watak Nyunda yang dimiliki dan melekat pada diri seseorang maka orang tersebut layak diberikan sebutan sebagai Ki Sunda, yang selalu bertindak berlandaskan pedoman silih asah, silih asih, dan silih asuh, yang artinya:

Silih asah, saling memberi pencerahan, saling berbagi ilmu dan pengetahuan

Silih Asih, saling sayang menyayangi dan membangun rasa kemanusiaan

Silih asuh, saling menjaga, saling berbagi dan saling melindungi.

Dari kehidupan yang berpedoman pada Silih asah silih asih dan silih asuh ini pada akhirnya akan menciptakan ketenangan dan kedamaian. 

    Dalam Konteks berbangsa dan bernegara khususnya di  Indonesia, pendalaman nilai budaya Sunda melahirkan beberapa filosofi   yang menuntun pada kebaikan hidup dalam meraih ketentraman dan menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, beberapa filosofi ini tertuang dalam paribasa dan babasan diantaranya  :

Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak ( Dari air menjadi seperairan di darat jadi selembah), artinya dalam hidup kita harus menjaga kekompakan dan persatuan

Sing leuleus jeujeur liat talijeung landung kandungan laer aisan, ulah gedebug getas harupateun, artinya hidup itu harus bijaksana, penuh pertimbangan, jangan tergesa gesa mudah emosi.

Kudu teuneung ludeung panceg kana pamadegan dina bener, artinya dalam menjalani hidup ini harus berani dan memegang teguh pendirian yang benar.

Dina hirup kumbuh kudukudu daek mere maweh ka sasama, nulung ka nu butuh, nalang ka nu susah, artinya dalam pergaulan kita harus berbagi pada sesama, menolong pada yang membutuhkan, membantu yang sedang kesusahan

Paribasa ini cocok untuk diterapkan dan dijadikan pedoman dalam memimpin negara dengan kompleksitas yang tinggi seperti Indonesia. 

    Beberapa contoh paribasa sunda di atas sejatinya cocok diterapkan pada kehidupan masyarakat secara nasional bahkan secara global, jadi budaya sunda itu sifatnya universal, walaupun dimiliki oleh komunitas urang sunda tapi pelaksanaannya dapat digunakan oleh siapapun, tidak peduli penggunanya dari suku mana, dan berbahasa apa.

Budaya Sunda termasuk di dalamnya bahasa Sunda,  telah ada sejak berabad abad yang lalu memiliki kontribusi terhadap keragaman dan kekayaan budaya Indonesia, karena tidak akan lahir budaya Nasional tanpa adanya Budaya daerah. 

Melihat fenomena sekarang ini, ternyata masih ada pihak yang merasa terancam dengan keberadaan dan penggunaan bahasa Sunda, padahal kalau dia mendalami filosofi budaya sunda itu sendiri, kita akan memahami betapa luhurnya nilai budaya tersebut dan tidak perlu adanya provokasi untuk adanya sikap anti sunda atau sunda phobia di negeri ini.

Tugas kita sebagai pendidik marilah kita jaga keutuhan negri kita tercinta dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Banyak cara yang dapat kita lakukan diantaranya  melalui penggunaan bahasa daerah agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya


   


   


Kamis, 20 Januari 2022

UJI PENGETAHUAN SOSIAL

oleh: N.Evi Susantika

Umpan balik  dilakukan dengan riang

Jarak penghubung dikala pandemi tak jadi penghalang

Ikhtiar selama pembelajaran tak akan lekang


Proses mengenali cakrawala pendidikan

Etika kebersamaan selalu diprioritaskan

Nampak hubungan indah laksana puspa di taman

Gairah memadupadankan tercipta kenyamanan

Esensi materi terus berputar  teruraikan

Terpadu diantara subbagian pendalaman

Adaptasi disiplin ilmu dan kegiatan yang diberikan

Humaniora kuasai pengetahuan dan keterampilan

Untuk perkembangan generasi penuh tantangan

Antarkan pribadi lebih berkembang dan berwawasan

Niatkan diri hadapi aral lintang tak sampai putus di jalan


Sosialisasi dalam komunitas hadirkan harmonisasi

Objek kajian sosial untuk terintegrasi

Serentak menyambut lewat kolaborasi

Individu nampak riang tanpa halusinasi

Atur keterampilan sosial sarat inovasi

Luangkan hati terjalin romansa yang berdimensi


Akrostik_N.Evi S, Tasikmalaya, 10 Desember 2021

Rabu, 19 Januari 2022

Kelulusan yang Dinanti


 

EXPO SCIPSA 2022 AJANG KREATIVITAS DAN LITERASI SMPN 1 CIPANAS

 


Oleh: Yanuar Iwan


Pameran adalah kegiatan pertunjukkan hasil karya yang berfungsi sebagai media dalam mengkomunikasikan ide atau gagasan penciptanya kepada orang lain. Karya-karya yang biasa ditampilkan dalam pameran adalah karya seni rupa, fotografi dan produk inovasi seperti teknologi komunikasi, teknologi elektronik, teknologi otomotif, dan pendidikan.

Kegiatan Expo Scipsa 10-13 Januari 2022 dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan di SMPN 1 Cipanas, menampilkan produk-produk hasil belajar siswa dan guru selama pandemi Covid-19, kegiatan pameran yang dipusatkan dalam stand-stand tersendiri sesuai mata pelajaran, diharapkan bisa memacu kreativitas siswa dan guru di masa pandemi Covid-19. Karya kreativ dan berpikir dinamis adalah bagian dari adaptasi seluruh komponen sekolah diera Revolusi Industri 4.0 dan bisa menjadi cerminan, masukkan bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran bagi guru dan siswa, dalam kegiatan Expo Scipsa, sekolah menyediakan tempat, waktu, dan semua sarana yang dibutuhkan guru dan siswa untuk mewujudkan ide-ide kreativnya. Di stand IPS siswa dan orang tua/wali bisa berdiskusi dengan siswa-siswa penjaga stand, guru pembimbing, mengenai produk-produk hasil belajar siswa melalui proses unjuk kerja berupa proses dan tahapan aktivitas vulkanologi, Peristiwa Bendera di  Surabaya 19 September 1945. Ada kebahagiaan tersendiri dihati guru pembimbing ketika siswa bisa menjelaskan secara kronologis dan sistematis proses unjuk kerja tersebut, stand IPS juga menyediakan video hasil belajar siswa berupa sosio drama yang bisa didiskusikan secara langsung dan terbuka.

Kegiatan Expo Scipsa 2022 menjadi ajang kreativitas berliterasi, literasi baca tulis diwujudkan melalui proses diskusi, mengemukakan pikiran dan pendapat serta karya tulis siswa dan guru. Literasi digital diwujudkan melalui produk-produk video, literasi finansial diwujudkan  melalui kegiatan bazar kuliner dari produk-produk hasil karya siswa dan guru, literasi kebudayaan dan kewargaan diwujudkan melalui sinergi produk-produk seni kaligrafi Islam, model dan ragam bentuk batik karya siswa dan guru, literasi sains diwujudkan melalui karya ilmiah populer dan produk teknologi sederhana  dari siswa dan guru, literasi numerasi diwujudkan melalui demonstrasi matematika untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kegiatan Expo Scipsa 2022 adalah bagian dari strategi untuk mendukung para siswa menemukan dan menentukan bakat mereka masing-masing, melalui bagian-bagian berbeda dari suatu unit dalam kelompok dan strategi ini akan efektif apabila didukung dengan kemampuan guru pembimbing dalam mengarahkan dan menentukan alur kinerja siswa dalam menghasilkan suatu produk selama satu semester atau dalam satu tahun pelajaran. Kegiatan Expo Scipsa 2022 membuat para siswa terlibat secara langsung dan aktiv dalam proses belajar, sehingga proses belajar bisa lebih bermakna dan bermanfaat dalam jangka panjang. Terimakasih kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Cipanas, seluruh jajaran panitia Expo Scipsa 2022, Dewan Guru, dan seluruh siswa yang terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam kegiatan Expo Scipsa 2022 atas kerjasama dan sinerginya, sampai jumpa tahun depan, dan penulis berharap ada stand buku-buku bermutu dan makin meningkatnya karya-karya siswa dan guru secara kuantitas maupun kualitas.


Cisarua, Bogor, 19 Januari 2022.

Sabtu, 01 Januari 2022

Realisasi Merdeka Belajar : Guru Harus Berdaya dan Memberdayakan

Oleh


Elisya Sovia, S.Pd.,Gr

SMA NEGERI 1 PASIE RAJA


Pendidikan di Indonesia telah mengalami transformasi,hal ini tidak terlepas dari  tuntutan zaman dan reformasi didalam bidang pendidikan itu sendiri. Perubahan yang terjadi didalam pola kehidupan pada masa masa Covid-19  dan kebijakan “ Merdeka Belajar” yang dicanangkan Mas Mentri Nadiem Makarim membawa  paradigma baru dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Menilik Indonesia sedang mengalami krisis karakter dan minim budaya literasi yang mampu meningkatkan nalar siswa sehinggga selain meningkatkan produktifitas siswa, pendidikan di Indonesia juga harus meningkatkan karakteristik dan logika kritis siswa, maka kehadiran “ Merdeka Belajar” sebagai upaya dalam mengembalikan hakekat rasional peserta didik sebagai seorang manusia.

Salah satu agenda nya yaitu Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter dengan menitikberatkan kepada kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter berupaya menghadirkan generasi muda Indonesia yang tidak unggul hanya dalam bidang industri sesuai kebutuhan zaman, namun bergerak pula dibidang karakter sesuai dengan panggilan kemanusiaannya.

Tujuan “ Merdeka Belajar” untuk menciptakan suasana bahagia dalam belajar, baik guru, murid, dan orangtua dapat terwujud jika guru mampu menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan. Guru diharapkan mampu menuntun  kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dan Keberhasilan dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila merupakan bentuk dari pendidikan karakter yang mengarah kepada kepribadian bangsa Indonesia.

Dalam mewujudkan hal tersebut, guru harus berdaya dalam  melakukan perubahan  melalui diri sendiri dengan merubah  pola fikir dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Kehadiran guru sebagai seorang “pamong” mengisyaratkan kemampuan guru dalam memahami anak didiknya sehingga anak didik mampu berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zaman yang dimilikinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa didalam dunia pendidikan seringkali “ tuntutan” lebih sering dilakukan daripada “ tuntunan” sehingga menimbulkan distorsi minat dan bakat yang dimiliki anak, hal ini  berdampak kepada kurangnya motivasi belajar serta tidak terangkulnya keinginan yang dimiliki anak didik yang sejatinya sudah ada dan diperlukan untuk masa depannya.

Untuk menjawab persoalan ini, sudah saatnya guru merubah “Mindset” dalam pendidikan. Memandang  bahwa anak bukan lagi sekedar kertas putih yang harus ditulis sesuai dengan keinginan kita, namun harus “mampu” memandang bahwa anak didik adalah sebuah kertas suram  dan kehadiran guru adalah untuk mempertebal tulisan yang belum jelas. Langkah yang harus dilakukan adalah dengan memberikan ruang kepada anak didik dengan memahami karakteristik yang dimilikinya. Guru pasti mampu melakukan hal tersebut karena sejatinya seseorang yang menjadi guru adalah orang yang mempunyai kelembutan jiwa untuk memahami oranglain. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kesediaan kita untuk bisa memberikan sedikit waktu dalam memahami passion anak didik kita masing-masing.

Disamping itu, perubahan zaman dengan perkembangan industri dan teknologi mempengaruhi  kehidupan. Guru dhadapkan kepada problematika IT yang tidak bisa dipisahkan lagi dengan anak didik dewasa ini. Alih-alih sebagai rintangan, guru harus bisa menjadikan IT sebagai sarana dalam pendidikan . Sudah saatnya guru  berdamai dengan IT, Guru harus berbenah diri dan mengupayakan berinovasi  dengan melakukan pengembangan diri melalui berbagai pelatihan  dan webinar yang marak dilakukan secara online oleh berbagai penyelenggara. Kemampuan guru sebagai pembelajar dibutuhkan dalam menciptakan generasi muda yang tangguh dalam industri sesuai kemajuan zaman dan berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsa. 

Keberadaan  Program Guru Penggerak merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah sebagai komitmennya  menciptakan insan pendidikan yang mampu melakukan perubahan tidak hanya bagi dirinya sendiri, anak didik nya,  tetapi juga kemampuan dalam merangkul  rekan guru lainnya dalam merubah paradigma tentang pendidikan. Guru Penggerak diharapkan  memperdayakan rekan guru di lingkungannya.  Guru Penggerak  yang terdiri dari instansi SD, SMP dan SMA keberadaannya diharapkan sebagai role model dalam  pendidikan sehingga bisa membersamai  rekan  guru mewujudkan generasi muda yang diharapkan. 

Namun, keberadaan guru saja tidak bisa membuat “Merdeka Belajar” terwujud, dbutuhkan kerjasama  semua elemen pendidikan dalam  mendukung, menjalankan dan merealisasikan dan berkomitmen untuk meningkatkan SDM Indonesia. Pemerintah selaku policy maker, guru sebagai subjek pembangunan pendidikan, dan sekolah  sebagai lembaga yang juga pemegang sistem terkecil. Sehingga, pembangunan pendidikan ini tidak hanya bergerak dari atas (Top Down), tapi dari bawah juga bergerilya (Buttom Up) dalam melakukan formulasi baru demi pendidikan Indonesia.