Minggu, 30 Januari 2022

LOMBA PENGIBARAN BENDERA AJANG PEMBENTUKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA

 

Oleh : Atjih Koerniasih

Guru SMP Negeri 1 Cipanas


Jujur saja. Saya tidak menyaksikan acara lomba yang tertera pada judul di atas.Lomba yang diadakan oleh SMP Negeri 1 Cipanas, Sabtu 29 Januari 2022.  Tempat di mana saya mengajar saat ini. 


Tulisan ini begitu saja hadir. Saat setelah  saya menyaksikan parade foto dan juga Video  pasukan lomba pengibar bendera di status WA beberapa rekan guru dan juga beberapa siswa. Satu diantara foto yang saya lihat tersebut ada yang   khusus saya minta. Yaitu,   foto milik rekan sesama guru Dery Supriadi Sekaligus meminta ijin untuk saya pakai capture tulisan saya ini. 


Apa menariknya dari lomba ini. Sehingga saya meluangkan waktu untuk menuliskannya?. Jawabannya adalah  karena kegiatan ini menurut hemat penulis dapat menjadi ajang pembentukan Profil  Pelajar Pancasila sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No 22 Tahun 2020. 


Permendikbud tersebut menyatakan bahwa Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

 https://apps.detik.com/detik/


Ada enam profil pelajar Pancasila yang dimaksud Permendikbud tersebut. (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, (2) Berkebhinekaan Global, (3) Gotong Royong, (4) Mandiri, (5) Bernalar Kritis, (6) Kreatif. 


Berdasarkan enam profil pelajar pancasila tersebut, kegiatan lomba pengibaran  bendera tersebut bisa menjadi salah satu dari sekian banyak kegiatan  sekolah dalam membentuk  para siswanya  agar memiliki karakter yang merujuk kepada profil tersebut. 


Sebagai  contoh saat mereka berlatih untuk menjadi kelas yang terbaik dalam kompetisi tersebut tentunya mereka berusaha keras untuk bergotong royong. Karena kegiatan ini,  tentunya harus dilaksanakan secara bersama. Namun di sisi lainpun, sikap mandiri  merekapun terbentuk. Bagaimana secara mandiri mereka harus mendisiplin diri untuk tekun berlatih, tepat waktu dan menyiapkan segala hal yang harus dipersiapkan. 


Bagaimana dengan profil kreatif munculkah ? Tentu saja mudah kita lihat. Beragam pakaian seragam tampil mengagumkan. Tiap kelas menampilkan ciri seragamnya masing masing.. tentu itu buah dari kreatifitas mereka yang didorong untuk tampil sebaik baiknya. 


Saling asah, saling asuh juga tercipta dalam kegiatan persiapan menuju lomba. Mereka setiap hari mendapat bimbingan latihan dari kakak kelasnya. Adik kelasnya begitu patuh mengikuti petunjuk. Sementara kakak kelasnya dengan sabar dan "telaten" memberikan pelatihan, tanpa hiraukan panasnya matahari. Yang jelas satu tekad kelompok adik bimbingannnya muncul sebagai pengibar bendera terbaik. 


Sebenarnya,  banyak hal yang bisa kita telaah dari kegiatan lomba pengibaran bendera ini dampaknya untuk penguatan profil pelajar Pancasila. Namun rasanya,  dari contoh di atas cukup untuk menunjukan, bahwa kegiatan semacam ini bagus dan perlu untuk selalu diagendakan oleh sekolah. Tepatnya oleh standar kelulusan sebagai program tahunannya.


 Walaupun memang lomba pengibaran bendera bukan satu satunya kegiatan yang dapat membentuk profil pelajar pancasila. Masih banyak lainnnya. Seperti pameran, kegiatan ekstrakulikuler dan lainnnya..Atau dalam kegiatan pembelajaran pelajaran di kelas ada berdiskusi, ada pekerjaan kelompok,  ada kegiatan lainnnya. Dan sebagainnya..


Sabtu, 29 Januari 2022

Mengenal Kurikulum Prototipe

Oleh:

Sulistyowati 

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang 


“It Is Not The Strongest Who Survive, But Those Who Are Most Adaptive To Change”


Secara bahasa, kurikulum diambil dari bahasa latin yaitu “curere” yang artinya tempat berpacu. Jadi, bisa dikatakan bahwa kurikulum merupakan tempat atau lajur yang diikuti untuk mencapai tujuan. Selain itu, dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional pasal 1 butir 19 juga membahas mengenai kurikulum, yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi dan bahan pelajaran. Kurikulum juga dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan tertentu.

Peran dan fungsi kurikulum dalam dunia pendidikan cukup penting. Di mana kurikulum berfungsi sebagai sarana untuk mengukur kemampuan peserta didik dan pedoman dalam mengelola sistem pendidikan untuk memberikan patokan yang jelas guna mencapai tujuan tepat sasaran dan tepat waktu. Melalui kurikulum, siswa dan guru jadi mengetahui apa yang harus dipelajari di setiap satuan tingkatan pembelajaran, sehingga membuat kegiatan jadi lebih terarah dan terukur. Jika tidak ada kurikulum maka guru jadi kesulitan memberikan materi yang tepat untuk siswa. Di samping itu, kurikulum juga memiliki fungsi sebagai standar atau penyetaraan dalam pendidikan dengan tujuan akhir yaitu pemerataan. Diharapkan kurikulum bisa menjadi alat untuk memeratakan pendidikan, membimbing serta mendidik siswa menjadi pribadi yang berpengetahuan tinggi, inovatif, kreatif, dan siap memasuki kehidupan sosial. 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menerapkan kurikulum paradigma baru yang menjadi penyempurna dari K-13. Pasalnya, kurikulum paradigma baru ini juga sudah diuji coba atau dilakukan di seluruh sekolah penggerak yang ada di Indonesia. Hal ini sesuai dengan SK Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukukuan Nomor 028/H/KU/2021 dan 029/H/KU/2021 tentang penerapan Capaian Pembelajaran pada Sekolah Penggerak SD, SMP, SMA, dan SMK.

 

Apa itu Kurikulum Prototipe? 

Kurikulum Prototipe akan mulai diterapkan pada tahun 2022. Kurikulum ini diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk dapat melakukan pemulihan pembelajaran dari tahun 2022- 2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada tahun 2024 berdasarkan hasil evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran. Kurikulum prototipe ini mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberikan ruang yang lebih luas untuk pengembangan karakter dan kompetensi dasar kepada siswa. Kurikulum Paradigma Baru ini akan diberlakukan secara terbatas dan bertahap melalui program sekolah penggerak dan pada akhirnya akan diterapkan pada setiap satuan pendidikan yang ada di Indonesia. Sebelum diterapkan pada setiap satuan pendidikan, mari kita mengenal 7 (tujuh) hal baru yang ada dalam Kurikulum Paradigma Baru


7 Paradigma Baru di Kurikulum Prototipe


Pertama, 

Struktur Kurikulum, Profil Pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, atau Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Asesmen Pembelajaran. Secara umum Struktur Kurikulum Paradigma Baru terdiri dari kegiatan intrakurikuler berupa pembelajaran tatap muka bersama guru dan kegiatan proyek. Selain itu, setiap sekolah juga diberikan keleluasaan untuk mengembangkan program kerja tambahan yang dapat mengembangkan kompetensi peserta didiknya dan program tersebut dapat disesuaikan dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia di sekolah tersebut.


Kedua, 

Hal yang menarik dari Kurikulum Paradigma Baru yaitu jika pada KTSP 2013 kita mengenal istilah KI dan KD yaitu kompetensi yang harus dicapai oleh siswa setelah melalui proses pembelajaran, maka pada Kurikulum Paradigma Baru kita akan berkenalan dengan istilah baru yaitu Capaian Pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh.

Oleh karena itu, setiap asesmen pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru haruslah mengacu pada capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.


Ketiga, 

Pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan tematik yang selama ini hanya dilakukan pada jenjang SD saja, pada kurikulum baru diperbolehkan untuk dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya. Dengan demikian pada jenjang SD kelas IV, V, dan VI tidak harus menggunakan pendekatan tematik dalam pembelajaran, atau dengan kata lain sekolah dapat menyelenggarakan pembelajaran berbasis mata pelajaran.


Keempat,

Jika dilihat dari jumlah jam pelajaran, Kurikulum Paradigma Baru tidak menetapkan jumlah jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku pada KTSP 2013, akan tetapi jumlah jam pelajaran pada Kurikulum Paradigma Baru ditetapkan pertahun. Sehingga setiap sekolah memiliki kemudahan untuk mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Suatu mata pelajaran bisa saja tidak diajarkan pada semester ganjil namun akan diajarkan pada semester genap atau dapat juga sebaliknya, misalnya mata pelajaran IPA di kelas VIII hanya diajarkan pada semester ganjil saja.  Sepanjang jam pelajaran pertahunnya terpenuhi maka tidak menjadi persoalan dan dapat dibenarkan


Kelima, 

Sekolah juga diberikan keleluasaan untuk menerapakan model pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran serta membuat asesmen lintas mata pelajaran, misalnya berupa asesmen sumatif dalam bentuk proyek atau penilaian berbasis proyek. Pada Kurikulum Paradigma Baru siswa SD paling sedikit dapat melakukan dua kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Sedangkan siswa SMP, SMA/SMK setidaknya dapat melaksanakan tiga kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Hal ini bertujuan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Keenam,

Untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pada KTSP 2013 dihilangkan maka pada Kurikulum Paradigma Baru mata pelajaran ini akan dikembalikan dengan nama baru, yaitu Informatika dan akan diajarkan mulai dari jenjang SMP. Bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya/guru Informatika maka tidak perlu khawatir untuk menerapkan mata pelajaran ini karena mata pelajaran ini tidak harus diajarkan oleh guru yang berlatar belakang TIK/Informatika, namun dapat diajarkan oleh guru umum. Hal ini disebabkan karena pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mempersiapkan buku pembelajaran Informatika yang sangat mudah digunakan dan dipahami oleh pendidik dan peserta didik


Ketujuh, 

Untuk mata pelajaran IPA dan IPS pada jenjang Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan VI yang selama ini berdiri sendiri, dalam Kurikulum Paradigma Baru kedua mata pelajaran ini akan diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS). Hal ini bertujuan agar peserta didik lebih siap dalam mengikuti pembelajaran IPA dan IPS yang terpisah pada jenjang SMP. Sedangkan pada jenjang SMA peminatan atau penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan kembali dilaksanakan pada kelas XI dan XII.

Dalam implementasi Kurikulum Paradigma Baru ini Kemendikbud Dikti memberikan sejumlah dukungan kepada pihak sekolah.  Kemendikbud Dikti menyediakan Buku Guru, modul ajar, ragam asesmen formatif, dan contoh pengembangan kurikulum satuan pendidikan untuk membantu dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Modul lebih dianjurkan disiapkan oleh guru mata pelajaran masing-masing. Akan tetapi kalau pada tahap awal guru belum cukup mampu untuk menyusun modul pembelajaran, maka dapat menggunakan modul yang telah disusun oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.

Agaknya terlalu banyak yang masih perlu dipahami secara mendalam tentang Kurikulum Paradigma Baru ini sebelum diterapkan secara holistik pada seluruh satuan pendidikan. Berita baiknya kurikulum ini belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat pada seluruh satuan pendidikan. Sehingga masih tersedia cukup waktu untuk warga sekolah khususnya kepala sekolah dan guru sebelum benar-benar mengimplementasikannya nanti.


Kurikulum Prototipe, Solusi Memulihkan Pembelajaran

Kebijakan Kemendikbudristek saat ini memberikan tiga opsi pilihan kepada satuan pendidikan dalam melaksanakan kurikulum. Sekolah diberi keleluasaan dalam menentukannya. Tiga opsi tersebut adalah Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat dan Kurikulum Prototipe seperti gambar di bawah ini:

Kurikulum Prototipe merupakan kelanjutan arah pengembangan kurikulum sebelumnya yaitu berorientasi holistic, berbasis kompetensi dan kontekstulisasi dan personalisasi. Saat ini kurikulum prototipe menjadi salah satu opsi yang dapat dipilih oleh sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi covid-19 telah mengakibatkan terjadinya learning loss pada peserta didik, dengan kata lain telah terjadi kemunduran pada proses akademik peserta didik. Kurikulum prototipe bisa menjadi salah satu opsi yang dapat membantu pemulihan pembelajaran (learning loss) akibat tidak optimalnya pembelajaran jarak jauh. 


Beberapa karakteristik utama kurikulum prototipe yang dapat mendukung pemulihan pembelajaran diantaranya adalah:


1. Fokus pada pengembangan karakter

Pada struktur kurikulum prototipe, 20-30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek, dimana melalui pemberian projek kepada siswa maka akan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning) sehingga pembelajaran berbasis projek ini dapat membantu guru dalam mengembnagkan karakter dan soft skills siswa.


  1. Fokus pada materi esensial

Kurikulum prototipe berfokus pada materi esensial di tiap mata pelajaran untuk memberi ruang/waktu bagi pengembangan kompetensi mendasar seperti literasi dan numerasi secara lebih mendalam.


3.  Fleksibilitas perencanaan kurikulum sekolah dan penyusunan rencana pembelajaran

Kurikulum prototipe menetapkan tujuan belajar per fase (2-3 tahun) untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan sekolah. Kurikulum ini menetapkan jam pelajaran per tahun agar sekolah dapat berinovasi dalam Menyusun kurikulum dan pembelajarannya. Kurikulum prototipe juga memberikan keleluasaan bagi guru dalam melakukan pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa serta penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

 

Adapun karakteristik Kurikulum Prototipe untuk masing-masing jenjang adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang PAUD

  • Kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama

  • Penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain belajar berbasis buku bacaan anak

  • Fase pondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari besar dan perayaan tradisi lokal

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SD

  • Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistic

  • Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)

  • Intergrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, matematika, dan IPAS

  • Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2x dalam satu tahun ajaran 

3.   Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SMP

  • Penyesuaian dengan perkembangan teknologi digital, mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib

  • Panduan untuk guru Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata pelajaran tidak harus berlatar belakang pendidikan informatika

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3x dalam satu tahun ajaran

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SMA

  • Program peminatan/penjurusan tidak diberlakukan

  • Di kelas 10 pelajar menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipelajari serupa dengan di SMP

  • Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan vokasi sesuai minat, bakat dan aspirasinya

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3x dalam satu tahun ajaran, dan pelajar menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan.

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SMK

  • Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan pembelajaran

  • Struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelaajran yaitu Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70%

  • Penerapan pembelajaran berbasis projek dengan mengintegrasikan mata pelajaran terkait

  • Praktek Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib selama 6 bulan (1 semester)

  • Pelajar dapat memilih mata pelajaran di luar program keahliannya

  • Alokasi waktu khusus projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja untuk peningkatan soft skill (karakter dari duni kerja)

  1. Karakteristik Kurikulum prototipe Jenjang SLB

  • Capain pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelekstual

  • Untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah regular yang sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum

  • Sama dengan pelajar di sekolah regular, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis projek untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan sekolah regular, dengan kedalaman materi dan aktivitas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pelajar di SLB.

Itulah beberapa informasi mengenai Kurikulum Prototipe, yang pasti satuan pendidikan dapat menentukan menggunakan kurikulum yang paling tepat sesuai dengan kesiapannya. Semoga saja informasi yang singkat tentang Kurikulum Paradigma Baru ini dapat menjadi pemantik bagi pelaku pendidikan di satuan pendidikan untuk mempelajari lebih mendalam.  Tempat belajar secara langsung tentang Implementasi Kurikulum Paradigma Baru ini tentunya pada sekolah penggerak yang telah terlebih dahulu menerapkannya pada tahun ajaran 2020/2021. Mari bersama mencapai pendidikan lebih baik untuk anak bangsa. 

Tergelitik membaca tulisan di salah satu medsos “Apapun kurikulumnya yang penting gurunya berjiwa Pendidik, tidak sekedar mengajar”. Begitu mendalam makna tulisan ini dan merupakan kaidah dasar yang harus dikuasai dan diimplementasikan oleh para guru sebelum mentransfer ilmu untuk mengembangkan logika kognisi peserta didiknya. Saat ini mulai minim guru sebagai pendidik, mari kita tunjukkan bahwa kita masih tetap seorang guru pendidik sejati. Bukan guru bayar maupun guru nyasar tapi guru sadar. 

Untuk para pemangku pendidikan perlu diketahui “Sehebat apapun kurikulum kalau gurunya tidak profesional, jangan harap implementasi kurikulum berjalan baik”. Mengapa??? Pengalaman penulis sebagai Instruktur Kurikulum 2013, sebagai Narasumber Nasional IPS, dan tentunya sebagai guru yang sudah mengalami berbagai pergantian kurikulum pastinya paham betul bagaimana implementasi kurikulum di lapangan. Gurulah ujung tombak kesuksesan pelaksanaan Implementasi Kurikulum. Ini harus disadari betul, jangan sampai Rencana yang spektakuler ternyata implementasi dan hasilnya jauh panggang dari api. Namun kita tetap optimis bahwa semua sahabat guru akan terus berperan aktif dalam pelaksanaan implementasi kurikulum baru. Semoga semua membawa perubahan besar terhadap kemajuan dan kemandirian pendidikan di Indonesia. Terpenting Cita-cita besar mewujudkan generasi Emas Indonesia terwujud. Seraya terus berusaha mari terus Memohon kepada Sang Pemilik Kesuksesan Allah azza wajalla, agar semua yang kita usahakan bersama sukses & barokah Dunia Akherat, Aamiin YRA. 

 

 

 

                                      DAFTAR PUSTAKA 


https://www.kemdikbud.go.id/main/lang=id

https://www.sman1tualang.sch.id/tag/kurikulum-prototipe

https://apple.co/3hXWJ0L

https://www.kompasiana.com/tag

Supangat. 2021. Mengenal Kurikulum Prototipe Bagi Sekolah & Guru. Depok: School Principal Academy 



Jumat, 21 Januari 2022

Sunda Yang Universal

  

Oleh : Dewi Ratna KS, M.Pd

Kepala SMPN 10 Cimahi


    Ketika kita mendengar istilah Sunda imajinasi kita akan terarah pada sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Jawa bagian Barat, sehingga daerah ini lebih dikenal pula dengan tanah Pasundaan atau Pasundan. Sebagai Urang Sunda, masyarakat tersebut terikat oleh satu budaya yang berlaku secara turun temurun yang disebut juga dengan Budaya Sunda. Menurut Koentjaraningrat setiap budaya memiliki  tiga wujud yaitu  berupa ide atau gagasan, tata laku dan wujud yang berupa material seperti karya seni, dan bahasa. Begitu pula dengan budaya Sunda, memiliki tiga wujud ini dan ketiganya akan tertuang pada  nilai-nilai budaya itu sendiri

    Nilai – nilai budaya sunda dipelajari, dipahami, dan dipraktekan dalam kehidupan sehari hari oleh komunitas di tatar Pasundan dan menuntun pola serta tata cara hidup orang sunda itu sendiri. Implementasi dari nilai budaya sunda yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya akan membentuk karakter yang khas yaitu karakter yang Nyunda, artinya orang sunda yang berpegang teguh pada adat istiadat lehuhurnya. Hal ini menjadikan orang sunda dikenal dengan watak dan etos Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur singer. Etos dan watak tersebut memiliki arti sebagi berikut :

Cageur, artinya sehat yang dapat dijabarkan  sehat secara lahir batin, sehat dalam berfikir, sehat dalam bertintak dan betutur kata.

Bageur, artinya baik dan tidak memiliki pikiran jelek, baik terhadap sesama, penuh kasih sayang, memiliki etika dan moral, sehingga memiliki rasa tepa salira dan tidak merugikan orang di sekitarnya.

Bener, artinya jujur, taat pada aturan, amanah, memiliki sifat religius

Pinter, artinya cerdas, bertindak dilandasi oleh ilmu, bijaksana dan selalu berkhusnuzon.

Singer, artinya terampil, cekatan dalam bertindak, teliti, terbuka terhadap kritik, mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongan.

Dari etos dan watak Nyunda yang dimiliki dan melekat pada diri seseorang maka orang tersebut layak diberikan sebutan sebagai Ki Sunda, yang selalu bertindak berlandaskan pedoman silih asah, silih asih, dan silih asuh, yang artinya:

Silih asah, saling memberi pencerahan, saling berbagi ilmu dan pengetahuan

Silih Asih, saling sayang menyayangi dan membangun rasa kemanusiaan

Silih asuh, saling menjaga, saling berbagi dan saling melindungi.

Dari kehidupan yang berpedoman pada Silih asah silih asih dan silih asuh ini pada akhirnya akan menciptakan ketenangan dan kedamaian. 

    Dalam Konteks berbangsa dan bernegara khususnya di  Indonesia, pendalaman nilai budaya Sunda melahirkan beberapa filosofi   yang menuntun pada kebaikan hidup dalam meraih ketentraman dan menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, beberapa filosofi ini tertuang dalam paribasa dan babasan diantaranya  :

Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak ( Dari air menjadi seperairan di darat jadi selembah), artinya dalam hidup kita harus menjaga kekompakan dan persatuan

Sing leuleus jeujeur liat talijeung landung kandungan laer aisan, ulah gedebug getas harupateun, artinya hidup itu harus bijaksana, penuh pertimbangan, jangan tergesa gesa mudah emosi.

Kudu teuneung ludeung panceg kana pamadegan dina bener, artinya dalam menjalani hidup ini harus berani dan memegang teguh pendirian yang benar.

Dina hirup kumbuh kudukudu daek mere maweh ka sasama, nulung ka nu butuh, nalang ka nu susah, artinya dalam pergaulan kita harus berbagi pada sesama, menolong pada yang membutuhkan, membantu yang sedang kesusahan

Paribasa ini cocok untuk diterapkan dan dijadikan pedoman dalam memimpin negara dengan kompleksitas yang tinggi seperti Indonesia. 

    Beberapa contoh paribasa sunda di atas sejatinya cocok diterapkan pada kehidupan masyarakat secara nasional bahkan secara global, jadi budaya sunda itu sifatnya universal, walaupun dimiliki oleh komunitas urang sunda tapi pelaksanaannya dapat digunakan oleh siapapun, tidak peduli penggunanya dari suku mana, dan berbahasa apa.

Budaya Sunda termasuk di dalamnya bahasa Sunda,  telah ada sejak berabad abad yang lalu memiliki kontribusi terhadap keragaman dan kekayaan budaya Indonesia, karena tidak akan lahir budaya Nasional tanpa adanya Budaya daerah. 

Melihat fenomena sekarang ini, ternyata masih ada pihak yang merasa terancam dengan keberadaan dan penggunaan bahasa Sunda, padahal kalau dia mendalami filosofi budaya sunda itu sendiri, kita akan memahami betapa luhurnya nilai budaya tersebut dan tidak perlu adanya provokasi untuk adanya sikap anti sunda atau sunda phobia di negeri ini.

Tugas kita sebagai pendidik marilah kita jaga keutuhan negri kita tercinta dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Banyak cara yang dapat kita lakukan diantaranya  melalui penggunaan bahasa daerah agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya


   


   


Kamis, 20 Januari 2022

UJI PENGETAHUAN SOSIAL

oleh: N.Evi Susantika

Umpan balik  dilakukan dengan riang

Jarak penghubung dikala pandemi tak jadi penghalang

Ikhtiar selama pembelajaran tak akan lekang


Proses mengenali cakrawala pendidikan

Etika kebersamaan selalu diprioritaskan

Nampak hubungan indah laksana puspa di taman

Gairah memadupadankan tercipta kenyamanan

Esensi materi terus berputar  teruraikan

Terpadu diantara subbagian pendalaman

Adaptasi disiplin ilmu dan kegiatan yang diberikan

Humaniora kuasai pengetahuan dan keterampilan

Untuk perkembangan generasi penuh tantangan

Antarkan pribadi lebih berkembang dan berwawasan

Niatkan diri hadapi aral lintang tak sampai putus di jalan


Sosialisasi dalam komunitas hadirkan harmonisasi

Objek kajian sosial untuk terintegrasi

Serentak menyambut lewat kolaborasi

Individu nampak riang tanpa halusinasi

Atur keterampilan sosial sarat inovasi

Luangkan hati terjalin romansa yang berdimensi


Akrostik_N.Evi S, Tasikmalaya, 10 Desember 2021

Rabu, 19 Januari 2022

Kelulusan yang Dinanti


 

EXPO SCIPSA 2022 AJANG KREATIVITAS DAN LITERASI SMPN 1 CIPANAS

 


Oleh: Yanuar Iwan


Pameran adalah kegiatan pertunjukkan hasil karya yang berfungsi sebagai media dalam mengkomunikasikan ide atau gagasan penciptanya kepada orang lain. Karya-karya yang biasa ditampilkan dalam pameran adalah karya seni rupa, fotografi dan produk inovasi seperti teknologi komunikasi, teknologi elektronik, teknologi otomotif, dan pendidikan.

Kegiatan Expo Scipsa 10-13 Januari 2022 dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan di SMPN 1 Cipanas, menampilkan produk-produk hasil belajar siswa dan guru selama pandemi Covid-19, kegiatan pameran yang dipusatkan dalam stand-stand tersendiri sesuai mata pelajaran, diharapkan bisa memacu kreativitas siswa dan guru di masa pandemi Covid-19. Karya kreativ dan berpikir dinamis adalah bagian dari adaptasi seluruh komponen sekolah diera Revolusi Industri 4.0 dan bisa menjadi cerminan, masukkan bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran bagi guru dan siswa, dalam kegiatan Expo Scipsa, sekolah menyediakan tempat, waktu, dan semua sarana yang dibutuhkan guru dan siswa untuk mewujudkan ide-ide kreativnya. Di stand IPS siswa dan orang tua/wali bisa berdiskusi dengan siswa-siswa penjaga stand, guru pembimbing, mengenai produk-produk hasil belajar siswa melalui proses unjuk kerja berupa proses dan tahapan aktivitas vulkanologi, Peristiwa Bendera di  Surabaya 19 September 1945. Ada kebahagiaan tersendiri dihati guru pembimbing ketika siswa bisa menjelaskan secara kronologis dan sistematis proses unjuk kerja tersebut, stand IPS juga menyediakan video hasil belajar siswa berupa sosio drama yang bisa didiskusikan secara langsung dan terbuka.

Kegiatan Expo Scipsa 2022 menjadi ajang kreativitas berliterasi, literasi baca tulis diwujudkan melalui proses diskusi, mengemukakan pikiran dan pendapat serta karya tulis siswa dan guru. Literasi digital diwujudkan melalui produk-produk video, literasi finansial diwujudkan  melalui kegiatan bazar kuliner dari produk-produk hasil karya siswa dan guru, literasi kebudayaan dan kewargaan diwujudkan melalui sinergi produk-produk seni kaligrafi Islam, model dan ragam bentuk batik karya siswa dan guru, literasi sains diwujudkan melalui karya ilmiah populer dan produk teknologi sederhana  dari siswa dan guru, literasi numerasi diwujudkan melalui demonstrasi matematika untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kegiatan Expo Scipsa 2022 adalah bagian dari strategi untuk mendukung para siswa menemukan dan menentukan bakat mereka masing-masing, melalui bagian-bagian berbeda dari suatu unit dalam kelompok dan strategi ini akan efektif apabila didukung dengan kemampuan guru pembimbing dalam mengarahkan dan menentukan alur kinerja siswa dalam menghasilkan suatu produk selama satu semester atau dalam satu tahun pelajaran. Kegiatan Expo Scipsa 2022 membuat para siswa terlibat secara langsung dan aktiv dalam proses belajar, sehingga proses belajar bisa lebih bermakna dan bermanfaat dalam jangka panjang. Terimakasih kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Cipanas, seluruh jajaran panitia Expo Scipsa 2022, Dewan Guru, dan seluruh siswa yang terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam kegiatan Expo Scipsa 2022 atas kerjasama dan sinerginya, sampai jumpa tahun depan, dan penulis berharap ada stand buku-buku bermutu dan makin meningkatnya karya-karya siswa dan guru secara kuantitas maupun kualitas.


Cisarua, Bogor, 19 Januari 2022.

Sabtu, 01 Januari 2022

Realisasi Merdeka Belajar : Guru Harus Berdaya dan Memberdayakan

Oleh


Elisya Sovia, S.Pd.,Gr

SMA NEGERI 1 PASIE RAJA


Pendidikan di Indonesia telah mengalami transformasi,hal ini tidak terlepas dari  tuntutan zaman dan reformasi didalam bidang pendidikan itu sendiri. Perubahan yang terjadi didalam pola kehidupan pada masa masa Covid-19  dan kebijakan “ Merdeka Belajar” yang dicanangkan Mas Mentri Nadiem Makarim membawa  paradigma baru dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Menilik Indonesia sedang mengalami krisis karakter dan minim budaya literasi yang mampu meningkatkan nalar siswa sehinggga selain meningkatkan produktifitas siswa, pendidikan di Indonesia juga harus meningkatkan karakteristik dan logika kritis siswa, maka kehadiran “ Merdeka Belajar” sebagai upaya dalam mengembalikan hakekat rasional peserta didik sebagai seorang manusia.

Salah satu agenda nya yaitu Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter dengan menitikberatkan kepada kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter berupaya menghadirkan generasi muda Indonesia yang tidak unggul hanya dalam bidang industri sesuai kebutuhan zaman, namun bergerak pula dibidang karakter sesuai dengan panggilan kemanusiaannya.

Tujuan “ Merdeka Belajar” untuk menciptakan suasana bahagia dalam belajar, baik guru, murid, dan orangtua dapat terwujud jika guru mampu menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan. Guru diharapkan mampu menuntun  kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dan Keberhasilan dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila merupakan bentuk dari pendidikan karakter yang mengarah kepada kepribadian bangsa Indonesia.

Dalam mewujudkan hal tersebut, guru harus berdaya dalam  melakukan perubahan  melalui diri sendiri dengan merubah  pola fikir dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Kehadiran guru sebagai seorang “pamong” mengisyaratkan kemampuan guru dalam memahami anak didiknya sehingga anak didik mampu berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zaman yang dimilikinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa didalam dunia pendidikan seringkali “ tuntutan” lebih sering dilakukan daripada “ tuntunan” sehingga menimbulkan distorsi minat dan bakat yang dimiliki anak, hal ini  berdampak kepada kurangnya motivasi belajar serta tidak terangkulnya keinginan yang dimiliki anak didik yang sejatinya sudah ada dan diperlukan untuk masa depannya.

Untuk menjawab persoalan ini, sudah saatnya guru merubah “Mindset” dalam pendidikan. Memandang  bahwa anak bukan lagi sekedar kertas putih yang harus ditulis sesuai dengan keinginan kita, namun harus “mampu” memandang bahwa anak didik adalah sebuah kertas suram  dan kehadiran guru adalah untuk mempertebal tulisan yang belum jelas. Langkah yang harus dilakukan adalah dengan memberikan ruang kepada anak didik dengan memahami karakteristik yang dimilikinya. Guru pasti mampu melakukan hal tersebut karena sejatinya seseorang yang menjadi guru adalah orang yang mempunyai kelembutan jiwa untuk memahami oranglain. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kesediaan kita untuk bisa memberikan sedikit waktu dalam memahami passion anak didik kita masing-masing.

Disamping itu, perubahan zaman dengan perkembangan industri dan teknologi mempengaruhi  kehidupan. Guru dhadapkan kepada problematika IT yang tidak bisa dipisahkan lagi dengan anak didik dewasa ini. Alih-alih sebagai rintangan, guru harus bisa menjadikan IT sebagai sarana dalam pendidikan . Sudah saatnya guru  berdamai dengan IT, Guru harus berbenah diri dan mengupayakan berinovasi  dengan melakukan pengembangan diri melalui berbagai pelatihan  dan webinar yang marak dilakukan secara online oleh berbagai penyelenggara. Kemampuan guru sebagai pembelajar dibutuhkan dalam menciptakan generasi muda yang tangguh dalam industri sesuai kemajuan zaman dan berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsa. 

Keberadaan  Program Guru Penggerak merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah sebagai komitmennya  menciptakan insan pendidikan yang mampu melakukan perubahan tidak hanya bagi dirinya sendiri, anak didik nya,  tetapi juga kemampuan dalam merangkul  rekan guru lainnya dalam merubah paradigma tentang pendidikan. Guru Penggerak diharapkan  memperdayakan rekan guru di lingkungannya.  Guru Penggerak  yang terdiri dari instansi SD, SMP dan SMA keberadaannya diharapkan sebagai role model dalam  pendidikan sehingga bisa membersamai  rekan  guru mewujudkan generasi muda yang diharapkan. 

Namun, keberadaan guru saja tidak bisa membuat “Merdeka Belajar” terwujud, dbutuhkan kerjasama  semua elemen pendidikan dalam  mendukung, menjalankan dan merealisasikan dan berkomitmen untuk meningkatkan SDM Indonesia. Pemerintah selaku policy maker, guru sebagai subjek pembangunan pendidikan, dan sekolah  sebagai lembaga yang juga pemegang sistem terkecil. Sehingga, pembangunan pendidikan ini tidak hanya bergerak dari atas (Top Down), tapi dari bawah juga bergerilya (Buttom Up) dalam melakukan formulasi baru demi pendidikan Indonesia.