Sabtu, 29 Januari 2022

Mengenal Kurikulum Prototipe

Oleh:

Sulistyowati 

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang 


“It Is Not The Strongest Who Survive, But Those Who Are Most Adaptive To Change”


Secara bahasa, kurikulum diambil dari bahasa latin yaitu “curere” yang artinya tempat berpacu. Jadi, bisa dikatakan bahwa kurikulum merupakan tempat atau lajur yang diikuti untuk mencapai tujuan. Selain itu, dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional pasal 1 butir 19 juga membahas mengenai kurikulum, yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi dan bahan pelajaran. Kurikulum juga dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan tertentu.

Peran dan fungsi kurikulum dalam dunia pendidikan cukup penting. Di mana kurikulum berfungsi sebagai sarana untuk mengukur kemampuan peserta didik dan pedoman dalam mengelola sistem pendidikan untuk memberikan patokan yang jelas guna mencapai tujuan tepat sasaran dan tepat waktu. Melalui kurikulum, siswa dan guru jadi mengetahui apa yang harus dipelajari di setiap satuan tingkatan pembelajaran, sehingga membuat kegiatan jadi lebih terarah dan terukur. Jika tidak ada kurikulum maka guru jadi kesulitan memberikan materi yang tepat untuk siswa. Di samping itu, kurikulum juga memiliki fungsi sebagai standar atau penyetaraan dalam pendidikan dengan tujuan akhir yaitu pemerataan. Diharapkan kurikulum bisa menjadi alat untuk memeratakan pendidikan, membimbing serta mendidik siswa menjadi pribadi yang berpengetahuan tinggi, inovatif, kreatif, dan siap memasuki kehidupan sosial. 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menerapkan kurikulum paradigma baru yang menjadi penyempurna dari K-13. Pasalnya, kurikulum paradigma baru ini juga sudah diuji coba atau dilakukan di seluruh sekolah penggerak yang ada di Indonesia. Hal ini sesuai dengan SK Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukukuan Nomor 028/H/KU/2021 dan 029/H/KU/2021 tentang penerapan Capaian Pembelajaran pada Sekolah Penggerak SD, SMP, SMA, dan SMK.

 

Apa itu Kurikulum Prototipe? 

Kurikulum Prototipe akan mulai diterapkan pada tahun 2022. Kurikulum ini diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk dapat melakukan pemulihan pembelajaran dari tahun 2022- 2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada tahun 2024 berdasarkan hasil evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran. Kurikulum prototipe ini mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberikan ruang yang lebih luas untuk pengembangan karakter dan kompetensi dasar kepada siswa. Kurikulum Paradigma Baru ini akan diberlakukan secara terbatas dan bertahap melalui program sekolah penggerak dan pada akhirnya akan diterapkan pada setiap satuan pendidikan yang ada di Indonesia. Sebelum diterapkan pada setiap satuan pendidikan, mari kita mengenal 7 (tujuh) hal baru yang ada dalam Kurikulum Paradigma Baru


7 Paradigma Baru di Kurikulum Prototipe


Pertama, 

Struktur Kurikulum, Profil Pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, atau Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Asesmen Pembelajaran. Secara umum Struktur Kurikulum Paradigma Baru terdiri dari kegiatan intrakurikuler berupa pembelajaran tatap muka bersama guru dan kegiatan proyek. Selain itu, setiap sekolah juga diberikan keleluasaan untuk mengembangkan program kerja tambahan yang dapat mengembangkan kompetensi peserta didiknya dan program tersebut dapat disesuaikan dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia di sekolah tersebut.


Kedua, 

Hal yang menarik dari Kurikulum Paradigma Baru yaitu jika pada KTSP 2013 kita mengenal istilah KI dan KD yaitu kompetensi yang harus dicapai oleh siswa setelah melalui proses pembelajaran, maka pada Kurikulum Paradigma Baru kita akan berkenalan dengan istilah baru yaitu Capaian Pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh.

Oleh karena itu, setiap asesmen pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru haruslah mengacu pada capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.


Ketiga, 

Pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan tematik yang selama ini hanya dilakukan pada jenjang SD saja, pada kurikulum baru diperbolehkan untuk dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya. Dengan demikian pada jenjang SD kelas IV, V, dan VI tidak harus menggunakan pendekatan tematik dalam pembelajaran, atau dengan kata lain sekolah dapat menyelenggarakan pembelajaran berbasis mata pelajaran.


Keempat,

Jika dilihat dari jumlah jam pelajaran, Kurikulum Paradigma Baru tidak menetapkan jumlah jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku pada KTSP 2013, akan tetapi jumlah jam pelajaran pada Kurikulum Paradigma Baru ditetapkan pertahun. Sehingga setiap sekolah memiliki kemudahan untuk mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Suatu mata pelajaran bisa saja tidak diajarkan pada semester ganjil namun akan diajarkan pada semester genap atau dapat juga sebaliknya, misalnya mata pelajaran IPA di kelas VIII hanya diajarkan pada semester ganjil saja.  Sepanjang jam pelajaran pertahunnya terpenuhi maka tidak menjadi persoalan dan dapat dibenarkan


Kelima, 

Sekolah juga diberikan keleluasaan untuk menerapakan model pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran serta membuat asesmen lintas mata pelajaran, misalnya berupa asesmen sumatif dalam bentuk proyek atau penilaian berbasis proyek. Pada Kurikulum Paradigma Baru siswa SD paling sedikit dapat melakukan dua kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Sedangkan siswa SMP, SMA/SMK setidaknya dapat melaksanakan tiga kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Hal ini bertujuan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Keenam,

Untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pada KTSP 2013 dihilangkan maka pada Kurikulum Paradigma Baru mata pelajaran ini akan dikembalikan dengan nama baru, yaitu Informatika dan akan diajarkan mulai dari jenjang SMP. Bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya/guru Informatika maka tidak perlu khawatir untuk menerapkan mata pelajaran ini karena mata pelajaran ini tidak harus diajarkan oleh guru yang berlatar belakang TIK/Informatika, namun dapat diajarkan oleh guru umum. Hal ini disebabkan karena pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mempersiapkan buku pembelajaran Informatika yang sangat mudah digunakan dan dipahami oleh pendidik dan peserta didik


Ketujuh, 

Untuk mata pelajaran IPA dan IPS pada jenjang Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan VI yang selama ini berdiri sendiri, dalam Kurikulum Paradigma Baru kedua mata pelajaran ini akan diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS). Hal ini bertujuan agar peserta didik lebih siap dalam mengikuti pembelajaran IPA dan IPS yang terpisah pada jenjang SMP. Sedangkan pada jenjang SMA peminatan atau penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan kembali dilaksanakan pada kelas XI dan XII.

Dalam implementasi Kurikulum Paradigma Baru ini Kemendikbud Dikti memberikan sejumlah dukungan kepada pihak sekolah.  Kemendikbud Dikti menyediakan Buku Guru, modul ajar, ragam asesmen formatif, dan contoh pengembangan kurikulum satuan pendidikan untuk membantu dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Modul lebih dianjurkan disiapkan oleh guru mata pelajaran masing-masing. Akan tetapi kalau pada tahap awal guru belum cukup mampu untuk menyusun modul pembelajaran, maka dapat menggunakan modul yang telah disusun oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.

Agaknya terlalu banyak yang masih perlu dipahami secara mendalam tentang Kurikulum Paradigma Baru ini sebelum diterapkan secara holistik pada seluruh satuan pendidikan. Berita baiknya kurikulum ini belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat pada seluruh satuan pendidikan. Sehingga masih tersedia cukup waktu untuk warga sekolah khususnya kepala sekolah dan guru sebelum benar-benar mengimplementasikannya nanti.


Kurikulum Prototipe, Solusi Memulihkan Pembelajaran

Kebijakan Kemendikbudristek saat ini memberikan tiga opsi pilihan kepada satuan pendidikan dalam melaksanakan kurikulum. Sekolah diberi keleluasaan dalam menentukannya. Tiga opsi tersebut adalah Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat dan Kurikulum Prototipe seperti gambar di bawah ini:

Kurikulum Prototipe merupakan kelanjutan arah pengembangan kurikulum sebelumnya yaitu berorientasi holistic, berbasis kompetensi dan kontekstulisasi dan personalisasi. Saat ini kurikulum prototipe menjadi salah satu opsi yang dapat dipilih oleh sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi covid-19 telah mengakibatkan terjadinya learning loss pada peserta didik, dengan kata lain telah terjadi kemunduran pada proses akademik peserta didik. Kurikulum prototipe bisa menjadi salah satu opsi yang dapat membantu pemulihan pembelajaran (learning loss) akibat tidak optimalnya pembelajaran jarak jauh. 


Beberapa karakteristik utama kurikulum prototipe yang dapat mendukung pemulihan pembelajaran diantaranya adalah:


1. Fokus pada pengembangan karakter

Pada struktur kurikulum prototipe, 20-30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek, dimana melalui pemberian projek kepada siswa maka akan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning) sehingga pembelajaran berbasis projek ini dapat membantu guru dalam mengembnagkan karakter dan soft skills siswa.


  1. Fokus pada materi esensial

Kurikulum prototipe berfokus pada materi esensial di tiap mata pelajaran untuk memberi ruang/waktu bagi pengembangan kompetensi mendasar seperti literasi dan numerasi secara lebih mendalam.


3.  Fleksibilitas perencanaan kurikulum sekolah dan penyusunan rencana pembelajaran

Kurikulum prototipe menetapkan tujuan belajar per fase (2-3 tahun) untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan sekolah. Kurikulum ini menetapkan jam pelajaran per tahun agar sekolah dapat berinovasi dalam Menyusun kurikulum dan pembelajarannya. Kurikulum prototipe juga memberikan keleluasaan bagi guru dalam melakukan pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa serta penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

 

Adapun karakteristik Kurikulum Prototipe untuk masing-masing jenjang adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang PAUD

  • Kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama

  • Penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain belajar berbasis buku bacaan anak

  • Fase pondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari besar dan perayaan tradisi lokal

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SD

  • Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistic

  • Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)

  • Intergrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, matematika, dan IPAS

  • Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2x dalam satu tahun ajaran 

3.   Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SMP

  • Penyesuaian dengan perkembangan teknologi digital, mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib

  • Panduan untuk guru Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata pelajaran tidak harus berlatar belakang pendidikan informatika

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3x dalam satu tahun ajaran

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SMA

  • Program peminatan/penjurusan tidak diberlakukan

  • Di kelas 10 pelajar menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipelajari serupa dengan di SMP

  • Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan vokasi sesuai minat, bakat dan aspirasinya

  • Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3x dalam satu tahun ajaran, dan pelajar menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan.

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe Jenjang SMK

  • Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan pembelajaran

  • Struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelaajran yaitu Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70%

  • Penerapan pembelajaran berbasis projek dengan mengintegrasikan mata pelajaran terkait

  • Praktek Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib selama 6 bulan (1 semester)

  • Pelajar dapat memilih mata pelajaran di luar program keahliannya

  • Alokasi waktu khusus projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja untuk peningkatan soft skill (karakter dari duni kerja)

  1. Karakteristik Kurikulum prototipe Jenjang SLB

  • Capain pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelekstual

  • Untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah regular yang sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum

  • Sama dengan pelajar di sekolah regular, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis projek untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan sekolah regular, dengan kedalaman materi dan aktivitas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pelajar di SLB.

Itulah beberapa informasi mengenai Kurikulum Prototipe, yang pasti satuan pendidikan dapat menentukan menggunakan kurikulum yang paling tepat sesuai dengan kesiapannya. Semoga saja informasi yang singkat tentang Kurikulum Paradigma Baru ini dapat menjadi pemantik bagi pelaku pendidikan di satuan pendidikan untuk mempelajari lebih mendalam.  Tempat belajar secara langsung tentang Implementasi Kurikulum Paradigma Baru ini tentunya pada sekolah penggerak yang telah terlebih dahulu menerapkannya pada tahun ajaran 2020/2021. Mari bersama mencapai pendidikan lebih baik untuk anak bangsa. 

Tergelitik membaca tulisan di salah satu medsos “Apapun kurikulumnya yang penting gurunya berjiwa Pendidik, tidak sekedar mengajar”. Begitu mendalam makna tulisan ini dan merupakan kaidah dasar yang harus dikuasai dan diimplementasikan oleh para guru sebelum mentransfer ilmu untuk mengembangkan logika kognisi peserta didiknya. Saat ini mulai minim guru sebagai pendidik, mari kita tunjukkan bahwa kita masih tetap seorang guru pendidik sejati. Bukan guru bayar maupun guru nyasar tapi guru sadar. 

Untuk para pemangku pendidikan perlu diketahui “Sehebat apapun kurikulum kalau gurunya tidak profesional, jangan harap implementasi kurikulum berjalan baik”. Mengapa??? Pengalaman penulis sebagai Instruktur Kurikulum 2013, sebagai Narasumber Nasional IPS, dan tentunya sebagai guru yang sudah mengalami berbagai pergantian kurikulum pastinya paham betul bagaimana implementasi kurikulum di lapangan. Gurulah ujung tombak kesuksesan pelaksanaan Implementasi Kurikulum. Ini harus disadari betul, jangan sampai Rencana yang spektakuler ternyata implementasi dan hasilnya jauh panggang dari api. Namun kita tetap optimis bahwa semua sahabat guru akan terus berperan aktif dalam pelaksanaan implementasi kurikulum baru. Semoga semua membawa perubahan besar terhadap kemajuan dan kemandirian pendidikan di Indonesia. Terpenting Cita-cita besar mewujudkan generasi Emas Indonesia terwujud. Seraya terus berusaha mari terus Memohon kepada Sang Pemilik Kesuksesan Allah azza wajalla, agar semua yang kita usahakan bersama sukses & barokah Dunia Akherat, Aamiin YRA. 

 

 

 

                                      DAFTAR PUSTAKA 


https://www.kemdikbud.go.id/main/lang=id

https://www.sman1tualang.sch.id/tag/kurikulum-prototipe

https://apple.co/3hXWJ0L

https://www.kompasiana.com/tag

Supangat. 2021. Mengenal Kurikulum Prototipe Bagi Sekolah & Guru. Depok: School Principal Academy