Sabtu, 01 Januari 2022

Realisasi Merdeka Belajar : Guru Harus Berdaya dan Memberdayakan

Oleh


Elisya Sovia, S.Pd.,Gr

SMA NEGERI 1 PASIE RAJA


Pendidikan di Indonesia telah mengalami transformasi,hal ini tidak terlepas dari  tuntutan zaman dan reformasi didalam bidang pendidikan itu sendiri. Perubahan yang terjadi didalam pola kehidupan pada masa masa Covid-19  dan kebijakan “ Merdeka Belajar” yang dicanangkan Mas Mentri Nadiem Makarim membawa  paradigma baru dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Menilik Indonesia sedang mengalami krisis karakter dan minim budaya literasi yang mampu meningkatkan nalar siswa sehinggga selain meningkatkan produktifitas siswa, pendidikan di Indonesia juga harus meningkatkan karakteristik dan logika kritis siswa, maka kehadiran “ Merdeka Belajar” sebagai upaya dalam mengembalikan hakekat rasional peserta didik sebagai seorang manusia.

Salah satu agenda nya yaitu Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter dengan menitikberatkan kepada kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter berupaya menghadirkan generasi muda Indonesia yang tidak unggul hanya dalam bidang industri sesuai kebutuhan zaman, namun bergerak pula dibidang karakter sesuai dengan panggilan kemanusiaannya.

Tujuan “ Merdeka Belajar” untuk menciptakan suasana bahagia dalam belajar, baik guru, murid, dan orangtua dapat terwujud jika guru mampu menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan. Guru diharapkan mampu menuntun  kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dan Keberhasilan dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila merupakan bentuk dari pendidikan karakter yang mengarah kepada kepribadian bangsa Indonesia.

Dalam mewujudkan hal tersebut, guru harus berdaya dalam  melakukan perubahan  melalui diri sendiri dengan merubah  pola fikir dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Kehadiran guru sebagai seorang “pamong” mengisyaratkan kemampuan guru dalam memahami anak didiknya sehingga anak didik mampu berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zaman yang dimilikinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa didalam dunia pendidikan seringkali “ tuntutan” lebih sering dilakukan daripada “ tuntunan” sehingga menimbulkan distorsi minat dan bakat yang dimiliki anak, hal ini  berdampak kepada kurangnya motivasi belajar serta tidak terangkulnya keinginan yang dimiliki anak didik yang sejatinya sudah ada dan diperlukan untuk masa depannya.

Untuk menjawab persoalan ini, sudah saatnya guru merubah “Mindset” dalam pendidikan. Memandang  bahwa anak bukan lagi sekedar kertas putih yang harus ditulis sesuai dengan keinginan kita, namun harus “mampu” memandang bahwa anak didik adalah sebuah kertas suram  dan kehadiran guru adalah untuk mempertebal tulisan yang belum jelas. Langkah yang harus dilakukan adalah dengan memberikan ruang kepada anak didik dengan memahami karakteristik yang dimilikinya. Guru pasti mampu melakukan hal tersebut karena sejatinya seseorang yang menjadi guru adalah orang yang mempunyai kelembutan jiwa untuk memahami oranglain. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kesediaan kita untuk bisa memberikan sedikit waktu dalam memahami passion anak didik kita masing-masing.

Disamping itu, perubahan zaman dengan perkembangan industri dan teknologi mempengaruhi  kehidupan. Guru dhadapkan kepada problematika IT yang tidak bisa dipisahkan lagi dengan anak didik dewasa ini. Alih-alih sebagai rintangan, guru harus bisa menjadikan IT sebagai sarana dalam pendidikan . Sudah saatnya guru  berdamai dengan IT, Guru harus berbenah diri dan mengupayakan berinovasi  dengan melakukan pengembangan diri melalui berbagai pelatihan  dan webinar yang marak dilakukan secara online oleh berbagai penyelenggara. Kemampuan guru sebagai pembelajar dibutuhkan dalam menciptakan generasi muda yang tangguh dalam industri sesuai kemajuan zaman dan berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsa. 

Keberadaan  Program Guru Penggerak merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah sebagai komitmennya  menciptakan insan pendidikan yang mampu melakukan perubahan tidak hanya bagi dirinya sendiri, anak didik nya,  tetapi juga kemampuan dalam merangkul  rekan guru lainnya dalam merubah paradigma tentang pendidikan. Guru Penggerak diharapkan  memperdayakan rekan guru di lingkungannya.  Guru Penggerak  yang terdiri dari instansi SD, SMP dan SMA keberadaannya diharapkan sebagai role model dalam  pendidikan sehingga bisa membersamai  rekan  guru mewujudkan generasi muda yang diharapkan. 

Namun, keberadaan guru saja tidak bisa membuat “Merdeka Belajar” terwujud, dbutuhkan kerjasama  semua elemen pendidikan dalam  mendukung, menjalankan dan merealisasikan dan berkomitmen untuk meningkatkan SDM Indonesia. Pemerintah selaku policy maker, guru sebagai subjek pembangunan pendidikan, dan sekolah  sebagai lembaga yang juga pemegang sistem terkecil. Sehingga, pembangunan pendidikan ini tidak hanya bergerak dari atas (Top Down), tapi dari bawah juga bergerilya (Buttom Up) dalam melakukan formulasi baru demi pendidikan Indonesia.