Selasa, 08 Februari 2022

KRISIS UKRAINA MENJADI PEMICU PERANG DUNIA III ?

Oleh: Yanuar Iwan

SMP NEGERI I CIPANAS CIANJUR


Krisis Rusia-Ukraina semakin memanas ketika Rusia mengerahkan ratusan ribu prajuritnya di daerah perbatasan dengan Ukraina, pada Maret-April 2021. Sejak 2014 hubungan bilateral Rusia-Ukraina tidak lagi harmonis , Rusia menginvasi Krimea (Wilayah Ukraina) dengan alasan perlindungan  terhadap etnis Rusia  yang tinggal di Krimea dan menjaga kepentingan keamanan dan stabilitas Rusia di daerah tersebut. Rusia aktif membantu gerakan separatis di Donbass wilayah yang sebagian besar penduduknya pro Rusia, konflik bersenjata militer Ukraina dengan milisi separatis pro Rusia telah menewaskan puluhan ribu rakyat sipil termasuk ditembak jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH 17 yang terbang dari Amsterdam, di wilayah kaum separatis 298 penumpang dan awak pesawat tewas. Sejak peristiwa di tahun 2014 Rusia banyak mendapatkan sanksi ekonomi dari negara-negara barat, puncaknya Rusia dikeluarkan dari kelompok negara G8 (Kelompok negara-negara industri maju) kini bernama G7.


Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky  menginginkan negaranya menjadi anggota NATO (Fakta Pertahanan Atlantic Utara) pimpinan Amerika Serikat. Sejak 2014 AS telah mengucurkan bantuan pertahanan militer untuk Ukraina totalnya mencapai US$ 2,7 M. Presiden AS Joe Biden menegaskan "Saya menyampaikan dengan sangat jelas kepada Presiden Putin, jika dia menyerang Ukraina perekonomiannya akan hancur." Amerika Serikat sudah mengerahkan 8500 prajurit dengan tambahan 1700 prajurit lintas udara dari Divisi Airborne ke 82 pada Sabtu 5 Februari 2022 bagian dari rencana Biden untuk  memperkuat NATO, mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Inggris sekutu abadi AS melalui PM Boris Johnsons menegaskan "Saya telah memerintahkan Angkatan Bersenjata Inggris untuk bersiap di tempatkan di seluruh Eropa minggu depan, memastikan kami dapat mendukung NATO di darat, di laut dan di udara.

Perancis dan Jerman lebih memilih pendekatan diplomasi, Presiden Macron menegaskan prioritasnya adalah berdialog dengan Rusia untuk meredakan ketegangan. Kanselir Jerman Olaf Scholz dijadwalkan melakukan kunjungan ke Moskow dan Kyiv. Ditengah kegagalan perundingan Rusia-AS, Rusia mengajukan proposal jaminan keamanan, beberapa isi jaminan keamanan tersebut adalah :

1. Tidak menerima Ukraina sebagai anggota Nato

2. Tidak ada lagi ekspansi pengaruh NATO ke Eropa Timur

3. Menarik unit tempur NATO di Baltik

4. Tidak ada penempatan Rudal di Rumania dan Polandia. AS dan NATO menolak proposal tersebut dan otomatis perundingan mengalami kegagalan. Yang menarik dari Rusia adalah sikap dingin Presiden Putin ada dua alasan Putin bersikap dingin, yang pertama dia menyadari bahwa terjadinya perang atau tidak ada pada keputusannya, yang kedua faktor politik dukungan China terhadap Rusia dalam krisis Ukraina, yang sangat dinantikan adalah peranan diplomasi Turki, Presiden Erdogan bisa berperan besar dalam usaha mencegah Perang Dunia III, Turki adalah anggota NATO yang relativ bisa diterima oleh Rusia dan Ukraina karena dua negara ini banyak menerima investasi Turki khususnya pada pembangunan infrastruktur. Bagi Indonesia sendiri jika perang terjadi adalah meningkatnya harga  minyak dunia yang akan memicu krisis energi, peningkatan harga minyak dunia dapat menimbulkan defisit triliunan rupiah kepada Indonesia, dampak positifnya adalah peperangan akan meningkatkan eksport batu bara Indonesia, karena perang berdampak kepada terhentinya pasokan gas Rusia ke Eropa, khususnya  Eropa Barat dan masyarakat Eropa tentunya akan mencari sumber energi alternatif seperti batu bara. Kita berharap Perang Dunia III tidak terjadi karena perkembangan persenjataan sudah semakin canggih, termasuk ribuan hulu ledak nuklir yang dimiliki Rusia dan NATO ini berarti yang menang akan menjadi arang dan yang kalah akan menjadi abu.


Sumber Berita; 

IDN TIMES

Tempo.Co.id

Pikiran Rakyat.Com.

Sindo. News

CNBC.Com.


Cisarua Bogor, 8 Februari 2022.