Sabtu, 30 April 2022

RAPOR PENDIDIKAN INDONESIA, HARAPAN DAN TANTANGAN

 

Oleh :

Suriani, SPd  

Pengawas Sekolah Kab.Tanah Bumbu


    Tanggal 1 April 2022 yang secara nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Reset dan Teknologi meluncurkan Rapor Pendidikan Publik 2022. Rapor ini adalah hasil telaah hasil Asesmen Nasional tahun lalu yang dilaksanakan  mulai bulan September-Oktober 2021. Asesmen Nasional merupakan sistem evaluasi nasional pendidikan pengganti UN (Ujian Nasional). Asesmen Nasional  mengukur tiga bagian penting  yakni : mengukur Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), mengukur Karakter dan Survey Lingkungan Belajar. Tiga hal  inilah yang disebut perbedaan pengukuran yang biasa dilaksanakan pada sistem UN. Hasil kajian biasanya menjadi benchmark (tolak ukur) pencapaian kognitif, afektif dan spikomotorik anak bangsa selama menempuh pendidikan dijenjang tertentu. 

    Apa yang berbeda? Setelah selesai UN para ahli mengolah hasil pencapaian dan ukuran pencapaian pendidikan  benchmark tertentu. Misalnya kemampuan matematika dan sain siswa dibandingkan  dengan statistik yang diolah oleh TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study).Bencmark PISA digunakan untuk mengukur kemampuan literasi. Programme for International Student Assessment (PISA) adalah yang mensurvei dan memberikan peringkat untuk kualitas pendidikan seluruh negara di dunia. TIMMS dan PISA mensurvei dengan mengambil sampel para siswa dari umur 15 tahun keatas dan mengukur kinerja para siswa pada tiga bagian utama yaitu matematika, sains. Prinsip pengukuran mutu pendidikan benchmark TIMSS dan PISA adalah dengan membandingkan mutu/capaian  mata pelajaran matematika dan sain negara kita dibandingkan dengan pencapaian negara lain yang terbaik.  Bertahun-tahun negara kita berupaya memperbaiki kesenjangan antara benchmark TIMSS dengan capaian siswa kita, tetapi upaya perbaikan mutu tidak pernah mencapai  hasil yang diharapkan. Guru sebagai ujung tombak mutu pendidikan bingung dan setengah frustrasi dari mana mulai membenahi agar bisa mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan. Apakah dari segi muatan kurikulum, proses pembelajaran atau sistem penilaian yang kurang tepat. Asesmen Nasional yang diselengaggarakan pertama kali tahun lalu, tidak lagi menggunakan tolak ukur TIMSS dan PISA, tetapi lebih  menekankan capaian belajar dengan ukuran yang lebih adil tanpa membandingkan dengan capaian negara lain.

    Ada dua kompenen terpenting yang diukur oleh Asesmen Nasional, yakni aspek output dan aspek proses. Aspek output merupakan ukuran pencapaian  hasil akhir. Aspek output  diukur dengan beberapa pemetaan, yakni pemetaan capaian hasil belajar berdasarkan wilayah urban-rural dan pemetaan hasil belajar siswa berdasarkan kelompok sosial ekonomi. Pada aspek proses dipetakan dalam dua pemetaan yakni, kualitas proses pembelajaran peserta didik dan iklim satuan pendidikan. Jadi yang diukur adalah benar-benar situasi dalam satuan pendidikan di mana peserta didik belajar. Ini lebih adil bukan jika dibanding mengukur keberhasilan pendidikan dengan benchmark TIMSS? 

    Bagaimana hasil Asesmen Nasional di Indonesia untuk tingkat SMP/sederajat? Penulis mencermati hasil asesemen dari jenjang SMP/sederajat. Menarik dan unik menurut hemat saya. Menurut pendapat saya aspek output berbanding lurus dengan aspek proses, dan menarik untuk dicermati. Ada warna hijau, kuning dan merah yang mewarnai redaksi Rapor Pendidikan Publik. Ketiga warna tersbut mudah ditafsirkan, hijau berarti situasi/hasil yang diharapkan, kuning berarti situasi yang patut diperhatikan dan diantisipasi serta merah menandakan masih lemahnya  pencapaian mutu pendidikan sekaligus tantangan besar untuk praktisi pendidikan agar bekerja lebih optimal lagi.

Terdapat : 1.779.270 Siswa SMP/sederajat  di Indonesia  terdiri dari 55.263  satuan pendidikan dan jumlah guru SMP/sederajat  803.239 Jika dihitung berdasarkan ratio guru-siswa terdapat perbandingan 1: 2,2 , di mana satu guru membina 2,2  siswa rata-rata nasional. Hal ini dapat diinterprestasikan bahwa rasio guru dengan siswa sudah sangat ideal. Uniknya, capaian hasil belajar kemampuan literasi dan numerasi masih berwarna kuning. Artinya sangat penting diperhatikan dan diperbaiki, cukup mengelitik hasilnya kurang  50%  dari 1.779.270siswa belum mencapai ambang minimum. Namun terdapat beberapa hal yang cukup menggembirakan antara lain pada subaspek capaian hasil belajar indeks karakter, anasirnya siswa sudah terbiasa menerapkan nilai-nilai karakter pelajar pancasila yang berakhlak mulia, bergotong-royong, mandiri, kreatif dan bernalar kritis sera berkebinekaan global dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga dengan subaspek pemerataan hasil belajar siswa dilihat dari wilayah urban-rural dan kelompok sosial ekonomi  Baik literasi, numerasi dan karakter tidak ada perbedaan dalam katergori warna hijau. 

Pada aspek proses terdiri subaspek kualitas proses pembelajaran siswa rapor terdapat dominan warna kuning dan merah. Inilah  yang saya sebutkan di atas bahwa output berbanding lurus dengan proses. Khalayak perlu dipahamkan bahwa asesmen nasional AKM tidak hanya mengukur siswa sebagai responden tetapi juga melibatkan guru dan kepala sekolah. Proses pembelajaran dipimpin oleh guru. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan membangun pembelajaran yang berpusat pada siswa belum terbangun dengan baik.  Wajar jika indeks refleksi guru berwarna merah. Indeks refleksi guru menggambarkan hasil bahwa upaya pembelajaran sekadar melepaskan kewajiban, tidak menampakan upaya rekleksi dari setiap pembelajaran untuk mencapai yang lebih baik atau memperbaiki kekurangan untuk PBM  berikutnya.   Demikian pula dengan subaspek kepemimpinan instruksional, terdapat warna merah. Hal ini menggambarkan bahwa kepimpinan isntruksional belum berpadu dengan visi dan misi sekolah. Tidak terdapat sinergi antara pimpinan dan guru untuk bersama-sama menjalankan  misi dan visi pendidikan sebagai roh penggerak pendidikan di satuan pendidikan. Banyak ditemukan guru tidak tahu bagaimana mengimplementasikan visi dan misi dalam PBM. 

    Untuk jenjang SMP/sederajat di Kalsel terdapat 33.000 jumlah siswa, guru sebanyak 13.763, ratio guru-siswa terdapat 1 guru membina 2,4 siswa, angka ratio yang ideal. Terdapat kesamaan pencapaiam dalam rapor pendidikan. Hal yang paling mendapat perhatian adalah capaian warna merah pada subaspek indeks refleksi guru dan kemepimpinan instruksional. Rupanya terdapat kesamaan modus di mana proses pembelajaran sesuai tuntutan abad 21 belum memenuhi harapan. Hal ini terjadi pula pada satuan pendidikan SMA/sederajat di Kalsel terdapat 19.461 siswa dan gurunya sebanyak 10.778, maka ratio guru-siswa sebesar 1 guru hanya membina 1,8 siswa, sangat ideal. Tetapi uniknya indeks refleksi guru dan kepimpinan instruksional masih merah, sma dengan apa yang terjadiproses pembelajaran pada jenjang SD/sederajat dan SMP/sederajat.

    Selama 77 tahun republik ini berdiri, baru tahun ini kita bisa menyaksikan bagaimana hasil kinerja pendidikan publik yang mengukur secara menyuluh tidak melulu pencapaian aspek pengetahuan siswa. AKM dipandang sebuah evalusi pendidikan nasonal yang paling akomodatif karena benar-benar memperhatikan faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan, terutama mengukur karakter siswa. Disamping mengukur kemampuan literasi, numerasi dan karakter juga mengukur dan memetakan  proses pembelajaran serta lingkungan belajar siswa.

Salah satu aspek penting dalam pencapain prestasi akademik siswa adalah guru. Guru sebagai aktor utama dalam PBM. Ibarat masakan guru adalah juru masak, tentunya juru masak adalah unsur terpenting dari keberhasilan membuat resep masakan, apakah sesuai dengan  harapan yang diinginkan oleh pelanggannya. Jadi AKM yang telah diterapkan sudah sangat ideal  karena kedua unsur pendidikan guru dan siswa sama-sama diukur. Berbeda dengan UN yang hanya mengukur siswa sebagai satu-satunya objek. Dari hasil AKM dapat disimpulkan bahwa guru masih banyak disorientasi dalan proses PBM, pembelajaran berpusat pada siswa belaum benar-benar terlaksana dengan kualitas yang diinginkan sesuai standar proses. 

 Penulis sebagai pengawas pendidikan berkesimpulan bahwa pentingnya guru membangun kembali situasi pembelajaran dengan meningkatkan pelayanan kepada siswa dengan cara berpusat pada siswa, RPP yang disusun harus pula memuat karakter siswa yang pancasilais searah dengan pembangunan karakter manusia Indonesia abad 21.  RPP yang menguatkan pembentukan karakter dan tidak hanya sekadar formalitas di atas kertas belaka. Semoga tahun depan Rapor Pendidikan Publik Indonesia lebih baik lagi.




Tanah Bumbu, 30 April 2022



Bahan Bacaan


  1. Rapor Pendidikan Publik 2022 Jenjang SD/Sederajat , 1 April 2022

  2. Rapor Pendidikan Publik 2022 Jendang SMP/Sederajat, 1April 2022

  3. Rapor Pendidikan Publik 2022 Jendang SMA/Sederajat, 1April 2022

  4. Peraturan Menteri  Pendidikan dan  Kebudayaan Republik Indonesia Nomr 22.Tahun 2016 tentang Satndar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

  5. Peraturan Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan  Pendidikan Formal.





Biodata Penulis


Nama                : Suriani, SPd

NIP                : 19681225 200604 1017

Tempat/Tanggal lahir        : Kandangan/25 Desember 1968

Pangkat/Ruang Golongan    : Pengawaas Ahli Muda/III.d

Unit Kerja            : Dinas Pendidikan Kab. Tanah Bumbu

Alamat Rumah            : Jl Kupang RT 07 Desa Sarigadung Kec. Simpang Empat Kab.

                      Tanah Bumbu Kalsel 72221.

No HP/WA/Telegram        : 0853 1029 0379

Email                : suriani44@yahoo.co.id





Jumat, 22 April 2022

Menguak Metode Belajar orang Yahudi

   


       


OLEH

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


Success Is Not A Myth, But Struggle, Prayer And Full of Tears


Bangsa Yahudi adalah kaum minoritas, namun dapat menguasai hampir segala bidang dalam kehidupan.  Hanya dengan populasi sekitar 14 juta orang, kaum yahudi mampu menjadi bagian dari penguasa modernisasi dunia. Tidak dapat kita pungkiri banyak penemuan spektakuler dalam bidang teknologi, politik, sosial, ekonomi, kedokteran, dan bidang keilmuan lain dihasilkan golongan orang-orang yahudi. Tanpa bermaksud menaifkan salah satu agama maupun golongan, memang kenyatannya orang-orang yahudi-lah yang menguasai dunia.  Kita tentu pernah mendengar nama Albert Einstein ahli fisika, George Soros, Mark Zuckerberg penemu dan pendiri Facebook, Larry Page pencipta Google, Bill Gates penemu Microsoft serta dinobatkan manusia terkaya di planet bumi saat ini, bahkan 35% peraih nobel adalah orang-orang yahudi.  Sungguh sangat mengagumkan kecerdasan orang-orang yahudi, banyak bangsa di dunia yang berguru kepada bangsa yahudi dalam hal keberhasilan, kecerdasan, dan ketekunan. 

Pertanyaan kita kenapa orang-orang yahudi memiliki kecerdasan melebihi kita? Tentu jawabannya bukan semata-mata takdir. Sebab Alloh SWT memberikan kelebihan dan potensi yang sama pada manusia.  Alloh senantiasa memberikan tarbiah, bimbingan dan merahmati kepada semua hambaNya, secara adil tanpa pandang bulu. Usaha manusialah yang bisa membedakan nasib, kecerdasan, dan kemampuan antara satu dengan yang lain. Kalau kita ingin sukses tentu harus selalu membuka diri untuk selalu belajar dan berguru kepada siapapun tidak terkecuali kepada seluruh ciptaan Alloh di muka bumi dan jagat raya ini. 

Rahasia dari kecerdasan orang-orang yahudi yang membuat mereka mampu menguasai media, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, hiburan dan sebagainya, pastinya ada metode dan strategi jitu yang spektakuler. Salah satunya adalah metode dalam belajar. Metode belajar yang dimiliki orang-orang yahudi sebenarnya sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang-orang Indonesia khususnya sahabat kami para guru/pendidik. Tapi, pada umumnya bangsa lain “acuh” terhadap metode belajar orang yahudi ini, sehingga mereka tertinggal dari Yahudi dengan produk-produk kecerdasannya seperti Google, Nokia, Facebook, senjata nuklir dan masih banyak lagi. 

Metode ini bukan hanya sekedar metode dalam belajar, tapi sudah menjadi tradisi mereka. Metode tersebut adalah: 

  1. Bersandar pada keyakinan, artinya mereka selalu yakin pada yang mereka miliki 

  2. Menulis segala pelajaran yang diperoleh memakai tinta hitam. Falsafah orang yahudi, ilmu adalah pancing sedangkan tulisan adalah ikatannya. 

  3. Belajar dengan seorang bevrutab (pasangan belajar) dengan suara keras dan bernada 

  4. Belajar saat berjalan atau bergerak sambil bolak-balik dengan hati penuh bahagia.

  5. Belajar di tempat yang penuh inspiratif, yang disesuaikan dengan kondisi jiwa. 

  6. Menghindari segala gangguan yang dapat merusak konsentrasi belajar.

  7. Menggunakan teknik konsentrasi, yaitu doa, iringan musik, dan minum sebelum belajar agar badan terasa segar. 

  8. Memulai belajar dengan membaca sesuatu yang ringan dan menarik ke hal yang sulit.

  9. Belajar saat badan terasa fit, pikiran sedang segar, tidak mengantuk dan lelah.

  10. Merangkum gagasan dan konsep dengan menggunakan kata-kata kunci yang akan memicu daya ingat setelahnya. 

  11. Mengatur materi secara logika, dalam kelompok-kelompok, secara kronologis 

  12. Menggunakan akronim, simbol-simbol yang kontras dan simbol yang parallel 

  13. Selalu mengulangi apa yang mereka pelajari dan selalu berlatih kembali, kecuali badan dan pikiran mereka sudah terasa letih. 

Pelajaran yang dapat dipetik adalah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apapun bentuk ambisi, keinginan, cita-cita dan angan-angan, bila diperjuangkan dengan metode-metode ilmiah sebagaimana dilakukan orang-orang yahudi – maka hal itu pasti dapat diraih.  

Banyak strategi dan metode yang dilakukan orang-orang yang Yahudi dalam menggapai kesuksesan, kecuali dalam metode dalam belajar, mereka juga  berusaha untuk menentramkan kondisi kejiwaan setiap belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah bahkan sudah dimulai sejak dalam kandungan. Karena kondisi kejiwaan manusia mempengaruhi kekuatan otak dan juga mempengaruhi hasil belajar seseorang. Dalam setiap kali belajar  atau berkompetensi, orang-orang Yahudi jarang sekali kehilangan percaya diri dan terbukti dalam sejarah hingga saat ini, orang-orang Yahudi selalu percaya diri bila menghadapi masalah. 

        Dampak positif dari rasa percaya diri ini, membuat mereka selalu bersikap dan tampil profesional dalam segala hal, seperti dalam bekerja, belajar, berkarya maupun bersosialisasi dengan masyarakat. Mereka paham betul faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya kepercayaan diri mereka, sehingga sebisa mungkin selalu menangkal faktor-faktor tersebut. Para orang tua di kalangan Yahudi selalu men-support dan mendukung keinginan positif anak, baik dukungan materi maupun moril, dan selalu memberi pujian serta sanjungan kepada anak-anak mereka terhadap apa yang telah mereka perbuat, khususnya mengenai kreatifitas anak. 

        Dari berbagai tradisi yang selalu dilakukan orang-orang Yahudi, mereka memiliki lima tradisi khusus yang digunakan untuk memunculkan sikap percaya diri. Kelima tradisi tersebut meliputi:  

1. Selalu Duduk Di Depan 

         Orang-orang Yahudi memiliki tradisi selalu tampil/duduk di depan dalam setiap acara. Tradisi ini dimulai sejak mereka masih anak-anak hingga dewasa. Tradisi semacam ini memang terbukti dapat membangkitkan semangat kejiwaan, sehingga mereka memiliki kepercayaan yang tinggi dalam menghadapi apapun. Dengan duduk di depan dalam setiap acara, karena mereka juga senang ditunjuk, bertanya, berbicara di depan umum, dan mengekspresikan pendapat pribadinya. 

2. Mengontak Mata Lawan Bicara 

         Tradisi ini ditanamkan sejak kecil. Dengan budaya kontak mata yang dilakukan orang Yahudi, setiap lawan bicaranya dapat dengan mudah mengetahui  apakah lawan bicara memperhatikannya dan apakah lawan bicara tersebut sependapat dengan pendapatnya. Kontak mata juga dijadikan sebagai media untuk bersosialisai, mendekati komunitas lain, dan mendekati lawan jenis, karena dapat mengukur ketertarikan satu sama lain. Tradisi kontak mata yang dilakukan orang Yahudi bisa menjadi tingkat kecerdasan seseorang. Sebab kontak mata memiliki dampak positif dalam mengingat informasi dan dapat membantu proses pembelajaran yang efektif. 

3. Dua Puluh Lima Persen Berjalan Lebih Cepat 

          Orang-orang Yahudi mempunyai tradisi berjalan 25% lebih cepat dari orang lain. Tradisi berjalan 25% lebih cepat dari orang lain untuk membentuk watak disiplin, teliti, dan profesional pada generasi selanjutnya, serta akan menciptakan beberapa hal penting dalam kehidupan mereka. Makna filosofis berjalan 25% lebih cepat dari orang lain adalah bahwa kesuksesan hanya dapat diraih dengan kecepatan dan kompetensi, yang pasti hanya diperoleh orang yang terbiasa unggul dari orang lain. Tidak mengherankan bila banyak orang mengatakan  Yahudi selalu menjadi pemimpin di berbagai tempat, atau paling tidak menjadi orang yang sangat berpengaruh bukan sekedar menjadi pengikut, apalagi pecundang. 

4. Selalu Bicara Jujur

          Bangsa Yahudi terkenal dengan bangsa yang patuh pada dogma kitab suci mereka sendiri. Bagi mereka berbuat tidak jujur adalah perbuatan dosa besar. Yang lebih istimewa ternyata orang-orang Yahudi berkata jujur tidak hanya karena dogma kitab suci, melainkan karena alasan motivasi diri, semangat jiwa, serta kepercayaan diri mereka. Anak-anak Yahudi sejak kecil sudah dididik untuk mengatakan yang benar, walaupun pahit dan membuat malu. Di Sekolah misalnya, bila belajar di kelas anak Yahudi tidak akan pernah merasa malu bahwa dia tidak mengerti penjelasan gurunya, walaupun gurunya sudah menerangkan panjang lebar. Mereka selalu dibimbing, tidak sok pintar, dan tidak sok tahu, sehingga motivasi serta kondisi belajar selalu terjaga. 

5. Senyum Mempesona 

          Tebar senyum dikalangan Yahudi sudah menjadi tradisi tanpa tendensi tertentu. Mereka selalu mentradisikan senyum kepada orang lain, meskipun mereka tidak kenal dengan orang tersebut, tradisi semacam ini terbukti berpengaruh positif terhadap kehidupan mereka. Dalam tinjauan ilmiah, senyum ternyata dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat stress, dan daya tarik seseorang, bahkan lebih dari itu senyum  diyakini sebagai cara untuk tampil awet muda. Orang Yahudi jarang sekali terlihat lelah dan banyak masalah, karena mereka selalu senyum. Artinya, problem hidup yang dihadapi tidak tampak oleh orang lain karena tertutup oleh senyum. Mereka selalu tersenyum di waktu dan suasana yang tepat, serta dilakukan secara proporsional. 

          Itulah lima tradisi pelecut kekuatan jiwa Yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Coba kita bandingkan dengan budaya dan tradisi di Indonesia (tidak bermaksud merendahkan). Dalam belajar, budaya di Indonesia justru bertolak belakang dengan budaya yang dimiliki oleh orang Yahudi, misalnya: 

a. Orang Indonesia pada umumnya senang duduk di belakang dalam setiap 

    acara/kegiatan apapun;

b. Menganggap bahwa melakukan kontak mata dengan dengan lawan bicara 

    adalah sikap yang tidak sopan; 

c. Menganggap jalan cepat justru tindakan yang tergesa-gesa atau grusa-grusu;

d. Banyak anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun sulit berkata jujur entah 

    karena alasan malu, takut, gengsi, bahkan karena sok tahu dll

e. Sangat pelit tersenyum, orang Indonesia lebih suka mengekspresikan 

    kegalauannya dan masih rapuh kepercayaan dirinya. Menurut agama “Senyum”  

    merupakan sedekah, murah, meriah dan Ibadah. 

           Sekali lagi bukan bermaksud mengunggulkan ataupun merendahkan bangsa tertentu, penulis hanya ingin menyajikan fakta keunggulan suatu bangsa dengan segala metode dan perjuangannya serta bukanlah mitos atau semata-mata takdir Alloh. Juga perlu dipahami penulis bukan pro/pengagum yahudi. Terpenting kita ambil ilmu, manfaat, hikmah dan strateginya dalam meraih kesuksesan. Satu harapan penulis bahwa goresan ini dapat menjadi sumber insiprasi dan motivasi dalam perjuangan. Kita sebagai orang tua, para pendidik dan juga warga masyarakat mulailah mereformasi diri untuk memiliki etos kesuksesan yang tinggi, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apapun bentuk ambisi, keinginan, dan cita-cita, bila diperjuangkan dengan metode ilmiah sebagaimana dilakukan orang-orang Yahudi, maka hal itu pasti dapat diraih. Tentunya yang utama tetap Berdoa/Memohon kepada Sang Maha Pemilik & Pemberi Kesuksesan ALLOH SWT. Salam Sukses Bersama ALLOH pasti bisa. 


                                           DAFTAR PUSTAKA

Abdul Waid. 2011. Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi. Jogyakarta: Diva Press

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. https://www.kompasiana.com/kafin/5c57a2446ddcae0b9d5bf21b/rahasia-kecerdasan-yahudi

https://tekno.kompas.com/read/2012/07/11/18572816/~Oase~Resensi.





                                                   









Kamis, 07 April 2022

KONFERENSI ASIA AFRIKA

Keputusan  kompromi  menjalin kerjasama tercipta

Optimis kerukunan di antara negara bersahabat yang dicita-cita

Nyalakan semangat anti kolonialisme penuh gempita

Front pembangun jiwa solidaritas Asia Afrika laksana pelita

Energi terbarukan menuju jalan perdamaian bak untaian makhota

Rengkuh kasih balutan Hak Azasi Manusia tak sekadar cerita

Elok nian rumusan Dasasila Bandung terlahir bila sesuai fakta

Nuansa riuh menuai pujian tanpa syak wasangka menyerta

Satu resolusi hubungan damai diantara kita

Ingin jalinan kerja sama mengikat ke seluruh semesta


Ayo bangkitlah wahai Asia-Afrika dari cengkraman kolonialisme 

Semangat sepuluh untaian pemanis kedamaian dalam ritme

Inilah pencetus prinsip hidup persatuan sinergi dalam satu volume 

Ambisi terus tertanam menyingkirkan segala bentuk imperialisme


Ayunkan langkah gapai perubahan  tanpa gerak imitasi

Faedah tergenggam dalam komunitas berkolaborasi

Rasakan nikmatnya hidup berdampingan yang saling mengisi

Ikatan persaudaraan kuat melekat laksana amunisi

Katakanlah Asia-Afrika merdeka bicara, dunia mendengarkan penuh apresiasi

Antarkan menuju gerbang peradaban harmonis demi episode kehidupan generasi


Akrostik (sejarah)_N.Evi S.-Tasikmalaya, 07 April 2022



Rabu, 06 April 2022

Catatan CGP: Antara Coaching, Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional

 




oleh

Elisya Sovia,S.Pd.,Gr

SMA NEGERI 1 Pasie Raja

CGP-4 Kab. Aceh Selatan

 

A. Peran pendidik dalam Pendidikan

Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya,begitulah yang diutarakan  oleh Bapak Ki Hadjar Dewantara dalam pandangannya tentang pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pendidik dapat dikatakan berhasil apabila mampu menuntun dan mewujudkan rasa kebahagiaan didalam pembelajaran yang dilakukannya. Untuk itu, pendidik tentu diharapkan bisa memberikan pembelajaran menyeluruh (holistik) kepada semua peserta didik yang mempunyai latar belakang berbeda. Kemampuan pendidik dalam memahami karakter peserta didik ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang berpihak kepada murid.

Tidak jarang kita temui tulisan para pendidik, terkhususnya di dalam PTK dan Makalah bahwa permasalahan yang dialami oleh pendidik di dalam proses pembelajaran adalah minat dan motivasi belajar peserta didik yang rendah sehingga berdampak kepada rendahnya hasil belajar yang didapatkan. Hal ini seharusnya menjadi persoalan yang harus kita atasi secara bersama. Banyak tulisan telah membahas mengenai model, media, sumber hingga strategi mengajar yang mampu mendorong peserta didik aktif dalam belajar, namun semua itu kembali lagi kepada peran pendidik dalam pendidikan bahwa pendidik yang professional akan mampu merancang, melakukan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan pendidikan itu tercapai. Didalam program Pendidikan Guru Penggerak, kita akan dipandu mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada murid sehingga profil pelajar pancasila, belajar bermakna dan pembelajaran sepanjang hayat dapat terwujud

B. Meramu keberagaman serta mewujudkan pendidikan karakter melalui  Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial emosional.

Setiap peserta didik itu unik, mereka terlahir dengan berbagai kultur budaya, latar belakang keluarga, ekonomi bahkan sistem politik yang berbeda. Hal ini lumrah terjadi dimana saja, baik itu di daerah desa maupun perkotaan. Kita bisa melakukan berbagai model dan media yang kita ketahui , namun hal ini tidak cukup, karena kita tidak bisa menuntut peserta didik belajar di saat peserta didik tersebut tidak siap untuk belajar serta setiap  model/ media yang kita gunakan belum tentu mampu merangkul peserta didik kita, hal ini di perparah semenjak PJJ dan New Normal, kita temui bahwa peserta didik mengalami Disrupsi Pengetahuan , motivasi belajar serta karakter peserta didik yang rendah yang dapat dilihat dari kesadaran diri sebagai peserta didik serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.   Fenomena ini menjadi PR bersama yang dirasakan oleh kalangan pendidik. Di Aceh Selatan, tepatnya di SMA  N 1 Pasie Raja, Saya sebagai seorang pendidik sangat merasakan semua ini.

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menyatukan keberagaman peserta didik ini untuk bisa mewujudkan pembelajaran yang asyik, nyaman dan menyenangkan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah pembelajaran yang menitikberatkan kepada kebutuhan peserta didik sehingga mampu mewujudkan pembelajaran menyeluruh yang dapat dirasakan oleh semua peserta didik dengan berbagai karakteristik berbeda. Dengan kata lain, pembelajaran ini berupaya untuk meng-cover kesiapan belajar, minat serta profil belajar yang dimiliki oleh peserta didik dengan demikian maka peserta didik mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya.  

Pembelajaran Berdiferensiasi juga mengisyaratkan pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam penerapannya,  bahwa setiap peserta didik dengan segala potensinya mampu bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil di dalam mengerjakan tugas yang diberikan, memiliki kesadaran diri bahwa semua itu adalah suatu hal yang harus dicapai dengan berkesadaran penuh serta melibatkan kerjasama/ relasi untuk mewujudkan tujuan positif. Adapun yang menjadi Kompetensi PSE adalah kesadaran diri, pengelolaan diri, keterampilan relasi, kesadaran sosial dan Pengambilan keputusan bertanggung jawab.

Sebagai Guru  Sejarah dan Antropologi, saya menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi berfokus kepada Konten/ materi, Proses dan Produk. Sebagai contoh di dalam pembelajaran Antropologi mengenai Nilai Kultural Masyarakat Indonesia, adapun langkah yang saya lakukan adalah :

1.       Memetakan Karakteristik belajar Peserta didik.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik peserta didik

a.      mengamati gaya belajar yang dimiiliki, dengan demikian kita bisa mengarahkan tugas sesuai dengan gaya belajar peserta didik kita

b.     Mengamati tugas-tugas yang telah dikerjakan serta berdiskusi dengan rekan guru yang lain. Hal ini mampu memberikan gambaran mengenai minat belajar yang dimiliki

c.   Memberikan pertanyaan pemantik . Misalnya kita bertanya apakah siswa senang belajat di dalam kelas, ruang pustaka ataupun di Laboratorium, dengan demikian kita mengetahui kesiapan belajar peserta didik.

2.       Penugasan sesuai dengan Kesiapan, Minat dan Profil Belajar yang dmiliki peserta didik dan penerapan Kompetensi Sosial Emosional dalam mendukung terwujudnya tujuan yang akan dicapai

                  a.       Diferensiasi konten

Saya memberikan kebebasan kepada peserta didik saya memilih konten yang akan ditulis dari 7 (tujuh) unsur budaya yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Dengan kesadaran penuh/ kesadaran diri dalam memilih konten, maka peserta menyelesaikan tugas dengan aktif, nyaman dan kreatif dikarenakan sesuai dengan profil dan minat belajar yang mereka miliki.

 b.      Diferensiasi Proses

Didalam penugasan mengenai Nilai Kultural Masyarakat Indonesia, saya memanfaatkan sumber daya yanga da dilingkungan sekolah. Peserta didik bisa melalukan studi pustaka, eksplorasi melalui internet dan wawancara dengan guru-guru di sekolah yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini dapat terwujud dengan adanya keterampilan relasi yang dimiliki peserta didik, sehingga memudahkan proses pengerjaan tugas. Keterampilan relasi memberikan pengaruh positif bagi peserta didik untuk bisa bekerja sama, berempati, serta menumbuhkan semangat gotong royong sesama rekan atau narasumber.

c.       Diferensiasi Produk

Setelah memilih konten dan menyelesainnya sesuai dengan proses yang mereka pilih sendiri, maka saya memberikan  penugasan sesuai dengan minat dan profil belajar yang dimiliki melalui aplikasi canva, yaitu dalam bentuk, desain poster, puisi, lagu dan video. peserta didik. Dengan demikian, kita mengetahui peserta didik itu bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah dilakukan sehingga kompetensi PSE pengambilan keputusan bertanggung jawab sudah tercapai.



C. Coaching: Sarana Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional

Tut Wuri Handayani, mengisyaratkan kepada kita bahwa pendidik itu sejatinya mampu memberikan teladan, penguatan, dorongan, tidak hanya kepada peserta didik tetapi juga sesama rekan sejawat. Keberadaan guru penggerak diharapkan mampu memberikan pengaruh positif  melalui aksi nyata yang telah dilakukan dan berbagi pengalaman kepada rekan yang memang mau untuk tergerak berubah menjadi pendidik yang lebih baik kedepannya. Bersama-sama tergerak, bergerak dan menggerakkan  sehingga trasnformasi pendidikan yang diinginkan dapat terwujud.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan Coaching kepada rekan sejawat maupun peserta didik dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyeluruh. Dengan metode TIRTA, saya berbagi pengalaman dan membantu  kepada rekan sejawat dalam memahami kesulitan yang dirasakan selama proses pembelajaran, sama-sama berupaya menggali kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sehingga kita bisa memetakan ide, solusi yang akan dilakukan sebagai aksi nyata untuk mengatasi permaslahan serta menimbulkan komitmen sebagai tanggung jawab melakukan perubahan yang diinginkan.

Melalui Proses Coaching, saya mendapati bahwa permasalahan pembelajaran di sekolah  saya adalah  belum diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran yang dilakukan masih menitikberatkan kepada pemberian penugasan yang sama kepada peserta didik sehingga didapati sebagian peserta didik tidak mengerjakan tugas tersebut dengan maksimal. Alasan peserta didik tidak mengerjakan karena merasa bosan, tidak tertarik dan membosankan. Setelah melakukan evaluasi diri, rekan saya mengatakan bahwa ingin menerapkan pembelajaran yang saya terapkan di kelas, karena didalam pengamatan beliau peserta didik saya antusias didalam pembelajaran.

Berdasarkan sharing dan diskusi yang dilakukan, maka kami berupaya untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dengan memasukkan KSE yang menguatkan karakteristk peserta didik. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi ini dilakukan oleh rekan saya dalam jenis proses dan produk, sehingga pembelajaran yang awalnya teacher oriented dan membosankan, dengan menitikberatkan kepada minat belajar dan profil belajar peserta didik dapat terwujud pembelajaran yang tidak hanya asyik tetapi mampu menimbulkan karakter  dengan kesadaran diri terhadap tugas, keterampilan relasi dalam proses pengerjaan tugas serta bertanggung jawab akan setiap kepitusan yang telah diambil karena dalam pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam melakukan proses, produk namun tetap mengacu kepada tujuan pembelajaran dari setiap materi.

  




 

 

Jumat, 01 April 2022

MENANTI LANGKAH DIPLOMASI NATO

 Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Seni tertinggi perang adalah untuk menundukkan musuh tanpa pertempuran (Sun Tzu)


Konflik Rusia-Ukraina memasuki babak baru, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer terbatas ke Ukraina pada Kamis 24 Februari 2022. Dalam siaran pers Kremlin, Putin menegaskan "Siapapun yang mencoba menghalangi Rusia, apalagi menciptakan ancaman bagi negara kita dan rakyatnya, harus tahu bahwa tanggapan Rusia akan segera mengarah pada konsekuensi yang belum pernah Anda lihat dalam sejarah".

Ancaman Putin ini bukan sekedar omong kosong, dalam tindakan politik yang diiringi dengan operasi militer, segala sesuatu sudah diperhitungkan, sejak bubarnya Uni Soviet, Rusia adalah pewaris alutsista nuklir dari negara ke negara maupun dari benua ke benua. Rusia sangat merasa terusik dengan segala bentuk manuver politik NATO di Eropa Timur khususnya di negara-negara bekas pecahan Uni Soviet, NATO terus memperluas keanggotaan negara-negara pecahan Uni Soviet, Polandia, Ceko, Hongaria pada 1999. Estonia, Latvia, Bulgaria, Lithuania, Rumania, Slovakia dan Slovenia pada 2004. Kegusaran Rusia semakin meningkat ketika Polandia dijadikan basis wilayah pertahanan anti rudal NATO, Ukraina dan Georgia  masuk daftar prioritas keanggotaan NATO. Manuver NATO sejak bubarnya Uni Soviet adalah ancaman langsung bagi keamanan wilayah Rusia. Ukraina yang secara tradisional dan sejarah memiliki ikatan kuat dengan Rusia ternyata makin dipengaruhi dan dekat dengan barat. Invasi militer Rusia ke Ukraina jelas bertentangan dengan piagam PBB dan hukum internasional, pertanyaan yang harus diajukan mengapa NATO terus saja melebarkan sayap pengaruhnya di daratan Eropa dalam kondisi stabilitas politik dan keamanan terkendali. 

Kini masyarakat dunia menanti langkah strategis diplomatis dari Amerika Serikat dan NATO karena akar masalah konflik Rusia-Ukraina adalah pertama adanya perluasan keanggotaan NATO di Eropa Timur khususnya dinegara-negara pecahan Uni Soviet. Kedua ekspansi ekonomi Uni Eropa ke Eropa Timur. Ketiga perluasan pengaruh demokrasi barat ke Eropa Timur. NATO bisa berperan menentukan dalam penyelesaian konflik Rusia-Ukraina opsi yang paling mungkin diajukan adalah NATO menjamin bahwa Ukraina tidak akan masuk menjadi anggota dan menghentikan ekspansi pengaruh NATO dan Uni Eropa   ke Eropa Timur, dan tidak ada penempatan rudal di Rumania dan Polandia serta mendesak PBB untuk segera melakukan jajak pendapat di dua daerah Ukraina (Donetsk dan Luhans) apakah ingin menjadi negara tersendiri, bergabung dengan Rusia atau bergabung dengan Ukraina. Dalam konflik Rusia-Ukraina, NATO adalah King Maker pertanyaannya bersediakah NATO dan AS melakukan Soft Diplomacy untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan kehancuran peradaban dunia.


Cisarua Jelang Ramadhan 2022.