Jumat, 01 April 2022

MENANTI LANGKAH DIPLOMASI NATO

 Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Seni tertinggi perang adalah untuk menundukkan musuh tanpa pertempuran (Sun Tzu)


Konflik Rusia-Ukraina memasuki babak baru, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer terbatas ke Ukraina pada Kamis 24 Februari 2022. Dalam siaran pers Kremlin, Putin menegaskan "Siapapun yang mencoba menghalangi Rusia, apalagi menciptakan ancaman bagi negara kita dan rakyatnya, harus tahu bahwa tanggapan Rusia akan segera mengarah pada konsekuensi yang belum pernah Anda lihat dalam sejarah".

Ancaman Putin ini bukan sekedar omong kosong, dalam tindakan politik yang diiringi dengan operasi militer, segala sesuatu sudah diperhitungkan, sejak bubarnya Uni Soviet, Rusia adalah pewaris alutsista nuklir dari negara ke negara maupun dari benua ke benua. Rusia sangat merasa terusik dengan segala bentuk manuver politik NATO di Eropa Timur khususnya di negara-negara bekas pecahan Uni Soviet, NATO terus memperluas keanggotaan negara-negara pecahan Uni Soviet, Polandia, Ceko, Hongaria pada 1999. Estonia, Latvia, Bulgaria, Lithuania, Rumania, Slovakia dan Slovenia pada 2004. Kegusaran Rusia semakin meningkat ketika Polandia dijadikan basis wilayah pertahanan anti rudal NATO, Ukraina dan Georgia  masuk daftar prioritas keanggotaan NATO. Manuver NATO sejak bubarnya Uni Soviet adalah ancaman langsung bagi keamanan wilayah Rusia. Ukraina yang secara tradisional dan sejarah memiliki ikatan kuat dengan Rusia ternyata makin dipengaruhi dan dekat dengan barat. Invasi militer Rusia ke Ukraina jelas bertentangan dengan piagam PBB dan hukum internasional, pertanyaan yang harus diajukan mengapa NATO terus saja melebarkan sayap pengaruhnya di daratan Eropa dalam kondisi stabilitas politik dan keamanan terkendali. 

Kini masyarakat dunia menanti langkah strategis diplomatis dari Amerika Serikat dan NATO karena akar masalah konflik Rusia-Ukraina adalah pertama adanya perluasan keanggotaan NATO di Eropa Timur khususnya dinegara-negara pecahan Uni Soviet. Kedua ekspansi ekonomi Uni Eropa ke Eropa Timur. Ketiga perluasan pengaruh demokrasi barat ke Eropa Timur. NATO bisa berperan menentukan dalam penyelesaian konflik Rusia-Ukraina opsi yang paling mungkin diajukan adalah NATO menjamin bahwa Ukraina tidak akan masuk menjadi anggota dan menghentikan ekspansi pengaruh NATO dan Uni Eropa   ke Eropa Timur, dan tidak ada penempatan rudal di Rumania dan Polandia serta mendesak PBB untuk segera melakukan jajak pendapat di dua daerah Ukraina (Donetsk dan Luhans) apakah ingin menjadi negara tersendiri, bergabung dengan Rusia atau bergabung dengan Ukraina. Dalam konflik Rusia-Ukraina, NATO adalah King Maker pertanyaannya bersediakah NATO dan AS melakukan Soft Diplomacy untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan kehancuran peradaban dunia.


Cisarua Jelang Ramadhan 2022.