Jumat, 22 April 2022

Menguak Metode Belajar orang Yahudi

   


       


OLEH

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


Success Is Not A Myth, But Struggle, Prayer And Full of Tears


Bangsa Yahudi adalah kaum minoritas, namun dapat menguasai hampir segala bidang dalam kehidupan.  Hanya dengan populasi sekitar 14 juta orang, kaum yahudi mampu menjadi bagian dari penguasa modernisasi dunia. Tidak dapat kita pungkiri banyak penemuan spektakuler dalam bidang teknologi, politik, sosial, ekonomi, kedokteran, dan bidang keilmuan lain dihasilkan golongan orang-orang yahudi. Tanpa bermaksud menaifkan salah satu agama maupun golongan, memang kenyatannya orang-orang yahudi-lah yang menguasai dunia.  Kita tentu pernah mendengar nama Albert Einstein ahli fisika, George Soros, Mark Zuckerberg penemu dan pendiri Facebook, Larry Page pencipta Google, Bill Gates penemu Microsoft serta dinobatkan manusia terkaya di planet bumi saat ini, bahkan 35% peraih nobel adalah orang-orang yahudi.  Sungguh sangat mengagumkan kecerdasan orang-orang yahudi, banyak bangsa di dunia yang berguru kepada bangsa yahudi dalam hal keberhasilan, kecerdasan, dan ketekunan. 

Pertanyaan kita kenapa orang-orang yahudi memiliki kecerdasan melebihi kita? Tentu jawabannya bukan semata-mata takdir. Sebab Alloh SWT memberikan kelebihan dan potensi yang sama pada manusia.  Alloh senantiasa memberikan tarbiah, bimbingan dan merahmati kepada semua hambaNya, secara adil tanpa pandang bulu. Usaha manusialah yang bisa membedakan nasib, kecerdasan, dan kemampuan antara satu dengan yang lain. Kalau kita ingin sukses tentu harus selalu membuka diri untuk selalu belajar dan berguru kepada siapapun tidak terkecuali kepada seluruh ciptaan Alloh di muka bumi dan jagat raya ini. 

Rahasia dari kecerdasan orang-orang yahudi yang membuat mereka mampu menguasai media, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, hiburan dan sebagainya, pastinya ada metode dan strategi jitu yang spektakuler. Salah satunya adalah metode dalam belajar. Metode belajar yang dimiliki orang-orang yahudi sebenarnya sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang-orang Indonesia khususnya sahabat kami para guru/pendidik. Tapi, pada umumnya bangsa lain “acuh” terhadap metode belajar orang yahudi ini, sehingga mereka tertinggal dari Yahudi dengan produk-produk kecerdasannya seperti Google, Nokia, Facebook, senjata nuklir dan masih banyak lagi. 

Metode ini bukan hanya sekedar metode dalam belajar, tapi sudah menjadi tradisi mereka. Metode tersebut adalah: 

  1. Bersandar pada keyakinan, artinya mereka selalu yakin pada yang mereka miliki 

  2. Menulis segala pelajaran yang diperoleh memakai tinta hitam. Falsafah orang yahudi, ilmu adalah pancing sedangkan tulisan adalah ikatannya. 

  3. Belajar dengan seorang bevrutab (pasangan belajar) dengan suara keras dan bernada 

  4. Belajar saat berjalan atau bergerak sambil bolak-balik dengan hati penuh bahagia.

  5. Belajar di tempat yang penuh inspiratif, yang disesuaikan dengan kondisi jiwa. 

  6. Menghindari segala gangguan yang dapat merusak konsentrasi belajar.

  7. Menggunakan teknik konsentrasi, yaitu doa, iringan musik, dan minum sebelum belajar agar badan terasa segar. 

  8. Memulai belajar dengan membaca sesuatu yang ringan dan menarik ke hal yang sulit.

  9. Belajar saat badan terasa fit, pikiran sedang segar, tidak mengantuk dan lelah.

  10. Merangkum gagasan dan konsep dengan menggunakan kata-kata kunci yang akan memicu daya ingat setelahnya. 

  11. Mengatur materi secara logika, dalam kelompok-kelompok, secara kronologis 

  12. Menggunakan akronim, simbol-simbol yang kontras dan simbol yang parallel 

  13. Selalu mengulangi apa yang mereka pelajari dan selalu berlatih kembali, kecuali badan dan pikiran mereka sudah terasa letih. 

Pelajaran yang dapat dipetik adalah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apapun bentuk ambisi, keinginan, cita-cita dan angan-angan, bila diperjuangkan dengan metode-metode ilmiah sebagaimana dilakukan orang-orang yahudi – maka hal itu pasti dapat diraih.  

Banyak strategi dan metode yang dilakukan orang-orang yang Yahudi dalam menggapai kesuksesan, kecuali dalam metode dalam belajar, mereka juga  berusaha untuk menentramkan kondisi kejiwaan setiap belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah bahkan sudah dimulai sejak dalam kandungan. Karena kondisi kejiwaan manusia mempengaruhi kekuatan otak dan juga mempengaruhi hasil belajar seseorang. Dalam setiap kali belajar  atau berkompetensi, orang-orang Yahudi jarang sekali kehilangan percaya diri dan terbukti dalam sejarah hingga saat ini, orang-orang Yahudi selalu percaya diri bila menghadapi masalah. 

        Dampak positif dari rasa percaya diri ini, membuat mereka selalu bersikap dan tampil profesional dalam segala hal, seperti dalam bekerja, belajar, berkarya maupun bersosialisasi dengan masyarakat. Mereka paham betul faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya kepercayaan diri mereka, sehingga sebisa mungkin selalu menangkal faktor-faktor tersebut. Para orang tua di kalangan Yahudi selalu men-support dan mendukung keinginan positif anak, baik dukungan materi maupun moril, dan selalu memberi pujian serta sanjungan kepada anak-anak mereka terhadap apa yang telah mereka perbuat, khususnya mengenai kreatifitas anak. 

        Dari berbagai tradisi yang selalu dilakukan orang-orang Yahudi, mereka memiliki lima tradisi khusus yang digunakan untuk memunculkan sikap percaya diri. Kelima tradisi tersebut meliputi:  

1. Selalu Duduk Di Depan 

         Orang-orang Yahudi memiliki tradisi selalu tampil/duduk di depan dalam setiap acara. Tradisi ini dimulai sejak mereka masih anak-anak hingga dewasa. Tradisi semacam ini memang terbukti dapat membangkitkan semangat kejiwaan, sehingga mereka memiliki kepercayaan yang tinggi dalam menghadapi apapun. Dengan duduk di depan dalam setiap acara, karena mereka juga senang ditunjuk, bertanya, berbicara di depan umum, dan mengekspresikan pendapat pribadinya. 

2. Mengontak Mata Lawan Bicara 

         Tradisi ini ditanamkan sejak kecil. Dengan budaya kontak mata yang dilakukan orang Yahudi, setiap lawan bicaranya dapat dengan mudah mengetahui  apakah lawan bicara memperhatikannya dan apakah lawan bicara tersebut sependapat dengan pendapatnya. Kontak mata juga dijadikan sebagai media untuk bersosialisai, mendekati komunitas lain, dan mendekati lawan jenis, karena dapat mengukur ketertarikan satu sama lain. Tradisi kontak mata yang dilakukan orang Yahudi bisa menjadi tingkat kecerdasan seseorang. Sebab kontak mata memiliki dampak positif dalam mengingat informasi dan dapat membantu proses pembelajaran yang efektif. 

3. Dua Puluh Lima Persen Berjalan Lebih Cepat 

          Orang-orang Yahudi mempunyai tradisi berjalan 25% lebih cepat dari orang lain. Tradisi berjalan 25% lebih cepat dari orang lain untuk membentuk watak disiplin, teliti, dan profesional pada generasi selanjutnya, serta akan menciptakan beberapa hal penting dalam kehidupan mereka. Makna filosofis berjalan 25% lebih cepat dari orang lain adalah bahwa kesuksesan hanya dapat diraih dengan kecepatan dan kompetensi, yang pasti hanya diperoleh orang yang terbiasa unggul dari orang lain. Tidak mengherankan bila banyak orang mengatakan  Yahudi selalu menjadi pemimpin di berbagai tempat, atau paling tidak menjadi orang yang sangat berpengaruh bukan sekedar menjadi pengikut, apalagi pecundang. 

4. Selalu Bicara Jujur

          Bangsa Yahudi terkenal dengan bangsa yang patuh pada dogma kitab suci mereka sendiri. Bagi mereka berbuat tidak jujur adalah perbuatan dosa besar. Yang lebih istimewa ternyata orang-orang Yahudi berkata jujur tidak hanya karena dogma kitab suci, melainkan karena alasan motivasi diri, semangat jiwa, serta kepercayaan diri mereka. Anak-anak Yahudi sejak kecil sudah dididik untuk mengatakan yang benar, walaupun pahit dan membuat malu. Di Sekolah misalnya, bila belajar di kelas anak Yahudi tidak akan pernah merasa malu bahwa dia tidak mengerti penjelasan gurunya, walaupun gurunya sudah menerangkan panjang lebar. Mereka selalu dibimbing, tidak sok pintar, dan tidak sok tahu, sehingga motivasi serta kondisi belajar selalu terjaga. 

5. Senyum Mempesona 

          Tebar senyum dikalangan Yahudi sudah menjadi tradisi tanpa tendensi tertentu. Mereka selalu mentradisikan senyum kepada orang lain, meskipun mereka tidak kenal dengan orang tersebut, tradisi semacam ini terbukti berpengaruh positif terhadap kehidupan mereka. Dalam tinjauan ilmiah, senyum ternyata dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat stress, dan daya tarik seseorang, bahkan lebih dari itu senyum  diyakini sebagai cara untuk tampil awet muda. Orang Yahudi jarang sekali terlihat lelah dan banyak masalah, karena mereka selalu senyum. Artinya, problem hidup yang dihadapi tidak tampak oleh orang lain karena tertutup oleh senyum. Mereka selalu tersenyum di waktu dan suasana yang tepat, serta dilakukan secara proporsional. 

          Itulah lima tradisi pelecut kekuatan jiwa Yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Coba kita bandingkan dengan budaya dan tradisi di Indonesia (tidak bermaksud merendahkan). Dalam belajar, budaya di Indonesia justru bertolak belakang dengan budaya yang dimiliki oleh orang Yahudi, misalnya: 

a. Orang Indonesia pada umumnya senang duduk di belakang dalam setiap 

    acara/kegiatan apapun;

b. Menganggap bahwa melakukan kontak mata dengan dengan lawan bicara 

    adalah sikap yang tidak sopan; 

c. Menganggap jalan cepat justru tindakan yang tergesa-gesa atau grusa-grusu;

d. Banyak anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun sulit berkata jujur entah 

    karena alasan malu, takut, gengsi, bahkan karena sok tahu dll

e. Sangat pelit tersenyum, orang Indonesia lebih suka mengekspresikan 

    kegalauannya dan masih rapuh kepercayaan dirinya. Menurut agama “Senyum”  

    merupakan sedekah, murah, meriah dan Ibadah. 

           Sekali lagi bukan bermaksud mengunggulkan ataupun merendahkan bangsa tertentu, penulis hanya ingin menyajikan fakta keunggulan suatu bangsa dengan segala metode dan perjuangannya serta bukanlah mitos atau semata-mata takdir Alloh. Juga perlu dipahami penulis bukan pro/pengagum yahudi. Terpenting kita ambil ilmu, manfaat, hikmah dan strateginya dalam meraih kesuksesan. Satu harapan penulis bahwa goresan ini dapat menjadi sumber insiprasi dan motivasi dalam perjuangan. Kita sebagai orang tua, para pendidik dan juga warga masyarakat mulailah mereformasi diri untuk memiliki etos kesuksesan yang tinggi, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apapun bentuk ambisi, keinginan, dan cita-cita, bila diperjuangkan dengan metode ilmiah sebagaimana dilakukan orang-orang Yahudi, maka hal itu pasti dapat diraih. Tentunya yang utama tetap Berdoa/Memohon kepada Sang Maha Pemilik & Pemberi Kesuksesan ALLOH SWT. Salam Sukses Bersama ALLOH pasti bisa. 


                                           DAFTAR PUSTAKA

Abdul Waid. 2011. Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi. Jogyakarta: Diva Press

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. https://www.kompasiana.com/kafin/5c57a2446ddcae0b9d5bf21b/rahasia-kecerdasan-yahudi

https://tekno.kompas.com/read/2012/07/11/18572816/~Oase~Resensi.