Selasa, 31 Mei 2022

Merdeka Belajar

 

Estu Dwi Riyanto, S.Pd

Guru IPS SMPN 1 Kuranji


Pada masa penjajahan kondisi pendidikan bangsa Indonesia sangat memprihatinkan, hanya segelintir anak bangsa yang bisa menikmati pelayanan pendidikan. Memasuki masa kemerdekaan pemerintah berusaha memperbaiki sistem pendidikan nasional, geliat upaya pemerintah dalam rangka meningkatan kualitas pendidikan nasional dari masa ke masa tidak pernah pudar. Sekitar dua puluh persen dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN) dialokasikan pada bidang pendidikan guna tercapainya tujuan pendidikan untuk mendidik anak-anak menjadi warga negara yang diharapkan dapat memberikan pengetahuannya kepada negara.

Transformasi Pendidikan dan pemajuan kebudayaan ditempuh Kementerian Pendidikan melalui berbagai peluncuran program seperti program bebas tiga buta (B3B), program gerakan nasional orang tua asuh (GNOTA), program wajib belajar sembilan tahun, program wajib belajar dua belas tahun, dan yang sekarang melalui program merdeka belajar serta kebijakan lain termasuk penggelontoran bea siswa untuk masyarakat miskin.

Pada merdeka belajar episode pertama dimulai sejak 2019, kementerian pendidikan menetapkan empat program pokok kebijakan pendidikan diantaranya menghapus ujian sekolah berstandar nasional (USBN), mengganti ujian nasional (UN), menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan mengatur kembali penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Merdeka belajar episode kedua yaitu kampus merdeka, melakukan penyesuaian di lingkup pendidikan tinggi. Kebijakan yang ada dalam merdeka belajar episode kedua diantaranya pembukaan program studi baru, sistem akreditasi perguruan tinggi, perguruan tinggi negeri berbadan hukum, dan hak belajar tiga semester di luar program studi.

Sementara itu, pada merdeka belajar episode ketiga, mengubah mekanisme dana bantuan operasional sekolah (BOS). Melalui kolaborasi dengan Kemenkeu dan Kemendagri dalam kebijakan merdeka belajar dibuat fleksibel, tersedia alokasi porsi lima puluh persen penggunaan dana BOS sebagai langkah awal untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru honorer dan tenaga kependidikan, tentu dengan prosedur syarat yang telah ditetapkan. Percepatan proses penyaluran dana BOS ditempuh melalui transfer dana dari kemenkeu langsung ke rekening sekolah. Diharapkan dengan kebijakan baru ini bisa diselaraskan dengan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS tepat penggunaannya, sumber: p4tkbispar.kemdikbud.go.id 

Pada merdeka belajar episode keempat yaitu Program Organisasi Penggerak (POP). Kebijakan ini bertujuan untuk semakin memberdayakan organisasi masyarakat dalam membangun sekolah penggerak.  Program organisasi penggerak dapat berpartisipasi melaksanakan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang diharapkan mampu berimbas pada peningkatkan hasil belajar peserta didik. Hadirnya organisasi penggerak bisa memotivasi sekolah bertransformasi menjadi sekolah penggerak sebagai langkah lompatan perwujudan tantangan inovasi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik yang fokus pada peningkatan literasi, numerasi, dan penguatan pendidikan karakter, sumber: https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/organisasipenggerak/

Merdeka belajar episode kelima yaitu guru penggerak, program yang terintegrasi untuk mewujudkan sekolah penggerak. Program guru penggerak yang arah programnya berfokus pada pedagogic yang siap menjadi pemimpin pembelajaran dan berperan sebagai agen pendorong transformasi pendidikan Indonesia, berpusat pada peserta didik dalam menggerakkan ekosistem pembelajaran yang lebih baik, pengembangan hasil belajar peserta didik secara holistic (mencakup kompetensi literasi dan numerasi) serta karakter, dan pelatihan yang menekankan pada kepemimpinan instruksional melalui on the job coaching, sumber: https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id

Ada delapan prioritas merdeka belajar menurut Menteri Pendidikan Nadiem Makarim,

Pertama, pembiayaan Pendidikan melalui kartu Indonesia pintar (KIP) termasuk layanan khusus Pendidikan masyarakat dan pembinaan sekolah Indonesia luar negeri serta tunjangan profesi guru. Kedua, digitalisasi sekolah melalui platform digital yang menyediakan model bahan ajar, media pendidikan digital, dan penyediaan sarana pendidikan. Ketiga, prioritas selanjutnya adalah pembinaan peserta didik, prestasi, talenta, dan penguatan karakter. Prioritas ini akan diciptakan melalui tiga layanan pendampingan advokasi dan sosialisasi penguatan karakter, pembinaan peserta didik oleh pemerintah daerah, serta peningkatan prestasi dan manajemen talenta pelajar.Keempat, melaksanakan pendidikan guru penggerak, program pendidikan guru, rekrutmen guru pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), sekolah penggerak, dan organisasi penggerak.Kelima, sebagai prioritas berikutnya dalam peningkatan mutu pendidikan nasional akan memberlakukan kurikulum baru dengan melakukan pelatihan kurikulum baru kepada guru dan tenaga kependidikan, pendampingan dan sosialisasi implementasi kurikulum dan asesmen. Keenam, revitalisasi pendidikan vokasi berbasis industri 4.0 dukungan dan percepatan link and match serta kemitraan dengan dunia usaha dan industri. Ketujuh, peningkatan kualitas SDM melalui kampus merdeka dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan (competitive fund and matching). Kedelapan, pemajuan kebudayaan dan bahasa. Dengan keanekaragaman kearifan lokal untuk menumbuhkembangkan dan bersaing dikancah global.

Esensial kebijakan yang bisa lebih berfokus pada tugas pokok dan fungsi guru dalam menekankan pada mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses pembelajaran yang responsiv dan kondusif akan lebih bermakna. Pendidik bisa enjoy dalam menyampaikan pembelajaran tanpa ada beban fikiran tugas tambahan administratif bahkan tugas tambahan jauh dari tupoksi guru seperti bendahara dan operator, dimana durasi proses pengerjaan lebih banyak memforsir waktu dan fikiran guru bahkan sering mengorbankan jam belajar peserta didik demi deadline tugas tambahan tersebut.

Regulasi-regulasi perlu terus dikembangkan dalam setiap program yang diluncurkan Kementerian Pendidikan demi arah Pendidikan nasional yang lebih baik di masa yang akan datang. Perlunya kolaborasi peran tenaga kependidikan dan kepala sekolah sebagai management sekolah sekaligus pengambil alih tugas-tugas tambahan administratif di luar pembelajaran tupoksi guru, demi memaksimalkan kinerja guru untuk menciptakan produk sumber daya manusia generasi emas bangsa.

Kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam peluncuran berbagai program dari Kementerian Pendidikan dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang memiliki talenta-talenta mampu bersaing di tingkat global. Pembangunan pendidikan diarahkan untuk menciptakan kesempatan belajar yang lebih luas dan diimbangi dengan peningkatan mutu pendidikan. Sebagai warga negara yang baik, sebaiknya turut berkontribusi dalam mensukseskan program pembangunan pendidikan dalam mendistribusikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi ini secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat mendorong kemajuan bangsa




Daftar Pustaka


SE Nomor 1 Tahun 2020 tentang kebijakan merdeka belajar.

http://p4tkbispar.kemdikbud.go.id

https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/organisasipenggerak/

https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id



Biodata Penulis


Pengalaman Kerja:

SMPN 13 Tebo, Muoro Bungo, Jambi (2006-2007)

SD N 3 Barepan Cawas, Klaten, Jateng (2007-2008)

SMPN 2 Pedan, Klaten, Jateng (2007-2008)

SMPN 6 Satap Kusan Hilir, Kab. Tanah Bumbu, Kalsel (2009-2013)

Bimbel Primagama di Simpang Empat, Kab. Tanah Bumbu (2009-2010)

SMPN 1  Kuranji, Kab. Tanah Bumbu, Kalsel (2013-sekarang)

 

Bertempat tinggali: Blok A1 Rt.007 Rw.- Desa Karang Intan Kec. Kuranji Kab. Tanah Bumbu




WUJUDKAN PRESTASI, ORANG TUA DAN GURU HARUS BERSINERGI

 Oleh

Rumadi

SMPN 4 Kusan Hulu,

Kab. Tanah Bumbu-Kalsel


Perilaku menyimpang peserta didik melawan guru menjadi kembali menjadi sorotan di dunia pendidikan di tanah air. Maraknya kasus murid melawan guru yang terjadi di Indonesia sekarang ini merupakan satu hal yang sangat memprihatinkan. Tentu hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa murid berani melawan guru? Ini menunjukan bahwa adanya pergeseran nilai dalam hubungan sosial antara peserta didik dan guru, antara keluarga dan sekolah. Pergeseran nilai ini mengakibatkan guncangan yang dahsyat dalam dunia pendidikan. Peserta didik di sekolah yang seharusnya menghormati dan menghargai guru, Namun yang terjadi justru sebaliknya. 

Peserta didik berani membangkang dan melawan gurunya menurut hemat penulis ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu terjadinya masalah seperti ini. Salah satu faktor penyebabnya bersumber dari pengaruh lingkungan keluarga peserta didik itu sendiri, anak yang sudah terbiasa memberontak dan melakukan perlawanan kepada orang tuanya tentu di sekolah dia akan bersikap demikian. Selain itu ada juga kasus yang kerap terjadi para orang tua bersikeras membela anaknya jika terjadi problem di sekolah, meskipun itu jelas salah anaknya namun orang tua tetap bersikeras menyalahkan pihak sekolah, dengan ini sang anak akan menjadi-jadi dan semakin berani melawan gurunya. 

Pada fase pembentukan karakter peserta didik , peran orangtua menjadi sangat penting serta harus dilibatkan, tidak hanya menyerahkan seluruhnya kepada pihak sekolah. Orangtua juga seharusnya dapat memberi contoh teladan, mengawasi, dan mendampingi anak dalam kehidupan sehari-harinya mungkin dengan mencontohkan perilaku yang baik. Teori Tabularasa dari John Lock menyebutkan bahwa anak laksana kertas yang putih, keluarga dan lingkungan yang mengisi lembar putih menjadi berwarna

Pada hakekatnya guru dan orang tua dalam pendidikan yang mempunyai tujuan yang sama, yakni mengasuh, mendidik, membimbing, membina serta memimpin anaknya menjadi orang dewasa dan dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini sejalan dengan visi Bangsa Indonesia yaitu “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju, dan sejahtera dalam suatu wadah Negara Republik Indonesia yang tentunya didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, sadar hukum dan lingkungan, menguasai IPTEK, punya etos kerja tinggi dan disiplin.” 

Di era globalisasi seperti sekarang ini, tuntutan dan tantangan dalam dunia pendidikan semakin berat. Kebutuhan Sumber daya manusia yang berkualitas sebagai salah satu modal dasar dalam membangun bangsa dan negara menjadi prioritas utama. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam proses keberhasilan suatu pembangunan. Sumber daya manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Karena sumber daya manusia yang berkualitas dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan globalisasi. Ini semua dapat terwujud apabila semua pihak mempunyai rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi terhadap pentingnya pendidikan. 

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah (guru), orangtua murid, masyarakat, dan pemerintah. Dengan demikian, semua pihak yang terkait harus senantiasa menjalani hubungan kerja sama dan interaksi dalam rangka menciptakan kondisi belajar yang sehat bagi para peserta didik.  

Interaksi semua pihak yang terkait akan mendorong peserta didik untuk senantiasa melaksanakan tugasnya sebagai pelajar, yakni belajar dengan tekun dan bersemangat. Selanjutnya, adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah diharapkan dapat melahirkan suatu bentuk kerja sama yang dapat meningkatkan aktivitas belajar murid baik di sekolah maupun di rumah. 

Hubungan kerja sama antara guru dan orangtua murid sangatlah penting. Apabila Hal ini tidak tercapai akan berdampak pada kemunduran kualitas proses belajar mengajar, dan akan menurunkan mutu pendidikan itu sendiri.  Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan sangat diperlukan, oleh karena itu diantara sekolah dan orang tua harus ada kemitaraan yang baik. Sebab apabila hubungan antara sekolah dan orang tua peserta didik tidak berjalan dengan baik, dikahawatirkan pendidikan yang diberikan disekolah akan jadi sia-sia. 

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan, kelauarga adalah tempat pertama seseorang mendapatkan pendidikan sebelum dia mendapatkan pendidikan di sekolah. keluarga berperan sangat penting dalam rangka menumbuhkan semangat dan motivasi belajar seorang anak, keluarga merupakan cetak biru akan menjadi apa seorang anak dimasa yang akan datang.

Oleh karenanya perlu  dibangun kemitraan sekolah dan keluarga dalam pendidikan karakter. Hal ini untuk menghindari terjadinya kontradiksi atau ketidakselarasan  antara nilai-nilai  yang harus dipegang teguh oleh anak-anak di sekolah  dan yang harus mereka ikuti di lingkungan keluarga atau masyarakat. Apabila terjadi konflik nilai, anak-anak mungkin akan merasa bingung sehingga tidak memiliki pegangan nilai yang menjadi acuan dalam berperilaku, dan dikhawatirkan tidak mampu mengontrol diri dalam menghadapi pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan sekitar mereka.

Pendidikan di rumah atau dalam keluarga harus “nyambung” dengan apa yang dipelajari oleh anak di sekolah, sekolah dan rumah harus saling menguatkan satu sama lain. Salah satu kendala yang dihadapi sekarang ini adalah berkurangnya kepedulian orangtua siswa pada Pendidikan anak, rendahnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan budi pekerti, dan sikaporang tua yang kecendrungan melimpahkan dan membebankan tanggung jawab pendidikan hanya kepada sekolah. Hal demikian mengakibatkan semakin rendahnya kemauan berapartisipasi warga masyarakat dalam pendidikan.Tentunya tidak semua orang tua beranggapan seperti itu, namun hal ini  sering penulis temui di lingkungan tempat saya mengajar. Kondisi seperti ini merugikan bagi berlangsungnya proses pendidikan  anak didik itu sendiri.

Pada dasarnya sekolah sekolah sebagai kelanjutan dari pendidikan yang sudah didapat oleh sesorang di dalam keluarganya, sebab pendidikan pertama dan utama sudah berlangsung di dalam keluarga. Pandangan dan sikap orang tua terhadap sekolah juga akan mempengaruhi sikap anak, diperlukan keprcayaan orang tua terhadap sekolah, dalam hal ini tenaga pendidik yang menggantikan tugasnya sebagai orang tua selama anak di sekolah. Hal ini harus menjadi perhatian para orang tua, mengingat akhir-akhir ini sering terjadi tindakan-tindakan yang tidak terpuji yang dilakukan oleh peserta didik atau peserta didik kepada gurunya di sekolah, sementara orang tua cenderung tidak mau tahu dan menimpakan semua kesalahan ke sekolah. 

Hubungan yang baik antara orang tua dan sekolah adalah salah satu elemen penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan, karena orang tua dan guru adalah tim yang sama-sama menginginkan yang terbaik dalam pendidikan anak. Sekolah sebagai sebuah institusi mempunyai tanggung jawab dan kewajiban yang besar terhadap orang tua, begitu juga sebaliknya orang tua pun memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang tidak kalah besar kepada sekolah. Apabila tanggung jawab dan kewajiaban itu dapat berjalan dengan baik maka sekolah akan semakin maju karena mempunyai orang tua atau mitra yang selalu mendukung terhadapa apa yang sekolah lakukan bagi putra putrinya, keterlibatan orang tua dalam pendidikan tentunya akan memberikan pengaruh yang baik dalam perkembangan akademis anak, oleh karena itu hubungan yang harmonis antara orang tua dan sekolah harus terus dibina.

Benyamin S. Bloom (1976) menyatakan bahwa lingkungan keluarga dan faktor-faktor luar sekolah yang telah secara luas berpengaruh terhadap peserta didik. Peserta didik-peserta didik hidup di kelas pada suatu sekolah relatif singkat, sebagian besar waktunya dipergunakan peserta didik untuk bertempat tinggal di rumah. Keluarga telah mengajarkan anak berbahasa, kemampuan untuk belajar dari orang dewasa dan beberapa kualitas dan kebutuhan berprestasi, kebiasaan bekerja dan perhatian terhadap tugas yang merupakan dasar terhadap pekerjaan di sekolah. Dari uraian ini, dapat diketahui lebih lanjut bahwa kecakapan-kecakapan dan kebiasaan di rumah merupakan dasar bagi studi anak di sekolah.

       Suasana keluarga yang bahagia akan mempengaruhi masa depan anak baik di sekolah maupun di masyarakat, dalam lingkungan, pekerjaan, maupun dalam lingkungan keluarga kelak (Sikun Pribadi, 1981, p. 67). Dari kutipan ini dapat diketahui bahwa suasana dalam kelaurga dapat mempengaruhi kehidupan di sekolah. Untuk itu, sekolah perlu untuk melibatkan orangtua dalam proses pendidikan. Ketika sekolah dan keluarga bekerja bersama, peserta didik memiliki kesempatan jauh lebih baik untuk tidak hanya sukses di sekolah tetapi juga sukses dalam kehidupan

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar terwujud harmonisasi antara orang tua dan sekolah diantaranya, dari pihak sekolah memberikan akses layanan, dukungan, sumber daya dan pertemuan di waktu dan tempat yang berfungsi untuk mempertemukan orang tua dan sekolah, mengupayakan selalu ada kontak antara orang tua dan pihak sekolah, mengadakan pertemuan dengan orang tua dan memberikan kesempatan kepada orang tua untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitaan dengan proses pendidikan putra putrinya, memberdayakan buku komunikasi atau buku penghubung untuk menceritakan dan menyampaikan mengenai perkembangan anak disekolah. Komunikasi dua arah antara orang tua dan sekolah dalam hal ini guru harus tetap terpelihara sebagai bentuk kontrol pada perkembangan seoarang anak. Dan dari sisi Orang tua pun harus juga memahami bahwa keluarga berperan penting dalam memberikan wawasan dan informasi tentang apa yang dibutuhkan anak. Orang tua adalah mitra bagi sekolah dalam proses pengambilan keputusan sehingga sekolah. Sebagai orang tua juga harus lebih bijaksana dalam menyikapi masalah- masalah anak yang terjadi di sekolah, orang tua hendaknya jangan langsung percaya sepenuhnya terhadap apa yang disampaikan oleh anak, disinilah diperlukannya komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah agar masalah-masalah yang terjadi dapat diselesaikan  demi kepentingan bersama dan tidak ada saling menyalahkan.

Memang dalam upaya mewujudkan kemitraan dan hubungan yang baik antara sekolah dan keluarga akan ada banyak kendala yang harus dihadapi, tetapi dengan tekad yang kuat serta tujuan yang jelas dengan dasar kesadaran dan kepedulian yang tinggi tentang pentingnya pendidikan yang ada dalam keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai pelaksana dan penanggung jawab pendidikan  maka hubungan tersebut tentu dapat diwujudkan.


 

Kamis, 26 Mei 2022

Demoralisasi, Pendidikan Karakter dan Peran Penting Lembaga Keluarga

Oleh :

Hadi Rahman, S.Pd

SMPN 2 Batulicin, Kalsel


Kasus murid melawan guru sempat viral dan menjadi fenomena miris yang dialami oleh dunia pendidikan pada beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh peristiwa yang terjadi pada tahun 2018 yang dialami seorang guru di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Ahmad Budi Cahyanto, seorang guru honorer di SMAN 1 Torjun Kabupaten Sampang, harus meregang nyawa di tangan siswanya sendiri. Kejadiannya bermula ketika Bapak Budi menegur siswanya yang tidak disiplin di dalam kelas ketika proses pembelajan, alih-alih menurut kepada gurunya, siswa tersebut malah menolak dan tidak terima hingga berujung pada penganiayaan kepada Bapak Budi.

Kasus Bapak Ahmad Budi Cahyanto ini adalah sedikit contoh yang sangat miris daripada penyimpangan atau kenakalan yang dilakukan remaja, dalam hal ini adalah pelajar. Masih banyak contoh lain, mulai yang nilai pelanggarannya ringan sampai yang berat, dari yang bersifat verbal (ucapan) sampai yang nonverbal (fisik atau tindakan), seperti perundungun (bullying), penyalahgunaan obat-obatan terlarang, perilaku seks di luar nikah, prostitusi, pornografi, dan tawuran.

Perubahan sikap dan perilaku pelajar dewasa ini tentu tidak muncul secara kebetulan, tentu ada sebab yang mempengaruhinya. Usia pelajar adalah usia dimana proses pembentukan kepribadian atau karakter anak berlangsung, dimana pada usia tersebut anak mempelajari status dan peran mereka di dalam kehidupan sosial secara bertahap, sehingga lingkungan dan pergaulan sangat mempengaruhi proses pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak. Lingkungan dan pergaulan yang baik akan menghasilkan nilai-nilai dan norma yang baik yang bisa dipelajari oleh anak, begitupun sebaliknya.

Seperti sekarang, gempuran era globalisasi, selain membawa dampak positif tetapi juga membawa dampak negatif bagi kehidupan sosial. Melalui kemajuan teknologi informasi, mulai dari televisi sampai smartphone, anak-anak dengan mudah mengikuti arus globalisasi, tentu termasuk arus negatifnya. Westernisasi atau bergaya hidup kebarat-baratan dan demoralisasi merupakan dampak negatif yang dirasakan melanda para pelajar kita. Tentu ini menjadi perhatian kita semua. Bagaimana tidak, sebagai calon generasi penerus bangsa, anak-anak harus mendapat perlindungan agar tidak menjadi rusak dan layu sebelum berkembang.

Permasalahan ini tentu saja disadari oleh pemangku kepentingan, dalam hal ini pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi menggulirkan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sejak 2018 yang menjadi fondasi dan ruh utama pendidikan. Ada lima nilai karakter utama yang diharapkan terinternalisasi dalam diri setiap peserta didik, yakni nilai karakter relijius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan.

Proses internalisasi nilai karakter utama PPK tersebut secara teknis dilaksanakan oleh sekolah, sebagai satu di antara pusat pendidikan. Sekolah melalui para guru mengintegrasikan nilai-nilai karakakter utama PPK pada setiap kegiatan sekolah, baik kegiatan intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Peran guru di sini menjadi penting, tidak hanya sebagai pengajar, namun diharapkan juga berperan sebagai fasilitator dan penjaga gawang yang membantu anak didik menyaring berbagai pengaruh negatif yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya.

Selain pihak sekolah, untuk mensukseskan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter ini juga dibutuhkan sinergitas dengan pusat pendidikan lainnya, yakni keluarga. Karena secara intensitas waktu kebersamaan, keluarga mempunyai waktu lebih banyak dari pada pihak sekolah. Jadi peran keluarga menjadi sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian atau karakakter anak. Bahkan keluarga adalah lembaga pertama yang dikenal oleh anak, bahkan sebelum anak lahir ke dunia.

Keluarga sebagai lembaga, mempunyai beberapa fungsi, di antaranya selain berfungsi reproduksi, keluarga juga mempunyai fungsi sosialisasi, fungsi pengawasan, juga fungsi proteksi. Diberbagai referensi disebutkan bahwa keluarga adalah faktor utama yang mempengaruhi perilaku anak yang tinggal serumah dan membentuk karakter dasar. Orang tua adalah teladan utama, sejalan dengan teori tabularsa yang dikenalkan oleh John Locke.

Keluarga dengan fungsi sosialisasi bisa mengajarkan nilai-nilai dan norma yang baik kepada anak, perilaku-perilaku tauladan orangtua menjadi sangat penting dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ucapan maupun tindakan. Jangan sampai ucapan dan tindakan yang tidak baik atau salah dilihat oleh anak, karena anak dalam membentuk kepribadian dan karakternya dominan dengan cara meniru apa yang dilihat atau didengarnya. Semua nilai dan norma yang baik itu, ucapan maupun tindakan harus dibiasakan sejak dini, agar tertanam dengan kuat pada diri pribadi anak.

Keluarga melalui fungsi pengawasan dan fungsi proteksi bisa mengawasi dan melindungi anak dari pengaruh-pengaruh negatif. Makin luas lingkungan pergaulan anak, maka tentu makin banyak hal-hal baru yang akan ditemui. Makin banyak juga status dan peran yang akan dilakukannya dalam kehidupan sosial. Sebagai contoh, ketika di sekolah, seorang anak berstatus sebagai murid, yang satu di antara perannya sesuai nilai dan norma adalah hormat kepada guru. Maka ketika orangtua mendapati anaknya tidak hormat kepada guru, maka orangtua bisa menegur, menjelaskan dan memberi pengertian kepada anak bahwa itu adalah hal yang salah sehingga anak tidak mengulangi lagi. Jangan sampai semua yang dilakukan anak, salah ataupun benar, semua dibenarkan oleh orangtua, semua itu akan menggangu pembentukan kepribadian atau karakter anak.

Penting dan vitalnya peran dari keluarga ini sesuai dengan apa yang yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sekilas terkesan perintahnya sederhana, padahal setelah dilihat lebih dalam membawa dampak yang sangat besar. Sebagai contoh, kalau satu keluarga menjalankan apa yang diperintahkan dalam surat At-Tahrim ayat 6 tersebut maka keluarganya akan baik. Kalau setiap keluarga di satu kampung menjalankan perintah itu, maka satu lingkungan kampung akan baik. Terus sampai setiap keluarga di Indonesia menjalankan perintahNya itu maka pada akhirnya satu Indonesia akan menjadi baik. Sehingga pada akhirnya, tujuan pendidikan nasional untuk menghasilkan orang-orang cerdas dan berkarakter akan tercapai dengan baik. Semoga.


Daftar Pustaka


  • Kemendikbud. 2018. Permendikbud RI Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal




  • Muslih, Ahmad dkk. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- . Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Biodata Penulis

Nama: Hadi Rahman, S.Pd

TTL: Rantau, 17 Februari 1988

Alamat: Perum.  Bumi Datarlaga Blok W 8 Simpang Empat, Tanah Bumbu

Pekerjaan: PNS Guru

Unit Kerja : SMPN 2 Batulicin

No. HP : 082154187358

E-mail: hadibeteel@gmail.com



Selasa, 24 Mei 2022

MENGAJAR IPS MENYENANGKAN DENGAN PRAKTIKUM SEDERHANA

 Oleh : 

Riswan Wahyuni, SPd (Guru IPS SMPN 3 Angsana Kab. Tanah Bumbu)


Kondisi sekarang ini,pembelajaran tatap muka sudah dilakukan di setiap sekolah.baik PTM terbatas atau keselurahan tatap muka, apa yang harus dilakukan guru pada saat masa transisi dari pembelajaran daring ke pembelajaran normal. lalu bagaimana cara guru dapat menyajikan pembelajaran harus menarik dan peserta didik aktif dalam belajar?

Pembelajaran IPS yang kita ketahui bersama juga tidak luput dari kecenderungan proses pembelajaran teacher centered. Kondisi demikian tentu membuat proses pembelajaran hanya dikuasai guru.materi yang disajikan dengan pola ceramah dan pemberian tugas tugas hingga membuat siswa jenuh dan bosan.apalagi pembelajaran IPS khususnya materi yang perlu pemahaman konsep. Serta kurangnya pengoptimalan/penggunaan  media pembelajaran IPS.dampaknya siswa kurang minat/motivasi terhadap materi yang disampaikan.

Salah satu suasana yang mestinya tercipta dalam proses pembelajaran adalah bagaimana siswa siswa yang belajar benar benar berperan aktif dalam belajar.

Salah satu aspek yang sangat mempengaruhi adalah bagaimana cara atau strategi seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran agar meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran IPS. 


Kali ini pada mata pelajaran IPS di kelas VII yang saya ampu membahas tentang "memahami pergerakan angin ". Metode pembelajaran yang digunakan adalah praktik membuat penunjuk arah mata angin sederhana ,kegiatan praktik ini dipersiapkan dengan alat dan bahan sederhana yang mudah di dapat.

Alat penunjuk arah  mata angin  sederhana ini berguna untuk mengetahui perubahan angin muson. Jika angin berhembus dari barat berarti angin muson barat, sebaliknya jika angin berhembus dari timur maka dikatan sebagai angin muson timur.

Sebagaimana yang sudah saya tulis di awal, mengemas metode praktikum ini dalam pembelajaran IPS adalah bertujuan agar pembelajaran IPS lebih menarik,menyenangkan ,menarik minat dan seluruh peserta didik terlibat aktif. Menurut Sudirman (1992:163) metode praktikum adalah cara penyajian pelajaran kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sesuatu yang dipelajari.



         Tahap awal pelaksanaanya praktik ini dengan memberikan arahan kepada peserta didik pada pertemuan sebelumnya untuk  menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk kegiatan praktik  berupa : gunting,sedotan plastic,kertas tebal,penggaris,lem kertas,gelas plastik,pasir/kerikil,pensil yang ada penghapus di atasnya,jarum kecil,gambar arah mata angin/kompas.Karena di dalam satu kelas peserta didik hanya sedikit , Cuma ada 7 siswa, maka  setiap siswa membuat satu alat petunjuk arah mata angin.

Selanjutnya setelah semua bahan sudah siap dan setiap siswa sudah menempati posisinya masing - masing.selanjutnya guru mengarahkan  dan memperagakan ,kemudian di ikuti para siswa mempraktikkan pembuatan petunjuk arah mata angin.


Di modul PJJ IPS kelas VII semester ganjil (2020),langkah langkahnya sebagai berikut :

langkah pertama adalah membuat keratan pada kedua ujung sedotan, setiap siswa menyiapkan  sedotan plastik yang lurus, lalu gunakan gunting untuk membuat keratan di kedua ujungnya. Panjang tiap keratan kira- kira 1 cm.

Selanjutnya langkah kedua setiap siswa membuat segitiga dan kotak dari kertas yang tebal,buat segitiga itu seperti panah dan  segitiga sama sisi dan lebih kecil dari kotak,buat segitiga yang tingginya 5 cm dan kotak berukuran 7x7dengan penggaris

Langkah ketiga yaitu memasang kedua potongan kertas tadi pada keratan di sedotan,Segitiga itu bisa dipasangkan sehingga menyerupai ujung anak panah, sementara kotak pada ujung lawannya. Agar kedua potongan  bisa terpasang dengan baik, gunakan lem kertas pada sedotan lalu biarkan di atas alas kertas hingga lem kering.

Langkah keempat,Siapkan wadah berisi kerikil,Siapkan wadah es krim, gelas plastik, atau wadah plastik kecil apa pun yang sudah tak terpakai. Isi setengah wadah tersebut dengan kerikil, pasir, atau sejenisnya yang bisa menahan  agar penunjuk arah mata angin tetap tegak.

Langkah kelima,Buat tutup untuk wadah,Kalau wadah itu sudah ada tutupnya, pakaikan tutup tersebut. Kalau tak ada tutup, buat tutup dari piring kertas atau kardus yang dilem di atas wadah. Tunggu hingga lem kering dan tutup itu sudah benar-benar terpasang sebelum melanjutkan.

Langkah keenam,Tusukkan pensil menembus sisi bawah wadah,Siapkan pensil yang atasnya ada penghapus  karet. Balikkan wadah tadi dan buat lubang di sisi bawahnya,Tancap ujung tajam pensil (ujung yang untuk menulis) ke lubang hingga terbenam dalam kerikil/pasir dan bisa berdiri

Langkah ketujuh ,Tusukkan jarum sehingga sedotan terpasang pada ujung penghapus  pensil

 Siapkan jarum atau paku payung. Tusuk jarum menembus tengah-tengah sedotan lalu tusuk ke ujung penghapus  pensil. Coba tiup kertas kotak pada sedotan; jika sedotan tidak berputar, coba pastikan jarum tertusuk pas di tengah sedotan;  jika rubuh, coba potong kertas di sisi yang rubuh sehingga lebih kecil

Langkah kedelapan,Tentukan arah mata angin coba cari tahu arah utara

sebelah mana. Tuliskan “Utara” pada sisi atau atas wadah plastik yang menghadap utara. wadah dituliskan “Timur”, “Selatan”, dan “Barat” berurutan searah  jarum jam selayaknya melihat arah mata angin pada peta.

Terakhir ,langkah kesembilan mengamati ketika penunjuk arah mata angin berputar,masing – masing siswa membawa penunjuk arah mata angin ke luar, yakni tempat yang jauh dari tembok atau benda besar lainnya yang bisa menghalangi angin. Jika ada angin berembus, semestinya angin mendorong kertas kotak sehingga sedotan berputar dan kertas panah menunjukkan arah dari mana angin “datang”. Kalau panah menunjuk ke arah

barat, maka angin itu adalah angin barat yang bertiup dari barat ke timur.hasil dari pengamatan siswa kemudian dituliskan di LKPD siswa  masing – masing.


Berdasarkan pengamatan saya,dalam menerapkan metode praktikum dalam pembelajaran IPS dapat lebih memotivasi peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.semua siswa bersemangat dan antusias.selama proses pembuatan alat praktikum semua siswa terlihat asyik, seru, senyum dan  tertawa ketika melihat hasil produk alat yang dibuat oleh siswa memiliki keunikan tersendiri.

Sebagai seorang guru tentu sangat senang karena pembelajaran praktik IPS yang saya laksanakan  di kelas dapat diterima dengan baik dan menyenangkan bagi peserta didik.semoga kedepan saya terus termotivasi untuk tetap menerapkan cara pembelajaran yang lebih menarik dan mengasyikkan agar peserta didik semangat dalam mengikuti pelajaran IPS.

Harapan kedepannya semoga saya terus termotivasi untuk tetap menerapkan strategi,metode,model  pembelajaran IPS yang lebih menarik, seru,menyenangkan dan mengasyikkan agar peserta didik semangat dalam mengikuti pelajaran IPS.

 


Belajar IPS di Situs Prasejarah Liang Bangkai Kabupaten Tanah Bumbu

Oleh

Adi Fitriansyah Rizqoni S.Pd

Guru SMPN 4 Mantewe


Ilmu pengetahuan sosial merupakan  mata pelajaran yang mengkaji tentang isu-isu sosial  dengan unsur kajiannya dalam konteks Peristiwa, fakta, dan generalisasi. Tema yang dikaji dalam IPS adalah  fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat baik masa lalu, masa sekarang, dan kecenderungannya dimasa mendatang. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi  Geografi, Sejarah, Sosiologi , dan ekonomi (Kurikulum IPS 2013:2). Muatan sejarah dalam mata pelajaran IPS di SMP/MTs komposisinya jika ditinjau dari isi kurikulum mencakup perubahan masyarakat Indonesia pada zaman praksara, zaman Hindu-Budha dan zaman Islam, zaman penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan, masa pergerakan kemerdekaan sampai dengan awal reformasi.

Diakui atau tidak, Pembelajaran IPS di sekolah selama ini ternyata masih banyak memiliki kendala. Kendala umum yang ditemui adalah penggunaan metode pembelajaran yang  kurang  variatif, masih ada kecenderungan guru dalam pembelajaran IPS menggunakan cara konvensional atau tradisional, sehingga membuat peserta didik cepat bosan, kurang aktif dan tidak fokus dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa peserta didik kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Guru juga belum menggunakan media dan sumber belajar yang terkait dengan lingkungan alam sekitar, padahal IPS memiliki  laboratorium alam yang merupakan laboratorium terbuka dengan segala sesuatu yang ada di alam baik yang berada di lingkungan sekolah atau tempat tinggal  peserta didik yang  termasuk didalamnya makhluk hidup maupun benda mati yang dapat dijadikan objek pengamatan, sarana atau tempat melakukan percobaan dan sebagai tempat mendapatkan informasi.

Kreativitas dan inovasi pembelajaran sangat penting untuk dilakukan dengan tetap menyelaraskan tingkat perkembangan anak dan tuntutan zaman. Pemilihan sumber belajar yang tepat diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta didik dalam belajar. Lingkungan sekitar adalah sumber belajar yang tidak dirancang khusus tetapi dapat dimanfaatkan untuk memberi kemudahan dalam belajar mengajar. Lingkungan sekolah, sungai, pantai, lahan pertanian, pasar, situs-situs sejarah, merupakan contoh laboratorium terbuka yang dapat digunakan sebagai sumber belajar IPS.

Situs Liang Bangkai dapat dijadikan sumber belajar IPS bagi para peserta didik . Situs ini merupakan salah satu situs prasejarah di kawasan karst Mantewe  Kalimantan Selatan,  tepatnya di desa Dukuh Rejo Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu.Berdasarkan penelitian intensif yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan sejak tahun 2008 telah memprediksi bahwa situs Liang Bangkai merupakan situs ceruk hunian manusia prasejarah. Kawasan ini ditemukan 12 gua, 11 ceruk, dan 1 lorong yang diantaranya mengandung temuan arkeologis. Seperti temuan sisa-sisa alat batu, rangka manusia, kitchenmidden/kyokenmodinger, dan lukisan dinding gua. Pemanfaatan situs Liang Bangkai sebagai sumber belajar IPS bagi peserta didik  SMP  tentu akan lebih menyenangkan. Mereka bisa memperoleh informasi berdasarkan pengalaman langsung dan belajar dari hal-hal yang bersifat konkret. Peserta didik juga terpacu sikap dan rasa keingintahuan tentang sesuatu yang ada di sekitarnya. 

Belajar mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP pasti akan menemukan materi tentang sejarah yang terdapat pada KD 3.4 Memahami kronologi perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada aspek politik, sosial, budaya, geografis, dan pendidikan sejak masa praaksara sampai masa Hindu-Budha dan Islam. Pada KD ini terdapat materi pokok tentang  “kehidupan manusia pada masa praaksara” sehingga relevan untuk dilakukannya pembelajaran diluar kelas bagi peserta didik yang berdomisili di Mantewe dan sekitarnya. Dengan mendatangi situs  liang bangkai peserta didik dapat melihat, mengamati dan bertanya mengenai ciri-ciri tempat tinggal manusia prasejarah. Mengumpulkan data  bukti-bukti peninggalan kehidupan manusia prasejarah seperti sampah dapur yang berupa cangkang kerang atau siput sungai yang menjadi salah satu bahan makanan manusia prasejarah. Peserta didik juga dapat mempublikasikan, mengkomunikasikan dan menginformasikan peninggalan-peninggalan yang ditemukan di situs prasejarah Liang Bangkai melalui kegiatan diskusi.  Selain itu dengan mengunjungi situs liang bangkai juga dapat menanamkan nilai-nilai karakter cinta lingkungan, sehingga nantinya anak-anak akan  turut serta menjaga dan melestarikan lingkungan yang memilki nilai sejarah.

Kelebihan pembelajaran diluar kelas mengunjungi situs prasejarah Liang Bangkai diantaranya adalah dapat merangsang peserta didik terhadap peristiwa atau gejala yang terjadi di alam bebas, khususnya yang berkaitandengan situs prasejarah Liang Bangkai. Hal ini mendorong para peserta didik untuk dapat mencatat data atau gejala-gejala yang terjadi di alam bebas, hal ini bisa digunakan untuk melatih mereka dalam melakukan evaluasi. Pembelajaran  ini juga mampu memperluas wawasan berpikir peserta didik mengenai lingkungan sekitar.Dapat mengubah persepsi peserta didik tentang pembelajaran yang monoton di kelas. Membangun semangat solidaritas dalam kelompok dan dapat memecahkan masalah sesuai permasalahan nyata.

Sedangkan kelemahan dalam pembelajaran ini yaitu, membutuhkan waktu yang cukup lama, mengeluarkan biaya dan juga perlu izin dari orang tua serta sekolah. Pengelolaan peserta didik akan lebih sulit terkondisi. Peserta didik kurang berkonsentrasi karena keterbatasan guru untuk mengontrol jalannya proses pembelajaran. Guru harus lebih intensif dalam membimbing siswa. Oleh karena itu penting bagi guru untuk menyiapkan guide learning yang baik agar bisa mengatasi beberapa kelemahan pembelajaran di luar kelas.

Pemanfaatan lingkungan situs prasejarah  Liang Bangkai dalam pembelajaran  IPS di luar kelas dapat membangun karakter peserta didik melalui pengalaman belajar langsung dan konteks yang nyata. Dalam kegiatan seperti ini tentu mempunyai arti yang lebih besar dari sekedar berkata-kata. Selain itu pembelajaran d luar kelas lebih menantang bagi peserta didik dan menjembatani antara teori di dalam buku dan fakta yang ada di lapangan. Kualitas pembelajaran dalam situasi yang nyata akan meningkatkan kapasitas pencapaian pembelajaran melalui objek yang dipelajari serta dapat membangun keterampilan sosial dan personal yang lebih baik.Antusias peserta didik juga dapat menghasilkan situasi belajar yang menakjubkan dan berkualitas. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.







DAFTAR PUSTAKA


Dikdasmen. 2013. Kurikulum IPS 2013. Jakarta: Dikdasmen

Kemendikbud. 2013. Kurikulum 2013 SMP/Mts Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Kemendikbud

Nafiah, Ulfatun dkk. 2020.Situs-Situs Prasejarah Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Banjarbaru:Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan

Husamah. 2013. Pembelajaran Luar Kelas (outdoor Learning). Jakarta: Prestasi Pustaka 

Raya 

Widiasworo, Erwin. 2016. Strategi dan Metode Mengajar di luar kelas (Outdoor Learning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, dan Komunikatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media



BIODATA PENULIS








Nama                    :  Adi Fitriansyah Rizqoni S.Pd

Tempat, Tanggal Lahir     :  Pelaihari. 04 Juni 1986

Alamat      : Perumahan Bumi Datarlaga RT12 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan

Pekerjaan    : Tenaga Pendidik di SMPN 4 Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu

No. HP    : 085386011542

Email    : adirizqoni@gmail.com