Selasa, 24 Mei 2022

Belajar IPS di Situs Prasejarah Liang Bangkai Kabupaten Tanah Bumbu

Oleh

Adi Fitriansyah Rizqoni S.Pd

Guru SMPN 4 Mantewe


Ilmu pengetahuan sosial merupakan  mata pelajaran yang mengkaji tentang isu-isu sosial  dengan unsur kajiannya dalam konteks Peristiwa, fakta, dan generalisasi. Tema yang dikaji dalam IPS adalah  fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat baik masa lalu, masa sekarang, dan kecenderungannya dimasa mendatang. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi  Geografi, Sejarah, Sosiologi , dan ekonomi (Kurikulum IPS 2013:2). Muatan sejarah dalam mata pelajaran IPS di SMP/MTs komposisinya jika ditinjau dari isi kurikulum mencakup perubahan masyarakat Indonesia pada zaman praksara, zaman Hindu-Budha dan zaman Islam, zaman penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan, masa pergerakan kemerdekaan sampai dengan awal reformasi.

Diakui atau tidak, Pembelajaran IPS di sekolah selama ini ternyata masih banyak memiliki kendala. Kendala umum yang ditemui adalah penggunaan metode pembelajaran yang  kurang  variatif, masih ada kecenderungan guru dalam pembelajaran IPS menggunakan cara konvensional atau tradisional, sehingga membuat peserta didik cepat bosan, kurang aktif dan tidak fokus dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa peserta didik kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Guru juga belum menggunakan media dan sumber belajar yang terkait dengan lingkungan alam sekitar, padahal IPS memiliki  laboratorium alam yang merupakan laboratorium terbuka dengan segala sesuatu yang ada di alam baik yang berada di lingkungan sekolah atau tempat tinggal  peserta didik yang  termasuk didalamnya makhluk hidup maupun benda mati yang dapat dijadikan objek pengamatan, sarana atau tempat melakukan percobaan dan sebagai tempat mendapatkan informasi.

Kreativitas dan inovasi pembelajaran sangat penting untuk dilakukan dengan tetap menyelaraskan tingkat perkembangan anak dan tuntutan zaman. Pemilihan sumber belajar yang tepat diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta didik dalam belajar. Lingkungan sekitar adalah sumber belajar yang tidak dirancang khusus tetapi dapat dimanfaatkan untuk memberi kemudahan dalam belajar mengajar. Lingkungan sekolah, sungai, pantai, lahan pertanian, pasar, situs-situs sejarah, merupakan contoh laboratorium terbuka yang dapat digunakan sebagai sumber belajar IPS.

Situs Liang Bangkai dapat dijadikan sumber belajar IPS bagi para peserta didik . Situs ini merupakan salah satu situs prasejarah di kawasan karst Mantewe  Kalimantan Selatan,  tepatnya di desa Dukuh Rejo Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu.Berdasarkan penelitian intensif yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan sejak tahun 2008 telah memprediksi bahwa situs Liang Bangkai merupakan situs ceruk hunian manusia prasejarah. Kawasan ini ditemukan 12 gua, 11 ceruk, dan 1 lorong yang diantaranya mengandung temuan arkeologis. Seperti temuan sisa-sisa alat batu, rangka manusia, kitchenmidden/kyokenmodinger, dan lukisan dinding gua. Pemanfaatan situs Liang Bangkai sebagai sumber belajar IPS bagi peserta didik  SMP  tentu akan lebih menyenangkan. Mereka bisa memperoleh informasi berdasarkan pengalaman langsung dan belajar dari hal-hal yang bersifat konkret. Peserta didik juga terpacu sikap dan rasa keingintahuan tentang sesuatu yang ada di sekitarnya. 

Belajar mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP pasti akan menemukan materi tentang sejarah yang terdapat pada KD 3.4 Memahami kronologi perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada aspek politik, sosial, budaya, geografis, dan pendidikan sejak masa praaksara sampai masa Hindu-Budha dan Islam. Pada KD ini terdapat materi pokok tentang  “kehidupan manusia pada masa praaksara” sehingga relevan untuk dilakukannya pembelajaran diluar kelas bagi peserta didik yang berdomisili di Mantewe dan sekitarnya. Dengan mendatangi situs  liang bangkai peserta didik dapat melihat, mengamati dan bertanya mengenai ciri-ciri tempat tinggal manusia prasejarah. Mengumpulkan data  bukti-bukti peninggalan kehidupan manusia prasejarah seperti sampah dapur yang berupa cangkang kerang atau siput sungai yang menjadi salah satu bahan makanan manusia prasejarah. Peserta didik juga dapat mempublikasikan, mengkomunikasikan dan menginformasikan peninggalan-peninggalan yang ditemukan di situs prasejarah Liang Bangkai melalui kegiatan diskusi.  Selain itu dengan mengunjungi situs liang bangkai juga dapat menanamkan nilai-nilai karakter cinta lingkungan, sehingga nantinya anak-anak akan  turut serta menjaga dan melestarikan lingkungan yang memilki nilai sejarah.

Kelebihan pembelajaran diluar kelas mengunjungi situs prasejarah Liang Bangkai diantaranya adalah dapat merangsang peserta didik terhadap peristiwa atau gejala yang terjadi di alam bebas, khususnya yang berkaitandengan situs prasejarah Liang Bangkai. Hal ini mendorong para peserta didik untuk dapat mencatat data atau gejala-gejala yang terjadi di alam bebas, hal ini bisa digunakan untuk melatih mereka dalam melakukan evaluasi. Pembelajaran  ini juga mampu memperluas wawasan berpikir peserta didik mengenai lingkungan sekitar.Dapat mengubah persepsi peserta didik tentang pembelajaran yang monoton di kelas. Membangun semangat solidaritas dalam kelompok dan dapat memecahkan masalah sesuai permasalahan nyata.

Sedangkan kelemahan dalam pembelajaran ini yaitu, membutuhkan waktu yang cukup lama, mengeluarkan biaya dan juga perlu izin dari orang tua serta sekolah. Pengelolaan peserta didik akan lebih sulit terkondisi. Peserta didik kurang berkonsentrasi karena keterbatasan guru untuk mengontrol jalannya proses pembelajaran. Guru harus lebih intensif dalam membimbing siswa. Oleh karena itu penting bagi guru untuk menyiapkan guide learning yang baik agar bisa mengatasi beberapa kelemahan pembelajaran di luar kelas.

Pemanfaatan lingkungan situs prasejarah  Liang Bangkai dalam pembelajaran  IPS di luar kelas dapat membangun karakter peserta didik melalui pengalaman belajar langsung dan konteks yang nyata. Dalam kegiatan seperti ini tentu mempunyai arti yang lebih besar dari sekedar berkata-kata. Selain itu pembelajaran d luar kelas lebih menantang bagi peserta didik dan menjembatani antara teori di dalam buku dan fakta yang ada di lapangan. Kualitas pembelajaran dalam situasi yang nyata akan meningkatkan kapasitas pencapaian pembelajaran melalui objek yang dipelajari serta dapat membangun keterampilan sosial dan personal yang lebih baik.Antusias peserta didik juga dapat menghasilkan situasi belajar yang menakjubkan dan berkualitas. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.







DAFTAR PUSTAKA


Dikdasmen. 2013. Kurikulum IPS 2013. Jakarta: Dikdasmen

Kemendikbud. 2013. Kurikulum 2013 SMP/Mts Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Kemendikbud

Nafiah, Ulfatun dkk. 2020.Situs-Situs Prasejarah Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Banjarbaru:Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan

Husamah. 2013. Pembelajaran Luar Kelas (outdoor Learning). Jakarta: Prestasi Pustaka 

Raya 

Widiasworo, Erwin. 2016. Strategi dan Metode Mengajar di luar kelas (Outdoor Learning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, dan Komunikatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media



BIODATA PENULIS








Nama                    :  Adi Fitriansyah Rizqoni S.Pd

Tempat, Tanggal Lahir     :  Pelaihari. 04 Juni 1986

Alamat      : Perumahan Bumi Datarlaga RT12 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan

Pekerjaan    : Tenaga Pendidik di SMPN 4 Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu

No. HP    : 085386011542

Email    : adirizqoni@gmail.com