Kamis, 26 Mei 2022

Demoralisasi, Pendidikan Karakter dan Peran Penting Lembaga Keluarga

Oleh :

Hadi Rahman, S.Pd

SMPN 2 Batulicin, Kalsel


Kasus murid melawan guru sempat viral dan menjadi fenomena miris yang dialami oleh dunia pendidikan pada beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh peristiwa yang terjadi pada tahun 2018 yang dialami seorang guru di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Ahmad Budi Cahyanto, seorang guru honorer di SMAN 1 Torjun Kabupaten Sampang, harus meregang nyawa di tangan siswanya sendiri. Kejadiannya bermula ketika Bapak Budi menegur siswanya yang tidak disiplin di dalam kelas ketika proses pembelajan, alih-alih menurut kepada gurunya, siswa tersebut malah menolak dan tidak terima hingga berujung pada penganiayaan kepada Bapak Budi.

Kasus Bapak Ahmad Budi Cahyanto ini adalah sedikit contoh yang sangat miris daripada penyimpangan atau kenakalan yang dilakukan remaja, dalam hal ini adalah pelajar. Masih banyak contoh lain, mulai yang nilai pelanggarannya ringan sampai yang berat, dari yang bersifat verbal (ucapan) sampai yang nonverbal (fisik atau tindakan), seperti perundungun (bullying), penyalahgunaan obat-obatan terlarang, perilaku seks di luar nikah, prostitusi, pornografi, dan tawuran.

Perubahan sikap dan perilaku pelajar dewasa ini tentu tidak muncul secara kebetulan, tentu ada sebab yang mempengaruhinya. Usia pelajar adalah usia dimana proses pembentukan kepribadian atau karakter anak berlangsung, dimana pada usia tersebut anak mempelajari status dan peran mereka di dalam kehidupan sosial secara bertahap, sehingga lingkungan dan pergaulan sangat mempengaruhi proses pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak. Lingkungan dan pergaulan yang baik akan menghasilkan nilai-nilai dan norma yang baik yang bisa dipelajari oleh anak, begitupun sebaliknya.

Seperti sekarang, gempuran era globalisasi, selain membawa dampak positif tetapi juga membawa dampak negatif bagi kehidupan sosial. Melalui kemajuan teknologi informasi, mulai dari televisi sampai smartphone, anak-anak dengan mudah mengikuti arus globalisasi, tentu termasuk arus negatifnya. Westernisasi atau bergaya hidup kebarat-baratan dan demoralisasi merupakan dampak negatif yang dirasakan melanda para pelajar kita. Tentu ini menjadi perhatian kita semua. Bagaimana tidak, sebagai calon generasi penerus bangsa, anak-anak harus mendapat perlindungan agar tidak menjadi rusak dan layu sebelum berkembang.

Permasalahan ini tentu saja disadari oleh pemangku kepentingan, dalam hal ini pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi menggulirkan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sejak 2018 yang menjadi fondasi dan ruh utama pendidikan. Ada lima nilai karakter utama yang diharapkan terinternalisasi dalam diri setiap peserta didik, yakni nilai karakter relijius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan.

Proses internalisasi nilai karakter utama PPK tersebut secara teknis dilaksanakan oleh sekolah, sebagai satu di antara pusat pendidikan. Sekolah melalui para guru mengintegrasikan nilai-nilai karakakter utama PPK pada setiap kegiatan sekolah, baik kegiatan intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Peran guru di sini menjadi penting, tidak hanya sebagai pengajar, namun diharapkan juga berperan sebagai fasilitator dan penjaga gawang yang membantu anak didik menyaring berbagai pengaruh negatif yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya.

Selain pihak sekolah, untuk mensukseskan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter ini juga dibutuhkan sinergitas dengan pusat pendidikan lainnya, yakni keluarga. Karena secara intensitas waktu kebersamaan, keluarga mempunyai waktu lebih banyak dari pada pihak sekolah. Jadi peran keluarga menjadi sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian atau karakakter anak. Bahkan keluarga adalah lembaga pertama yang dikenal oleh anak, bahkan sebelum anak lahir ke dunia.

Keluarga sebagai lembaga, mempunyai beberapa fungsi, di antaranya selain berfungsi reproduksi, keluarga juga mempunyai fungsi sosialisasi, fungsi pengawasan, juga fungsi proteksi. Diberbagai referensi disebutkan bahwa keluarga adalah faktor utama yang mempengaruhi perilaku anak yang tinggal serumah dan membentuk karakter dasar. Orang tua adalah teladan utama, sejalan dengan teori tabularsa yang dikenalkan oleh John Locke.

Keluarga dengan fungsi sosialisasi bisa mengajarkan nilai-nilai dan norma yang baik kepada anak, perilaku-perilaku tauladan orangtua menjadi sangat penting dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ucapan maupun tindakan. Jangan sampai ucapan dan tindakan yang tidak baik atau salah dilihat oleh anak, karena anak dalam membentuk kepribadian dan karakternya dominan dengan cara meniru apa yang dilihat atau didengarnya. Semua nilai dan norma yang baik itu, ucapan maupun tindakan harus dibiasakan sejak dini, agar tertanam dengan kuat pada diri pribadi anak.

Keluarga melalui fungsi pengawasan dan fungsi proteksi bisa mengawasi dan melindungi anak dari pengaruh-pengaruh negatif. Makin luas lingkungan pergaulan anak, maka tentu makin banyak hal-hal baru yang akan ditemui. Makin banyak juga status dan peran yang akan dilakukannya dalam kehidupan sosial. Sebagai contoh, ketika di sekolah, seorang anak berstatus sebagai murid, yang satu di antara perannya sesuai nilai dan norma adalah hormat kepada guru. Maka ketika orangtua mendapati anaknya tidak hormat kepada guru, maka orangtua bisa menegur, menjelaskan dan memberi pengertian kepada anak bahwa itu adalah hal yang salah sehingga anak tidak mengulangi lagi. Jangan sampai semua yang dilakukan anak, salah ataupun benar, semua dibenarkan oleh orangtua, semua itu akan menggangu pembentukan kepribadian atau karakter anak.

Penting dan vitalnya peran dari keluarga ini sesuai dengan apa yang yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sekilas terkesan perintahnya sederhana, padahal setelah dilihat lebih dalam membawa dampak yang sangat besar. Sebagai contoh, kalau satu keluarga menjalankan apa yang diperintahkan dalam surat At-Tahrim ayat 6 tersebut maka keluarganya akan baik. Kalau setiap keluarga di satu kampung menjalankan perintah itu, maka satu lingkungan kampung akan baik. Terus sampai setiap keluarga di Indonesia menjalankan perintahNya itu maka pada akhirnya satu Indonesia akan menjadi baik. Sehingga pada akhirnya, tujuan pendidikan nasional untuk menghasilkan orang-orang cerdas dan berkarakter akan tercapai dengan baik. Semoga.


Daftar Pustaka


  • Kemendikbud. 2018. Permendikbud RI Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal




  • Muslih, Ahmad dkk. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- . Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Biodata Penulis

Nama: Hadi Rahman, S.Pd

TTL: Rantau, 17 Februari 1988

Alamat: Perum.  Bumi Datarlaga Blok W 8 Simpang Empat, Tanah Bumbu

Pekerjaan: PNS Guru

Unit Kerja : SMPN 2 Batulicin

No. HP : 082154187358

E-mail: hadibeteel@gmail.com