Senin, 06 Juni 2022

Keutamaan Saling Memaafkan



Oleh

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


“Apologizing Is Courage Is Praiseworthy & Forgiveness Is A Noble attitude”


Manusia merupakan makhluk yang tidak akan luput dari kesalahan. Kesalahan tersebut mungkin saja dilakukan terhadap dirinya sendiri atau bahkan berbuat salah kepada orang lain. Jika melakukan kesalahan pada diri sendiri, seseorang cukup menyadari, menyesali dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Berbeda halnya jika seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain.

Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain, maka sudah seharusnya orang tersebut minta maaf. Dan saat seseorang meminta maaf, maka sudah seharusnya orang yang dimintai maaf memberikan maafnya.

Dikutip dari laman NU Online, memaafkan orang memang bukan hal mudah, terlebih jika kesalahan yang dilakukan cukup besar. Namun, justru pada saat itulah keimanan seseorang diuji. Apakah ia akan mengedepankan egonya atau mengalahkan amarahnya untuk memberikan maaf.

Sudah menjadi kodrat sebagai manusia tidak terlepas dari kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam perbuatan. Namun demikian manusia diciptakan juga dibekali dengan sifat-sifat untuk memperbaiki kesalahannya. Salah satu sifat yang dianjurkan untuk kita miliki adalah sifat pemaaf. Sifat pemaaf merupakan sifat yang mulia, karena tidak semua manusia dapat berbesar hati dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Hal-hal yang tidak disadari semua orang dalam pergaulan dengan sesama adalah melakukan sesuatu, baik secara lisan maupun perbuatan yang tidak disadarinya telah melukai hati atau perasaan orang lain meskipun hal tersebut dilakukan dengan tidak kesengajaan. Tapi kalau hal tersebut dibiarkan akan berakibat buruk terhadap hubungan antar individu yang bersangkutan. Untuk itu ketika merasa ada yang melukai hati dan perasaan kita maka sebaiknya kita tidak langsung marah terhadapnya, tetapi cari kebenarannya dahulu agar sikap yang akan kita ambil jangan sampai salah sehingga merugikan diri kita sendiri, dan kalau hal tersebut dibiarkan akan merusak hati kita menjadi seorang yang pendendam dan berfikiran negatif. 

 

Beberapa perbuatan yang menimbulkan kesalahpahaman antara seseorang dengan orang lain:

1. Tidak terjaganya lisan

Seringkali kita mengucapkan kata kata yang tidak baik atau menyakiti orang lain. Kata kata seperti mencela orang lain, memaki-maki, menerangkan keburukan orang lain atau berghibah (membicarakan keburukan orang lain, mencari kesalahan dan kelemahan orang lain, mencari keburukan dan kekurangan orang lain, membicarakan aib orang lain) membentak orang lain, berkata dengan nada yang kasar, menyinggung perasaan orang lain. Apabila kita membiarkan keadaan tersebut tentu akan menjadi kebiasaan yang sangat merugikan bagi kehidupan kita saat ini dan kedepannya. Ucapan yang sudah keluar sulit untuk dapat diralat kembali apabila sudah didengarkan oleh banyak orang. Maka menjaga lisan adalah hal yang seharusnya kita lakukan, dengan cara berkata kata yang baik dan memberikan banyak manfaat. 

2. Tidak terjaganya perilaku diri

Dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat tentulah kita selalu berkontak dan berhubungan langsung dengan orang lain. Perilaku yang kita tunjukkan akan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kita. Tanpa disadari kita menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan bagi orang lain. Kadang seseorang menjadi sombong terhadap apa yang dimilikinya seperti harta benda atau kekayaan, dan dengan mudahnya menganggap orang lain berada dibawahnya. Padalah harta benda yang dimilikinya itu adalah titipan dari Allah SWT yang sewaktu-waktu dapat diambil lagi oleh pemiliknya. Selain itu, ada juga perilaku yang tidak disadari telah menjerumuskan kita yaitu menuruti hawa nafsu, tidak berfikir panjang dalam bertindak, suka marah, berlaku kikir dengan tidak memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting seperti kemaksiatan dan bangga dengan dirinya sendiri seakan-akan orang lain tidak berarti. Perilaku-perilaku tersebut yang harus kita hindari mulai dari sekarang. 

3. Tidak punya kepedulian terhadap orang lain

Tentu saja banyak hal yang harus kita perhatikan dalam hubungan keseharian kita. Kita dituntut untuk selalu memperhatikan dan menjaga hubungan baik.  Kadang karena kesibukan, kita jarang bertegur sapa sekedar menanyakan keadaan atau kabar orang-orang di sekeliling kita. Tidak jarang kita hanya mementingkan kebutuhan dan kepentingan diri kita sendiri. Kita melakukan pemborosan dengan membeli barang-barang atau sesuatu yang sebenarnya kita tidak membutuhkannya tetapi hanya karena keinginan saja untuk memilikinya. Sementara ada orang lain atau tetangga kita yang lebih membutuhkan itu tetapi mereka tidak bisa mendapatkannya karena tidak memiliki uang untuk membelinya. Untuk itu sikap peduli atau empati harus kita pupuk sedari sekarang agar menjadi kebiasaan yang baik bagi kehidupan kita sehari-harinya.

 

Yang harus kita lakukan untuk memperbaiki diri agar lebih baik adalah: 

1. Menyadari kesalahan dan bersegera meminta maaf

Dari perilaku-perilaku yang menimbulkan kesalahpahaman di atas tentulah hal itu bisa terjadi pada siapa saja. Bisa jadi kita yang diposisi sebagai orang yang melakukan perbuatan tidak baik, atau kita justru diposisi yang diperlakukan tidak baik. Kalau kita diposisi yang melakukan perbuatan yang tidak baik tentulah harus bersegera memperbaikinya. Merenungkan apa yang telah kita lakukan, akan menemukan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Butuh waktu untuk mencerna dan memahami kenapa kita bisa melakukan kesalahan tersebut. Bisa jadi kita menyadarinya bahwa kita telah melakukan kesalahan setelah ada pihak-pihak yang protes merasa tersakiti. Justru dengan adanya pihak yang protes karena merasa dirugikan oleh perbuatan kita, menjadikan lebih mudah bagi kita untuk menelusur atas kesalahan kita, sehingga bisa menjadi pedoman untuk kita memperbaiki diri. Sulit memang bagi kita untuk berbesar hati mendatangi pihak yang kita sakiti untuk meminta maaf. Namun hal tersebut harus kita lakukan agar diri kita tidak selalu dihantui rasa bersalah. Selain kita meminta maaf secara langsung, yang harus kita lakukan adalah memperbaiki diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. Kita juga harus menjalin silaturahmi dan komunikasi yang baik untuk menunjukkan bahwa kita serius dalam meminta maaf. Pemberian maaf dari orang yang kita sakiti sangatlah penting bagi kita, namun tentu saja tidak mudah bagi seseorang untuk memaafkan begitu saja atas apa yang dideritanya. Tetapi kita berkeyakinan kalau kita bersungguh sungguh pastilah hati orang yang kita sakiti akan luluh untuk memaafkan kita.

2. Memberikan maaf kalau ada yang meminta maaf pada kita

Kita juga kadang dihadapkan oleh keadaan dimana diri kitalah yang mendapat perlakukan tidak baik atau disakiti perasaan oleh orang lain. Namun yang mesti kita lakukan adalah tetap introspeksi diri sebelum balik menyalahkan orang lain. Bisa jadi orang lain memperlakukan kita yang tidak sesuai dengan harapan kita karena ada alasan tersendiri. Mungkin mereka pernah kita sakiti atau bisa jadi termakan oleh informasi yang tidak benar. Untuk itu kita perlu berhati-hati dalam menyikapinya. Yang pertama kita lakukan adalah berjiwa besar untuk tidak langsung marah atau jangan sampai berusaha membalasnya. Karena kalau kita tidak bisa mengendalikan diri dan cepat marah maka itu akan merugikan diri kita sendiri. Hal yang sangat baik adalah kalau kita bisa memaafkannya tanpa menunggu orang yang menurut perasaan kita telah menyakiti hati meminta maaf terlebih dahulu. Sungguh kalau itu yang kita lakukan merupakan perbuatan yang mulia. Sulit memang tetapi harus berusaha memulainya. Karena kita berkeyakinan kalau kita mudah memaafkan orang lain, pastilah orang lain juga akan dengan mudah dapat memaafkan kesalahan kita.

Suatu ketika sahabat Bilal bin Rabah RA terlibat pertikaian dengan Abu Dzar RA. Abu Dzar melontarkan perkataan yang sangat menyakitkan hati Bilal. “Wahai anak wanita hitam.” Bilal lalu mengadukan kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Dan, Rasulullah pun memanggil Abu Dzar guna mengklarifikasi kejadian tersebut. Lalu, Rasul menasihatinya dan Abu Dzar merasa dia telah berbuat salah dan zalim kepada sahabat seperjuangannya.

Saat itu juga, Abu Dzar mencari keberadaan Bilal. Sesampainya di hadapan Bilal, Abu Dzar meletakkan pipinya di atas padang pasir di bawah teriknya matahari sambil berkata, “Wahai sahabatku, aku rela engkau menginjak pipiku ini demi memperoleh maaf darimu atas perbuatan zalim yang telah aku perbuat.” Namun, ketika itu Bilal merogoh tangan Abu Dzar. “Aku telah memaafkanmu wahai sahabatku.” Sungguh indah akhlak yang diperlihatkan kedua sahabat Rasulullah SAW. 

Dalam menjalani hidup sosial bermasyarakat, manusia tidak pernah lepas dari sebuah kesalahan, entah itu terhadap tetangga, kawan, ataupun rekan kerja. Kesalahan adalah suatu hal yang wajar ketika kita berinteraksi dengan sesama. Namun, ketika kita bisa menyikapi kesalahan tersebut dengan suatu proses saling maaf dan memaafkan, itulah yang luar biasa. “Setiap anak Adam tidak luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi).

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS al-A’raf: 199). Dalam ayat tersebut Allah  SWT mengabarkan kepada umat muslim bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di atas muka bumi ini.

Tiga konsep yang Allah berikan kepada kita. 

Pertama, jadilah pemaaf. 

Ketika proses saling maaf dan memaafkan sudah menjadi habit (kebiasaan) dalam masyarakat, sungguh masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang harmonis, mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) menaungi mereka.

Kedua, mengimbau kepada kebenaran. 

Di kala rasa cinta dan kasih menaungi kehidupan mereka, di sana akan terjalin suatu interaksi yang harmonis dan mereka akan mengoreksi sahabatnya yang berbuat kesalahan.

Ketiga, berpaling dari orang-orang bodoh. 

Ketika suatu masyarakat sudah menjadi masyarakat harmonis dan religius, sungguh mereka akan berpaling dari perilaku orang-orang yang bodoh, perilaku yang kering akan hal-hal yang bermanfaat. Dan, seperti inilah seorang Muslim, “meninggalkan suatu hal yang tak berguna adalah kebaikan bagi seorang Muslim.”

Pantaskah seorang dewan legislatif adu jotos karena suatu hal sepele, padahal mereka adalah wakil-wakil rakyat? Pantaskah suatu kelompok agama menghujat kelompok lainnya demi kepentingan segelintir orang, padahal mereka berdiri di atas agama yang sama. Masyarakat yang sarat akan nilai-nilai cinta dan kasih bermula dari suatu proses yang sangat agung, yaitu saling maaf dan memaafkan. “Orang-orang penyayang akan disayang oleh Allah yang Maha Rahman, Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh Allah.” (HR Ahmad).

Meminta maaf atas kesalahan adalah keberanian sikap terpuji dan memaafkan adalah sikap mulia. Memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Islam mengajarkan agar setiap umatnya untuk selalu saling memaafkan satu sama lain. Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, karena itu Islam mengajarkan setiap manusia untuk saling memaafkan. Allah SWT memuliakan orang yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain, bahkan Allah sudah menyiapkan segudang pahala untuk orang tersebut. Selain itu, suka memaafkan merupakan salah satu sifat Rasulullah SAW. Beliau selalu memaafkan orang yang membenci dan menyakiti perasaannya. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tetap berbuat baik kepada orang lain meskipun orang tersebut membalasnya dengan kejahatan.

Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan,” (HR Ibnu Hibban). 

Dilansir dari Nahdatul Ulama online, dalam surat Ali ‘Imran ayat 134, tercantum bahwa seorang Muslim yang bertakwa dianjurkan untuk mengambil paling tidak satu dari tiga sikap dari seseorang yang melakukan kekeliruan terhadapnya, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadapnya.

Demikianlah agama telah mengajarkan kita untuk berbuat saling memaafkan dengan orang lain. Kita menjadi lebih nyaman ketika bergaul dengan orang lain tanpa ada perasaan bersalah dan tanpa merasa ada orang lain yang berbuat salah terhadap kita. Hidup akan menjadi lebih bermakna dan bersemangat karena tidak ada lagi rasa kebencian dan kecurigaan, sehingga ketika kita akan mengambil keputusan atau sikap menjadi lebih terarah dan lebih obyektif. Yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang tidak pernah lepas dari yang namanya berbuat salah. Akan tetapi ketika bersalah kita langsung menyadari dan berusaha memperbaiki itulah yang terbaik.  Wallahu A’lam Bishawab

 

 

 

 

                                           DAFTAR PUSTAKA

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

https://quranweb.id

https://republika.co.id/tag/memaafkan

https://kumparan.com/search/memaafkan