Minggu, 05 Juni 2022

STRATEGI GEOPOLITIK AMERIKA SERIKAT DI INDO-PASIFIK

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur Jawa Barat


Perang Rusia-Ukraina telah merubah tatanan politik dunia, ancaman invasi militer bisa terjadi kapan saja khususnya ancaman dari negara-negara yang memiliki persenjataan nuklir.


Adagium dari seorang Jenderal Romawi Flavius Vegetius Renatus _Igitur qui desiderat pacem preparet bellum_"Jika anda menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang" tidak berlebihan kiranya jika adagium tersebut menggambarkan kondisi politik dan militer global terkini.


Kawasan Indo-Pasifik yang terdiri dari Samudera Hindia, Asia Tenggara dan Samudra Pasifik kini  menjadi medan persaingan politik komplek, kental dengan nuansa kepentingan ekonomi dan militer. Wilayah Laut Cina Selatan adalah contoh nyata persaingan tersebut,  Klaim sepihak China terhadap wilayah Laut Cina Selatan _Nine Dash Line_, program menyatukan wilayah   Taiwan _One China Policy_ perluasan pengaruh ekonomi dan politik China di Asia _Belt and Road Initiative_ membuktikan ambisi Beijing untuk menjadi salah satu negara _Super Power_ dunia yang secara langsung menantang hegemoni Amerika Serikat di Kawasan Indo-Pasifik. Wilayah Indo-Pasifik menjadi Fokus AS setelah meredanya perang melawan terorisme, sejak pemerintahan Presiden Obama AS mengkaji ulang ancaman terorisme. Keberhasilan Revolusi _Arab Spring_ khususnya di Libya dan Mesir serta kehancuran ISIS di Suriah dan Iraq, dilepasnya Afganistan dalam bentuk penarikan Pasukan AS pada 2021, membuktikan adanya pergeseran fokus kebijakan geopolitik AS dari Timur Tengah ke Indo- Pasifik. Menguatnya pengaruh sekutu tradisional AS seperti Arab Saudi dan Israel, mempengaruhi keputusan Presiden Biden dalam penarikan Pasukan AS dari Afganistan walaupun sebagian anggota Konggres dari Partai Republik menyesalkan keputusan Biden tersebut.


Khusus menghadapi pengaruh China Konggres AS "Kompak" bahwa pengaruh China sebisa mungkin diminimalisir gayung segera bersambut, kebijakkan Biden terhadap Indo-Pasifik secara umum terbagi menjadi dua, yang pertama kepada negara-negara anggota ASEAN, AS memberikan bantuan ekonomi, investasi, alih teknologi dan membangun kemitraan strategis hal ini terlihat jelas dalam KTT ASEAN-AS 12-13 Mei 2022, Amerika Serikat menyadari ASEAN tidak satu sikap dalam menghadapi pengaruh China, Myanmar yang tidak  diundang karena masalah kudeta militer mendukung China dalam persaingan di Laut Cina Selatan, demikian pula Laos dan Kamboja. Filipina adalah sekutu tradisional AS di Asia Tenggara,  Filipina memperpanjang kerjasama _Visiting Forces Agreement_(Kunjungan militer AS ) ke negaranya. Singapura dan Thailand sudah lama menjadi markas CIA, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam yang secara "sporadis" terlibat konflik dengan China di Laut Cina Selatan menunjukkan sikap netral walaupun Indonesia-Malaysia secara teratur terlibat latihan militer bersama dengan Armada Pasifik AS dan _US ARMY_ pendekatan ekonomi dan kerjasama militer adalah strategi geopolitik AS di Asia Tenggara dalam rangka membendung pengaruh China.


Yang kedua di wilayah Oceania  dan Pasifik strategi geopolitik AS nyata terlihat dengan alih teknologi militer dalam fakta pertahanan AUKUS (Australia, Inggris, dan AS) Australia menerima alih teknologi kapal selam berkekuatan nuklir untuk memperkuat armadanya di Pasifik dan secara militer, Australia menjadi pangkalan strategis bagi fakta militer AUKUS jika pecah perang dikawasan Pasifik. Di Kawasan Samudera Hindia AS memprakarsai berdirinya aliansi militer QUAD (Quadrilateral Security Dialogue) AS, India, Australia, Jepang. India dan Jepang adalah dua negara yang sedang berkonflik dengan China. India terlibat masalah perbatasan  di Lembah Galwan daerah sekitar Pegunungan Himalaya. Jepang saling klaim Kepulauan Senkaku dengan China, Amerika Serikat telah mendapatkan pijakan militer di selatan Indo-Pasifik melalui AUKUS, di Wilayah barat melalui QUAD, wilayah Indo-Pasifik termasuk Asia Tenggara menjadi ajang perlombaan senjata dua negara adidaya, AS versus China. Indonesia dan negara ASEAN lain harus segera bersiap. Pertanyaannya mampukah ASEAN berperan signifikan dalam mencegah peperangan ditengah perbedaan sikap negara-negara  anggotanya ?


Sumber bacaan ;

AUKUS "Point of No return" geopolitik Indo-Pasifik Syarifurohmat Pratama Santoso; Antara

KTT ASEAN-AS Biden Ingin Bendung Pengaruh China. rmol.id


Cisarua, Bogor 5 Juni 2022