Jumat, 29 Juli 2022

Tradisi Tabuik di Sumatera Barat

https://www.goodnewsfromindonesia.id/uploads/images/2020/12/3011032020-Dinas-Pariwisata.jpg 

Sociusmedia.Bulan Muharam merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Qamariyah (kalender Islam), sehingga 1 Muharam merupakan awal tahun baru Hijriyah. Bulan Muharam dikenal juga dengan sebutan bulan Syuro/Asyuro.

Berbagai tradisi dilakukan oleh masyarakat Islam pada bulan Muharam di Indonesia. Sehingga banyak terdapat aktifitas tertentu pada yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Tradisi Tabuik di Sumatera Barat tepatnya di Pariaman, dan disebut dengan sebutan logat setempat yakni Tabuik. Menurut informasi yang diperoleh, Tabuik di Pariaman berasal dari Bengkulu yang dibawa oleh bangsa Cipei atau keling yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. 

Bangsa Cipei ini merupakan sisa pasukan Inggris di Bengkulu. Tabuik di Pariaman dikembangkan oleh Mak Sakarana dan Mak Sakaujana, dan merupakan orang yang mempelopori Tabuik pasar dan Tabuik Kampung Jawa. Tabuik pasar melahirkan Tabuik Cimparuh, Bato dan Karan Aur. Sedangkan Tabuik Kampung Jawa melahirkan Tabuik Pauh, Jati, Sungai Rotan.

Jika pelaksanaan tradisi Tabut di Bengkulu memiliki tahapan-tahapan tertentu (di antaranya diawali dengan ngambik tanah) dan berakhir dengan Tabut tebuang, maka Tabuik di Pariaman juga memiliki tahapan pelaksanaan tradisi, dikutip dari Ernatip dkk,berikut ini tahapan pelaksanaan Tabuik di Pariaman:

a. Barantam. Kegiatan ini dipimpin oleh wali nagari yang dikenal dengan istilah janang. Jika yang bersangkutan tidak ada atau atau berhalangan, maka digantikan oleh orang lain yang dituakan dalam nagari. 

b. Pembuatan Tabuik dilakukan secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang tukang Tabuik. Tukang Tabuik adalah orang yang sudah ahli dalam pembuatan Tabuik. Pekerja Tabuik dibagi dalam tiga kelompok, dan ada satu orang sebagai ketua sekaligus perancang kerangka Tabuik. 

c. Mengambil tanah dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Pawang Tabuik adalah pemimpin dari semua kegiatan yang berhubungan langsung dengan kegiatan inti. Sedangkan orang siak hanya memimpin pembacaan doa sebelum berangkat dan setelah kembali mengambil tanah. Dalam hal ini pawang Tabuik adalah orang yangmenyelam ke dasar sungai untuk mengambil tanah. Sebelum terjun ke sungai pawang Tabuik membakar kemenyan disertai dengan mantramantra sesuai dengan apa yang diterimanya dari pendahulunya. Mantra yang dibacakan tersebut ditujukan untuk dirinya, benda yang akan diambilnya, dan tempat pengambilannya. 

d. Mengambil batang pisang juga dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Orang siak bertugas memimpin pembacaan doa sebelum berangkat dan setelah kembali mengambil batang pisang. Sedangkan pawang Tabuik bertugas menebang batang pisang. Sebelum melakukan pekerjaanya pawang Tabuik juga membaca mantra-mantra. 

e. Maarak penja/jari-jari dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) untuk membacakan doa sebelum berangkat dan setelah kembali maarak penja/jari. Pawang Tabuik bertugas mengambil duplikat jari-jari dari rumah Tabuik untuk dibawa ke daraga, baru berkeliling kampung. Setelah itu pawang Tabuik mengembalikan penja ke rumah Tabuik.

f. Maarak sorban dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) untuk membaca doa sebelum berangkat dan setelah kembali dari maarak sorban. Pawang Tabuik bertugas mengambil dan mngembalikan sorban dari dan kerumah Tabuik. Sorban itu dibawa berkeliling kampung. 

g. Tabuik naik pangkat dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Orang siak memimpin pembacaan doa ketika Tabuik hendakdibawa ke pasara. Sedangkan pawang Tabuik membacakan mantra dan memberi pemanis pada Tabuik yang akan dibawa ke pasar. 

h. Ma-oyak tabuik dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Orang siak memimpin pembacaan doa ketika hendak memulai ma-oyak Tabuik. Sedangkan pawang Tabuik membaca mantramantra agar Tabuik dan pesertanya tidak mendapat musibah, terhindar dari perbuatan jahat dari Tabuik lawan atau manusia lainnya. 

i. Membuang Tabuik dipimpin oleh pawang Tabuik. Menurut Hamka, asumsi yang menyatakan bahwa Tabuik (Tabut) di Padang adalah pengaruh Syi’ah, dan asumsi ini sangat lemah. Beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa sebelum Mazhab Syafi’i tersebar di Minangkabau ‘ada kemungkinan’ terlebih dahulu ada Mazhab Syi’ah. Atau ada pengaruh Syi’ah di Minangkabau, terbukti adanya perayaan Tabut Hasan-Husin di beberapa kota, seperti di Padang, Pariaman, dan Padang Panjang. 

Orang kampung pun mau membantu bergotong royong keluar uang pembeli kertas pembuat tabut, atau membeli bambu untuk badan tabut, sebab emosi mereka disingung. Dibangkitkan rasa cinta dan sedih atas kematian Sayyidina Husain di Padang Karbala, berperang dengan “Raja Kafir” bernama “Sulthan Bayazid”. Lalu seorang pengarang syair cara lama, bernama Bagindo Malin mengarang sebuah buku syair bernama “Syair Hasan-Husain” dan dinyanyikan. 

Mereka hanya mengikuti saja mazhab guru yang mempengaruhinya. Sebab itu kalau ada tabut terhoyak hosen, merekapun turut bertabut-tabut, sehingga lama kelamaan menjadi kebiasaan yang tidak tentu lagi asal usulnya. Sehingga di Padang, Pariaman dan seluruh Minangkabau kalau ada orang yang bergembira-gembira bersorak sorai disebut “Berhoyak Hosen” yang asalnya dari kalimat “O Ya Husain”. Dan kalau ada orang berkelahi sekampung yang disebut juga “Cakak berbelah” yaitu berbelahan kampung. Misalnya di antara orang kampung Sebelah dengan orang Kampung Palinggam, orang Kampung Pauh dengan Kampung Jawi-jawi, disebut “Bertabuik-tabuik”.

Meskipun telah mengalami pergeseran perubahan tradisi, apa yang dikemukakan oleh Hamka di atas menunjukkan adanya nilai gotong royong, dan memberikan informasi bagaimana perkembangan tradisi Tabuik di Sumatera Barat. Selain perubahan makna, difusi dan akulturasi budaya tampak dari penggunaan “o ya Husein” maupun penggunaan kata serapan Bertabuik-tabuik, yang diserap dari kata tabuik untuk menunjukkan adanya perkelahian. (RMS-Socius 02) 

Sumber : Japarudin berjudul Tradisi Bulan Muharram di Indonesia 

Selasa, 12 Juli 2022

Sekolah/Madrasah Berbudaya Lingkungan Hidup

 


Oleh : Sanidah, S.Pd
Guru IPS MTsN 1 Sintang Kalimantan Barat


Lingkungan sekolah adalah keseluruhan benda hidup dan benda mati, termasuk situasi dan kondisi yang terdapat di dalam lembaga pendidikan formal yang secara terrencana melaksanakan program pendidikan. Lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap input, proses, dan output pendidikan. Lingkungan sekolah yang memberikan pengaruh positif adalah lingkungan sekolah yang kondusif baik fisik maupun non fisik.

Lingkungan sekolah yang kondusif mendukung proses pembelajaran, baik bagi peserta didik maupun tenaga kependidikan dan non kependidikan dalam mengembangkan potensi dan mengeksplor bakat yang dimilikinya. Lingkungan sekolah terdiri dari dua komponen utama yaitu lingkungan biotik dan abiotik.

Lingkungan biotik merupakan keseluruhan/segala sesuatu yang bernyawa (makhluk hidup), sedangkan lingkungan abiotik merupakan keseluruhan segala sesuatau yang tidak bernyawa (tidak hidup). Kedua lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap pengembangan pelaksanaan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.

Pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat secara tegas dijelaskan dalam Al-qur’an QS. At-Taubah: 108 (Allah SWT menyukai orang yang bersih)

 لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ 

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108).

Ayat di atas menunjukkan bahwa kebersihan adalah hal utama dalam kehidupan baik di masjid, di lingkungan masyarakat, maupun di lingkungan sekolah/madrasah. Hal ini disebabkan karena interaksi yang sangat inten pada lingkungan tersebut, sehingga kebersihan menjadi hal yang sangat penting.

Islam telah begitu rinci dan tegas menyatakan bahwa kebersihan merupakan hal sangat penting di dalam kehidupan manusia, di lingkungan mana pun. Perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan dalam jangka pendek dan jangka panjang.  Sesungguhnya kerusakan di muka bumi yang akhir-akhir ini terjadi adalah akibat tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab. Seperti dalam penjelasan QS. Ar-Rum Ayat 41

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa kerusakan yang terjadi di muka bumi salah satu penyebabnya adalah manusia. Manusia yang tidak beretika dalam mengelola dan mengeksploitasi sumber daya alam, sehingga menyebabkan berbagai bencana alam. Hal ini dapat dicegah melalui pendidikan berwawasan lingkungan yang diterapkan di sekolah/madrasah. 

Penanaman dan pembiasaan perilaku menjaga, mencintai dan melestarikan lingkungan wajib dilaksanakan dengan berkelanjutan di lingkungan sekolah/madrasah. Kepedulian peserta didik dan warga sekolah diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap masyarakat yang lebih luas. Penanaman dan penerapan pentingnya pendidikan di sekolah/madrasah yang terintegrasi dengan lingkungan merupakan langkah bijaksana yang dapat diterapkan warga sekolah. Langkah tepat yang dapat diterapkan dalam mencetak peserta dan warga sekolah/madrasah yang peduli lingkungan hendaknya terrencana dengan baik.

Lingkungan sekolah bersih dan sehat

Lingkungan sekolah/Madrasah yang bersih merupakan lingkungan sekolah/madrasah yang sangat jauh dari kondisi yang menimbulkan berbagai sumber penyakit. Lingkungan sekolah/madrasah yang bersih berpengaruh terhadap terwujudnya kehidupan sehat bagi peserta didik, seluruh masyarakat sekolah dan sekitarnya. Arti dari lingkungan sekolah bersih dan sehat merupakan lingkungan yang ditempati oleh seluruh masyarakat sekolah yang memberikan kesan baik terhadap indra manusia dan memberikan arti kesehatan.

Lingkungan sekolah/madrasah yang bersih dan sehat mendukung dan mempengaruhi kehidupan masyarakat sekolah. Jika lingkungan sekolah / madrasah membiasakan menjaga kebersihan dengan baik, terencana, dan berkesinambungan akan menimbulkan kesan yang baik bagi peserta didik dan masyarakat sekolah/madrasah. Tetapi jika kehidupan peserta didik dan warga sekolah membiasakan hidup kotor dengan sampah berserakan, tidak ada keteraturan dalam pembiasaan kebersihan sejak dini, akan mempengaruhi psikis dan mental peserta didik dan warga sekolah/madrasah. Kondisi seperti ini tentunya akan berpengaruh terhadap proses pendidikan dan hasil yang direncanakan dalam program pendidikan sulit untuk dicapai.

Menciptakan Lingkungan Sekolah Bersih dan Sehat

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam menciptakan lingkungan sekolah bersih dan sehat. Berikut beberapa cara untuk mewujudkan terciptanya lingkungan sekolah bersih dan sehat.

Lingkungan di dalam sekolah/madrasah

Ruang kelas yang bersih dan segar.


Pembelajaran akan semakin menarik selain diramu dan disajikan oleh seorang guru yang kreatif, adalah ruang kelas yang bersih dan nyaman. Kebersihan di dalam ruang kelas akan memberikan kenyamanan bagi seluruh peserta didik dan wargat sekolah. Ruang kelas yang bersih berawal dari kesadaran peserta didik dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah. kebersihan ruang kelas bukan merupakan tugas dari petugas kebersihan di lingkungan sekolah saja, namun merupakan tugas dari seluruh warga sekolah. 

Tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara adalah kewajiban penguni sekolah/madrasah. Ruang kelas akan terpelihara kebersihannya jika seluruh masyarakat sekolah memiliki kepedulian yang sama, bersedia melaksanakan tugas piket yang telah dijadwalkan, dengan penuh disiplin.Petugas piket kelas tetap menjalankan tugasnya dengan baik untuk membersihkan kaca, menyapu lantai, mengepel lantai kelas dan menata kelasnya semenarik mungkin.


Lingkungan di sekitar Sekolah/Madrasah

Lingkungan sekolah bersih dan sehat berawal kesadaran dari diri sendiri dan di lingkungan sekitar sekolah. Kebersihan dan kesehatan sekolah/ madrasah untuk diri sendiri, oleh karena seluruh stick holder di sekolah wajib menjaga kesehatan dan menjaga lingkungan agar tetap bersih. Ketersediaan sarana dan prasarana kebersihan akan mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Salah satunya adalah ketersediaan tempat samapah,

Sekolah/madrasah menyediakan tempat sampah di setiap ruangan yang memungkinkan sampah berada, biasanya di ruang kelas, di luar kelas/selasar,  dan di halaman sekolah. Tempat sampah yang disediakan meliputi 3 jenis tempat sampah, yakni sampah organis, anorganik, dan tempat sampah berbahaya. Jika ketiga sampah tersebut dicampurkan maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap, dan akan membahayakan. Manfaat lain jika terbiasa memisahkan sampah orgnik, anorganik dan sampah berbahaya adalah dapat mengolah sampah tersebut menjadi barang yang berguna kembali ( recycle ).

Membuang sampah yang telah terkumpul pada waktu tertentu atau di saat tempat sampah tersebut sudah hampir penuh. Jangan tunggu hingga tempat sampah tersebut penuh karena itu akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan mendatangkan kecoa / lalat. Hal ini jika terus dibiarkan akan mengakibatkan terganggunya proses belajar mengajar. 

Sekolah/madrasah harus menerapkan prinsip 3 R ( ReUse, ReCycle, ReDuce ) yang artinya Reuse = Menggunakan Kembali, ReCycle = Mendaur Ulang, dan ReDuce = Menggurangi. Dengan menyediakan tempat penampungan sampah organik di halaman akan mempermudah pemilihan sampah dan sampah organik akan bermanfaat untuk pembuatan pupuk kompos.

Mengurangi penggunaan plastik di sekolah dan kantin sekolah

Sampah plastik sebaiknya tidak digunakan di lingkungan sekolah/madrasah. Penggunaan plastik di lingkungan sekolah/madrasah akan menyebabkan timbunan sampah yang luar biasa. Sehingga sumbangan sampah sekolah berpengaruh terhadapa volume samapa yang ada di masyarakat sekitar.Sebagai contoh nyata perhatikan perhitungan matematis penggunaan sampah plastik di sekolah beikut ini!

Misalnya sekolah X memiliki 1000 perseta didik. tiap-tiap peserta didik menggunakan 1 botol plastik satu kali pakai setiap harinya. 

000 peserta didik dikalikan 1 botol plastik menghasilkan1. 000 botol plastik perhari.

000 botol plastik dikalikan 6 hari sekolah menghasilkan 6. 000 botol plastik.

6. 000 botol plastik dikalikan 24 (jumlah hari efektif sekolah) menghasilkan 144.000 botol plastik dalam satu bulan. Jika 144.000 dikalian 12 bulan maka akan menghasilkan 1.728.000 botol plastik setiap tahunnya. Perilaku ini akan mengakibatkan menumpuknya sampah plastik di lingkungan sekolah dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka waktu yang panjang.

Menyikapi hal di atas, warga sekolah dapat menentukan peraturan berikut:

Mensosialisasikan bahaya penggunaan sampah plastik bagi lingkungan

Menerapkan kepada seluruh warga sekolah untuk menggunakan botol yang bisa digunakan berulang kali.

Menertibkan petugas kantin untuk tidak menggunakan bahan plastik

Membiasakan seluruh masyarakat sekolah untuk mambawa bekal masing-masing.

Menerapkan 3R ( ReUse, ReCycle, ReDuce ).


Kerja bakti secara rutin 


Kerja bakti secara rutin akan menjadikan pemiasaan karater kepada seluruh warga sekolah. Kerja bakti yang terencana di sekolah/madrasah akan menjadikan lingkungan sekolah bersih dan sehat. Kerja bakti yang dilaksanakan bukan hanya oleh peserta didik  di sekolah tersebut, melainkan guru, dan tenaga non kependidikan lainnya. Guru dan tenaga kependidikan memiliki peran sebagai penggerak untuk memberikan keteladanan kepada peserta didik dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan indah.


Pembuatan lubang biopori  di sekolah/madrasah

Salah satu penyebab genangan air di lingkungan sekolah adalah kurangnya daerah resapan air. Genangan air dapat menyebabkan berkembangbiaknya nyamuk aedes aegepty/nyamuk demam berdarah. Hal ini dapat menyebabkan peserta didik dan warga sekolah terjangkit penyakit demam berdarah.

Menghindari munculnya genangan air di halaman sekolah/madrasah di waktu hujan dapat meminimalisir berkembangnya nyamuk. Salah satu yang dapat dilakukan sekolah/madrasah adalah dengan membuat lubang biopori. Lubang biopori dapat menampung genangan air dan menyimpannya di dalam tanah.


Pengecekan rutin toilet sekolah/madrasah

Toilet adalah sarana yang sangat penting di lingkungan sekolah/madrasah. Durasi waktu yang relatif lama di sekolah mengharuskan warga sekolah untuk tetap berada di lingkungan sekolah/madrasah, sehingga ketersediaan toilet perlu untuk diperhatikan dengan baik.

Kebersihan toilet merupakan hal utama bagi warga sekolah. Toilet yang bersih akan menjadi cerminan sekolah yang bersih. Warga sekolah perlu untuk melakukan pengecekan kebersihan dan ketersediaan air di area toilet.


Penanaman pohon “Sustainable Living” di sekolah 

Udara yang segar hanya akan diperoleh dari lingkungan yang segar dan asri. Lingungan yang segar dan asri bersumber dari oksigen yang dihasilkan pepohonan. Untuk mendapatkan udara yang segar sekolah/madrasah dapat melaksanakan kegiatan menanam pohon, baik di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah.

Di lingkungan sekolah/madrasah, setiap kelas dapat diminta untuk menyumbangkan satu jenis anakan pohon. Penanaman pohon ini dapat dilakukan secara resmi bersama peserta didik. Hal ini akan menanamkan pentingnya peran pohon dalam kehidupan di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Sedangkan, di lingkungan luar sekolah/madrasah, dapat libatkan OSIS/OSIM dan MPK untuk mengorganisasi keterlibatan dalam kegiatan peduli lingkungan di masyarakat luas. Peserta didik akan mendapatkan pengalaman tambahan dalam berorganisasi, serta memiliki kesempatan untuk memberi dampak lebih besar kepada lingkungan. Sehat.

Selain jenis tanaman pelindung, tanaman hias, dan tanaman lain pun sangat baik dikembangkan di sekolah/madrasah. Berbagai jenis tanaman yang dikembangkan di sekolah/madrasah akan memberikan pengetahuan kepada warga sekolah/madrasah tentang jenis tanaman. Tanaman yang dikembangkan akan memberikan manfaat perlindungan dan memberikan nilai estetika/keindahan, sehingga lingkungan akan semakin asri dan indah.


Memberlakukan sistem piket dan Operasi Semut


Kegiatan yang melibatkan seluruh warga sekolah/madrasah piket dan operasi semut. Kegiatan ini merupakan latihan yang baik agar warga sekolah peduli sosial dan lingkungan hidup. Tugas piket yang bisa dilakukan oleh peserta didik antara lain: mempersiapkan alat pendukung KBM, membersihkan dan merapikan kelas, menyiram tanaman sekolah, membersihkan tempat sampah, dan selasar kelas.

Kegiatan yang saat ini jarang dilakukan adalah Operasi Semut. Operasi semut yang dimaksudkan disini adalah operasi gotong-royong untuk membersihkan lingkungan sekolah/madrasah. Bukan hanya memungut dan meletakkan sampah ke tempatnya, tetapi peserta didik diajarkan bagaimana cara memilah dan memilih sampah serta membuangnya berdasarkan kategori/jenis sampah (plastik, kertas, kaca/logam).  Kegiatan operasi semut dapat menambahkan wawasan bagaimana cara pembuatan kompos dari kumpulan sampah daun yang dihasilkan di halaman sekolah/madrasah. 

Kedua kegiatan di atas sangat bermanfaat bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah/madrasah. Baik manfaat jangka pendek maupun manfaat jangka panjang. Manfaat jangka pendek adalah peserta didik  dan warga sekolah/madrasah, belajar bergotong royong, kerjasama, dan mendorong peserta didik untuk memiliki tanggung jawab. Sedangkan manfaat jangka panjang adalah menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan yang akan dibawa peserta didik dan warga sekolah di lingkungan masyarat yang lebih luas.

Memasukkan Green Behavior (perilaku ramah lingkungan) dalam kurikulum sekolah/madrasah.

Kegiatan pada poin di atas akan semakin nyata jika terintegrasi pada program berkelanjutan yang dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah/madrasah. Pembiasaan perilaku ramah lingkungan pada warga sekolah/madrasah yang terintegrasi akan menjadi salah satu capaian dalam pembentukan warga sekolah/madrasah, yang peduli terhadap lingkungan sekolah.

Green Behavior adalah pengaplikasian etika lingkungan dalam seluruh keputusan yang diambil dalam lingkungan sekolah. Dalam praktik sederhananya, seluruh kegiatan di sekolah/madrasah harus memperhatikan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), termasuk pengadaan sarana penunjang seperti tempat sampah kategorial atau karung pengompos.

Sedangkan dalam praktik yang lebih holistik, penerapan Green Behavior ini juga termasuk mengembangkan kurikulum ramah lingkungan yang praktis, mudah diajarkan dan diterapkan dalam kehidupan sekolah. Selain itu, Green Behavior juga mendorong terciptanya kebijakan-kebijakan sekolah ramah lingkungan. 

Gerakan /pembiasaan penanaman kepedulian terhadap lingkungan sekolah adalah langkah awal yang membuka aksi kehidupan yang berkelanjutan di sekolah/madrasah. Jika bukan dari warga sekolah/madrasah yang memulai menjaga kelestarian alam dan mengajarkannya, maka tidak ada yang lebih pantas.

Sekolah ramah lingkungan akan memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil pendidikan yang diselenggarakan di sekolah/madrasah. Menjaga lingkungan sekolah yang sehat, bersih dan nyaman merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh warga sekolah/madrasah.

Sekolah dengan berbudaya lingkungan hidup sanagt berpengaruh terhadap proses pemebelajaran. Lingkungan yang nyaman, segar dan asri akan menjadikan pembelajaran dilaksanakan dengan tenang, dan nyaman. Kenyamanan dalam proses pembelajaran akan memberikan pengaruh positif terhadap hasil pembelajarn.

Pembelajaran yang menyenangkan semakin efektif dan efesian serta dapat menghasilkan lulusan yang cerdas. Lulusan yang memiliki kecerdasan secara akademik, dan tetap beretika terhadap lingkungan. Lulusan yang peka terhadap lingkungan fisik maupun non fisik. Lulusan yang menerapkan ajaran agama sebagai landasan utama dalam kehidupan manusia. 

Hasil dari pembelajaran sesunguhnya bukan hanya terletak pada capaian akademik saja, namun lebih kepada bagaimana lulusan sebuah lembaga pendidikan berperilaku mulia, baik terhadap sesama, dan santun terhadap lingkungan. Lulusan yang memiliki budi pekerti luhur, sebagai generasi Z yang menjadikan Pancasila sebagai kekuatan. Generasi yang tulus dan ikhlas menjaga bumi demi kelestarian dan terpeliharanya kehidupan di masa yang akan datang. 

Pengembangan sekolah dengan berbudaya lingkungan hidup diharapkan mampu menjawab berbagai masalah lingkungan hidup yang terjadi dewasa ini. Harapan ini akan menjadi kenyataan jika keseimbangan alam terjaga di tangan generasi bangsa yang berakhlakul karimah. Generasi yang memiliki kecerdasan akademik, spiritual, dan kecerdasan sosial, serta berwawasan lingkungan. 

Semoga bermanfaat.