Jumat, 29 Juli 2022

Tradisi Tabuik di Sumatera Barat

https://www.goodnewsfromindonesia.id/uploads/images/2020/12/3011032020-Dinas-Pariwisata.jpg 

Sociusmedia.Bulan Muharam merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Qamariyah (kalender Islam), sehingga 1 Muharam merupakan awal tahun baru Hijriyah. Bulan Muharam dikenal juga dengan sebutan bulan Syuro/Asyuro.

Berbagai tradisi dilakukan oleh masyarakat Islam pada bulan Muharam di Indonesia. Sehingga banyak terdapat aktifitas tertentu pada yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Tradisi Tabuik di Sumatera Barat tepatnya di Pariaman, dan disebut dengan sebutan logat setempat yakni Tabuik. Menurut informasi yang diperoleh, Tabuik di Pariaman berasal dari Bengkulu yang dibawa oleh bangsa Cipei atau keling yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. 

Bangsa Cipei ini merupakan sisa pasukan Inggris di Bengkulu. Tabuik di Pariaman dikembangkan oleh Mak Sakarana dan Mak Sakaujana, dan merupakan orang yang mempelopori Tabuik pasar dan Tabuik Kampung Jawa. Tabuik pasar melahirkan Tabuik Cimparuh, Bato dan Karan Aur. Sedangkan Tabuik Kampung Jawa melahirkan Tabuik Pauh, Jati, Sungai Rotan.

Jika pelaksanaan tradisi Tabut di Bengkulu memiliki tahapan-tahapan tertentu (di antaranya diawali dengan ngambik tanah) dan berakhir dengan Tabut tebuang, maka Tabuik di Pariaman juga memiliki tahapan pelaksanaan tradisi, dikutip dari Ernatip dkk,berikut ini tahapan pelaksanaan Tabuik di Pariaman:

a. Barantam. Kegiatan ini dipimpin oleh wali nagari yang dikenal dengan istilah janang. Jika yang bersangkutan tidak ada atau atau berhalangan, maka digantikan oleh orang lain yang dituakan dalam nagari. 

b. Pembuatan Tabuik dilakukan secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang tukang Tabuik. Tukang Tabuik adalah orang yang sudah ahli dalam pembuatan Tabuik. Pekerja Tabuik dibagi dalam tiga kelompok, dan ada satu orang sebagai ketua sekaligus perancang kerangka Tabuik. 

c. Mengambil tanah dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Pawang Tabuik adalah pemimpin dari semua kegiatan yang berhubungan langsung dengan kegiatan inti. Sedangkan orang siak hanya memimpin pembacaan doa sebelum berangkat dan setelah kembali mengambil tanah. Dalam hal ini pawang Tabuik adalah orang yangmenyelam ke dasar sungai untuk mengambil tanah. Sebelum terjun ke sungai pawang Tabuik membakar kemenyan disertai dengan mantramantra sesuai dengan apa yang diterimanya dari pendahulunya. Mantra yang dibacakan tersebut ditujukan untuk dirinya, benda yang akan diambilnya, dan tempat pengambilannya. 

d. Mengambil batang pisang juga dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Orang siak bertugas memimpin pembacaan doa sebelum berangkat dan setelah kembali mengambil batang pisang. Sedangkan pawang Tabuik bertugas menebang batang pisang. Sebelum melakukan pekerjaanya pawang Tabuik juga membaca mantra-mantra. 

e. Maarak penja/jari-jari dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) untuk membacakan doa sebelum berangkat dan setelah kembali maarak penja/jari. Pawang Tabuik bertugas mengambil duplikat jari-jari dari rumah Tabuik untuk dibawa ke daraga, baru berkeliling kampung. Setelah itu pawang Tabuik mengembalikan penja ke rumah Tabuik.

f. Maarak sorban dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) untuk membaca doa sebelum berangkat dan setelah kembali dari maarak sorban. Pawang Tabuik bertugas mengambil dan mngembalikan sorban dari dan kerumah Tabuik. Sorban itu dibawa berkeliling kampung. 

g. Tabuik naik pangkat dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Orang siak memimpin pembacaan doa ketika Tabuik hendakdibawa ke pasara. Sedangkan pawang Tabuik membacakan mantra dan memberi pemanis pada Tabuik yang akan dibawa ke pasar. 

h. Ma-oyak tabuik dipimpin oleh orang siak (pemimpin upacara) dan pawang Tabuik. Orang siak memimpin pembacaan doa ketika hendak memulai ma-oyak Tabuik. Sedangkan pawang Tabuik membaca mantramantra agar Tabuik dan pesertanya tidak mendapat musibah, terhindar dari perbuatan jahat dari Tabuik lawan atau manusia lainnya. 

i. Membuang Tabuik dipimpin oleh pawang Tabuik. Menurut Hamka, asumsi yang menyatakan bahwa Tabuik (Tabut) di Padang adalah pengaruh Syi’ah, dan asumsi ini sangat lemah. Beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa sebelum Mazhab Syafi’i tersebar di Minangkabau ‘ada kemungkinan’ terlebih dahulu ada Mazhab Syi’ah. Atau ada pengaruh Syi’ah di Minangkabau, terbukti adanya perayaan Tabut Hasan-Husin di beberapa kota, seperti di Padang, Pariaman, dan Padang Panjang. 

Orang kampung pun mau membantu bergotong royong keluar uang pembeli kertas pembuat tabut, atau membeli bambu untuk badan tabut, sebab emosi mereka disingung. Dibangkitkan rasa cinta dan sedih atas kematian Sayyidina Husain di Padang Karbala, berperang dengan “Raja Kafir” bernama “Sulthan Bayazid”. Lalu seorang pengarang syair cara lama, bernama Bagindo Malin mengarang sebuah buku syair bernama “Syair Hasan-Husain” dan dinyanyikan. 

Mereka hanya mengikuti saja mazhab guru yang mempengaruhinya. Sebab itu kalau ada tabut terhoyak hosen, merekapun turut bertabut-tabut, sehingga lama kelamaan menjadi kebiasaan yang tidak tentu lagi asal usulnya. Sehingga di Padang, Pariaman dan seluruh Minangkabau kalau ada orang yang bergembira-gembira bersorak sorai disebut “Berhoyak Hosen” yang asalnya dari kalimat “O Ya Husain”. Dan kalau ada orang berkelahi sekampung yang disebut juga “Cakak berbelah” yaitu berbelahan kampung. Misalnya di antara orang kampung Sebelah dengan orang Kampung Palinggam, orang Kampung Pauh dengan Kampung Jawi-jawi, disebut “Bertabuik-tabuik”.

Meskipun telah mengalami pergeseran perubahan tradisi, apa yang dikemukakan oleh Hamka di atas menunjukkan adanya nilai gotong royong, dan memberikan informasi bagaimana perkembangan tradisi Tabuik di Sumatera Barat. Selain perubahan makna, difusi dan akulturasi budaya tampak dari penggunaan “o ya Husein” maupun penggunaan kata serapan Bertabuik-tabuik, yang diserap dari kata tabuik untuk menunjukkan adanya perkelahian. (RMS-Socius 02) 

Sumber : Japarudin berjudul Tradisi Bulan Muharram di Indonesia