Kamis, 11 Agustus 2022

TRADISI NGATIR DI MASYARAKAT LEBAK,BANTEN

 

Dokumentasi Pribadi 

 Oleh : Yeyet Nuryeti,S.Pd - Pengajar di SMP Negeri 2 Cipanas


Sociusmedia.Berbagi dan kebersamaan adalah budaya leluhur bangsa kita. Tradisi berbagi di berbagai daerah di nusantara banyak sekali macamnya.

Masyarakat kabupaten lebak sejak dulu mempunyai kehidupan sosial yang sangat tinggi. Kebudayaan yang berkembang lebih didominasi oleh nilai-nilai keislaman.

Salah satu contohnya tradisi ngatir (Babagi Hancengan) atau berbagi makanan yang hingga  kini masih dipertahankan, khususnya oleh masyarakat Kecamatan Cipanas kabupaten Lebak, Banten. 

Sejarah Ngatir 

Ngatir adalah salah satu tradisi yang dilakukan umat islam masyarakat kabupaten Lebak dalam upaya memperingati hari maulid Nabi Muhammad SAW, serta sarana ukhuwah islamiyah. Tradisi Ngatir biasa dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu pada 12 bulan Rabiul Awal atau Maulid Nabi dan 15 bulan Syaban atau Ruwah.

Ngatir merupakan tradisi sedangkan ritualnya yaitu syariat. Ngatir juga disebut dengan babagi Hancengan yang berart bertukar makanan. 

Ngatir dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, terutama untuk berbagi dengan sesama tanpa membedakan status sosial sehingga jalinan tali silaturahmi dapat selalu terjaga. 

Pelaksanaan Ngatir 
Tradisi ngatir dilakukan pada pagi hari atau siang hari.
Saat prosesi tradisi ngatir atau bertukar makanan yang digelar warga Kampung, dua kampung yang bersebelahan berdatangan ke sebuah masjid dengan membawa hanceungan (makanan). Tradisi Ngatir ini hanya diikuti oleh kaum lelaki. 
Tradisi ngatir dilakukan pada pagi hari atau siang hari.
Masyarakat akan berbondong-bondong membawa hanceungan kemudian berkumpul di masjid dan akan memberikanya kepada warga lainya atau bertukar hanceungan dengan warga yang hadir. 

Saat prosesi tradisi ngatir atau bertukar makanan yang digelar warga Kampung, dua kampung yang bersebelahan berdatangan ke sebuah masjid dengan membawa hanceungan (makanan). Tradisi Ngatir ini hanya diikuti oleh kaum lelaki. 

Masyarakat akan berbondong-bondong membawa hanceungan kemudian berkumpul di masjid dan akan memberikanya kepada warga lainya atau bertukar hanceungan dengan warga yang hadir. 
Hanceungan merupakan bakul ( wadah makanan yang berukuran besar terbuat dari anyaman bambu ) yang isinya terdapat berbagai macam makanan, yang sudah dimasak seperti nasi, urap kacang panjang, daging, bakakak ayam atau ayam panggang, minuman dan kue-kue manis.

Dari budaya ngatir ini kita bisa belajar, bahwa silaturahmi dan kekeluargaan merupakan hal yang harus dijunjung tinggi. Tali silaturahmi antar warga dapat terus terjalin hingga ke generasi berikutnya. Dalam tradisi ini banyak terdapat makna yang sangat penting yaitu tentang berbagi dengan sesama serta tali silaturahmi yang semakin terjalin. (RMS-Socius 02)